Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Terbeban Menulis Tentang Batak

September 10, 2008 oleh  
Tersimpan pada Warna Warni

Guys… Sudah lama sebenarnya aku ingin mencoba menindaklanjuti saran yang disampaikan oleh Bg Zalukhu dalam rangkaian Event 100 Review dalam waktu 200 Jam yang lalu. Kebetulan Blog yang dikelola oleh Newbie dimana domain dan hostingnya merupakan hadiah dari hyperwebenable ini juga mendapatkan kehormatan untuk direview pada posisi ke 46. Salah satu saran atau kritik atau apapun namanya yang Bg Zalukhu sampaikan yang bagiku sangat menarik untuk ditindaklanjuti adalah seperti yang tertuang dalam kutipan tulisannya berikut ini:

Namun entah mengapa, beberapa postingan terakhir justru yang banyak diangkat adalah masalah blogging dan bisnis online. Kategori budaya Batak yang bisa dijadikan ciri khas justru semakin mendapat porsi yang tipis.

Salah satu komentator, yaitu Bg Eko Nurhuda kemudian menanggapi:

Iya, seharusnya kalau Adieska konsisten mengangkat budaya Batak dalam blognya, maka akan lebih mudah baginya untuk menyeruak dari kerumunan dan dikenal secara lebih spesifik. Boleh dibilang, itulah ciri khasnya. Tapi harus diakui, kalau dia hanya menuliskan melulu tentang budaya Batak rasanya koq hanya sedikit yang suka. Sudah begitu, duitnya bisa jadi gak ada. nah lho!

Terus terang saran yang disampaikan Bg Zalukhu dan dikomentari oleh Bg Ecko itu sering kali kupikirkan. Bukan karena apa-apa, tapi karena memang bangsa kita, bangsa Indonesia mulai menjauh atau mungkin melupakan yang namanya Bhineka Tunggal Ika. Menurutku pribadi, selama ini rasa toleransi kita terhadap yang namanya perbedaan, baik itu perbedaan suku, agama, maupun ras sejak reformasi bergulir bukannya semakin tumbuh, malahan semakin memudar nggak karuan. Banyak orang dan kelompok bukannya berlomba-lomba mempersatukan diri malahan menceraikan diri.

Contoh paling gawat dan fundamental coba kuambil dalam suku atau etnisku sendiri, Batak yang terbagi dari 5 sub etnis, yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak PakPak dan Batak Angkola. Kebetulan saat ini aku berdomisili di daerah Padang Bulan, nama sebuah wilayah di Medan yang ditengahnya terdapat kampusku tercinta, Universitas Salah Urus Universitas Sumatera Utara yang mayoritas penduduknya merupakan sub etnis Batak Karo. Telinga yang tidak caplang ini sering kali mendengar perkataan “Kami orang Karo, bukan orang Batak”. Loh kog…?!?

Bahkan Sobat terdekatku di kampus yang sekarang telah menjadi Program Manager di salah satu “LSM Orangutan” tempat kami dulu sama-sama berkreasi pun sering menyatakan hal ini. Saat mendengarkan perkataan2 seperti itu, kadang hati kecilku bersedih. Ya, kenapa kalian malu dibilang orang batak atau kalau mungkin bukan malu, kenapa kalian nggak mau dibilang orang batak dan mau mencoba melarikan diri dari takdir kalian yang sangat jelas merupakan keturunan dari si Raja Batak??? Pernah kami berargumen tentang ini agak panjang. Tapi demi menjaga perasaan kawan, akhirnya aku hanya bisa mengiyakan setiap perkataanya. Toh aku nggak bisa memaksakan kehendakku kepadanya tentang status yang diinginkan olehnya sendiri.

Menurutku salah satu hal yang menyebabkan kondisi ini terjadi mungkin dikarenakan tidak adanya infromasi berupa fakta sejarah yang tertulis dan mudah dipahami oleh orang-orang muda jaman sekarang. Atau kalaupun ada, bahasanya merupakan bahasa daerah atau bahasa yang sulit dimengerti. Keterangan yang ada di Wikipedia tentang Batak pun menurutku sudah agak sesat. Kondisi ini ditambah atau mungkin lebih cocok jika kupakai kata diperparah lagi dengan ketidakpedulian orangtua untuk menjelaskan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan adat istiadat dan budaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab orangtua untuk diturunkan kepada anak-anaknya.

Beberapa hari yang lalu aku juga mendapatkan komentar dari seorang anak SMP yang bernama Reinhard dan semarga denganku di account FSku. Dia bersama orangtuanya berdomisili di Jakarta. Komentar darinya juga membuatku kembali memikirkan tentang erosi kebudayaan, dalam hal ini budaya batak yang membuat bangsa ini semakin kehilangan ciri khas dimata dunia. Pantas Saja Danau Toba nggak laku lagi untuk dijual. Hehehehe… OOT ya… p Isi komentar dari Si Reinhard ini adalah:

hy, horass…
heheh!
aku gag tau neh panggil apa sama abang soalna kita sama” pasaribu neyh… heheh!

aku tw fs abang dri mamaku yg liat blog abang… heheh! ktnya lucu”…

app yah bang…

Senang juga dapat komentar darinya, tapi arrrghhh… Masak dia nggak tau harus manggil apa dengan orang yang semarga dengannya??? Ini orang Batak apa orang Batak sih??? Buat Mama dan Papanya si Reinhard, pliss dong ah… Sesibuk atau setidakpeduli itukah Kakak dan Abang untuk menerangkan hal-hal yang paling mendasar tentang adat istiadat dan budaya Batak kepada si Reinhard???

Lalu aku membalas komentar dari reinhard dan menyapanya dengan sebutan Ampara/Appara (Sebutan untuk laki-laki yang semarga dan atau seketurunan marga dan memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengan kita). Si Reinhard ini pun membalas:

apa itu ‘apara’?
aku maw bljr adat batak tapi gag ngerti”.

Hm… Mendapatkan komentar seperti itu membuatku makin terbeban untuk sedikit membagi waktu untuk membuat tulisan yang secara khusus ditujukan kepada orang-orang muda batak, terutama yang berdomisili di luar Sumatera Utara dan teman-teman blogger lainnya yang ingin tahu sedikit banyaknya tentang adat istiadat dan budaya Batak. Walaupun aku lahir dan menghabisakan masa remaja sampai dengan kelas 2 STM di Jakarta, syukurlah aku bisa memiliki pengetahun yang kurasa cukup dasar namun sangat berharga jika disampaikan kepada orang-orang yang belum tau.

Mudah-mudahan teman-teman tetap berkenan untuk stay tune berkunjung ke blog ini. Sebagai tahap awal, mungkin hanya ini dulu yang bisa aku sampaikan. Kedepannya porsi tentang batak akan coba kutambahkan perlahan-lahan. Kalau ada teman-teman yang lebih tau dan melihat ada yang salah atau kurang tepat dalam tulisanku ini, aku minta maaf karena masih belajar dan mohon dikoreksi. I hope it useful and thanks for read it guys…

Tentang Adieska™

Blog: http://adieska.net

Komentar

15 Komentar untuk tulisan "Terbeban Menulis Tentang Batak"

  1. tata pada Fri, 3rd Apr 2009 14:29 

    Saya sedang menulis tentang Perekonomian Masyarakat Batak. Khususnya Data Pekerjaan (Mata Pencaharian) warga suku batak, TAPI…i’ve been searchin ’bout it di internet tuh ga ada sama sekali. Ya paling yg umum2 aja. Bisa bantu saya gak?
    email yaaa. TERIMA KASIH.

    salam horas =)

  2. tata pada Fri, 3rd Apr 2009 14:32 

    Fri, 3rd Apr 2009 14:29

    Saya sedang menulis tentang Perekonomian Masyarakat Batak. Khususnya Data Pekerjaan (Mata Pencaharian) warga suku batak, TAPI…i’ve been searchin ’bout it di internet tuh ga ada sama sekali. Ya paling yg umum2 aja. Bisa bantu saya gak?
    email yaaa. TERIMA KASIH.

    salam horas =)

  3. yon ade pada Thu, 8th Oct 2009 9:31 

    hidupkan kearifan lokal

  4. zack pada Thu, 29th Apr 2010 21:33 

    Sy ingin beri sedikit informasi…
    Jika Orang Karo mengatakan bahwa mereka bukan termasuk ke dalam salah satu etnis Batak, maka hal ini tentu ada alasannya.
    Sejarahnya, adalah 3 etnis penduduk asli di Sumatera Timur (Wilayahnya mencakup Tamiang-Langkat sampai Rokan Hilir-Riau); Melayu, Simalungun dan Karo. Merekalah yang menempati wilayah tersebut sampai dengan kedatangan etnis batak dari selatan sumatera pada abad ke-17. Sejarah Orang Karo sendiri berkaitan dengan Kerajaan Aru (yang mana nama ‘Aru’ berubah menjadi ‘karo’ yg kita kenal sekarang) dan Delitua pernah menjadi ibukotanya dan sempat berjaya pada abad ke-15. Setelah kemunduran kerajaan itulah, orang Karo mulai bermigrasi ke wilayah pesisir dan berbaur dengan etnis Melayu,Simalungun dan Batak yang juga telah bermigrasi ke utara dalam jumlah besar.
    Saya kurang setuju dengan statement:
    “mau mencoba melarikan diri dari takdir kalian yang sangat jelas merupakan keturunan dari si Raja Batak” diatas.
    Kita tak dapat begitu saja mengkalim Orang Karo merupakan salah satu etnis Batak, mungkin saja karena orang Batak yang bermigrasi ke Sumatera Timur telah ‘membatakkan’ orang Karo, sehingga sampai saat ini kita berpendapat bahwa mereka termasuk ke dalam salah satu etnis Batak.
    Wajar saja jika mereka menganggap diri bukan termasuk kedalam etnis Batak, karena sejarahnya pun beda sendiri dengan suku Batak yang lain

  5. nai rimpun pada Thu, 30th Sep 2010 15:57 

    saya bisa memaklumi orang karo tidakmau digabung dengan batak.coba kita lihat dari wajah ,orang karo banyak berwajah perpaduan eropa,india tamil,bahasa lebih lembut,marga juga ada yg menunjukkan jelas dari india cnth sembiring brahmana yg kebanyakan berkulit hitam dll.kalau memang orang karo merasa bukan orang batak itu boleh2 saja, yg pasti orang karo bisa tinggal didaerah yg termasuk wilayah suku batak.karena adanya perkawinan suku batak dengan orang asing sebagai pendatang ,memakai adat mirip orang batak ,tentu pemuka2 batak memberi tempat untuk orang yg kawin dengan keluarga batak .bukankah itu menunjukkan bahwa karo merupakan bagian dari batak.namun begitu perlu ada penelitian yg lebih mendalam.saran saya berbahagialah dengan yg ada,jangan memperkeruh keadaan,jernihkanlah yg keruh, supaya tak ada kesalah pahaman.Budaya,agama,bahasa,tanah berpijak yg beragam adalah dasar untuk berpikir bijaksana.

  6. sahat pada Thu, 12th May 2011 10:39 

    hidup sumut……….

  7. sahat pada Thu, 12th May 2011 10:50 

    penduduk asli sumut adalah batak ( toba, simalungun, karo, dairi, nias, mandailing ) dan melayu…………….
    jadi diluar dari yang diatas adalah pendatang……….
    jadilah tuan rumah di kampung sendiri……….
    putra daerah harus kompak agar bisa menjadi tuan rumah di kampung sendiri……..
    jangan mau di provokasi sama etnis lain………….

  8. sahat pada Thu, 12th May 2011 11:06 

    putra daerah sumut harus berjuang agar gubsu harus dari penduduk asli batak atau melayu…………..
    kalau bisa gubernur batak………..wakil gubernur melayu……….
    etnis lain yang tinggal di sumut harus bisa menerima dan mendukung kebijakan ini………kalau enggak usir aja dari sumut…………
    begitu juga di kabupaten dan kota lainnya yang ada di sumut harus di pimpin putra daerah batak dan melayu………
    hanya dengan begitu kesejahteraan putra daerah bisa terangkat………..

  9. sahat pada Thu, 12th May 2011 11:11 

    batak sumut harus kompak agar bisa sejahtera penduduknya…………..jgn mau di provokasi sama etnis lain……….

  10. sahat pada Thu, 12th May 2011 11:30 

    batak jangan mau diprovokasi hanya karna perbedaaan agama………….jgn biarkan media cetak merusak karakter putra daerah…….kebanyakan wartawan2 minang, yang tak menginginkan putra daerah menjadi tuan rumah di kampung sendiri……….wartawan2 minang tu harus diawasi………..

  11. sahat pada Thu, 12th May 2011 11:36 

    media cetak pro putra daerah harus diperkuat……………jgn biarkan etnis lain merusak karakter putra daerah……terutama wartawan2 minang……….karena minang adalah suku yang fanatik…..

  12. roy van halen pada Sun, 10th Jun 2012 17:32 

    jangan malu jadi orang batak,yang bisa menyatukan mandailing karo simalungun pakpak angkola dan toba hanya satu kata yaitu BATAK.. jangan mau diadu domba sama orang jawa dan padang.. karena sesungguhnya orang batak itu lebih cerdas dari kedua suku tadi.. bila penting kita adu tanding dengan mereka.. ingat suku batak itu adalah suku yang diberkati oleh Tuhan.. suatu saat suku ini akan naik dan menguasai segala bidang di indonesia..

  13. roy van halen pada Sun, 10th Jun 2012 17:34 

    suku yang paling banyak menyandang gelar DR dan Phd skarang di indonesia adalah suku batak..

  14. jon leno pada Wed, 5th Dec 2012 17:43 

    marilah kita berfikir positip jangan terpengaruh dengan pola fikir tak sehat seperti sukuisme, mari sadarkan diri bahwa kita ini org indonesia yg memiliki dasar hukum untuk bernegara,,,hidup persatuan Indonesia….

  15. Si Raja Oloan pada Sat, 19th Oct 2013 23:36 

    saya marga Naibaho org Toba namun di silsilah Marga Si Raja Oloan kami masih satu garis keturunan dengan Karo-karo,,surbakti,sitepu,,Barus dan mereka pun mengakui bahwa mereka adalah anak keturunan si Raja Oloan dan kami punya punguan Marga Pomparan Si Raja Oloan se Kota Medan dan anggotanya bukan hanya Si Raja Oloan Batak Toba yg bermarga Naibaho,sihotang,bakkara,sinambela,sihite,manullang tapi juga Karo-karo,Barus,Surbakti,sitepu,sinulingga,batu nangkar,sinuaji,sinuraya,sinubulan,guru singa..itulah marga karo yg masih Saudara kami di tanah Karo..dan sampai saat ini punguan marga kami sangat kompak dan merasa seperti saudara saling tolong menolong…jadi jangan pisahkan kami mereka adalah saudara kami keturunan Si Raja Oloan..jika ingin tau lebih banyak bertanyalah ke Punguan Marga Kami dan akan di ceritakan sejarahnya dan Garis Silsilah Kami

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!