Google Translate : Mbantu bangetzz bagi yang pas-pasan Inggrisnya
October 10, 2008 oleh wahyunansyah
Tersimpan pada Teknologi Informasi
Pagi ini saya mencoba fasilitas Google Translate, sebuah fasilitas yang bisa dibilang baru dari google untuk melakukan taranslasi dari satu bahasa ke bahasa lainnya.. Saat tulisan ini saya posting, Google Translate sudah dapat mentranslate 35 Bahasa.
asik juga ya, kita enggak pusing lagi kalau baca web2 yang berbahasa inggris, atau bahasa lainnya
dan juga prosesnya lumayan cepat..
ada 4 fasilitas didalamnya :
1. Text and Web
Dengan fasilitas ini kita bisa langsung mengetikkan kalimat yang mau di trasnlate ke dalam bahasa tertentu, atau dibagian bawah ada juga fasiltas Translate 2 web page, yang berguna mentranslate seluruh halaman web.
2. Translated Search
Nah kalau fasilitas yang ini, hebatnya, kalau kita cari suatu kalimat, maka yang akan tampil di layar dalam 2 bahasa (yang kita telah tentukan sebelumnya)
3. Dictionary
kita dapat mencari arti suatu kata secara lebih terperinci berdasarkan kamus bahasanya. kadang dilengkapi dengan fasilitas suara dan gambar terhadap objek yang dicari. sayang dukungan bahasanya belum terlalu banyak, hanya 12 bahasa.
4. Tools
Disini kita dapat menjumpai script untuk menampilkan Google Translate di Blog Kita.
saya melakukan uji coba dengan web CNN.COM, salah satu pusat berita dunia, coba perhatikan sebelum dan sesudah translate..
wow keren..
Pokonya TOP deh..
selamat mencoba
Wahyunansyah | http://wahyunansyah.blogspot.com | Mobile : 0811 610 604
Google Translate: Solusi bagi yang pas-pasan bahasa asingnya
October 10, 2008 oleh wahyunansyah
Tersimpan pada Kontribusi, Pendidikan, Teknologi Informasi
Pagi ini saya mencoba fasilitas Google Translate, sebuah fasilitas yangbisa dibilang baru dari google untuk melakukan taranslasi dari satu bahasa ke bahasa lainnya.. Saat tulisan ini saya posting, Google Translate (GT) sudah dapat menterjemahkan 35 Bahasa.
asik juga dan keren, kita enggak pusing lagi kalau baca web2 yang berbahasa inggris, atab dan lain..
dan juga prosesnya lumayan cepat..
ada 4 fasilitas didalamnya :
1. Text and Web
Dengan fasilitas ini kita bisa langsung mengetikkan kalimat yang mau di trasnlate ke dalam bahasa tertentu, atau dibagian bawah ada juga fasiltas Translate 2 web page, yang berguna mentranslate seluruh halaman web.
2. Translated Search
Nah kalau fasilitas yang ini, hebatnya, kalau kita cari suatu kalimat, maka yang akan tampil di layar dalam 2 bahasa (yang kita telah tentukan sebelumnya)
3. Dictionary
kita dapat mencari arti suatu kata secara lebih terperinci berdasarkan kamus bahasanya. kadang dilengkapi dengan fasilitas suara dan gambar terhadap objek yang dicari. sayang dukungan bahasanya belum terlalu banyak, hanya 12 bahasa.
4. Tools
Disini kita dapat menjumpai script untuk menampilkan Google Translate di Blog Kita.
saya melakukan uji coba dengan web CNN.COM, salah satu pusat berita dunia, coba perhatikan sebelum dan sesudah translate..
wow keren..
selamat mencoba
Wahyunansyah | http://wahyunansyah.blogspot.com | Mobile : 0811 610 604
Halal Bi Halal Blogger Sumut
October 6, 2008 oleh realylife
Tersimpan pada Agenda BloggerSUMUT
Di hari nan Fitri ini
BloggerSUMUT mengundang rekan2 semua untuk hadir pada acara Halal Bi Halal Bloggersumut pada :
Hari : Minggu, 12 Oktober 2008
Jam : Dimulai pukul 1 siang
Tempat : Jalan Bayangkara No. 445 Medan ( Sekretariat BloggerSUMUT )
Acara : Halal Bi Halal
update:
Denah bisa dilihat seperti berikut
(klik untuk memperbesar)
salam hormat
Realylife ( ketua bloggersumut )
Narsisme dalam Politik
Narsis atau yang dalam bahasa gaulnya merupakan kebiasaan untuk menunjukkan diri secara berlebihan, kini ternyata tak hanya menyerang kaum remaja. Para calon anggota legislatif (caleg) yang akan ikut Pemilu 2009 pun ikut-ikutan terkena “demam” narsis ini.
Mau bukti? Lihat saja poster, spanduk, baliho dan brosur yang tersebar di hampir seluruh sudut ruang-ruang publik. Ada poster ucapan selamat puasa, lebaran atau tahun baru dari para caleg ini. Di sudut-sudut jalan di Medan juga tumbuh bak cendawan spanduk para caleg. Bunyinya pun rata-rata membebek. Caleg A dari Partai B mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Hampir seluruhnya poster, spanduk, baliho dan brosur para caleg ini dilengkapi foto. Ada foto yang sedang tersenyum. Ada foto yang sedang menyeringai, persis gaya di pas foto. Pokoknya lengkap.
Beragam pertanyaan kemudian muncul dan mencoba menjadi bahan bahasan saya dalam tulisan ini. Pertama, apakah memasang spanduk, poster, baliho atau brosur efektif untuk memperkenalkan para caleg? Kedua, apakah juga efektif untuk membantu pemilih menentukan pilihannya dalam Pemilu 2009? Ketiga, apa alasan para caleg memasang poster, spanduk, baliho dan brosur di ruang publik?
Ketiga pertanyaan ini sangat relevan jika dilihat dari sudut pandang ilmu komunikasi. Soal efektivitas misalnya, model komunikasi luar ruang atau bellow the line yang disajikan para caleg pada publik, bisa dikatakan meniru dari strategi pemasaran. Dalam kasus ini, bisa diambil kesimpulan bahwa para caleg kini tak ada bedanya dengan produk kesehatan, pasta gigi atau makanan siap saji.
Pemanfaatan strategi marketing tentunya sesuatu yang sah dilakukan. Tapi tentunya tak harus meniru secara mutlak. Marketing dalam politik tentu berbeda dalam marketing dalam consumer goods. Ketika negara-negara maju seperti Amerika mulai mempertanyakan efektivitas iklan dan menggantikannya dengan strategi public relations, menjadi sangat lucu ketika kita masih menganggap iklan politik sesuatu yang bisa efektif merubah prilaku pemilih.
Saya berpendapat, pemanfaatan iklan politik hanya akan bisa memberikan efek adanya “perhatian” (attention) dari pemilih. Padahal dalam teori komunikasi yang disebut AIDDA (Attention, Interest,Desire, Decission, Action), perhatian menduduki posisi awal dalam sebuah proses komunikasi massa. Artinya, jika hanya untuk sekedar memperkenalkan diri poster, baliho, spanduk serta brosur bisa dikatakan efektif. Tetapi, apakah para caleg hanya cuma ingin dikenal? Jawabannya tentu saja tidak. Persoalannya, mengenal dan kemudian menjatuhkan pilihan bagi seorang caleg, tentu dua hal yang berbeda dan jauh sekali jaraknya. Para caleg tentunya berharap publik memberikan pilihannya pada mereka di TPS pada Pemilu 2009. Maka itu, jika hanya mengandalkan media luar ruang seperti diatas, bisa dipastikan, para caleg hanya akan nge-top tapi keok di Pemilu 2009, menjadi keniscayaan.
Lantas soal pemanfaatan ruang publik yang kini menjadi semacam arena untuk meraih “perhatian” publik, tetap juga tak bisa dimanfaatkan maksimal oleh para caleg. Saya memperhatikan hampir seluruhnya para caleg yang mengisi ruang publik dengan poster, spanduk, baliho dan brosurnya tidak menjalin komunikasi dua arah (reciprocal communication). Mereka sepertinya tak pernah mengharapkan adanya feed back dari publik terhadap media luar ruang yang dipasangnya. Padahal, ini penting untuk mengetahui respon publik pada tahap menarik perhatian ini.
Lihat saja, banyak media luar ruang yang hanya bermaksud untuk menunjukkan seorang caleg tapi malah menutup dirinya rapat-rapat. Tidak ada nomor handphone yang bisa dihubungi jika ada pemilih yang merasa simpati. Tidak ada alamat fax untuk mengirimkan dukungan. Tidak ada alamat email untuk menuliskan simpati. Tidak ada alamat website atau blog yang bisa diakses oleh publik secara luas.
Saya pernah ingin menghubungi seorang caleg karena merasa simpati dengan pesan yang disampaikannya. Tapi sayang sekali, tak ada nomor telepon yang bisa saya hubungi. Hal yang sama juga pernah saya rasakan ketika saya merasa kesal dengan tampilan media luar ruang milik seorang caleg. Saya ingin memberitahu bahwa adanya kesalahan dalam penulisan di spanduk miliknya. Tetapi, lagi-lagi tak ada nomor telepon yang bisa dihubungi.
Kadang saya merasakan adanya “kesombongan kolektif” dari para caleg dengan tidak membuka saluran-saluran komunikasi ini. Seolah-olah, publiklah yang harus mencari tahu dan bekerja keras jika ingin memberikan dukungan pada si caleg. Sedangkan si caleg, karena sudah memasang spanduk, baliho, brosur maupun poster, merasa sudah melunaskan kewajibannya pada publik. Ada juga kesan yang muncul bahwa caleg merupakan sebuah kedudukan yang tinggi, sehingga, publik secara luas tidak boleh sembarangan untuk berkomunikasi. Sungguh mengherankan!
Bisa dibayangkan bagaimana jika caleg macam ini yang nantinya akan terpilih dan duduk di parlemen. Bisa dibayangkan bagaimana publik hanya akan selalu ditempatkan sebagai objek yang harus diperhatikan menjelang Pemilu.Tapi, saya berfikir positif saja, mungkin karena cuma itulah yang mereka mampu lakukan.
Aulia Andri, Pengajar di Universitas Negeri Medan
Tutur
October 2, 2008 oleh hellda
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Dalam perjalanan ke tempat kerja hari ini, kebetulan memang saya tinggal di tempat yang masih memiliki sifat kedaerahan. Daerah yang saya tempati sekarang ini adalah mayoritas suku Batak Karo. [Biasanya masyarakat Karo yang saya temui, mereka tidak terlalu suka disebut Batak. Menurut mereka Karo itu berbeda dengan Batak]. Sewaktu di angkot itu, saya mendengar wanita lansia dan seorang pria lansia juga sedang bercengkarama. Mereka sibuk menentukan “tutur” mereka. Sebenarnya saya tidak begitu tahu arti “tutur” dalam bahasa Indonesia. Tapi yang pasti, tutur itu seperti panggilan seseorang terhadap yang lainnya begitu juga sebaliknya didasarkan pada marga mereka jika dihubungkan.
Sembari mendengar mereka saling ber-tutur, saya jadi sadar kalau saya masih belum paham betul bagaimana hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Belum lagi kalau marga yang satu dari Batak Toba atau mungkin yang lainnya sedangkan yang lainnya dari Karo maupun Batak-Batak yang lainnya. Argh!
Pertanyaan yang selalu menyinggahi benak saya adalah: “Kok bisa banyak sekali ya marga-marga ini? Jadi bingung aku!”
Untungnya saya memang berupaya untuk menghapal hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Saya juga tahu beberapa istilah-istilah beberapa marga. Contohnya sejak kelas 1 SMP, saya paling hafal dengan satu istilah ini yaitu “parna”, “parna” itu seperti grup. Beberapa marga yang masuk ke dalamnya baik dari Karo, Simalungun dan Batak Toba adalah Ginting, Simbolon, Saragih, Sitanggang.
Hanya itu yang ada di memori saya. Kemudian untuk marga saya sendiri (kalau untuk perempuan sebenarnya disebut “boru” dalam bahasa Batak dan “beru” dalam bahasa Karo, yang saya tahu marga saya ini jika dimasukkan ke dalam Karo akan sama dengan marga Karo-Karo.
Mulai dari lingkungan saya yang dulu baik di sekolah ataupun di rumah sampai di daerah saya yang sekarang, masih banyak remaja yang tahu mengenai paling tidak marga mereka masing-masing namun banyak juga yang tidak mengerti hal tersebut.
Mungkin, bukan mungkin lagi, tapi harus! Orang tua harus menanamkan nilai-nilai budaya mereka dan mengajarkan asal-usul mereka. Namun seraya bertambahnya umur anak-anak menjadi remaja, sering kali mereka tidak peduli terhadap hal-hal tersebut. Akibatnya di masa depan, mungkin ada yang buta sama sekali dengan apa yang disebut dengan “tutur” tersebut sehingga mereka menikah dengan seseorang yang seharusnya tidak boleh mereka nikahi menurut adat.
Memang di era globalisasi sekarang ini, mungkin ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak penting. Asal dia tidak menikah dengan saudara kandungnya sendiri, tak apalah! Namun, sungguh disayangkan bukan? Nilai-nilai budaya yang seharusnya dilestarikan malah harus punah.








