Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Tutur

October 2, 2008 oleh  
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya

Dalam perjalanan ke tempat kerja hari ini, kebetulan memang saya tinggal di tempat yang masih memiliki sifat kedaerahan. Daerah yang saya tempati sekarang ini adalah mayoritas suku Batak Karo. [Biasanya masyarakat Karo yang saya temui, mereka tidak terlalu suka disebut Batak. Menurut mereka Karo itu berbeda dengan Batak]. Sewaktu di angkot itu, saya mendengar wanita lansia dan seorang pria lansia juga sedang bercengkarama. Mereka sibuk menentukan “tutur” mereka. Sebenarnya saya tidak begitu tahu arti “tutur” dalam bahasa Indonesia. Tapi yang pasti, tutur itu seperti panggilan seseorang terhadap yang lainnya begitu juga sebaliknya didasarkan pada marga mereka jika dihubungkan.

Sembari mendengar mereka saling ber-tutur, saya jadi sadar kalau saya masih belum paham betul bagaimana hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Belum lagi kalau marga yang satu dari Batak Toba atau mungkin yang lainnya sedangkan yang lainnya dari Karo maupun Batak-Batak yang lainnya. Argh! :shock:

Pertanyaan yang selalu menyinggahi benak saya adalah: “Kok bisa banyak sekali ya marga-marga ini? Jadi bingung aku!”

Untungnya saya memang berupaya untuk menghapal hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Saya juga tahu beberapa istilah-istilah beberapa marga. Contohnya sejak kelas 1 SMP, saya paling hafal dengan satu istilah ini yaitu “parna”, “parna” itu seperti grup. Beberapa marga yang masuk ke dalamnya baik dari Karo, Simalungun dan Batak Toba adalah Ginting, Simbolon, Saragih, Sitanggang. :oops: Hanya itu yang ada di memori saya. Kemudian untuk marga saya sendiri (kalau untuk perempuan sebenarnya disebut “boru” dalam bahasa Batak dan “beru” dalam bahasa Karo, yang saya tahu marga saya ini jika dimasukkan ke dalam Karo akan sama dengan marga Karo-Karo.

Mulai dari lingkungan saya yang dulu baik di sekolah ataupun di rumah sampai di daerah saya yang sekarang, masih banyak remaja yang tahu mengenai paling tidak marga mereka masing-masing namun banyak juga yang tidak mengerti hal tersebut.

Mungkin, bukan mungkin lagi, tapi harus! Orang tua harus menanamkan nilai-nilai budaya mereka dan mengajarkan asal-usul mereka. Namun seraya bertambahnya umur anak-anak menjadi remaja, sering kali mereka tidak peduli terhadap hal-hal tersebut. Akibatnya di masa depan, mungkin ada yang buta sama sekali dengan apa yang disebut dengan “tutur” tersebut sehingga mereka menikah dengan seseorang yang seharusnya tidak boleh mereka nikahi menurut adat.

Memang di era globalisasi sekarang ini, mungkin ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak penting. Asal dia tidak menikah dengan saudara kandungnya sendiri, tak apalah! Namun, sungguh disayangkan bukan? Nilai-nilai budaya yang seharusnya dilestarikan malah harus punah.

http://www.expat.or.id/images/sittingonfloor.jpg

Tentang hellda
Yes, this is me, Helda, the weirdie! Do u think so? Let's check me out..!
Blog: http://helda.info/

Komentar

17 Komentar untuk tulisan "Tutur"

  1. parlin pada Thu, 2nd Oct 2008 22:50 

    memang betul neh kk,,,
    sebenarnya, nilai nilai budaya kita itu harus ditanamkan secara turun-menurun. agar nantinya, kita bisa faham terhadap budaya kita sendiri..

  2. spydeeyk pada Fri, 3rd Oct 2008 1:12 

    dohh.. tulisannya nendang banget.., saya berdarah batak.., tp tidak tau sedikit pun tentang “tutur” ini.., sering jd malu sendiri :(, ada yang mau ngajarin??

  3. Adieska pada Fri, 3rd Oct 2008 23:25 

    Wah hellda hebat. Mantep neh… Kam beru apa hel?

  4. franmi karto pada Fri, 3rd Oct 2008 23:57 

    Untuk jaman sekarang memang agak sulit kalau kita berharap nilai2 budaya tetap tertanam seperti yang diinginkan.

    Soalnya seiring dengan perubahan jaman, ada beberapa faktor yang membuat nilai2 budaya terkadang tidak relevan lagi kalau diterapkan.

    Salah satu contohnya, bagi etnis batak (toba,karo,simalungun,pakpak,mandailing) pada umumnya antara mertua pria dan menantu wanita tidak boleh berinteraksi secara langsung misalnya berbicara,dianggap satu hal yang sangat tabu. Tetapi dengan adanya alat komunikasi (handphone/telepon)hal ini malah sering terjadi baik sengaja atau tak sengaja.

    Nah, ini membuktikan bahwa perubahan jaman juga mempengaruhi lunturnya nilai2 budaya yang menjadi warisan nenek moyang kita.

    Acem?

  5. HeLL-dA pada Sat, 4th Oct 2008 11:19 

    @all

    Terima kasih.. Terima kasih…
    :wink:

    Oya, saya boru Sihombing Lumbantoruan no. 18..
    Hihihi..
    (Hapal, Bo’.)

  6. hellda pada Sat, 4th Oct 2008 11:26 

    @all

    Terima kasih.. Terima kasih…
    :)

    Oya, saya boru Sihombing Lumbantoruan no. 18. (Sampe’ hapal, Bo’)

  7. hellda pada Sat, 4th Oct 2008 12:16 

    Tengkyu.. tengkyu..
    Oya, saya boru Sihombing Lumbantoruan nomor 18.
    (Sampe’ hapal, Bo’)
    :)

  8. hellda pada Sat, 4th Oct 2008 12:52 

    Saya boru Sihombing Lumbantoruan nomor 18.
    (Sampe’ hapal, Bo’.)

    Thx.
    :)

  9. rarzi pada Sun, 5th Oct 2008 11:05 

    salam kenal ya bang, sesama blogger dari sumut juga aku

  10. Aulia Andri pada Sun, 5th Oct 2008 15:18 

    Saya tertarik baca treath ini, tapi ada persoalan. Bahasa yang digunakan masih kacau. Jika, boleh berkomentar, saya mau bilang, bahwa ada banyak kata yang “gagal” untuk disampaikan secara lebih indah. Contohnya.
    “Dalam perjalanan ke tempat kerja hari ini, kebetulan memang saya tinggal di tempat yang masih memiliki sifat kedaerahan. Daerah yang saya tempati sekarang ini adalah mayoritas suku Batak Karo. [Biasanya masyarakat Karo yang saya temui, mereka tidak terlalu suka disebut Batak. Menurut mereka Karo itu berbeda dengan Batak].” (kalimat ini terlalu panjang).

  11. RItool pada Sun, 5th Oct 2008 22:57 

    Kalau di Eropah, Batak artinya = suku / kelompok masyarakat pegunungan.

    Jadi di Eropah ada juga orang Batak ( penduduk asli ), tapi tak ada hubungan tutur dengan suku Batak di Sumatera.

    Bingung ? coba search , nanti ketemu juga kata ( Batak ) itu.

  12. rotyyu pada Wed, 8th Oct 2008 12:04 

    kalau mengenai tutur, sebenarnya sih tinggal bagaimana kita membiasakan diri saja, tidak perlu dihafal…

  13. Ronald Rianda pada Thu, 16th Oct 2008 16:26 

    banyak bergaul dengan kawan-kawan yang mengerti hal begituan. Pengalaman pernah baca buku yang mengulas tentang tutur. Masih susah diingat. Jadi hayo… cari kawan ito

  14. neena pada Fri, 17th Oct 2008 11:21 

    kalo aq si gak peduli dgn tutur2an itu, yg penting sopan sm yg lebih tua n sayang sm yg muda hehehe… itu aja da cukup,
    mungkin krn aq bkn org batak ya..

  15. edoanta tarigan pada Sun, 6th Mar 2011 19:50 

    ingat satu hal…
    ginting bukan lah parna
    dan satu lg,karo bukanlah batak…
    terima kasih

  16. dolse br sihombing pada Mon, 5th Mar 2012 11:27 

    da yang bilang sihombing tuh masuk tarigan??????
    yg mna ch bnar

  17. Mahesa pada Fri, 9th Mar 2012 13:16 

    ‘Tutur’sangat lah penting bagi manusia beradat..

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!