Acara Grand Launching Tblog Community
February 23, 2009 oleh parlin sinaga
Tersimpan pada Agenda BloggerSUMUT
Jumat malam kemarin sekitar pukul 19.30 Wib, acara launching TBlog Community akhirnya dilaksanakan di Center Piece Merdeka Walk, Medan. Kita bloggerSUMUT beserta blogger-blogger yang mayoritas berada di Medan, turut hadir dalam acara kemarin. Hal ini juga menandakan bahwa Tblog Community atau Telkomsel Blogger Community telah resmi berdiri.
Acara yang dihadiri oleh lebih dari 82 blogger ini cukup meriah dan seru. Acara ini juga dihadiri oleh Pihak Manajemen dari Telkomsel, diantaranya adalah Manager Grapari Medan, Pak Kurnia Hadhi, dan Manager PCM (Preferred Customer Management) Sumbagut Bu Elly Susilawaty serta Pak Gelora Viva Sinulingga dari Kabid Program Infokom Provsu.
Acara yang dimulai dengan Kata Sambutan dari mas Said yang mewakili bloggerSUMUT, Pak Hadhi dari Telkomsel, dan Pak Gelora dari bainfokomsumut akhirnya dilanjutkan hingga ke puncak acara yakni grand launching tblog community. Tblog community ini akhirnya diresmikan oleh bapak Gelora Viva Sinulingga dari Kabid Program Infokom Provsu.

Dalam acara puncak ini juga, telkomsel sebagai media partner bloggersumut menyerahkan sebuah modem kepada bloggersumut melalui ketua Ahmad Said. Setelah acara peluncuran tblog community, acara selanjutnya adalah sesi tanya jawab antara blogger dengan telkomsel dan pihak pemerintah.

Dalam sesi tanya jawab ini juga, Pak Gelora Viva Sinulingga (kiri) berpesan kepada kita blogger-blogger agar kiranya bisa menjadi seorang blogger sehat dalam artian tidak mempublikasikan content fornografi, menyebarkan software secar ilegal dan SARA.

Yang paling serunya adalah kita blogger yang ada diacara bisa melihat secara langsung teman-teman yang ada di Siantar melalui Video Call yang dibawakan oleh bapak Gelora Viva Sinulingga.
Akhirnya, sekitar pukul 22.00 Wib, acara ini berakhir dan semua blogger saling beramah tamah dan saling berbaur dengan blogger lainnya.
Telkomsel Blogger Community dan Citizen Journalism
Awal Tahun 2008. Saya tidak ingat persis tanggalnya tapi sekitar bulan Januari. Saya menghubungi Riza, mantan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera (UMSU) untuk membuat sebuah website yang mengusung prinsip citizen journalism. Setahun sebelumnya, saya memang sudah menggandrungi beberapa wesbite atau blog citizen journalism yang bertebaran.
Saya mengajak Riza karena saya tahu dia punya hobi yang sama dengan saya dalam hal mengutak-atik website. Awalnya, saya bersama Riza merancang nama untuk website citizen journalism yang akan kami buat. Saya mengusulkan sejumlah nama seperti Mentiko.com. Riza tidak setuju. Dia mengusulkan nama Tekongan.com.
Setelah bertemu beberapa kali, kami kemudian menyepakati untuk membuat sebuah website dengan alamat www.tekongan.com. Alasannya sederhana saja. Tekongan itu bahasa asli Medan.
“Cocok nama itu bang. Sudahlah itu saja,” kata Riza mendesak saya.
“Yakin kau itu bahasa Medan?” Saya.
“Ya iya lah. Sudah pas itu,” tegas Riza lagi.
Maka setelah itu saya membangun sebuah website berbasis content management system (CMS) Joomla. Saya membangun website ini sambil belajar. Istilahnya learning by doing saja. Kebetulan saya juga yang membuat website UMSU (www.umsu.ac.id), sehingga punya sedikit pengalaman mengelola website berbasis Joomla.
“Website ini akan kita persembahkan untuk kemajuan masyarakat Medan,” kata saya pada Riza.
Dia tampak bersemangat. Tekongan.com memang akan lebih menekankan informasi-informasi yang ditulis dan dirasakan oleh masyarakat. Saya sudah lama meyakini, media-media non mainstream seperti web yang mengusung konsep citizen journalism akan berkembang. Hingga kini website Tekongan.com masih bisa diakses. Perkembangannya pun semakin baik dengan ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pengaksesnya.
20 Februari 2009, bertempat di Merdeka Walk Medan, saya menghadiri launcing Telkomsel Blogger Sumut. Saya sudah bergabung dengan komunitas Blogger Sumut sejak 5 bulan lalu. Komunitas ini saya nilai sangat positif untuk mengembangkan dunia information communication technology (ICT) di Sumut. Maka itu, saya sangat mendukung komunitas Blogger Sumut ini. Malam ini, saya bersama sekitar 80 anggota komunitas Blogger Sumut berkumpul untuk meresmikan di launchingnya komunitas Telkomsel Blogger Community.
Said, Ketua Blogger Sumut dalam sambutannya mengatakan bahwa komunitas ini bertujuan untuk mengembangkan citizen journalism. Dia juga meyakini, blog akan bisa membantu menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Saya gembira mendengar sambutan dari Said. Dia tampak bersemangat.
Malam ini, usai mendengarkan Said menyampaikan pidatonya mewakili Blogger Sumut yang bersemangat, saya langsung ingin menulis. Dari situs mesin pencari google saya kemudian menemukan beberapa tulisan tentang citizen journalism. Dari website rumahkiri.net saya menemukan sebuah tulisan menarik berjudul Citizen Journalism, Sebuah Fenomena. Disana disebutkan bahwa sebenarnya istilah citizen journalism sudah lama dikenal namun dengan beda-beda istilah. Namun spiritnya tetap sama dengan public journalism atau civic journalism yang terkenal pada tahun 80-an. Yaitu, perkara bagaimana menjadikan jurnalisme bukan lagi sebuah ranah yang semata-mata dikuasai oleh para jurnalis.
Lantas, apa bedanya fenomena public journalism dengan istilah citizen journalism sekarang ini? Menurut website ini, ada perbedaanya. Perbedaannya, itu terletak pada kemajuan teknologi media sehingga semangat partisipatoris yang melibatkan publik dalam mendefinisikan isu semakin terakomodasi.
Selain itu, kemajuan teknologi media membuat akses publik untuk memasuki ranah jurnalistik semakin terbuka. Semangatnya, sekali lagi, tetap sama. Yaitu, mendekatkan jurnalisme pada publiknya.
Maka itu saya berpendapat pada dasarnya, tidak ada yang berubah dari kegiatan jurnalisme yang didefinisikan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan berita. Citizen journalism pada dasarnya melibatkan kegiatan seperti itu.
Hanya saja, kalau dalam pemaknaan jurnalisme konvensional yang melakukan aktivitas tersebut adalah wartawan, kini publik juga bisa ikut serta melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wartawan di lembaga media. Karena itu, Shayne Bowman dan Chris Willis lantas mendefinisikan citizen journalism sebagai “…the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information“.
Ada beberapa istilah yang dikaitkan dengan konsep citizen journalism. Public journalism, advocacy journalism, participatory journalism, participatory media, open source reporting, distributed journalism, citizens media, advocacy journalism, grassroot journalism, sampai we-media.
Civic journalism, menurut Wikipedia, bukan citizen journalism karena dilakukan oleh wartawan walau pun semangatnya tetap senada dengan public journalism, yaitu (lebih) mengabdi pada publik dengan mengangkat isu-isu publik. Citizen journalism adalah bentuk spesifik dari citizen media dengan content yang berasal dari publik. Di Indonesia, istilah yang dimunculkan untuk citizen journalism adalah jurnalisme partisipatoris atau jurnalisme warga.
J.D. Lasica, dalam Online Journalism Review (2003), mengategorikan media citizen journalism ke dalam 6 tipe:
- Audience participation (seperti komenter user yang diattach pada kisah-kisah berita, blog-blog pribadi, foto, atau video footage yang diambil dari handycam pribadi, atau berita lokal yang ditulis oleh anggota komunitas).
- Situs web berita atau informasi independen (Consumer Reports, Drudge Report).
- Situs berita partisipatoris murni (OhmyNews).
- Situs media kolaboratif (Slashdot, Kuro5hin).
- Bentuk lain dari media ‘tipis’ (mailing list, newsletter e-mail).
- Situs penyiaran pribadi (situs penyiaran video, seperti KenRadio).
Ada dua hal setidaknya yang memunculkan corak citizen journalism seperti sekarang ini. Pertama, komitmen pada suara-suara publik. Kedua, kemajuan teknologi yang mengubah lansekap modus komunikasi.
Public journalism acap dikaitkan dengan konsep advocacy journalism karena beberapa media bergerak lebih jauh tidak saja dengan mengangkat isu, tetapi juga mengadvokasikan isu hingga menjadi sebuah ‘produk’ atau ‘aksi’—mengegolkan undang-undang, menambah taman-taman kota, membuka kelas-kelas untuk kelompok minoritas, membentuk government watch, mendirikan komisi pengawas kampanye calon walikota, dan lain-lain.
Public atau citizen journalism juga dikaitkan dengan hyperlocalism karena komitmennya yang sangat luarbiasa pada isu-isu lokal, yang ‘kecil-kecil’ (untuk ukuran media mainstream), sehingga luput dari liputan media mainstream.
Public journalism dengan model seperti ini mendasarkan sebagian besar inisiatif dari lembaga media. Kemajuan teknologi dan ketidakterbatasan yang ditawarkan oleh Internet membuat inisiatif semacam itu dapat dimunculkan dari konsumen atau khalayak. Implikasinya cukup banyak, tidak sekadar mempertajam aspek partisipatoris dan isu yang diangkat.
Kembali ke soal Telkomsel Blogger Community, saya kemudian berpikir-pikir, rupanya Telkomsel menginginkan adanya sinergi dengan publik, khususnya blogger Sumut. Sinergi ini bisa saja dengan banyaknya blog yang nantinya akan menulis tentang Telkomsel. Repotnya dan ini tentunya yang harus diantisipasi jika kenyataanya, para blogger menulis hal-hal buruk. Saya mahfum jika nanti pihak Telkomsel akan sibuk merespon berbagai tulisan “miring” tentang Telkomsel. Atau mungkin Telkomsel bisa saja mengabaikan apapun yang ditulis para blogger dan menganggapnya sebagai kritik membangun. Tapi, ya itu, kini memang zamannya citizen journalism. Siapa saja bisa menulis tentang apa saja. Selama itu bisa dipertanggungjawabkan. Ya, kan!
Aulia Andri, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Medan
Pemuda Membangun Opini
“Pemuda, tonggak sejarah, tonggak masa depan”
Pemuda adalah cadangan masa depan. Hal ini lah yang menjadi dasar pemikiran mereka yang memenuhi kriteria pemuda. Cenderung bersemangat, orientasi masa depan, bergerak tanpa pikir panjang, atau bahkan terkadang mudah tersulut emosi. Itu lah pemuda, kaum intelektual.
Tapi apa benar semua pemuda sesuai kriteria? Belum tentu (mungkin termasuk diri kita sendiri). Mereka selayaknya bisa menjadi penggerak di dalam masyarakat, tetapi faktanya justru sebagian pemuda hanya menjadi ‘sampah’ masyarakat. Kasar? Tentu tidak. Apa nama yang lebih tepat bagi pemuda yang selalu berfoya-foya, nge-drug, nongkrong sana sini tak tentu arah, bergaya funky tanpa dasar dan tak menghasilkan karya nyata. Bukan, bukan pemuda seperti ini yang dibutuhkan negeri ini.
Zamrud khatulistiwa ini membutuhkan pemuda yang matang, visioner, berkarakter kuat. Sudah saatnya kita membangun opini dalam panggung kemeriahan sorak-soray manusia. Pemuda membangun opini lewat tangannya, lewat lisannya, lewat sikapnya. Tentu saja opini yang positif, bukan negatif. Sampai akhirnya masyarakat memandang pemuda dengan dua mata terbuka, tidak dengan sebelah mata.
Pemuda, engkau pemuda? Mari kita tanyakan diri kita
Toko Modern dan Kejujuran dalam Berdagang
Saya tergugah dengan iklan Letjen (Purn) Prabowo Subianto versi Pasar. Dibuka dengan kalimat perkenalan, “Saya Prabowo Subianto….”, membuat saya tersentak. Iklan ini sebenarnya iklan politik, tapi saya rasa berhasil mengenai sasaran secara tepat. Tapi saya bukan mau bicara soal efektif atau tidak efektif iklan Prabowo versi Pasar itu. Saya lebih tergugah dengan pesan yang disampaikannya yaitu pentingnya membangun ekonomi mikro dengan berbelanja di pasar tradisional.
Sejak empat tahun ini saya memang sudah beriktiar untuk sebisa mungkin tidak berbelanja di supermarket, pasar swalayan, hypermart atau jenis pusat perbelanjaan modern. Bukan apa-apa, saya pernah membaca bahwa kebijakan membangun pasar modern seperti Carefour di tempat asalnya, Perancis berdasarkan berbagai pertimbangan. Informasi yang saya dapatkan, di Perancis, Carefour tidak boleh dibangun di inti kota. Gunanya, ya untuk menyelamatkan pasar-pasar tradisional yang ada di inti kota.
Aneh memang, ketika di Perancis, Carefour tidak bisa berbuat banyak, tapi sebaliknya di Indonesia. Carefour berdiri dengan “sombong” di pusat-pusat perbelanjaan. Carefour “mengepung” pasar-pasar tradisional. Persoalnnya, bukan hanya Carefour. Di Medan ada sejumlah hypermart modern yang didirikan seperti Makro dan Hypermart.
Kondisi ini tentu saja, akan memberi sumbangan berarti bagi penurunan omset penjualan pasar tradisional. Kehadiran pasar-pasar modern ini membuat pasar tradisional yang becek dan kumuh akan ditinggalkan konsumen. Yang lebih parah lagi munculnya sejumlah pasar semi besar dan berjaringan seperti Alfamart. Dengan model pemasaran franchise, Alfamart kini mulai melebarkan sayap di Medan. Mereka hadir di beberapa tempat. Saya yakin, tak lama lagi, puluhan toko belanja modern seperti Alfamart akan hadir di Medan.
Ikhtiar saya untuk tidak berbelanja di pasar atau toko modern ternyata membawa hikmah. Begini ceritanya, pernahkah Anda mempersoalkan jika di pasar atau toko modern, uang kembalian Anda ditukar dengan permen? Kejadian ini sudah seringkali terjadi. Saya awalnya memberikan “maaf” atas perlakukan ini. Biasanya, jika tidak ada kembalian Rp 100, maka akan ditukar dengan sebuah permen. Atau ini masih lebih bagus, ada juga toko modern yang menganggap “asin” uang itu. Misalnya Anda belanja Rp 7.850,- maka ketika Anda membayar dengan uang Rp 10.000,- maka Anda akan hanya mendapat kembalian uang sebesar Rp 2.000,-. Padahal, seharusnya Anda mendapat pengembalian uang sebesar Rp 2.150,-. Kemana uang Rp 150,- itu? Jika Anda coba menanyakan pasti akan dijawab enteng bahwa tidak ada uang receh. Anda pun langsung tersenyum.
Nah, coba bandingkan jika Anda berbelanja di pasar tradisional atau warung kelontong. Uang Rp 150,- itu pasti tidak akan hilang. Pemilik warung kelontong biasanya dengan sigap mengembalikan sejumlah uang yang memang harus dikembalikan. Dan kalau pun terjadi pemotongan, pasti Anda akan ribut. Kok ya bisa?
Saya seringkali bereksperimen. Setiap kali berbelanja di pasar atau toko modern saya selalu pasang muka “seram”. Saya tak rela uang saya dipotong satu perak pun. Pernah kejadian ketika berbelanja saya dipotong hampir Rp 200,-. Lalu saya minta. Eh, dijawab tidak ada kembalian uang seratus. Saya malah diberi permen. Saya menolak dan tetap minta dikembalikan uang Rp 200,- itu. Petugas kasirnya langsung sewot melihat saya. Mungkin dipikirkan kok ya ini orang ngeyel dengan uang Rp 200,-.
Lalu saya bilang, bagaimana kalau besok uang saya kurang Rp 200,-, apakah saya bisa minta potongan? Dia jawab bisa. Makanya, besok harinya saya datang lagi kesana. Kebetulan kurang Rp 200,-. Saya menyerahkan uang tanpa melengkapi Rp 200,-. Petugas kasirnya bingung, dia meminta saya menambahkan uang. Saya bilang uang saya masih tersisa Rp 200,- disini, kemarin. Dia makin bingung. Lalu saya minta petugas kasir yang kemarin, yang kebetulan ada disitu untuk memberikan penjelasan. Akhirnya, dengan wajah gondok mereka membiarkan saya tidak melengkapi uang Rp 200,-.
Ada banyak pelajaran moral yang bisa saya dipetik dari pengalaman ini. Saya hanya ingin memberi pelajaran bagi para pedagang toko modern untuk bisa jujur dalam berdagang. Malah, pernah saya berpikir, mungkin Prabowo Subianto mau membantu, menggalang kekuatan dan membuat kampanye Anti Pasar Swalayan Modern. Gerakan dan kampanye ini tentu efektif untuk memberikan kekuatan penyeimbang bagi para pedagang pasar tradisional dan warung kelontong menghadapi serbuan kapitalisasi.
Akhirnya, saya hanya ingin membuka mata publik untuk meminimalisir berbelanja di pasar modern. Apalagi Carefour, bukan apa-apa karena banyak orang yang sok-sokan berbelanja di Carefour dan mengucapkannya dengan lafal yang salah. Carefour dibaca dengan aksen bahasa inggris jadi KERFUR. Seharusnya yang benar tetap dibaca dengan aksen perancis, yaitu KARFUR. Selamat berbelanja dan tertipu oleh kenyamanan pasar modern.
Aulia Andri, Citizen Reporter
Meninggalkan Pola Ajar Guru Tempo Dulu
February 16, 2009 oleh gunawan
Tersimpan pada Pendidikan
Ramai sekali media massa menulis masalah Sumber Daya Manusia. Begitu pula para pakar telah sama setuju bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia amat diperlukan pendidikan. Dengan arti kata dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul penting. Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Kualitas suatu bangsa diukur dengan sumber daya manusianya.
Kita sadari bahwa pendidikan, sungguh penting untuk kemajuan bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini mantan Presiden Soeharto telah mencanangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. mantan Presiden mencanangkan lagi wajib belajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidangnya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di lapangan secara baik.
Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelaksanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menutup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu. Dan orang-orang arif dalam dunia pendidikan di negara ini cukup respon atas berbagai masalah pendidikan. Mereka merekayasa dan melaksanakan berbagai usaha peningkatan dan penyegaran.
Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi peningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kurikulum yang diikuti oleh perubahan struktur buku-buku pelajaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek peningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penyediaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.
Betapa usaha ini diterapkan melalui pengorbanan moril dan materil. Memberikan keringanan bagi guru-guru, misalnya dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah, agar dapat mengikuti penataran apakah dalam bentuk sanggar-sanggar atau bentuk kelompok laninnya. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil UASBN yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem¬perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar.
Barangkali apa yang menyebabkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini?
Lihatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid baru sampai pada taraf memberi bekal pengetahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanusiaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sistem pengajaran kita lihat hubungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas memberi dan yang lain sekedar menerima saja.
Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang, kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepanjang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke ha¬dapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenya¬taan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di belakang.
Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas-tugas hafalan untuk diuji. Sistem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkeritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancam¬an pada nilai rapor. Demikianlah ungkap salah seorang murid dalam suatu dialog ringan. Belajar dengan cara menghafal sungguh mematikan kreatif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih menerapkan pengajaran sistem kuno.
Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Diantaranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru menganggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan setiap murid menerima apa yang dikatakan. Pernah kejadian pada sebuah sekolah. Seorang murid kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik konstruktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelin¬tasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois.
Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pendekatan yaitu konvensional, progresif dan metode liberal. Sekolah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.
Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode konvensional. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ceramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi hanyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.
Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya manusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang, berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.
Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya, yakni guru jangan mengajar asal-asalan. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama peningkatan kualitas, berfungsi sebagai konselor, motivator dan fasilitator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sempurna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan, kualitas diri. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. Andai kata mereka mengikuti penataran atau sanggar, misalnya, janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin, mengharapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura.
Agar dapat memainkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membelajarkan diri, otodidaktif, dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu berlindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah waktu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan berfikir dengan harapan kita semua dapat menjadi gum yang berkualitas agar kita dapat mendidik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas
Sindrom Positif
Sindrom adalah sebutan untuk sebuah kelainan yang telah menyebar ke seluruh tubuh sehingga sulit untuk disembuhkan. Bermula dari sesuatu yang kecil dan dianggap sepele, akan tetapi membesar dengan cepat sehingga sangat sulit untuk disembuhkan. Begitulah seseorang yang terjangkit sindrom, tidak tahu kapan mulai terjangkit dan begitu sadar telah terjangkit, semuanya sudah terlambat. Begitu sulit bahkan sangat sulit untuk sembuh.
Saya pernah berpikir ternyata tidak hanya hanya penyakit saja yang tidak bisa disembuhkan. Ada hal lain yang ternyata sulit untuk “disembuhkan” yaitu kebiasaan. Kebiasaan ibarat sebuah racun yang menyebar ke seluruh tubuh tanpa kita tahu bahwa kita telah terjangkit, merangsang seluruh persendian tanpa terkecuali, dan akhirnya kita menganggap bahwa racun tersebut adalah bagian dari tubuh kita.
Saya punya sebuah kebiasaan yaitu mencuci muka setiap kali pergi ke toilet. Saya tidak tahu sejak kapan saya mulai terbiasa melakukan hal tersebut dan bahkan mungkin saya telah beribu kali melakukan hal tersebut karena yang ada di pikiran saya setiap kali ke toilet adalah mencuci muka sebelum meninggalkan toilet. Kini saya menyadari bahwa mencuci muka setiap kali ke toilet adalah kebiasaan saya karena saya selalu merasa ada yang kurang dan bahkan merasa tidak pergi ke toilet apabila saya tidak mencuci muka sebelum meninggalkan toilet. Aneh, tapi begitulah perasaan saya ketika menyadari apa yang telah terjadi dan sulit bagi saya untuk lepas dari kebiasaan itu. Suatu ketika, saya pernah menggunakan sarana toilet yang ada pada sebuah mall. Sebelum meninggalkan toilet, saya mencari wastafel yang umumnya selalu tersedia di setiap toilet. Saya memutar keran dan seketika itu saya langsung kecewa karena ternyata air nya mati dan saya juga tidak bisa mencuci muka apabila tidak ada air. Saya keluar dari toilet dan syukurlah saya ketemu dengan seorang petugas kebersihan. Saya kemudian menanyakan masalah air mati tersebut dan petugas tersebut menjelaskan bahwa saat itu terjadi pemadaman listrik sehingga jatah listrik untuk penyediaan air ditiadakan agar memiliki cadangan listrik yang cukup. Saya kesal dengan pernyataan petugas tersebut sehingga saya memberikan sindiran yang pedas dan langsung meninggalkan mall tersebut.
Saya percaya bahwa kebiasaan belum tentu sesuatu yang buruk. Kalau Anda membaca pengalaman saya di atas, Anda mungkin akan merasa bahwa kebiasaan saya adalah sesuatu yang buruk. Akan tetapi ada juga yang menyatakan bahwa itu bukanlah sesuatu yang buruk. Nah, itu tergantung Anda untuk menyikapinya. Ketika berusaha untuk mengubahnya, saya merasa kesulitan dan muncul berjuta pertimbangan dalam diri saya. Apa saya melakukan hal yang salah sehingga saya harus mengubahnya? Apa orang lain terkena dampak yang negatif dari kebiasaan saya tersebut? Dan ketika menyadari bahwa jawaban dari keduanya adalah “tidak”, maka saya mengurungkan niat untuk merubah kebiasaan tersebut. Wajah saya memang berminyak sehingga saya merasa fresh ketika mencuci muka setiap kali ke toilet. Walaupun begitu, saya yakin tidak akan mati di tempat atau langsung sakit apabila saya mengubah kebiasaan saya.
Saat ini saya sedang berada di perantauan dan oleh sebab itu saya selalu diingatkan untuk tidak mudah percaya kepada orang lain karena sekarang ini banyak orang yang pertamanya berbuat baik akan tetapi setelah dilihat kita mulai percaya, barulah dia beraksi. Sebenarnya saya merasa pesan ini sangat berlebihan karena saya yakin tidak semua orang yang baru kita kenal dan berbuat baik adalah penjahat dan mengapa kita malah mencurigai orang yang berbuat baik kepada kita. Salahkah bila orang berbuat baik?
Seseorang teman saya pernah bercerita bahwa dia menjadi korban dari sikap yang tidak mempercayai orang yang baru dikenal ketika sedang naik bus. Saat bus sedang berada di perempatan jalan, dia melihat seorang Ibu yang sudah tua naik bus yang ditumpanginya. Melihat penampilan Ibu tersebut, teman saya langsung memberikan tempat duduknya kepada Ibu itu. Ternyata yang diterima teman saya tersebut bukanlah ucapan terima kasih. Ibu tersebut malah bersikap was-was terhadap teman saya. Selama perjalanan dia memegang erat tas nya sesekali melirik dengan penuh ketakutan ke arah teman saya. Ketika teman saya tersebut menceritakan hal ini kepada saya, saya hanya tertawa mendengarnya. Padahal dilihat dari tampangnya, teman saya ini tidak kelihatan seperti preman dan tergolong orang yang pendek dan juga kurus, jadi hal yang lucu jika ada orang yang takut padanya. Walaupun begitu, kejadian tersebut sangat memprihatinkan bagi saya karena reaksi teman saya setelah mengalami hal tersebut. Dia mengatakan bahwa tidak akan berbuat baik lagi terhadap orang yang baru dikenalnya. Dia mengatakan, “Apa gunanya kita berbuat baik kalau kita malah dicurigai” dan perkataannya ini membuat saya terdiam. Saya tidak bisa menyalahkannya atas kejadian ini. Saya juga tidak bisa menyalahkan Ibu tersebut. Sedih sekali hanya gara-gara seseorang saja, pandangan teman saya berubah. Padahal jika sekali lagi kalau teman saya berbuat baik, belum tentu akan mengalami respon seperti itu. Saya menyadari bahwa ini adalah pengaruh dari kebiasaan yang begitu waspada ketika ada orang yang baru dikenal berbuat baik.
Kalau kita perhatikan, kelakuan masyarakat terhadap lingkungannya ternyata adalah sebuah pola sebab-akibat. Si ibu yang takut akan orang yang dikenalnya mungkin pernah ditipu oleh orang yang baru saja dikenalnya. Begitu juga teman saya tersebut, dia telah memberikan ultimatum terhadap dirinya untuk tidak pernah lagi menolong orang yang baru dikenalnya karena sakit hati melihat perlakuan orang yang ditolongnya. Pola seperti ini saya yakin akhirnya bisa saja menyebar ke semua orang tanpa terkecuali dan perlu kita sadari, secara tidak langsung kita telah terjangkit sindrom karena pola ini akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Lebih ironis lagi karena ini bukan saja kebiasaan individu tapi sudah menjadi kebiasaan public. Jadi apa yang harus kita lakukan untuk merubah semuanya? Saya yakin ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.
Mungkin kita pernah belajar mengenai kutub positif dan kutub negatif. Kutub positif dan kutub negatif selalu tarik-menarik. Ternyata proses tarik-menarik antara dua kutub dipengaruhi oleh sifat magnetik. Jika sifat magnetik kutub positif lebih besar dibanding kutub negatif, maka kutub positif akan menarik kutub negatif, begitu juga sebaliknya. Pertanyaannya adalah hal apa saja yang dapat meningkatkan sifat magnetik sebuah kutub? Sifat magnetik sebuah kutub akan semakin meningkat jika sebuah kutub semakin besar. Perihal tentang kutub tersebut dapat kita jadikan pembelajaran mengenai masalah sindrom. Sama seperti kutub positif dan negatif, sindrom juga ada yang positif dan negatif. Hal-hal yang telah dijabarkan sebelumnya, menurut saya dikategorisasikan ke dalam sindrom negatif. Lalu apakah ada sindrom yang positif karena berkaca dari pengertian mengenai sindrom terkandung makna yang negatif.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang bisa hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Oleh sebab itu, sewajibnya kita saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Namun, apakah kita telah mewujudkan sikap saling menghargai dalam kehidupan kita? Jangankan dalam perkara yang besar, dalam perkara kecil saja kita jarang saling-menghargai antara satu dengan yang lain. Ketika orang lain membantu kita, apakah kita selalu mengucap terimakasih atau tersenyum sebagai pertanda rasa terimakasih kita? Sebenarnya mengucap terimakasih bukanlah perkara yang besar. Itu hanya perkara yang kecil tapi terkadang perkara yang kecil tersebut tidak menarik untuk kita lakukan. Kita malah memikirkan perkara yang lebih besar, seperti memikirkan apa yang harus kita berikan sebagai pertanda terimakasih.
Saatnya kita untuk berubah. Mari mulai sekarang kita membiasakan diri untuk melakukan sindrom yang positif agar sifat magnetik sindrom positif dalam kita lebih tinggi dari sindrom negatif. Mungkin dengan mengucapkan terimakasih kepada petugas jalan tol ketika membayar jasa penggunaan jalan tol, kepada orang orangtua atau pun saudara kita atas bantuan mereka, kepada tukang ojek, tukang becak, kernek bus, atau kepada siapa pun yang telah membantu kita. Seringkali ucapan terima kasih hanya kita berikan kepada orang yang pantas menurut kita yang secara tidak langsung menciptakan kasta-kasta di dalam pikiran kita. Ini sebaiknya yang harus kita hindari. Seperti yang saya katakan tadi, kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Kita ini sama derajatnya, tidak ada sebelumnya yang lebih tinggi derajatnya dibanding pekerjaan lainnya, tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya dibanding manusia lainnya, yang berbeda hanya tugasnya saja. Antara pekerjaan yang satu dengan pekerjaan lainnya yang berbeda hanya tugas yang harus dilakukan oleh pemilik pekerjaan tersebut. Untuk itulah, sebaiknya jangan pernah untuk mengkastakan rasa terima kasih kita. Selain dengan mengucapkan terima kasih, kita juga dapat menunjukkan rasa kepedulian kita dengan membalas senyuman orang lain, tidak mengindahkan pertanyaan yang ditujukan kepada kita, bersikap jujur dan berkata jujur, dan lain sebagainya yang Anda dapat tambahkan sendiri.
Jadi, mulailah saat ini. Mulailah untuk melakukan sindrom yang positif. Mulailah untuk menanamkan sindrom positif di dalam benak kita, di dalam persendian kita, bahkan di dalam jiwa kita, karena sindrom bersifat menyebar, menjangkiti tanpa terkecuali, dan akhirnya meluas tanpa kita sadari. Begitulah nantinya ketika kita memulai untuk melakukan sindrom postif pada diri kita sendiri, tanpa kita sadari akhirnya menyebar kepada orang lain, dan akhirnya dapat meluas kepada semua orang yang ada di bumi ini. Kelihatan mustahil bukan? Tapi percaya lah, sesautu yang mustahil akan mustahil jika kita tidak mencoba melakukannya. Jadi jangan tunggu apalagi untuk memulainya.
Launching Komunitas Blogger Telkomsel
February 13, 2009 oleh Nich
Tersimpan pada Agenda BloggerSUMUT
Telkomsel sebagai sebuah perusahaan yang menyediakan jasa komunikasi dan teknologi, kini telah membentuk sebuah komunitas blogger yang diberi nama t-blog community. Sebagai bentuk peresmiannya, Telkomsel akan mengadakan sebuah acara yang diselenggarakan pada
| Tanggal | : | 20 Pebruari 2009 |
| Tempat | : | Merdeka Walk, Medan |
| Waktu | : | Pukul 19.00 – 22.00 |
Jika anda adalah seorang blogger dan anda adalah pengguna layanan Telkomsel, maka anda bisa mengikuti acara ini dan mendapatkan merchandise plus acara hiburan secara cuma-cuma. Bagi yang berminat, silahkan isi Form Pendaftaran yang telah disediakan. Pendaftaran hanya untuk 85 orang peserta dan pendaftaran akan ditutup pada tanggal 16 Pebruari 2009.






