Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Filosofi Dasar dalam Pengembangan Kurikulum Sekolah

April 29, 2009 oleh  
Tersimpan pada Pendidikan

Pengembangan kurikulum perlu menentukan filosofi tertentu untuk menyelaras berbagai kepentingan sesuai harapan masyarakat. Masyarakat sekarang menuntut standard kualitas yang tinggi dalam pendidikan. Standar ini mencakupi kompetensi yang seimbang dalam kecerdasan atau logika, moral dan akhlak mulia atau etika, seni dan keindahan estetika, serta kekuatan dan kesehatan jasmani atau kinestetika.

Brameld dalam Longstreet dan Shane ( 1993 ), mengelompokan keempat paham, yaitu perennialism, essentiallism, progressivism dan reconstructivism. Perennialism lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya serta dampaksosial tertentu. Pengetahuan yanh lebih eksternal serta ideal lebih dipentingkan untuk dipelajari, sementara kegiatan sehari – hari kurang ditekankan.

Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Pemikiran Plato dan karya Shakespeare merupakan contoh dari kebenaran absolut dan keindahan yang sempurna dalam kehidupan manusia.

Manusia berbagi alam secara bersama – sama, maka seyogianya setiap orang akan memperoleh keuntungan tentang kebenaran absolut dankeindahan yang ideal. Implikasi dari penerapan perennialismdalam pengembangan kurikulum adalah penyajian yang sama untuk semua orang. Setiap orang memperoleh pengetahuan yang sama penting bagi siapa saja, dimana saja. Perbedaan individual atau diversifikasi kurikulum kurang diakomodasikan dalam perennialism ini.

Essentiallism menentukan pentingnya pewarisan budaya pemberian pengetahuan serta keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sanis danmata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar subtansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat.

Essentiallism menekankan pada individu sebagai sumber pegetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. bagaimana saya hidup di dunia?

Apakah pengalaman itu ?
Progressivism menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada siswa, variasi pengalaman belajar, dan proses. Progressivism merupakan landasan filosofis bagi pengembanganbelajar aktif.

Recontructivism merupakan elaborasi lanjut dari paham progreeivism. Pada recontructivism peradaban manusia masa depan sangat ditekan. Recontructivism berorientasi masa depan sedangkan perennialism dan essentialism berorientasi masa lalu. Recontructivismberanjak lebih jauh dari progressivism yang menekan pada perbedaan individual, pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.

Penganut paham ini akan memepertanyakan Untuk apa berfikir kritis memecahkan masalah dan melakukan sesuatu ? Penganut paham ini menekankan pada hasil belajar ( learning out comes ) dari pada proses. Sekolah adalah suatu tempat untuk mencapai seperangkat hasil belajar yang mewujudkan kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Perangkat ini telah ditentukan dan direncanakan sebelumnya.

Penggunaan filosofi di atas tidak terjadi dalam keadaan vakum. Untuk pertumbuhan ekonomi akan terjadi reaksi untuk lebih back to basic atau essentialism. Untuk krisis kebudayaan orang lebih suka memilih reconstructivism yang berorientasi ke masa depan. Untuk metode dapat dipilih progresif dan rekontruktif.

Pengembagan kurikulum biasanya tidak menganut filosofi tunggal. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) misalnya tidak menganut filosofi tunggal. KBK tetap berpegang pada tut wuri handayani, ingmadya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada. Standar kompetensi dapat menjadi acuan untuk guru agar dibelakang dapat memberi dorongan dan bimbingan, di tengah bermitra agar peserta didik berkarya, serta di depan memberi tauladan dengan menunjukan akuntabilitas yang lebih jelas melalui indikator yang harus dicapai kompetensi.

Pengembangan kurikulum berorientasi masyarakat biasanya lebih status quo karena memfokuskan pada ; siapa danmasyarakat mana? Hal ini dapat menjebak pengembangan pada pilihan termudah, yaitu masyarakat terbanyak yang dikatakan sebagai kurang dapat mengikuti ; atau terlalu berpihak golongan yang cendrung sangat mampu sehingga terkesan eksklusif. Pengembangan elektif lebih mampu mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kebutuhan masyarakat yang beragam dengan menerapkan filosofi pendidikan secara elektif pula.

Berbagai pertanyaan berikut tidak dapat menjawab dengan memilih salah satu filosofi, semua keputusan bergantung kepada potensi, kebutuhan dan keadaan masyarakat itu sendiri. Pertanyaan tersebut yaitu :
1. Bagaimana mencapai kreativitas ?
2. Bagaimana membudayakanmasyarakat ?
3. Bagaimana dengan tuntutan duni kerja dan industri ?
4. Bagaimana dengan tuntutan abaf informasi ?
5. Bagaimana dengan demokrasi ?
6. bagaimana mengembangkan moralitas akademik dan sikap ilmiah ?

Diperlukan cara yang cukup cerdik untuk merajut filosofi mana yang akan dipilih, terutama dalam keadaaebudayaan, ban Indonesia yang sangat heterigen secara geografis, sosial ekonomi, khasa dan infrastruktur.

Tentang gunawan

Blog: http://pak-gunawan.blogspot.com

Komentar

8 Komentar untuk tulisan "Filosofi Dasar dalam Pengembangan Kurikulum Sekolah"

  1. realylife pada Wed, 29th Apr 2009 20:19 

    setuju banget pak

  2. m ihsan dacholfany M.Ed pada Sat, 16th May 2009 12:10 

    DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN DASAR
    YANG BERWAWASAN KEWIRAUSAHAAN

    A. PENDAHULUAN

    Salah satu masalah yang sangat besar yang terus menerus menerpa negara kita adalah penganguran yang kita rasakan semakin lama rasanya semakin tidak teratasi. Meskipun para elit politik dengan gagah berani berjanji akan mengatasi pengangguran?
    Masalah lainnya adalah negara kita termasuk negara pengkonsumsi produk, bukan pencipta produk. Hal ini dapat kita hitung berapa persen produk lokal yang ada dan dijual di suatu supermarket, jika dibanding dengan produk impor. Bukankah secara tidak langsung ini menjadi menjadi borosnya penggunaan devisa negara?.
    Sudah menjadi kenyataan bahwa tingkat pengangguran di negara kita semakin hari semakin meningkat dari tahun ke tahun terutama dari kalangan mereka yang terdidik terutama para lulusan perguruan tinggi. Kondisi lapangan kerja yang tersedia tidak seimbang dengan jumlah lulusan lembaga pendidikan.
    Salah satu penyebabnya adalah para lulusan lembaga pendidikan umumnya mengejar posisi sebagai pegawai / karyawan. Terutama menjadi PNS menjadi lahan persiangan yang sangat-sangat kompetitif.
    Telah menjadi anggapan yang umum, suatu lembaga pendidikan yang bermutu, adalah suatu lembaga pendidikan yang banyak para lulusannya berhasil lulus diterima di lembaga pendidikan yang lebih tinggi. Demikian pula dianggap lembaga pendidikan yang berkualitas, apabila para lulusan banyak diserap atau diterima oleh insatansi pemerintah atau swasta. Apakah demikian daya lembaga pendidikan?
    Dilain pihak, para lulusan yang mandiri, berwirausaha, yang katanya bekerja di sektor informal, yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya, atau bahkan dapat menyediakan lapangan bagi orang lain dipandang sebelah mata, bahkan ini barangkali luput dari perhatian lembaga pendidikan atau bahkan pemerintah. Bahkan kalau bekerja menjadi wirauasaha tidak menjadi PNS atau perusahaan, dianggap orang kurang berhasil. Sehingga wajar kalau dalam benak para orang tua, atau para lulusan, tertanam suatu harapan atau cita cita untuk menjadi pegawai atau karyawan setelah lulus sekolah atau kuliah. Inilah yang dinamakan pola pikir priyayi.
    Dengan stigma yang demikian maka sangat diperlukan penanaman kewirausahaan sedini mungkin dalam lembaga pendidikan dasar, agar dapat mengubah pola pikir yang menjadi salah satu penyebab masalah pengangguran tidak teratasi? Karena lembaga pendidikan salah satunya yang diharapkan mengubah pola pikir ini, sehingga di masa mendatang lahir para lulusan yang mempunyai stigma positif terhadap wirausaha serta memberikan wawasan bahwa wirausaha merupakan salah satu lapangan kerja yang terhormat yang sejajar dengan profesi sebagai pegawai /karyawan, serta diharapkan di masa yang akan datang lahir wirausahawan yang tanggung yang mempu beronivasi sehingga negara kita menjadi negara produsen bukan menjadi negara konsumen.

    B.HAKEKAT PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN
    Hakekat dari program pendidikan kewirausahaan pada dasarnya merupakan proses pembelajaran penanaman tata nilai kewirausahaan melalui pembiasaan dan pemeliharaan perilaku dan sikap.
    Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif (Suryana, 2000). Istilah kewirausahaan berasal dari terjemahan “Entrepreneurship”, dapat diartikan sebagai “the backbone of economy”, yang adalah syaraf pusat perekonomian atau pengendali perekonomian suatu bangsa (Soeharto Wirakusumo, 1997:1). Secara epistimologi, kewirausahaan merupakan suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha atau suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan berbeda. Menurut Thomas W Zimmerer, kewirausahaan merupakan penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya untuk memanfaatkan peluang yang dihadapi sehari-hari. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, keinovasian dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha baru.
    Menurut Marzuki Usman, pengertian wirausahawan dalam konteks manajemen adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan sumber daya, seperti finansial, bahan mentah dan tenaga kerja untuk menghasilkan suatu produk baru, bisnis baru, proses produksi ataupun pengembangan organisasi. Wirausahawan adalah seseorang yang memiliki kombinasi unsur-unsur internal yang meliputi kombinasi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang usaha. Sedangkan menurut Sri Edi Swasono, dalam konteks bisnis, wirausahawan adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausahawan. Wirausahawan adalah pionir dalam bisnis, inovator, penanggung resiko, yang memiliki visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam berprestasi di bidang usaha.
    Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup.
    Dahulu ada pendapat bahwa kewirausahaan merupakan bakat bawaan sejak lahir, bahwa entrepreneurship are born not made, sehingga kewirausahaan dipandang bukan hal yang penting untuk dipelajari dan diajarkan.
    Namun dalam perkembangannya, nyata bahwa kewirausahaan ternyata bukan hanya bakat bawaan sejak lahir, atau bersifat praktek lapangan saja. Kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu yang perlu dipelajari. Kemampuan seseorang dalam berwirausaha, dapat dimatangkan melalui proses pendidikan. Seseorang yang menjadi wirausahawan adalah mereka yang mengenal potensi dirinya dan belajar mengembangkan potensinya untuk menangkap peluang serta mengorganisir usahanya dalam mewujudkan cita-citanya.

    C. KEWIRAUSAHAAN DALAM DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN DASAR

    Dalam Undang-undang SISDIKNAS No.20 Tahun 2003, Pasal 37 ayat (2) menyatakan bahwa ”Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan Kabupaten/Kota atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan kantor Departemen Agama Propinsi untuk pendidikan menengah.” Hal ini menunjukkan bahwa yang mengembankan kurikulum bukan lagi Pemerintah, melainkan kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah. Pemerintah daerah hanya melakukan koordinasi dan supervisi.
    Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan bahwa tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
    Pada tahun 2005 Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PPSNP) sebagai pelaksanaan dari Undang-undang SISDIKNAS No.20 Tahun 2003. PPSNP ini menjadi bahan acuan formal bagi setiap warga negara Republik Indonesia, khususnya bagi para pejabat dan petugas yang menangani pendidikan.
    PPSNP pasal 17 ayat (1) menyatakan bahwa ”Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.
    Sesuai dengan satuan pendidikan maksudnya bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan mengacu pada visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan. Bila visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan berbeda satu sama lain, maka KTSP nyapun mestinya juga terdapat perbedaan. Misalnya, oleh karena visi, misi, dan tujuan sekolah-sekolah Muhammadiyah, sekolah-sekolah Kristen dan Katolik, serta sekolah-sekolah negeri berbeda satu sama lain, maka kurikulum untuk sekolah-sekolah tersebut mestinya juga terdapat perbedaan-perbedaan. Sesuai dengan potensi daerah/karakteristik daerah, misalnya sekolah yang berada di perkotaan, pedesaan, pertambangan, perikanan, pertanian karena memiliki potensi/karakteristik yang berbeda satu sama lain maka kurikulum untuk sekolah-sekolah tersebut mestinya juga terdapat perbedaan-perbedaan.
    Hal yang diuraikan di atas merupakan dasar hukum yang dijadikan landasan membuat kurikulum yang berwawasan kewirausahaan. Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah PPSNP ayat (2) menegaskan bahwa ”Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK”.
    Struktur kurikulum SD/MI meliputi substansi pembelajaran yang ditempuh dalam satu jenjang pendidikan selama enam tahun mulai Kelas I sampai dengan Kelas VI. Struktur kurikulum SD/MI disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran. Kurikulum SD/MI memuat 8 mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri.
    Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.
    Oleh karena itu pendididikan kewirausahaan dapat dimasukan kedalam kategori muatan lokal.
    Materi pembelajaran nilai-nilai kewirausahaan yang masuk pada muatan lokal meliputi :

    ? Nilai-nilai kewirausahaan dikaitkan dengan apa yang sudah dipahami dan dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik secara langsung maupun tidak langsung (pembelajaran konstektual).
    ? Memberikan kebebasan dan bimbingan kepada siswa dalam memahami (konseptualisasi) materi nilai-nilai kewirausahaan yang sedang dibahas (pembelajaran pencapaian konsep dan konstruktivime)
    ? Mengupayakan penciptaan kegiatan yang memungkinkan siswa bekerjasama, kolaborasi dalam memahami nilai-nilai kewirausahaan yang sedang dibahas (pembelajaran kooperatif)
    ? Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencobakan atau menerapkan materi yang telah dipelajari.
    ? Menggunakan berbagai media pembelajaran guna memfasilitasi siswa dalam mempertajam dan memahami nilai-nilai kewirausahaan yang sedang dipelajari.
    ? Memelihara kedisiplinan dan tanggungjawab siswa selama proses pembelajaran, sekaligus menghindari kegiatan yang berdampak membosankan, mengendurkan semangat belajar dan berakhir dengan gangguan aktivitas dan kreativitas belajar siswa.
    ? Pembelajaran diarahkan untuk membiasakan siswa melakukan observasi cermat terhadap realitas kehidupan sekitar (lokal, regional, nasional dan global)
    ? Guru selalu menjadi teladan dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam mengimplementasikan nilai-nilai kewirausahaan yang seharusnya dilakukan.
    Metode Pembelajaran seperti telah dijelaskan di atas bahwa hakekat pendidikan Kewirausahaan adalah menanamkan sikap, pembukaan wawasan dan pembekalan pengalaman awal yang dalam proses pembelajarannya bukan sekedar hafalan atau target kognitif, tetapi dipelajari melalui penanaman kebiasaan yang harus dikerjakan atau dilakukan sendiri secara berulang-ulang dan tidak sekedar hanya mengerti dan mengalami. Untuk itu maka metode yang digunakan antara lain:
    • Ceramah
    Digunakan dalam menyampaikan materi, konsep, pengalaman atau informasi lain yang berkaitan dengan penanaman sikap, wawasan dan pemberian bekal pengetahuan.
    • Bermain peran/simulasi
    Digunakan dalam memberikan pengalaman untuk menerapkan konsep kewirausahaan, termasuk memberikan masukan mengenai pengamatan sikap dan perilaku kinerja siswa dalam kondisi dan situasi seperti sesungguhnya.
    • Diskusi
    Digunakan dalam upaya secara bersama-sama memahami suatu konsep belajar menggalang kerjasama dan saling menghargai serta bertukar gagasan atau pengalaman.
    • Penugasan/Projeck work
    Digunakan dalam upaya memberikan pengalaman awal, memupuk rasa percaya diri (Belajar berani melakukan sesuatu dalam situasi sesungguhnya) menggali alternatif pemecahan masalah.
    • Pemecahan Masalah/Studi Kasus
    Digunakan untuk menghadapi kasus yang sifatnya lebih spesifik dengan cara membandingkan masalah yang dihadapi dengan karakteristik wirausaha yang harus dimiliki sebagai solusi.
    • Observasi/Pengamatan
    Digunakan untuk mengamati secara langsung kepada obyek guna mendapatkan kebenaran informasi teoritis praktis.
    • Presentasi
    Digunakan dalam melatih kemampuan mengungkap ide, gagasan dan mengekspresikan diri melalui wacana, wicara sketsa, bagan dan lain-lain.
    Tempat pelaksanaan pembelajaran Penyelenggaraan pembelajaran Kewirausahaan dapat dilakukan di ruang kelas, aula, ruang terbuka, seperti sambil berkemah dan sebagainya, karena tidak ada batasan baku dalam menentukan tempat proses pembelajaran.

    Aspek evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum, maka untuk mengevaluasi hasil pembelajaran, dapat meliputi :
    • Evaluasi Kompetensi “A” adalah mengaktualisasikan sikap dan perilaku wirausahawan yang dilakukan melalui kegiatan bersama yang terencana, misalnya: berkemah. Dalam proses evaluasi tidak dikenal “salah” dan “benar”, yang ada adalah “baik” dan “lebih baik”.
    • Evaluasi pencapaian kompetensi “B” adalah merencanakan pengelolaan simulasi wirausahawan, dilaksanakan melalui pengukuran penguasaan bahan ajar (Kognitif).
    • Evaluasi kompetensi “C” adalah mengelola pengamatan kebenaran proses dan hasil yang dibuktikan sikap dan perilaku secara personal.

    D.KESIMPULAN.
    Pendidikan kewirausahaan pada dasarnya merupakan proses pembelajaran penanaman tata nilai kewirausahaan melalui pembiasaan dan pemeliharaan perilaku dan sikap sejak dini pada pendidikan dasar. Pada pendidikan dasar Kurikulum berwawasan kewirausahaan dapat dimasukan dalam muatan lokal dari kurikulum, yang diajarkan secara bertahap dan berkelanjutan pada tahapan pendidikan pendidikan dasar dan disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Metode pembelajaran pendidikan Kewirausahaan adalah menanamkan sikap, pembukaan wawasan dan pembekalan pengalaman awal yang dalam proses pembelajarannya bukan sekedar hafalan atau target kognitif, tetapi dipelajari melalui penanaman kebiasaan yang harus dikerjakan atau dilakukan sendiri secara berulang-ulang dan tidak sekedar hanya mengerti dan mengalami.

    Referensi :

    Anonim (2004). Model Pembelajaran Kewirausahaan SMK dengan Kurikulum 2004.
    Heri Suhendri (2009). Teori dan Konsep Kurikulum.http://mybatik.wordpress.com
    Hermanto (2009). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. http://pojokhermanto.blogspot.com
    Pusat Kurikulum (2007). Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum KesetaraanPendidikan Dasar. Balitbang, Dpdiknas
    Pusat Kurikulum (2007). Naskah Akademik Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Balitbang, Dpdiknas.

  3. puthut pada Fri, 3rd Jul 2009 9:46 

    “LINK (NOT) MATCH” DEBAT CAPRES
    DENGAN PENDIDIKAN KITA

    Oleh : Puthut Indroyono

    Ada yang menarik dalam debat capres ke dua di KPU minggu lalu bertema kemiskinan dan pengangguran. Ketiga capres berpendapat relatif senada ketika mengaitkan pendidikan dan dunia kerja. Meskipun ada variasi, ketiganya sepakat dengan gagasan link and match (mengaitkan pendidikan dan dunia kerja). Sejarah menunjukkan bahwa gagasan tersebut telah gagal, dan salah satu penyebabnya adalah tidak sinkronnya paradigma pendidikan kita dengan dunia kerja.
    Gagasan link and match sebenarnya merupakan jawaban atas pengangguran dan kemiskinan melalui pendidikan. Caranya dengan mengkaitkan pendidikan dan dunia kerja (industri), dimana lulusan sekolah dapat tertampung pada dunia industri. Industri memberikan ruang, antara lain dengan memberikan informasi kebutuhan dan kesempatan magang. Link and match diharapkan juga akan menghasilkan calon enterpreneur baru.
    Cara lain adalah memperbanyak sekolah-sekolah kejuruan. Salah satu capres mengusulkan rasio sekolah umum dan kejuruan diperbaiki. Jika sebelumnya berat sekolah umum sebesar 60:40, perlu diubah menjadi sebaliknya.
    Namun mengatasi pengangguran dengan link and match sangat sulit terwujud bila tidak disertai perubahan mendasar cara pandang (worldview) dunia pendidikan. Cara pandang antara lain dapat ditelusuri dalam kurikulum dan materi pendidikan. Banyak pihak meragukan worldview dalam kurikulum dan materi di satu pihak, sejalan dengan tujuan pendidikan.
    Artinya, kurikulum, materi, dan metode mengajar yang dijalankan selama ini tidak mampu menghasilkan lulusan yang dapat memahami realitas sosial, ekonomi, dan budaya dalam masyarakat secara utuh dan sistematis. Salah satu contoh kelemahan mendasar dapat kita temukan dalam pengajaran ekonomi di sekolah dasar (SD).

    Homo Economicus
    Melihat materi pelajaran ekonomi anak penulis yang kebetulan duduk di kelas 4 SD (2008/2009), penulis tertegun dan terheran-heran. Selain materinya relatif “berat”, perspektifnya juga sempit. Manusia dilihat sebagai “homo economicus” atau “economic man”. Orang tua awan sekalipun akan berpendapat sama bila mereka sempat membaca buku-buku anak-anaknya.
    Bab satu buku IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) kelas 4, berisi materi tentang “aktivitas ekonomi berkaitan dengan sumber daya alam (SDA)”. Sub-bab pertama menjelaskan definisi kegiatan ekonomi yaitu :”kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup”. Dijelaskan bahwa: “ …. pada jaman sekarang segala macam kebutuhan hidup diukur dengan sejumlah uang. Oleh karena itu setiap orang bekerja dan berusaha untuk mendapatkan uang. Uang kemudian dibelanjakan untuk memenuhi segala keperluannya”.
    Setelah menguraikan aktivitas ekonomi (produksi, distribusi, dan konsumsi), dilanjutkan beberapa cara masyarakat dalam melakukannya yakni: menjual bahan mentah, mengolah bahan mentah, dan mengembangkan pariwisata (agrowisata, wisata budaya, dan wisata bahari). Beberapa contoh pemanfaatan SDA dan potensi lainnya, misalnya perdagangan sayur mayur di Sumatera Utara, produksi garam di Madura, dan pariwisata di Bali. Adapula ilustrasi berupa foto-foto terkait.
    Dari materi tersebut kita dapat menyimpulkan tentang sudutpandang yang dikembangkan yang hanya melihat manusia sebagai “economic man” dan karena itu materinya cenderung “dogmatis” dan tidak “menghidupkan”. Motif ekonomi tidak selamanya dapat diukur dengan uang, tetapi juga motif sosial, religius, etika, estetika, dan lain-lain. Mengajarkan kepada murid bahwa manusia hidup “hanya mengejar uang”, tentu sangat berbeda dengan substansi pendidikan.
    Dalam pendidikan dasar, seharusnya anak didik diberikan dasar-dasar moral lebih banyak. Ilmu ekonomi yang diberikan seharusnya juga memuat pesan moral/etika dan sosial, termasuk nilai-nilai tentang pelestarian lingkungan, mencintai produk lokal, dll.
    Penulis lebih “terperanjat” ketika membaca buku IPS kelas VI. Seperti buku sebelumnya, penyajian materi terkesan tidak membumi, dogmatis, dan cenderung memberi muatan “berat”. Bab 6 misalnya, menyajikan materi Kegiatan Ekspor Impor. Alasan melakukan ekspor-impor, karena “setiap negara tidak dapat menghasilkan sendiri….”. Kegiatan ekspor-impor melalui proses pertukaran barang dan jasa bertujuan untuk: “Memenuhi kebutuhan masyarakat…..; Mempercepat pembangunan..; dan Meningkatkan kesejahteraan ….”.
    Dicontohkan Indonesia mengekspor mebel, kopi, udang, dan teh, sedangkan impornya meliputi “makanan dan minuman untuk rumah tangga, susu, buah-buahan, sabun, kosmetik, tekstil, beras, bahan kimia, bahan obat, bahan kertas, besi, baja, dan bahan bangunan, mesin-mesin, generator listrik, alat telekomunikasi, peralatan listrik, dan alat pengangkutan”.
    Mungkin benar bahwa contoh yang diambil ada data statistiknya. Namun dengan penyajian yang seperti di atas, murid tidak mendapat “pelajaran” apa-apa. Anak didik hanya diberikan materi “kering” dan sama sekali tidak diberi bekal untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif.
    Alangkah baiknya, anak diberikan penjelasan mengapa Indonesia tetap harus mengimpor “beras, susu, atau barang lainnya”, sementara Indonesia sebenarnya sudah bisa memproduksi barang itu.
    Yang memprihatinkan ketika buku tersebut mengkategorikan “tenaga kerja” sebagai “komoditi/barang” yang diekspor Indonesia. Murid tidak diberitahu mengapa banyak manusia dianggap sebagai “komoditi” dan “diekspor” ke Malaysia dan Timur Tengah. Sementara, dalam berita-berita di TV banyak kejadian tentang penyiksaan para TKI. Anak-anakpun bisa leluasa mendengarkan berita-berita itu.

    “Link not Match”
    Boleh saja gagasan link and match menjadi bahan dalam debat capres. Sayangnya, para capres tidak menawarkan sesuatu yang mendasar selain retorika untuk meraih simpati rakyat. Gagasan link and match tidak akan berhasil jika tidak disertai perubahan mendasar dalam kurikulum pengajaran ekonomi.
    Yang lebih penting adalah bahwa pendidikan mampu memberikan kepada para lulusannya perspektif yang lebih luas. Sejak dini anak-anak kita perlu dibiasakan memiliki sudut pandang yang benar terhadap fenomena sekalipun dalam bahasa yang sederhana. Dengan cara itu para lulusan akan mampu mengembangkan inisiatif dalam mengatasi masalah secara kreatif, sesuai dengan realitas sosial, ekonomi, dan budaya di lingkungan masyarakatnya.
    Sedak dini kita perlu mengajarkan nilai-nilai moral, sosial, patriotisme, pelestarian alam serta estetika. Melalui pengajaran ekonomi kita dapat membekali anak didik dengan “pesan” cinta produk dalam negeri atau produk lokal, menghargai jerih payah petani dengan “membeli buah lokal first” daripada buah impor. Anak kita perlu tahu bahwa dengan membeli produk lokal, ekonomi daerah dan nasional dapat berkembang, dan seterusnya.. dan seterusnya.
    Sekalipun banyak sekolah kejuruan, bila paradigma pengajaran ekonominya masih seperti contoh di atas, gagasan link and match justru menjadi link not match. Ada baiknya orang tua menyempatkan membaca buku anak-anaknya, khususnya menyangkut pelajaran ekonomi.
    Sekalipun salah seorang capres perlu “membuka sepatu” untuk menunjukkan bahwa sepatunya produksi Cibaduyut, namun bila materi “kampanye” tersebut tidak masuk dalam gerakan pembaruan kurikulum pendidikan ekonomi di sekolah, tentu tidak akan mengubah situasi sampai kapanpun.

    Salam.

  4. arianto mapada pada Tue, 7th Jul 2009 14:13 

    pada dasarnya saya setuju jika kewirausahaan dimasukan menjadi kurikulum pendidikan dasar. tetapi satu yang mejadi penting untuk dipikirkan adalah. janagan keluar dari ideologi pancasila

  5. m faiz pada Wed, 29th Jul 2009 8:56 

    Terimakasih ats tulisannya yang sangat bagus, saya jadi tambah wawasan. Saya tunggu tulisan yang lain.

  6. listin lusiana pada Mon, 2nd Nov 2009 21:42 

    trimakasih pak tulisan anda sangat membantu tugas saya. saya tunggu karya yang lain

  7. Am-Am Aminudin pada Sun, 1st Aug 2010 4:28 

    Terimakasih Pak, Tulisan dan karya Bapak sangat membantu tugas dan untuk mengembangkan keilmuan saya dan mudah-mudahan dapat mengikuti jejak Bapak. saya tunggu karya Bapak yang lainnya

  8. Arief B Soedibyo pada Tue, 28th Sep 2010 15:01 

    mantap sekali artikelnya pak, saya saat ini juga ingin mewujudkan adanya penanaman sejak dini tentang jiwa entrepreneur, karena semakin ke depan bangsa Indonesia tidak boleh mengandalkan pemerintah saja dalam hal membuka lapangan pekerjaan. Banyak peluang yang sebenarnya ada di sekitar kita, dan saya melihat banyak lulusan perguruan tinggi yang belum mempunyai mental pemberani untuk memulai suatu usaha, yang dipikirkan hanya bagaimana bisa diterima sebagai PNS atau bekerja di perusahaan dengan gaji sesuai pendidikannya. Yang juga sering terjadi, banyak lulusan sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya ( setengah pengangguran ).
    Terima kasih pak, wawasan saya dan semangat saya semakin bertambah setelah membaca artikel Anda.
    (Arief B Soedibyo – Ketua Umum BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia )

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!