Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Kerajaan Majapahit

April 12, 2009 oleh  
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya

Kerajaan Majapahit Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari.

Raja-Raja yang pernah memerintah Kerajaan Majapahit:

  1. Raden Wijaya 1273 – 1309
  2. Jayanegara 1309-1328
  3. Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350
  4. Hayam Wuruk 1350-1389
  5. Wikramawardana 1389-1429
  6. Kertabhumi 1429-1478

Kerajaan Majapahit ini mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Kebesaran kerajaan ditunjang oleh pertanian sudah teratur, perdagangan lancar dan maju, memiliki armada angkutan laut yang kuat serta dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada.

Di bawah patih Gajah Mada Majapahit banyak menaklukkan daerah lain. Dengan semangat persatuan yang dimilikinya, dan membuatkan Sumpah Palapa yang berbunyi “Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara”.

Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman gemilang kerajaan di masa Hayam Wuruk dan juga silsilah raja sebelumnya tahun 1364 Gajah Mada meninggal disusun oleh Hayam Wuruk di tahun 1389 dan kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran.

Penyebab kemunduran:
Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan daerah bawahan mulai melepaskan diri.

Peninggalan kerajaan Majapahit:
Bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus
Kitab: Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca, Sitosoma oleh Mpu Tantular yang memuat slogan Bhinneka Tunggal Ika.

Paraton Kidung Sundayana dan Sorandaka R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan Kerajaan Majapahit.

Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto. Dua pohon beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo Soejono dan Gubernur Moehammad Noer.

Di belakang bangunan Pendopo Agung yang memampang foto para Pangdam Brawijaya, terdapat bangunan mungil yang dikelilingi kuburan umum. Bangunan bernama Petilasan Panggung itu diyakini Petilasan Raden Wijaya dan tempat Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa.

Begitu memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini sebagai latarnya, tampak beberapa bebatuan yang dibentuk layaknya kuburan, dinding di sekitar ” kuburan ” itu diselimuti kelambu putih transparan yang mampu menambah kesakralan tempat itu.

Menurut Sajadu ( 53 ) penjaga Petilasan Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. ” Tempat ini dikeramatkan karena dianggap sebagai Asnya Kerajaan Majapahit ” katanya.

Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan malam jumat legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. ” orang berdatangan untuk berdoa, agar tujuannya tercapai ” kata Sajadu yang menyatakan pekerjaan menjaga Petilasan Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya.

Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya.

Kemudian pada 1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau yang dikenal dengan Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan pemugaran kembali oleh Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo.

Memasuki kawasan Petilasan Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat disamping pintu masuk. Sedangkan dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil dengan tulisan ” Lima Pedoman ” yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga.

Selengkapnya ” Ponco Waliko ” itu bertuliskan ” Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora Pareng Ngilik Sing Dudu Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng Eidra Hing Ubaya ”

Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak dinyatakan dibuka lagi, pintu depan tidak lagi tertutup dan siangpun boleh masuk.

MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT
Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.

Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

Keruntuhan Majapahit

Tersebutlah kisah, Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih “kapernah” kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir.Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu.

Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak.

Cerita ini masih dibumbui lagi, yaitu setelah Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar “Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama”.

Cerita mengenai serbuan tentara Majapahit itu dapat ditemui dalam “BABAD TANAH JAWI”. Tapi cerita senada juga terdapat dalam “Serat Kanda”. Disebutkan, Adipati Bintara bersama pengikutnya memberontak pada Prabu Brawijaya. Bala tentara Majapahit dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Adipati Terung dan Andayaningrat (Bupati Pengging). Karena takut kepada Syekh Lemah Abang, gurunya, Kebo Kenanga (Putra Bupati Pengging) membelot ikut musuh. Sementara itu Kebo Kanigara saudaranya tetap setia kepada Sang Prabu Brawijaya.

Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam diperlengkapi dengan senjata sakti “Keris Makripat” pemberian Sunan Giri yang bisa mengeluarkan hama kumbang dan “Badhong” anugerah Sunan Cirebon yang bisa mendatangkan angin ribut. Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam.

Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar “Panembahan Jinbun”, adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak. Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali.

Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah. Padahal kenyataannya tidak begitu.

Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam demak.

Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit” secara panjang lebar membantah isi cerita itu berdasarkan bukti-bukti sejarah. Dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi sumber sejarah yang dapat dipercaya. Sumber sejarah itu antara lain beberapa prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti “Negara Kertagama dan Pararaton”. Karena itu tidak mengherankan jika uraiannya tentang Majapahit banyak yang cacat.

“Prasasti Petak” dan “Trailokyapuri” menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.

Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.

Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan Demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak dijaman pemerintahan Sultan Trenggano 1527. Penyerbuan Sultan Trenggano ini dilakukan karena Kediri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.

Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu. Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana.

Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya “Gajah Mada” juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V raja Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah.
Soalnya Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka.

Penuturan buku “Dari Panggung Sejarah” terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya “Ying Yai Sheng Lan” menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.

Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi’ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru.

Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).

Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.

P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873.
L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota.
Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.

Satu situs kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni diDesa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391 Masehi).
Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam dimakam panjang (Kubur Dawa). Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu.

Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan. Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa.

Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.

Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja’far Sodiq menyebarkan ajaran Islam disana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untuk menghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi.

Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu.

ketika kerajaan Majapahit berdiri sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan Raden Wijaya yang bergelar Kertanegara Dharmawangsa, kerajaan ini senantiasa diliputi fenomena pemberontakan.
Pewaris tahta Raden Wijaya, yakni masa pemerintahan Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) dalam memerintah banyak menghadapi pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit dari mereka yang masih setia kepada Kertarajasa.

Pemberontakan pertama sebetulnya sudah dimulai sejak Kertarajasa masih hidup, yaitu oleh Rangga Lawe yang berkedudukan di Tuban, akibat tidak puas karena bukan dia yang menjadi patih Majapahit tetapi Nambi, anak Wiraraja. Tetapi usahanya (1309) dapat digagalkan.

Pemberontakan kedua di tahun 1311 oleh Sora, seorang rakryan di Majapahit, tapi gagal. Lalu yang ketiga dalam tahun 1316, oleh patihnya sendiri yaitu Nambi, dari daerah Lumajang dan benteng di Pajarakan. Ia pun sekeluarga ditumpas.
Pemberontakan selanjutnya oleh Kuti di tahun 1319, dimana Ibukota Majapahit sempat diduduki, sang raja melarikan diri dibawah lindungan penjaga-penjaga istana yang disebut Bhayangkari sebanyak 15 orang dibawah pimpinan Gajah Mada.

Namun dengan bantuan pasukan-pasukan Majapahit yang masih setia, Gajah Mada dengan Bhayangkarinya menggempur Kuti, dan akhirnya Jayanegara dapat melanjutkan pemerintahannya.

Berhenti pemberontakan Kuti, tahun 1331 muncul pemberontakan di Sadeng dan Keta (daerah Besuki). Maka patih Majapahit Pu Naga digantikan patih Daha yaitu Gajah Mada, sehingga pemberontakan dapat ditumpas. Keberhasilan Gajah Mada memadamkan pemberontakan Sadeng membawanya meraih karier diangkat sebagai mahapatih kerajaan.

Namun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389, berkali-kali sang patih Gajah Mada –yang juga panglima ahli perang di masa itu– harus menguras energi untuk memadamkan pemberontakan di beberapa daerah. Pemberontakan Ronggolawe sampai serangan kerajaan Dhaha, Kediri.

Bahkan salah satu penyebab kemunduran dan hancurnya kerajaan Majapahit adalah ketika meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan, daerah bawahan mulai melepaskan diri dan berkembangnya Islam di daerah pesisir

Kerajaan Majapahit yang pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan harus runtuh terpecah-pecah setelah kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

SUMBER : WWW.KING-ALI.TK

Tentang alibaba
http://www.blogali.tk http://www.king-ali.tk
Blog: http://alibaba180678.blogspot.com

Komentar

54 Komentar untuk tulisan "Kerajaan Majapahit"

  1. Ki Ageng Mangir pada Mon, 27th Apr 2009 10:58 

    BREAKING NEWS: Saat ini sedang dipersiapkan proses produksi Film Kolosal Layar Lebar dan Mega Sinetron dengan judul ”MAHAPATIH GAJAH MADA” produksi Sanggar Padepokan Kraton Tirto Wening (Cimone) dan PT Tawi Nusantara Film (Pamulang). Kini sudah bisa dilihat pembuatan setting & property-nya di lokasi shooting di Kp. Cogrek Ds. Peusar Kec. Panongan Cikupa-Tangerang. Mohon doa & restu. Terima kasih (KAM-MGM PUBLICATION DEPT)

  2. namdasa pada Tue, 2nd Jun 2009 10:29 

    Prabu Hayam Wuruk sebenarnya RAJA PANDITO.Perkawinan dengan putri cantik bukan segalanya.Bukan tujuan hidup.Karena pria pengagung cinta akan bermuara pada penderitaan.Satu yang pasti hukum hidup sang maharaja HAYAM WURUK.KEPEMIMPINANYA ADALAH KEEMASAN NEGERI.NAMUN SEPENINGAL BELIAU ADALAH KERUNTUHAN NEGERINYA.Adalah keajaiban TUHAN YANG MAHA PENCIPTA melahirkan raja dengan syarat kelahiran tertentu pula.

  3. Agung Dharmalaksana pada Tue, 2nd Jun 2009 14:41 

    Dalam penyusunan sejarah perlu kejujuran tanpa pengaruh Agama, kepentingan kelompok, dan rasa takut akan kebenaran.
    Sejarah seharusnya adalah merupakan tonggak kesujatian diri dan sarana introspeksi diri jika kita berharap bangsa ini menjadi maju dan besar.
    Saya sebagai generasi muda ingin rasanya mengetahui kebenaran sebuah sejarah bangsa yaitu bangsa kita.
    Rasa hormat kepada sejarah adalah sebuah budaya yang tidak ternilai karena dari sanalah semestinya kita memulai.
    Setiap tahapan perjalanan kekuasaan adalah sejarah.

  4. swedenrizky pada Sun, 28th Jun 2009 17:28 

    saya sangat berterimakasih kepada semua pakar sejarah, yang sudah menulis secuil sejarah tentang kerajaan majapahit, namun perlu diketahui kalau menulis jangan asal menulis apalagi memutar balikan sejarah untuk kepentingan suatu kelompok tertentu,karena dijaman sekarang ini kita hanya tahu dari cerita “katanya”yang kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

  5. bertha braja pada Sun, 30th Aug 2009 11:05 

    good job…!

  6. DEA SELLA EFFENDI pada Tue, 1st Sep 2009 15:51 

    gua disuru nyari tentang kaerajaan hindu nih?

  7. dhewa pada Mon, 7th Sep 2009 10:42 

    kami dapet tugas B.Indonesia di suruh cari tokoh,tempat, kejadian, dan ringkasan ceritanya……….

    tapi males bacanya coz cerutanya terlalu panjang. heheheheh

  8. adi pada Sun, 27th Sep 2009 15:59 

    Identitas Gajah MAda Terungkap Cek Di http://ungkapankoe.blogspot.com

  9. wirasa kicik pada Mon, 28th Sep 2009 9:55 

    Ki Patih Gajah Mada, Mahapatih kerajaan Majapahit yang terkenal dan sangat dikagumi , ternyata adalah murid dari KI Hanuraga, sesepuh Generasi III, Paiketan Paguron Suling Dewata .

    Menurut Parampara Perguruan Seruling Dewata, khususnya saat menceritakan kisah ketua angkatan ke III , Ki Hanuraga ( atau Ksatria Suling Gading ), tersirat kisah hidup Gajahmada . Gajahmada, lahir di desa Mada, Mada Karipura, beliau ditemukan sekarat oleh seorang Maha Yogi Ki Hanuraga, di Jawa Ki Hanuraga di kenal dengan nama Begawan Hanuraga sedangkan di Bali beliau dikenal dengan nama dengan sebutan Mahayogi Hanuraga ( Sesepuh Generasi III Perguruan Seruling Dewata )beliau menguasai 72 kitab pusaka yang mempelajari 72 ilmu silat dan diwarisi oleh sesepuh sesepuh sebelumnya seperti Ki Mudra dan Ki Madra sesepuh Generasi II, serta Ki Budhi Dharma sesepuh generasi I yang di diksa pada abad ke 5 – caka tahun ke 63 – bulan ke 11- hari ke 26 ( caka warsa 463 ). mengenai Gajahmada , diceritakan, bahwa Gajahmada kecil bernama I Dipa, dia memanggil Ki Hanuraga dengan sebutan Eyang Wungkuk, dan belajar ilmu kanuragan selama 5 tahun sambil mempelajari ilmu ketata Negaraan , I Dipa ( Gajah Mada Kecil ) adalah seorang yg tdk memiliki siapa-siapa ( sebatang kara ), sebagai pengembala kambing. Perkenalan Mahayogi Hanuraga dgn I Dipa ( Gajahmada ),terjadi saat Ki Hanuraga melakukan pengembaraan ke tiga kalinya mengelilingi Nusantara ( kala itu di sebut Nusa Ning Nusa ) , sebelum Mahayogi sakti ini kembali ke Pertapaan Candra Parwata di Gunung Batukaru di Bali ketika usia beliau sudah sepuh ( tua ), sesuai tradisi Perguruan sebagai seorang Mahayogi harus kembali ke pertapaan. Mahayogi Hanuraga menemukan Gajahmada, dipinggiran hutan dalam keadaan pingsan, antara hidup dan mati, karena kasihan Maha Yogi Ki Hanuraga mengobati dan menyembuhkan luka dalam Gajahmada. dari Ki Hanuraga-lah I Gajahmada, belajar ilmu silat dan kanuragan , serta mengajari ilmu Tata Negara dan tercatat sebagai siswa Paiketan Paguron Suling Dewata di bawah bimbingan langsung sesepuh Generasi III , Ki Hanuraga. Gajahmada Kecil sering di ejek oleh teman temannya, karena dia memiliki kuping yg lebih besar dari kuping orang normal, sehingga dia di panggil I Gajah dari Desa Mada. kelak semua tahu bahwa nama Gajahmada inilah yang akhirnya menjadi terkenal di seluruh Nusantara sebagai Mahapatih yang maha sakti. ( di sadur dari Majalah Watukaru , Majalah bulanan Perguruan Seruling Dewata, )

    berikut beberapa petikan yang diambil dari Parampara Perguruan mengenai Ki Gajahmada dan Ki Soma Kepakisan , seperti yang dituturkan oleh Ki Hanuraga atau Ksatria Suling gading , sesepuh Generasi Ke III, Perguruan Seruling Dewata .:

    Ki Gajahmada

    ini adalah pengembaraanku yang ketiga dan merupakan yang terakhir menjelajahi Nusantara. ketika aku melangkahkan kakiku dengan santai di pinggiran hutan dekat sebuah desa yang bernama desa Mada atau lengkapnya Madakaripura pada sebidang tanah datar pandangan mataku tertumbuk pada seorang anak yang sedang mengelepar bergulingan di tanah seperti sedang sekarat. aku segera melompat ringan dan setelah dekat ternyata seorang anak berusia sekitar empat belas tahunan. tubuhnya sebenarnya tegap, tapi entah kenapa mengelepar gelepar seperti sekarat menahan siksaan berat, tubuhnya memancarkan sinar merah, dan hijau berganti ganti ,berkali kali anak itu ingin berbicara kepadaku, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnua hanya tangannya saja yang menunjuk nunjuk sebuah goa di pinggir hutan. dengan sigap aku melompat ke mulut goa, didalam goa aku melihat seekor ular naga Wilis sebesar pohon pisang yang panjangnya sekitar delapan depa, mati kehabisan darah, dan ada bekas gigitan di tubuh ular naga wilis ini, didekat bangkai ular naga wilis ada cahaya merah, setelah ku dekati ternyata ” Ong Brahma ” sebuah jamur berwarna merah sebesar niru, yang sebagian besar habis tercabik cabik, ” Ong Brahma ” adalah sebuah mustika langka yang menjadi rebutan kaum persilatan karena mampu melipatgandakan tenaga panas menjadi seribu kali lipat. rupanya ular naga wilis ini adalah penjaga Ong Brahma yang langka ini.bersyukur anak ini berjodoh dan bertemu denganku , jika tidak bertemu pesilat berilmu tinggi anak ini dapat dipastikan kematiannya, sebab minum darah ular saja bisa mati membeku kedinginan apalagi makan ” Ong Brahma ” akan kepanasan darah mengering . jika makan keduanya akan tersiksa panas dan dingin secara bergantian dan akhinya mati.tenaga dalam yang berhawa panas dan dingin yang bergejolak saling mematikan , aku isap habis habisan dengan tenaga sakti isap bhumi, diselaraskan dalam dirinya, lalu disalurkan kembali ke tubuh anak ini sehingga seluruh nadi terbuka, seluruh garanthi ( simpul nadhis ) terbuka, tujuh cakra besar terbuka dan Kundalini terbangkitkan seketika, tenaga dalam masih berlebihan terpaksa dibagi ke 108 nadis di seluruh tubuh anak ini , baru dapat membebaskan anak ini dari kematian. dari kemalangan terancam kematian mengerikan , berubah menjadi keberuntungan luar biasa, impian seluruh dunia persilatan dengan terbukanya seluruh nadhis, garanthi, cakra dan bangkitnya kundalini, orang biasa membutuhkan latihan puluhan tahun untuk mencapai tingkatan seperti ini. setelah setengah hari anak ini pingsan, akhirnya sadar juga, wajahnya cemerlang berseri seri, begitu anak ini sadar langsung berlutut dihadapanku, rupanya anak ini sadar juga bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya, setelah mengucapkan terimakasih anak ini mulai menuturkan riwayat hidupnya.anak ini bercerita namanya ” Dipa” , tidak tahu siapa orang tua kandungnya sejak kecil ia sudah menjadi tapa daksa ( anak yatim piatu ), dan harus bekerja pada tuan tanah untuk menanggung hidupnya dia ditugaskan mengembala sapi, anak yang kehilangan sapi dihukum keras dicambuk, dipukuli bahkan jika berkali kali dipotong tangan atau kakinya. anak ini bercerita bahwa dia telah kehilangan kambing 3 kali dan tentunya dia takut kembali karena akan menerima hukuman yang sangat berat bisa bisa di hukum potong tangan atau kaki, sehingga untuk menghindari hukuman tersebut dia mencari ular naga wilis yang memakan kambingnya dan melarikannya ke dalam goa, ketika dililit sama ular naga wilis , Dipa menggigit tubuh ular dan meminum darahnya, ketika ular itu mati kerena kehabisan darah, ia merasa haus dan kelelahan dan melihat jamur merwarna merah yang meneteskan air dan ia pun langsung meminumnya dan meremas remas jamur tersebut agar mendapatkan lebih banyak air karena rasa haus sehabis berkelahi dengan ular naga wilis. syukur hamba ( Dipa ) bertemu dengan tuan ( Ki Hanuraga ) , dan nyawa hamba berhasil diselamatkan , sekarang hamba rasanya kuat , segar bugar, mulai sekarang hamba berguru kepada Tuan dan ikut kemanapun Tuan pergi, daripada hamba kembali ke desa akhirnya di hukum potong tangan atau potong kaki dan menjadi cacat seumur hidup.aku tersenyum dan menerimanya sebagai siswa, namun aku hanya berjanji mengajarkannya selama lima tahun saja, Dipa sering menyebutku dengan Eyang Wungkuk, aku terpaksa menetap di hutan bersama Dipa selama lima tahun mengajarinya ilmu silat dan ilmu ketatanegaraan. aku menyimpulkan bahwa Tenaga dalam Dipa sudah sangat dahsyat melebihi pendekar tangguh , sehingga aku hanya perlu mengajarkan ilmu silat dan senjata serta tehnik bertarung . kalau memungkinkan mengajarkan ilmu ketatanegaraan, siapa tahu ia mengabdi di sebuah kerajaan di kemudian hari. mulai saat itu anak yang bernama Dipa mulai digembleng ilmu ilmu rahasia Gunung Watukaru, baerlatih siang dan malam, tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelah, tiada menghiraukan lapar dan haus , berlatih tanpa henti , tidak menghiraukan panasnya matahari dan teriknya hujan berlatih dan terus berlatih, tiada hari tanpa berlatih…………

  10. Nida pada Tue, 29th Sep 2009 9:38 

    sejarah bangsa yang harus disimak dengan baik.

  11. yon ade pada Tue, 29th Sep 2009 10:56 

    waduh..sejarah kebanyakan subjektif dalam bercerita, hanya sesuai dengan kemauan penguasa. gajahmada bisa saja dianggap pahlawan oleh orang-orang majapahit, tapi juga dapat disebut penjajah kala dia memerangi kerajaan lain diluar jawa untuk penaklukan yang menjadi sumpahnya.hayo, pilih yang mana?

  12. musik.um.ac.id pada Tue, 6th Oct 2009 14:43 

    sejarah yg sudah mulai hilang…kembalio lagi dalam sebuah artikel yg anda buat, trims kawan.

  13. dimas pada Thu, 15th Oct 2009 13:09 

    apapun itu …. hargai sejarah untuk Indonesia lebih maju ….

  14. adjie bromodali pada Sun, 18th Oct 2009 23:14 

    jaman sekarang jarang yg menulis sejarah secara obyektif…..semua subyektif……dan tu pun bukan hanya sekarang…karena pujangga2 dulu juga dibawah kekuasaan raja….secara otomatis…mereka menulis sesuai keinginan raja

  15. bybeh pada Sun, 1st Nov 2009 14:23 

    om,,,,, kox silsilah raja-rajaNya g’ ada???????????

  16. sry rahmayana pada Wed, 11th Nov 2009 12:31 

    thanks udah bantu tugasku……
    Sejarah is the bets

  17. RIA pada Mon, 14th Dec 2009 19:56 

    mana gambar keRaJaaN mAjApHit,X.. . . . .

  18. Irawan pada Tue, 5th Jan 2010 18:31 

    Ranawijaya, Raden Patah dan Radin Bahar versi Prasasti, Babad Tanah Jawi dan Hikayat Hang Tuah mengacu pada tokoh yang sama, berasal dari Melayu (Malaka). Pen’cina’an tokoh tersebut dilakukan para pujangga Mataram untuk mengunggulkan leluhur Panembahan Senapati.

    Wilayah Majapahit selepas meninggalnya Gajah Mada patih Rajasanagara tidaklah runtuh. Justru karena peran Gajah Mada patih Ranawijaya, Nusantara bersatu. Karena tokoh Gajah Mada ke 2 ini merupakan tokoh pemersatu Nusantara.
    Sumber: Meluruskan Penyimpangan Sistematis Sejarah Majapahit

  19. SouKriS pada Thu, 7th Jan 2010 9:58 

    1.4 TENTANG WISATA SEJARAH :

    1.4.1 Majapahit Dalam Babakan Sejarah Indonesia

    Berdasarkan data arkeologis dan sejarah diketahui bahwa pada abad ke-13 hingga 15 M, Majapahit merupakan sebuah kerajaan yang memiliki pengaruh yang sangat besar dengan wilayah kekuasaan meliputi sebagian besar Nusantara bahkan Asia Tenggara. Hal ini menjadikan Majapahit sebagai perintis / cikal bakal terbentuknya negara Indonesia.
    Data Sejarah :
    • Kitab (kakawin) Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M
    • Prasasti-prasasti yang ditulis semasa pemerintahan raja-raja Majapahit, terutama prasasti Kudadu yang ditulis oleh raja Majapahit pertama, WIJAYA
    • Kitab Pararaton yang ditulis setelah Nagarakertagama
    • Kitab-kitab kidung Harsa-Wijaya, Panji Wijayakrama, Ranggalawe, Sorandaka, Sundayana
    • Babad-babad : Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Purwaka Caruban Nagari, dsb
    • Sumber-sumber tertulis luar negeri : Cina (sejarah Dinasti Yuan dan Ming)

    Titik awal berdirinya kerajaan Majapahit diawali dengan diangkatnya Raden Wijaya sebagai raja pertama Majapahit. Diterangkan dalam
    • Kitab Pararaton : Raden Wijaya naik tahta tahun 1215 Saka atau 1293 M
    • Kitab Nagarakertagama : Raden Wijaya naik tahta tahun 1216 Saka atau 1294 M
    • Kidung Harsawijaya : Raden Wijaya naik tahta tepat pada ”Purneng Kartika masa pancadasi 1 saka 1215 atau 12 Nopember 1293 M”

    Kebesaran Majapahit :
    • Angkatan laut yang kuat
    • Militer yang kuat melindungi daerah bawahan, menghukum pembesar daerah yang membangkang.
    • Hubungan diplomatik dengan negara sahabat, seperti Sangka, Ayuhapura, Dharmahagari, Rayapura, Campa, Kamboja, dan Yawan.

    Data Arkeologis :
    Peninggalan arkeologis dari masa Majapahit hingga kini masih dapat ditemukan tidak hanya di pulau Jawa, akan tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia, seperti :
    • Pulau Bali : misalnya Pura Maospahit.
    • Pulau Sumatera, antara lain :
    – Biaro Bahal
    – Arca-arca dari Palembang Timur
    – Arca Prajnaparamita dari Muara Jambi
    – Arca Bhairawa dari Sungai Langsat
    – Yoni dari Situs Candi Lesung Batu
    • Pulau Kalimantan
    – Candi Agung
    – Candi Laras

    1.4.2 Pengaruh Peradaban Majapahit Bagi Bangsa Dan Negara Indonesia
    Berbagai aspek Majapahit menjadi inspirasi bagi pembentukan tata kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,
    Misal: bentuk dan warna bendera Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika: Kehidupan yang harmonis, dan Toleransi dalam keberagaman agama dan Budaya
    Bendera Merah Putih
    • Dalam Prasasti Kudadu 4a-4b
    • Sebagai bendera negara dalam Peraturan Pemerintahan Tahun 1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia

    Bhineka Tunggal Ika
    • Dalam Kakawin Sutasoma (XXXIX, karya Mpu Tantular “ Bhineka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangrwa”.
    • Ditetapkan sebagai bagian Lambang Negara dengan:
    • Peraturan pemerintah No. 66 Tahun 1951 tanggal 17 Oktober 1951.

    1.4.3 SITUS PENINGGALAN KERAJAAN MAJAPAHIT

    1.4.3.1 Candi Brahu

    Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit namun telah diaspal. Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya.
    Ada pendapat yang mengatakan bahwa Candi Brahu lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Nama Brahu dihubungkan diperkirakan berasal dari kata ‘Wanaru’ atau ‘Waharu’, yaitu nama sebuah bangunan suci yang disebutkan di dalam prasasti tembaga ‘Alasantan’ yang ditemukan kira-kira 45 meter disebelah barat Candi Brahu. Prasasti ini dibuat pada tahun 861 Saka atau, tepatnya, 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.
    Di sekitar kompleks candi pernah ditemukan benda-benda kuno lain, seperti alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda lain dari emas, serta arca-arca logam yang kesemuanya menunjukkan ciri-ciri ajaran Buddha, sehingga ditarik kesimpulan bahwa Candi Brahu merupakan candi Buddha. Walaupun tak satupun arca Buddha yang didapati di sana, namun gaya bangunan serta sisa profil alas stupa yang terdapat di sisi tenggara atap candi menguatkan dugaan bahwa Candi Brahu memang merupakan candi Buddha.
    Diperkirakan candi ini didirikan pada abad 15 M. Candi ini menghadap ke arah Barat, berdenah dasar persegi panjang seluas 18 x 22,5 m2 dengan tinggi yang tersisa sampai sekarang mencapai sekitar 20 m. Sebagaimana umumnya bangunan purbakala lain yang diketemukan di Trowulan.
    Candi Brahu juga terbuat dari bata merah. Akan tetapi, berbeda dengan candi yang lain, bentuk tubuh Candi Brahu tidak tegas persegi melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak berbentuk berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar.
    Kaki candi dibangun bersusun dua. Kaki bagian bawah setinggi sekitar 2 m, mempunyai tangga di sisi barat, menuju ke selasar selebar sekitar 1 m yang mengelilingi tubuh candi. Dari selasar pertama terdapat tangga setinggi sekitar 2 m menuju selasar kedua. Di atas selasar kedua inilah berdiri tubuh candi. Di sisi barat, terdapat lubang semacam pintu pada ketinggian sekitar 2 m dari selasar kedua. Mungkin dahulu terdapat tangga naik dari selasar kedua menuju pintu di tubuh candi, namun saat ini tangga tersebut sudah tidak ada lagi, sehingga sulit bagi pengunjung untuk masuk ke dalam ruangan di tubuh candi. Konon ruangan di dalam cukup luas sehingga mampu menampung sekitar 30 orang. Di kaki, tubuh maupun atap candi tidak didapati hiasan berupa relief atau ukiran. Hanya saja susunan bata pada kaki, dinding tubuh dan atap candi diatur sedemikian rupa sehingga membentuk gambar berpola geometris maupun lekukan-lekukan yang indah. Candi Brahu mulai dipugar tahun 1990 dan selesai tahun 1995.

    1.4.3.2 Candi Gentong
    Sama halnya dengan Candi Menakjinggo, di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, terdapat sebuah candi yang diawal penemuannya sempat mengejutkan masyarakat. Mengutip catatan Edi Pion, Arkeolog yang tinggal di Mojokerto, candi berukuran 23,5X23,5 meter dan tinggi 2,45 meter ini relatif lebih besar dibanding Candi Brahu, Wringin Lawang, bahkan Bajangratu. Berdasar beberapa catatan jaman Belanda, bangunan ini dikenal sebagai Candi Gentong.
    Misalnya dalam Rapporten Oudheidkundige Commisie disebutkan, tahun 1907, di Desa Trowulan terdapat Candi Gentong yang tinggal puing-puing. Fakta ini diperkuat dengan tulisan NJ Krom di Inleiding tot de Hindoe Javaansche Kuns pada tahun 1923 dan pernyataan Maclaine Pont, pendiri Museum Trowulan.
    Dikatakan juga bahwa, Candi Gentong merupakan satu kesatuan dengan Candi Tengah dan Candi Gedong. Karena dianggap punya peran besar dalam rekonstruksi peninggalan Majapahit, Pemerintah melalui proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bekas Kota Kerajaan Majapahit berusaha untuk melakukan penggalian. Hasilnya, ditemukan stupa dan arca-arca Buddha., Di luar itu, ditemukan fakta denah sebuah candi yang organisasi ruangnya unik, bahkan boleh dibilang paling unik di Indonesia.
    Denah Candi Gentong tersusun dari tiga bangunan bujur sangkar yang memusat. Bujursangkar pertama atau yang paling kecil, meiliki panjang dan lebar 9,25 meter. Lalu bangunan kedua, berukuran 11,40 dan bangunan ketiga berukuran 23,5X23,5 meter.
    Berdasar analisa carbon dating yang diteliti di Pusat Pengembangan dan Penelitian Geologi Bandung, diketahui, candi ini dibangun pada tahun 1370. Artinya, Candi Gentong berasal dari zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Dari data denah bangunan didukung temuan-temuan arkeologis lain, Candi Gentong dulu merupakan bangunan stupa yang relatif besar di bagian pusat, kemudian dikelilingi oleh stupa-stupa yang lebih kecil.
    Candi Gentong, dinamakan seperti itu karena ketika ditemukan candi tersebut tertimbun oleh tanah yang menggunung dan membentuk seperti gentong tapi tidak ada keterangan pasti mengapa hal itu bisa terjadi.
    Candi Gentong digunakan untuk upacara umat Buddha (upacara seradah). Di dalam candi ditemukan lebih dari seratus stupika dan bagian tengah merupakan pusat dari candi. Di bagian belakang menurut masyarakat terdapat sumber air yang digunakan untuk ibadah tetapi setelah dilakukan penelitian tidak ditemukan hal tersebut yang ada hanya bilik-bilik saja. Di candi Gentong telah ditemukan dua patung Buddha yang sekarang disimpan di museum pusat.

    1.4.3.3 Candi Bajangratu
    Candi Bajangratu atau yang dikenal sebagai Gapura Bajangratu adalah sebuah candi yang berada di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto. Bangunan ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Menurut catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, candi ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Jayanegara yang dalam NegaraKertagama disebut “kembali kedunia Wisnu” tahun Saka 1250 atau tahun 1328.
    Diduga pula candi ini merupakan pintu gerbang menuju ke istana Majapahit. Dugaan ini didukung adanya relief “Sri Tanjung” dan sayap gapura yang melambangkan pelepasan.
    Nama Bajangratu itu sendiri dikaitkan dengan tulisan dalam Pararaton dan cerita rakyat setempat. Disebutkan, ketika dinobatkan menjadi raja, Jayanegara masih sangat muda (bajang) sehingga diberi sebutan “Ratu Bajang atau Bajang Ratu”. Disebutkan juga, bahwa ketika meninggal, Jayanegara didharmakan di Kepompongan serta dikukuhkan di Antawulan (kini Trowulan. Penyebutan Bajangratu muncul pertama kali dalam Oundheitkundig Verslag [OV] tahun 1915.
    Mengutif dari buku Drs I.G. Bagus L Arnawa, dilihat dari bentuknya gapura atau candi ini merupakan bangunan pintu gerbang tipe “paduraksa” yaitu gapura yang memiliki atap. Secara keseluruhan candi ini terbuat dari batu bata merah yang direkatkan satu sama lainnya degan sistem gosok, kecuali lantai tangga serta ambang pintu yang dibuat dari batu andesit.
    Gapura yang berbentuk PADU RAKSA ini mempunyai tiga bagian : kaki, tubuh, dan atap. Mempunyai sayap dan pagar tembok di kedua sisinya. Ada hiasan pada bagian atap berupa Kepala Kala diapit Singa. Relief Matahari, Naga berkaki, Kepala Garuda, dan Relief bermata satu. Di bagian kaki menggambarkan cerita Sri Tanjung mempunyai fungsi sebagai pelindung atau penolak marabahaya dan pada sayap kanan dihiasi relief cerita Ramayana. Kanan kiri pintu diberi pahatan berupa binatang bertelinga panjang. Gapura ini ada hubungannya dengan Raja Jayanegara. Denah bangunan berbentuk empat persegi panjang berukuran panjang 11,5 m, lebar 10,5 m. Tinggi bangunan 16,5 m dan lorong pintu masuk lebarnya 1,4 m. Lokasinya berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan.
    Pendirian Candi Bajangratu sendiri tidak diketahui dengan pasti, namun berdasarkan relief yang terdapat di bangunan, diperkirakan candi ini dibangun pada abad 13 – 14 Masehi, dan selesai dipugar pada tahun 1992.
    Lokasi berdirinya Candi Bajangratu ini letaknya relatif jauh (2 km) dari dari pusat kanal perairan Majapahit di sebelah Timur, saat ini berada di dusun Kraton, desa Temon 0,7 km dekat dari candi Tikus. Alasan pemilihan lokasi ini, mungkin untuk memperoleh ketenangan dan kedekatan dengan alam namun masih terkontrol, yakni dengan bukti adanya kanal melintang di sebelah depan candi berjarak kurang lebih 200 meter yang langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit, menunjukkan hubungan erat dengan daerah pusat kota Majapahit.
    Keberadaan candi ini juga tak lepas dari sebuah kepercayaan yang masih melekat di benak masyarakat setempat. Adalah suatu pamali bagi seorang pejabat pemerintahan untuk melintasi atau memasuki pintu gerbang Candi Bajangratu ini, karena dipercayai hal tersebut bisa memberikan nasib buruk.

    1.4.3.4 Candi Tikus
    Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini berukuran 29,5 X 28,25 meter dan tinggi keseluruhan 5,2 meter.

    Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dianggap sebagai air suci amarta, yaitu sumber segala kehidupan.
    Sejak ditemukan pertama kalinya pada tahun 1914, kemudian sampai dilakukan pemugaran sekitar tahun 1983 – 1986, candi Tikus telah banyak mengundang perhatian para pakar sejarah kuno dan arkeologi untuk menentukan makna dan fungsi dari bangunan itu, baik dari segi arsitektural maupun ditinjau dari segi religius.
    Konon, nama Candi Tikus diberikan lantaran ketika dilakukan pembongkaran pada tahun 1914, oleh Bupati Mojokerto R.A.A Kromojoyo Adinegoro, disekitar candi itu pernah menjadi sarang tikus, dan hama tikus ini menyerang desa disekitarnya, setelah dilakukan pengejaran kawanan tikus itu selalu masuk ke gundukan tanah, yang setelah dibongkar ditemukan sebuah bangunan terbuat dari bahan bata merah dan denah persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m.
    Mengutip dari buku karangan Drs I.G. Bagus L Arnawa, secara pasti tidak diketahui kapan candi Tikus ini didirikan karena tidak ada sumber sejarah yang memberitakan tentang pendirian candi ini. Dalam kitab Nagarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada tahun 1365 M (yang telah diakui oleh para pakar sebagai suatu sumber sejarah yang cukup lengkap memuat tentang kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk), tidak disebutkan tentang eksistensi candi ini.
    Namun demikian, ini tidak berarti bahwa serangkaian penelitian yang ditujukan guna mencari dan menentukan saat dibangunnya candi Tikus ini lantas menjadi tidak bisa dilaksanakan. Setidaknya, berdasarkan kajian arsitektural, diperoleh gambaran perbedaan dalam hal penggunaan bahan baku candi, yaitu bata merah.
    Adanya perbedaan penggunaan bata merah (baik perbedaan kualitas maupun kuantitasnya), memberikan indikasi tentang tahapan pembangunan candi Tikus. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para arkeolog, terbukti bahwa bata merah yang berukuran lebih besar berusia lebih tua dibandingkan dengan bata merah yang berukuran lebih kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selama masa berdiri dan berfungsinya, candi Tikus pernah mengalami dua tahap pembangunan. Pembangunan tahap pertama dilakukan dengan mempergunakan batu bata merah yang berukuran lebih besar sebagai bahan bakunya, sedangkan pembangunan tahap kedua dilakukan dengan mempergunakan bata merah yang berukuran lebih kecil.
    Adanya tangga yang menurun di sebelah utara, memberi kesan bahwa bangunan candi Tikus ini memang sengaja dibuat di bawah permukaan tanah. Tangga menurun disebelah utara itu, sekaligus merupakan petunjuk bahwa bangunan memiliki arah hadap ke utara. Dua buah kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 x, 2 m dengan kedalaman 1,5 m, mengapit tangga masuk. Masing-masing kolam tersebut dilengkapi dengan tiga buah pancuran air yang berbentuk bunga padma (teratai) dan terbuat dari bahan batu andesit.
    Pada sisi selatan teras terbawah terdapat sebuah bangunan berdenah persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Bangunan ini dianggap sebagai bangunan utama dari candi Tikus yang dilengkapi dengan 17 buah pancuran air yang berbentuk bunga padma dan makara. Pada bangunan induk tersebut, terdapat sebuah menara dan dikelilingi oleh 8 buah menara yang berukuran lebih kecil.
    Susunan menara yang demikian itu telah menarik perhatian seorang Belanda yang bernama A.J. Bernet Kempers yang mengaitkannya dengan konsepsi religi. Dalam bukunya yang berjudul Ancient Indonesia Art, ia yang telah banyak berjasa dalam menyingkap masa pengaruh agama Hindu – Budha di Indonesia lewat kajian candi-candi yang mengatakan bahwa candi Tikus merupakan replika dari gunung Meru.
    Gunung Mahameru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit.
    Selain berfungsi sebagai pengatur debit air di kota, letaknya yang diluar kota itu memberi kesan bahwa sebelum masuk kota, air harus disucikan terlebih dahulu di candi Tikus. Dalam hal ini, jika bentuk bangunan candi Tikus dianggap sebagai manifestasi dari gunung Meru, maka setiap air yang keluar dari bangunan induk ini dipercaya sebagai air suci (amerta). Tak heran, bila kemudian air yang keluar dari candi Tikus juga dipercaya memiliki kekuatan magis untuk memenuhi harapan rakyat agar hasil pertanian mereka berlipat ganda dan terhindar dari kesulitan-kesulitan yang merugikan

    1.4.3.5 Kolam Segaran
    Kolam Segaran terletak tidak jauh dari Kantor Kecamatan Trowulan, tepatnya di Desa Trowulan Kabupaten Mojokerto. Kolam Segaran merupakan situs yang paling gampang untuk dikunjungi dari semua situs Majapahit yang terdapat di daerah ini, tepatnya 500 meter ke arah selatan dari Jalan Raya Propinsi Mojokerto – Jombang. Merupakan kolam purba peninggalan pada masa Kerajaan Majapahit, 7 abad yang silam.
    Konon nama tersebut berasal kata segoro-segoroan yang berarti telaga buatan, seperti yang terdapat dalam buku Negara Kertagama pupuh VIII halaman 5.3, yang tersurat di daerah Trowulan terdapat sebuah telaga yang multiguna.

    Kolam yang banyak menyimpan kisah-kisah mistis ini ditemukan pada tahun 1926 oleh seorang Belanda, Ir Henry Maclain Pont bekerjasama dengan Bupati Mojokerto pertama yaitu Kromojoyo. Sejak ditemukan hingga saat ini, telah beberapa kali dilakukan pemugaran yaitu tahun 1966, 1974, dan 1984.
    Berukuran panjang 375 meter, lebar 175 meter, tebal tepian 160 centimeter dengan kedalaman 288 centimeter, menggunakan konstruksi batu bata sebagai pembatas kolam, dan uniknya batu bata tersebut ditata sedemikian rupa tanpa perekat hanya digosok gosokan satu sama lainnya, selalu dipenuhi air ketinggian 150 hingga 200 centimeter selama musim penghujan, air kolam berasal dari Balong Bunder dan Balong Dowo yang berada di sebelah selatan dan barat daya kolam. Saluran air masuk ke kolam ada di bagian tenggara, sedangkan di sebelah selatan sudut timur laut dinding sisi luar terdapat 2 kolam kecil berhimpitan, sementara di sebelah barat sudut timur terdapat saluran air menembus sisi utara. Di bagian tenggara terdapat saluran air masuk ke kolam dan saluran air keluar di bagian barat.
    Banyak cerita rakyat yang berkembang mengiringi keberadaan kolam Segaran, misalnya kolam Segaran difungsikan sebagai tempat penggemblengan para ksatria laut Majapahit. Penggemblengan dilakukan saat usai rekruitmen prajurit. Juga saat para pasukan pilihan akan dikirimkan dalam misi penaklukan terhadap kerajaan lain, area kolan Segaran ini digunakan Mahapatih Gajahmada untuk mempersiapkan pasukan Bhayangkara yang dikendalikan. Tempat latihan pasukan darat ini di lapangan Bubat (sebelah barat dukuh Segaran).
    Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang senantiasa menjaga martabat dihadapan para tamu asing. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya temuan perabot makan dari emas, sehingga prestise Majapahit dihadapan para tamunya sangat tinggi. Pencitraan kemakmuran dan kekayaan Majapahit itu dikuatkan dengan cerita rakyat, bahwa konon pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengadakan pesta besar karena kedatangan duta dari Tiongkok, angkatan perang negeri Tartar. Raja menyuguhkan hidangan dengan perkakas dari emas, mulai nampan, piring sampai sendok. Para tamu puas dan menilai, Majapahit memang negara besar yang patur dihormati. Setelah pesta usai, sebelum para tamu pulang, Hayam Wuruk ingin memperlihatkan kekayaan kerajaan yang terkenal sebagai negeri gemah ripah loh jinawi. Semua perkakas dari emas itu dibuang ke Kolam Segaran, tempat dimana pesta itu dilangsungkan.
    Memang, sampai saat ini perjamuan makan masih menjadi kontroversi masyarakat. Sebab ada sebagian masyarakat beranggapan perabot makan yang dibuang ke kolam akan diambil kembali untuk dicuci, setelah para tamu asing itu meninggalkan acara perjamuan. Ada pula yang beranggapan, perabotan yang dibuang ke kolam itu tak pernah diambil lagi. Sehingga di zaman modern ini banyak ditemukan oleh beberapa masyarakat Trowulan yang beruntung.
    Dengan data sejarah yang tersimpan di Museum Trowulan, juga berdasar variasi cerita rakyat yang berkembang. Dapat disimpulkan bahwa, pembuatan kolam Segaran memiliki prioritas utama penunjang perekonomian rakyat, khususnya dibidang pertanian. Itu terbukti dari fungsinya saat ini sebagai waduk pengairan untuk sawah-sawah masyarakat sekitarnya.

    1.4.4 PUSAT INFORMASI MAJAPAHIT ( PIM )

    Museum Trowulan untuk pertama kali berdiri menempati rumah Henry Maclaine Pont. Setelah beberapa tahun kemudian
    Museum Trowulan tepatnya pada 1 Januari 2007 dicanangkan sebagai Pusat Informasi Majapahit. Berikut adalah kisah perjalanan Museum Trowulan Menjadi Pusat Informasi Majapahit ( PIM ).
    Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan besar yang berdiri pada 12 November 1293. Kerajaan ini bertahan selama 2 abad, yakni abad XIII-XV. Ibukotanya beberapa kali mengalami perpindahan, dan yang terakhir di Trowulan.
    Hal itulah yang menjadikan daerah ini kaya akan peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit, seperti beberapa candi yang ada. Yaitu Candi Bajang Ratu, Kedaton, Tikus, Kolam Segaran dan lain-lain. Selain itu, masih banyak peninggalan yang berupa pondasi rumah-rumah dan komponen bangunan lain. Juga artefak lain yang jumlahnya banyak.
    Atas alasan inilah, Bupati Mojokerto sebelum negara ini merdeka, yakni Bupati RAA Kromojoyo Adinegoro bekerja sama dengan arkeolog Belanda lulusan Technische Hogesholl Delft (THD) pada 24 April 1924 mendirikan Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). Perkumpulan ini bergerak dan bertujuan untuk mengadakan penelitian mengungkap Kota Majapahit. Kantor OVM menempati sebuah gedung di Jl Raya Trowulan, yang juga menjadi tempat tinggal Maclaine Pont dan keluarganya.
    Perkumpulan ini ternyata cukup berhasil menyibak keanekaragaman peninggalan Majapahit. Baik dari penggalian, survei maupun penemuan masyarakat. Benda-benda ini dikumpulkan di kantor OVM. Karena jumlahnya terus bertambah, maka pada tahun 1926 dibangunkanlah oleh Bupati enam bangunan lain untuk menampung jumlah peninggalan ini dengan banguan bergaya arstitektur tradisional. Tempat ini kemudian dikenal masyarakat dengan nama Museum Trowulan yang dibuka untuk umum.
    Sayang, pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang, membuat kondisi juga berubah. Tragis memang. Maclaine Pont yang selama ini cukup berjasa dalam mengangkat peninggalan Kerajaan Majapahit, ikut ditawan jepang. Karena dia berkewarganegaan Belanda. Museum ini pun tutup.
    Barulah pada tahun 1943 atas perintah Prof Kayashima, pemimpin Kantor Urusan Barang Kuno di Jakarta, museum ini dibuka kembali. Barang-barang milik maclaine Pont pribadi di lelang. Dan sayangnya, sebagian koleksi museum ikut dilelang juga.
    Perjalanan musem ini tidak tenang sampai di sini. Musibah dahsyat terjadi pada tahun 1966. Angin puyuh memorakporandakan Trowulan dan sekitarnya. Akibatnya, bangunan museum ini ambruk dan koleksinya dikumpulkan di gedung bekas OVM.
    Selain mengumpulkan barang-barang peninggalan Majapahit, Museum Trowulan yang di bawah pengawasan Kantor Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional Cabang II di Mojokerto tidak hanya mengumpulkan barang-barang asal Trowulan. Karena itu, kantor OVM pun tidak muat lagi.
    Karena itu, akhirnya dibangunlah bangunan berlantai dua di lapangan sangat luas yang oleh masyarakat dikenal dengan dengan Lapangan Bubat dengan luas areal 57.255 m2. Di lokasi inilah Musem Trowulan berdiri sampai sekarang. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari lokasi museum yang lama. Perpindahan ini terjadi pada tahun 1 Juli 1987.
    Bangunan ini pada awalnya disebut dengan nama Balai Penyelamatan Benda Kuno. Kemudian diganti lagi dengan nama Balai Penyelamatan Arca. Koleksi di museum ini kian bertambah. Karena pada tahun 1999 ada penambahan koleksi dari Gedung Arca Mojokerto (sebelah timur kantor pemkab sekarang) yang di-ruislag gedungnya oleh Pemkab Mojokerto. Pada tanggal 1 Januari 2007, akhirnya Museum Trowulan ditetapkan sebagai Pusat Informasi Majapahit.

    1.4.5 SITUS MAKAM TROLOYO
    Situs Makam Troloyo merupakan kompleks pemakaman Islam jaman kerajaan Mojopahit. Situs ini terletek di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan.
    Obyek utamanya adalah makam Sayyid Muhammad Jumadil Qubro (biasa disebut Syech Jumadil Kubro). Syech Jumadil Kubro adalah kakek dari Sunan Ampel. Beliau adalah ulama dari Persia yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Makamnya pertama kali diberi cungkup oleh tokoh masyarakat setempat bernama KH Nawawi pada tahun 1940.
    Di kompleks makam troloyo terdapat dua kelompok makam, yaitu :
    1. Kelompok makam bagian depan, terdiri dari makam wali songo dan kelompok makam Syech Jumadi Kubro. Kelompok makam inilah yang paling banyak dikunjungi peziarah.
    2. Kelompok makam bagian belakang terdiri dari dua cungkup, yaitu : cungkup pertama makam Raden Ayu Anjasmara dan makam Raden. Banyak yang mengatakan bahwa dengan berziarah ke makam Troloyo dapat membantu mempermudah mencari ilmu.
    Puncak kunjungan wisatawan terjadi pada saat malam Jumat Legi dan setiap malam tanggal 15 Suro (Muharram) diadakan Haul Syech Jumadil Qubro

    1.5 Tentang Wisata Sentra Produk Lokal :

    1.5.1 PPST ( Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan )
    Sepatu merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Mojokerto yang tersebar di berbagai Kecamatan. Produk unggulan Kabupaten Mojokerto ini menyebar dan terbagai dalam 15 sentra Industri dan terdiri dari 567 unit usaha serta menyerap tenaga kerja sebanyak lebih kurang Industri 5.677 orang pekerja, serta 55 unit usaha non sentra yang menyerap tenaga kerja 600 orang. Industri ini utamanya dilakukan oleh Pengusaha Industri kecil dan Menengah ( IKM ) .
    Menimbang peran industri alas kaki dalam perekonomian daerah dan potensi pengembangannya di masa mendatag, maka Pemerintah Kabupaten Mojokert keberjasama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan Departemen Perdagangan RI, menyediakan faslitas Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan sebagai akses Pasar Produk Sepatu Mojokerto. Tragedi Lumpur Lapindo Sidoarjo, yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan pasar INTAKO di Tanggulangin, segera diakomodir pemerintah Kabupaten Mojokerto untuk pengembangan PPST dalam rangka mewujudkan Mojokerto sebagai Kota Sepatu.
    Tujuan dibangunnya PPST adalah :
    • Membantu pemasaran produk alas kaki khususnya dari Mojokerto
    • Sebagai pusat perkulakan alas kaki di Jawa Timur pada khususnya dan Indonesia Timur pada umumnya
    • Sebagai pusat informasi industri alas kaki dan Memperpendek jalur distribusi dan diparitas harga alas kaki(PDE)

    Produksi sepatu pria di Pusat Perkulakan Sepatu Mojokerto makin berdaya saing dibandingkan produk impor dari Cina. Produk lokal makin berdaya saing ini dipicu kebutuhan masyarakat yang menurun. Mau tidak mau, perajin sepatu pria harus makin kreatif dengan produksinya termasuk desain dan kualitas.
    Dicontohkan dengan produk impor dari Cina, mulai segi ketahanan produk dengan bahan baku kulit imitasi, produk Cina hanya bertahan 3-4 bulan, sedangkan produk lokal bisa sampai 7 bulan. Jika produk dari kulit asli, produk lokal dibuat bertahan hingga 2 tahun.
    Dengan bantuan Bank Indonesia, para perajin sangat terbantu mulai dari produksi, manajemen hingga pemasaran. Kebijakan pemerintah dalam perbankan sangat menunjang sektor usaha kecil dan menengah (UKM). Pola pikir perajin yang dulu hanya mengutamakan aset, saat ini berubah fokus ke omset dan mutu.

    1.6 Tentang Wisata Teknologi :

    1.6.1 Tempat Pemrosesan Akhir ( TPA ) Multifungsi
    Tempat Pemrosesan Akhir Mojosari merupakan salah satu tempat pengolahan sampah termodern di Jawa Timur.
    Dengan penataan dan teknik pengelolaan yang bagus membuat keberadaan TPA tidak sampai menebarkan bau tidak sedap (polusi udara) di lingkungan sekitarnya.
    Dan bahkan di dalam kawasan TPA Mojosari dilengkapi dengan tempat pengolahan sampah, penampungan pupuk dan pengemasan pupuk sebagai hasil pengolahan, serta pembibitan berbagai jenis tanaman mulai tanaman hias, perdu sampai buah dengan menggunakan pupuk hasil pengolahan tersebut, menjadikannya layak untuk dikunjungi terutama sebagai tempat penelitian lingkungan ataupun sekedar tempat besantai.
    Keberadaan TPA Mojosari yang dibangun di atas lahan 4 ha, setiap harinya dapat menampung 5-10 ton sampah basah dan kering dari TPS-TPS dan pasar di Mojosari dan daerah sekitarnya. Selain digunakan untuk lahan pengolahan sampah, TPA Mojosari juga digunakan sebagai lahan pengolahan tinja, produksi pupuk yang berbahan baku sampah dan tinja serta pembibitan tanaman yang menggunakan pupuk hasil pengolahan sehingga disebut sebagai TPA multifungsi. Selain itu terdapat juga 4 buah kolam berisi air resapan dari sisa pengolahan limbah yang sudah bersih dan layak untuk dialirkan ke lingkungan sekitar,dengan kata lain tidak merusak lingkungan dan tidak mengganggu kesehatan.Kelayakannya dapat dilihat atau dibuktikan dengan ikan yang dapat tetap hidup dan sehat dalam kolam air tersebut.
    Proses pengolahan sampah agar menjadi pupuk siap pakai terdiri dari beberapa tahapan atau proses. Pertama sampah yang datang dipilah terlebih dahulu menjadi menjadi kelompok organik yang nantinya akan diproses menjadi pupuk dan kelompok anorganik yang akan dipilah lagi oleh para pemulung untuk dijual.Sedangakan sisanya akan dimasukkan ke dalam cell untuk ditimbun, dimana setelah penuh nantinya cell tersebut akan menjadi zona non aktif yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pembibitan sebelum nantinya dibongkar dan diayak sehingga menghasikan pupuk. Kemudian sampah organik hasil pilahan dihaluskan dengan menggunakan mesin pencacah sehingga menjadi butiran sampah organik. Setelah menjadi butiran, sampah organik dimasukkan ke dalam silo (TPA Mojosari memiliki 8 silo) selama 30 hari dan harus disiram dengan air satu kali setiap minggunya. Kemudian sampah dikeluarkan setelah 30 hari dan ditiriskan atau diangin-anginkan (tidak dikeringkan dengan dijemur) terlebih dahulu dan diayak sebelum menjadi pupuk siap pakai dan dikemas dalam kantong plastik untuk dijual atau dipakai sendiri untuk proses pembibitan.
    Sedangkan untuk proses pengolahan tinja menjadi pupuk semuanya berjalan secara otomatis dengan menggunakan alat pengolahan yang disebut sebagai Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT). IPLT sendiri terdiri atas beberapa tahapan atau bagian yang berurutan, yaitu:
    1. Receiving Point yang berfungsi sebagai penerima (loading dock) bagi truk tinja dan memisahkan lumpur tinja yang akan diolah dari sampah padat sebelum masuk ke dalam pengolahan utama.
    2. Bio-Digester yang berfungsi sebagai unit pengolahan awal, mencampur (mixing) limbah tinja dan menghasilkan Bio Gas yang akan digunakan untuk kegiatan laboratorium dan dapur dikantor IPLT.
    3. Stabilization Reactor & Stripping yang berfungsi untuk menstabilkan lumpur (endapan limbah tinja dari Bio-Digester) yang akan terakumulasi, mengurangi bau, mengurangi proses biologi , meningkatkan pemisahan air dari lumpur (dewatering) untuk mempermudah proses pengeringan lumpur dan menurunkan Nh3.
    4. Sludge Drying Bed yang berfungsi untuk mengurangi air, mengeringkan, mendesinfeksi lumpur yang telah stabil untuk dijadikan pupuk.
    5. Anaerobic System yang berfungsi untuk mengolah air limbah dari Stabilization Reactor dan Sludge Drying Bed serta menurunkan polutan air limbah sebelum dibuang ke lingkungan hingga 80%.
    6. Horizontal Gravel Filter yang berfungsi untuk menurunkan Phospat hingga 80% dan menurunkan jumlah pathogen aktif.
    7. Moturation Ponds yang berfungsi untuk desinfeksi air limbah dari Horizontal Grave Filter sehingga sip untuk dibuang atau dialirkan ke sungai di lingkungan sekitar.
    Meskipun pengolahan sampah dan tinja sama-sama menghasilkan pupuk, akan tetapi pupuk hasil pengolahan keduanya memiliki perbedaan pada penggunaannya. Pupuk hasil pengolahan sampah akan lebih baik untuk digunakan pada tanaman pertanian seperti buah dan sayuran, sedangkan pupuk hasil pengolahan tinja akan lebih baik digunakan untuk tanaman agroindustri.
    Untuk proses pembibitan dengan menggunakan pupuk hasil pengolahan sampah dan limbah tinja yang terdiri dari tanaman pertanian serta tananman agroindustri, hasilnya akan dijual kepada masyarakat umum maupun instansi-instansi pemerintah dan sekolah-sekolah.
    TPA Mojosari juga bekerja sama dengan para Ibu-Ibu PKK di daerah lingkungan sekitar dalam usaha budidaya hewan ternak yaitu kambing dan kelinci dengan menyediakan pakan ternak berupa sisa-sisa sayur yang diperoleh dari sampah pasar.

    1.7 Tentang Wisata Alam :

    1.7.1 UBALAN

    Pemandian UBALAN terletak di Desa Pacet, Kecamatan Pacet, berjarak sekitar 1 kilometer dari pusat Kecamatan Pacet.
    Obyek Utamanya berupa kolam renang dari sumber air alami pegunungan, dilengkapi pula dengan taman bermain, wisata sepeda air, dan panggung hiburan, yang dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain : Musholla, restoran, penginapan, gazebo dan areal parker yang cukup luas. Di sekitar obyek terdapat warung lesehan, kolam pancing, dan kios yang menyediakan makanan, sayur, buah dan makanan khas sebagai oleh-oleh.
    Puncak kunjungan wisatawan biasanya terjadi pada saat libur idul fitri, tahun baru dan libur sekolah.
    Ubalan adalah aset Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang merupakan penyumbang terbesar PAD.

    1.7.2 PMP ( Pacet Mini Park )
    Pacet Mini Park adalah suatu terobosan baru konsep tempat wisata. Berlokasi di Jl. Raya Pacet Km 55, anda sekeluarga dapat menikmati sejuknya alam serta udara yang bersih.
    Pacet Mini Park adalah tempat yang menyenangkan karena didukung fasilitas yang lengkap antara lain : Swimming Pool, Paint ball arena, flying fox, ATV dan rumah makan lesehan.

    1.8 Tentang Wisata Lingkungan Hidup :

    1.8.1 PPLH ( Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup )
    PPLH terletak di perbukitan sejuk Desa Seloliman, Kecamatan Trawas kabupaten Mojokerto – Jawa Timur. Sehingga lebih dikenal sebagai PPLH Seloliman atau PPLH Trawas. Awalnya PPLH Seloliman bernaung di bawah Yayasan Indonesia Hijau (YIH) sejak tahun 2006 berada dalam naungan Yayasan Lingkungan Hidup Seloliman (YLHS). Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tidak komersial, PPLH yang diresmikan pada tahun 1990 berusaha untuk menunjang upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup khususnya melalui bidang pendidikan dengan pelayanan yang bersifat informal, terbuka dan santai.
    Tujuan utama PPLH dengan segala kegiatannya terutama untuk mendorong terwujudnya kepedulian semua lapisan dan golongan masyarakat baik secara sendiri atau bersama terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Sehingga akan terwujud masyarakat lestari yang peduli terhadap lingkungan hdupnya. Pada akhirnya kerusakan dan permasalahan lingkungan yang terjadi akibat aktifitas kehidupan sehari-hari dapat dikurangi atau bahkan dihindarkan. Sehingga sumber daya alam yang ada bisa terus dilestarikan dan akhirnya bisa dinikmati dan diwariskan kepada generasi mendatang
    Seluruh areal PPLH Seloliman seluas 3.7 ha di desain sedemikian hingga menjadi media bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup melalui pendidikan lingkungan hidup. Di areal ini terdapat berbagai contoh media pengelolaan sumber daya alam secara praktis dengan tidak meninggalkan nilai ekonomi dan ekologi. Sehingga setiap orang bisa melihat sendiri bagaimana contoh-contoh penerapan pengelolaan lingkungan yang sedehana, ditambah berbagai penjelasan dari tim PPLH yang setiap saat bersedia untuk berdiskusi dan berdialog.
    Untuk memudahkan dalam menyampaikan informasi dan pemahaman pada peserta program, PPLH Seloliman memiliki beberapa media pendidikan yang tersebar dalam area PPLH. Karena media tersebut bersifat fungsional, jadi tidak hanya contoh saja tetapi benar-benar diterapkan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan aktifitas PPLH. Beberapa media pendidikan yang dimiliki oleh PPLH Seloliman yang akan menjadi fokus dalam tour kita nanti antara lain:
    • Kebun buah
    • Tanaman organik
    • Hidroponik
    • Tanaman obat
    • Pengolahan sampah
    • Biogas
    • Slurry (pupuk cair)
    • Water treatment
    Maka dari itu tujuan kedatangan kita ke PPLH Seloliman ini adalah untuk mengenalkan kepada para siswa tentang lingkungan dan pentingnya kita untuk menjaganya.

    1.8.1 MAL ( Majapahit Agro Lestari )
    Berada di kawasan Pacet, Tempat ini menawarkan pendidikan tentang Agronomi. Berbagai macam kegiatan agronomi tersedia disini, antara lain :
    1. Agribisnis dan tanaman hias
    2. Pengenalan tanaman toga
    3. Pertanian / bercocok tanam
    4. Studi alam dan pengenalan tanaman hutan
    5. Sosiologi pedesaan
    6. Pembelajaran lingkungan hidup

  20. anggie pada Wed, 13th Jan 2010 21:17 

    thank you dah ngasih tau aku bnyk informasi aku sk bgt bsk isinys lbh lngkp lg ya!

  21. neflin sarah hontong pada Mon, 18th Jan 2010 11:44 

    waw mau cari informasih tentang majahpahit nich tapi ngak dapet2 jga??????

  22. Yoriko H pada Sun, 6th Jun 2010 8:49 

    kerajaan majapahit runtuh karena apa sih ?? bingung saia sama plajaran ini

  23. ulva pada Wed, 11th Aug 2010 11:43 

    kurang menarik, karena g’ da gambar

  24. auron pada Sat, 14th Aug 2010 19:39 

    apa aja boleh

  25. Lidya pada Wed, 25th Aug 2010 11:36 

    .silsilahnya manah……….

  26. andreas pada Mon, 25th Oct 2010 10:13 

    kebenaran pasti akan terungkah bila waktunya telah tiba.

  27. Luhtu pada Wed, 27th Oct 2010 15:03 

    Kox ndx adha hal yg membuktikan keberadaan kerajaan majapahit,,???

  28. Luph Icha HoLic pada Sun, 14th Nov 2010 12:41 

    weeeeew,,keren,,,

  29. dhamar wulan pada Wed, 8th Dec 2010 10:53 

    negeri ini harus belajar dari sejarah mojopahit dalam usaha untuk membuat indonesia jaya dan lihatlah pertikaian antara saudara akan mengakibatkan runtuhnya negeri dan takdir pula yang berbicara, ingatlah sejarah akan berulang dalam seperti yang telah di tulis oleh Jayabaya

  30. Ayu' pada Thu, 30th Dec 2010 11:48 

    Bgs.. Crta sjrah yg pRlu di informsikan.. Krna trdpt ilmu2 yg dpt dicerna

  31. krysantus pada Wed, 23rd Feb 2011 14:32 

    saya ingin menanyakan suatu hal.
    saya masih keturunan dari generasi ke lima majapahit. eyang prabu browidjojo. apa posisi beliau dalam kerajaan majapahit?

  32. Amanda Muthiaaaaa pada Tue, 31st May 2011 13:42 

    makasih info’y..!

  33. Meta Fardina pada Fri, 1st Jul 2011 9:13 

    Buat anda semua yang membutuhkan info mengenai lokasi outbound di daerah Jawa Timur yang masih mengangkat tinggi budaya Kejawen, bisa mencoba di Lokasi kami…

    Di Mojopahit Agro Lestari, Pacet- Mojokerto..
    Dengan MArketingnya adalah
    Meta Fardina,
    di [email protected]
    dan 0856 309 8500 / 0838 540 56000 / 031 6085 4000
    Atau Web kami di mojopahitagrolestari.com

    Kami selalu siap membantu anda…
    Salam Hangat kami…

  34. Rio Chikara pada Wed, 13th Jul 2011 17:59 

    Wah info yang bagus sekali, bisa buat bahan pengajaran saya disekolah, ya selingan buat kembali mengajarkan sejarah. Walaupun bukan subject saya mengajar. Salam buat para blogger sumut semua.

  35. bingung pada Thu, 8th Sep 2011 14:30 

    lalu siapa yang meluluhlantakkan istana dan peninggalan majapahit lainnya

  36. cantika ayutami dibyanti pada Tue, 13th Sep 2011 16:44 

    gue suka banget wah keren dech dan komplit dan tugas gue jadi dapet 100 dech karna gue ngeliat kesini

  37. Benny pada Mon, 19th Sep 2011 21:38 

    Asala usul Gajah mada Jadi perebutan tiap daerah, dg berbagai alasan masing2, tpi semua tidak ada bukti otentik yg membenarkannya, So ? kalau hanya “KATANYA”, hemmmmmmm

  38. ayu pada Tue, 20th Sep 2011 15:54 

    kurang bagus soalnya tidak ada gambarnya….

  39. rahmawati pada Sun, 25th Sep 2011 16:35 

    makanan Indonesia di zaman Kerajaan majapahit itu apa yha??

  40. ABUMAS pada Wed, 28th Sep 2011 21:25 

    tessssssssss

  41. ABUMAS pada Wed, 28th Sep 2011 21:29 

    lanjut

  42. RINI S. pada Thu, 29th Sep 2011 22:55 

    Bagus juga artikel ini, untuk menambah wawasan sejarah bangsa Indonesia

  43. zikra pada Sun, 9th Oct 2011 15:45 

    masa nggak ada gambar nya sick padahal disekolah nyuruh pake gambar payah bangeet nyarinya

  44. ra tanca pada Wed, 9th Nov 2011 18:37 

    knpa wktu menyerang portugis d malaka,demak kalah pdhal kan punya keris sakti “makripat”,oia pninggalan majapahit dluar jawa ada tdak?(prasasti msalnya).

  45. Sahrul Junaib pada Fri, 18th Nov 2011 23:07 

    nilai.2 pancasilanya ko nga ada sih

  46. selvi imoutzz pada Wed, 11th Jan 2012 12:43 

    bleh ngx saya minta tlong tampilkan soal soal tentang majapahit.. ,itung – itung belajar

  47. Dwi yono pada Tue, 24th Jan 2012 4:50 

    Kok gak ada gambarnya sih…
    Oya..ada 1 pertanyaan…
    Orang zaman kerajaan punya toilet gak ya.,.???

  48. dody pada Sat, 24th Mar 2012 19:10 

    Sebetulnya cerita keruntuhan Kerajaan Majapahit yg benar seperti apa?
    Saya pernah mendapat cerita kalau Kerajaan Majapahit belum Runtuh tetapi hilang, buktinya keraton Majapahit tidak ada bekasnya. Masak Kerajaan sebesar Majapahit tidak mempunyai keraton.
    Tolong yang mempunyai info share donk….
    Terima kasih.

  49. info mezzo pada Fri, 15th Jun 2012 13:25 

    kalau baca artikel tentang kerajaan majapahit, jadi inget waktu SD disuruh ngapalin nama raj-raja kerjaan di Insonesia, kalau gak bisa dipukul pakai lidi,,, hahahah :)

  50. selviayunita pada Mon, 13th Aug 2012 18:45 

    bagus juga sih tapi nggak ada gambar maja pahit

  51. fazura shaina pada Thu, 13th Sep 2012 22:51 

    makasih informasinya

  52. karissa agnia rubi pada Wed, 26th Sep 2012 17:37 

    ohhhh sussah untuk pljran ips hahahahahahahahahahahahah kasian juga ya gajah mada gk boleh mkn buah palapa

  53. sevira lupita pada Sun, 13th Oct 2013 10:04 

    katanya islam penyebabnya kemunduran kerajaan adanya perkembangan agama islam

  54. dini pada Thu, 6th Mar 2014 22:51 

    foto atau gambar kerajaan majapahit

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!