Visi dan Misi Capres 2009
Visi dan Misi Capres 2009, secara global sudah bisa kita lihat di televisi yang diselenggarakan oleh Kadin, sudah kita baca di koran-koran plus sudah kita dengar di radio. Semua bagus dan menarik meskipun salah satu capres ada yang bilang “pertanyaanya sulit untuk dijawab”, tapi tidak apalah yang penting ada kemajuan dalam proses pemilihan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2009.
Meskipun ada yang agak bingung dan tidak jelas manun semua sudah bermuara pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Hanya saja rakyat yang mana? jangan jangan rakyat yang sudah kaya raya terutama yang duitnya sudah diatas 10 M. hehehe….
Visi dan Misi Capres 2009 hendaknya benar benar satu kata satu tidakan (istilah pak Jusuf Kala), artinya : Keadilan sosial, keadilan ekonomi, bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang lemah dibantu, dibina dan difasilitasi serta didorong sehingga bisa berdaya dan mandiri, yang sudah maju dan besar didukung sehingga bisa berkompetisi di kancah percaturan ekonomi global, bukan hanya jago kandang, hanya mampu bersaing di dalam negeri sendiri.
Perlindungan yang adil terhadap hukum dan hak-hak asasi manusia, sehingga memperoleh kedamaiaan dan kesejahteraan, baik lahir maupun batin.
Kala kita menengok sejarah sebenarnya sema sudah terangkum dalam Sila sila Pancasia, Pembukaan UUD 45 dan dalam UUD 45 itu sendiri. Hanya mungkin semau sudah lupa karena sudah jarang membacanya.
Masalah Neolib, Neo Liberal hendaknya dijadikan masukan bukan untuk senjata menjatuhkan, toh semua calon presiden dan wakil presiden sudah merasakan nikmatnya memiliki kekayaan di atas 10 M, kecuali pak SBY. Apalagi pak Sumintar sudah merasakan sengsaranya karena terjerat gaya Liberal Kartu Kredit (sekarang sudah mulai tobat, hehehe).
Terus Visi dan Misi Petani Internet dan Pengusaha Bisnis Online Indonesia apa ya?
Terus terang para petani internet dan pengusaha bisnis online, serta buruh, pekerja bisnis online, masih dipandang sebelah mata dan belum pernah disinggung dalam pemaparan visi dan misi Capres. Tapi jangan menyerah mari kita buktikan bersama lewat misi dan misi lewat kerja nyata dan karya nyata.
Nah ini perlu presiden atau menteri atau setidak tidaknya Dirjen, untuk Petani Internet Indonesia, buruh, pekerja dan pengusaha bisnis online, jangan dibiarkan liar tanpa pengurus dan tanpa pimpinan, hehehe.
Kalau boleh saya usul kira kira Visi dan Misi Petani Internet, Petani Internet Indonesia, buruh, pekerja dan pengusaha bisnis online Indonesia adalah:
Visi
Petani Internet, buruh, pekerja dan Pengusaha Bisnis Online Indonesia turut membangun masyarakat internet mandiri dengan memanksimalkan fungsi internet sebagai ladang baru untuk meningkatkan taraf hidup dalam upaya menjemput rejeki yang melimpah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan. Berketuhanan, Bertanggung jawab, Bermental Religius, Berjiwa Nasionalis, berwawasan Global, dengan semangat menuju Wirausaha mandiri. Turut mencerdas kehidupan bangsa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bekerja sama dalam mewujudkan masyarakat mandiri, damai, adil, makmur dan sejahtera.
Misi
- Melakukan kegiatan pendidikan, penelitian dan implementasi ilmu untuk mendapatkan sebesar besarnya manfaat baik dari segi finansial, ilmu pengetahuan maupun hiburan.
- Menjalankan praktek bisnis di ladang internet dengan berbagai bidang usaha yang bisa meningkatkan taraf tarap hidup, baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, golongan dan bangsa.
- Melakukan kegiatan tukar pengetahuan (share), ilmu dan teknologi dalam upaya memacu, menyemangati, dan mengarahkan sehingga memperoleh kegiatan yang optimal dan hasil maksimal.
- Membangun silaturahmi dan saling menghargai sehingga tercipta solidaritas dan kesetakawanan.
- Mendukung gagasan Ekonomi Kerakyatan dalam menyiapkan pendidikan dan pelatihan terkait dengan bisnis di Internet, mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru.
- Bersinergi dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah UKM, UMKM dalam membantu publikasi, pendampingan dan pemasaran lewat internet (Internet marketing).
- Bekerja sama dengan pendidikan formal dalam pendidikan, penelitian (riset), pengembangan dan penerapan teknologi tepat guna dan berdaya guna.
Catatan: Jika ingin tahu Misi dan Visi masing masing pasangan capres dan cawapres 2009, JK-Win, SBY-Budiono, Mega-Pro silahkan baca di websitenya, tonton di TV, TV One, SCTV, RCTI, Metro TV, Indosiar, TVRI.
Misi dan VISI itu penting, akan tetapi Kerja Nyata untuk rakyat miskin untuk menjabarkan visi jauh lebih penting.
Salam Sukses dari Petani Internet Indonesia dan Pengusaha Bisnis Online
www.king-ali.tk
Ini bukan kali pertama Telkomsel mengakui eksistensi blogger Indonesia, setelah sebelumnya mengadakan serangkaian acara dengan Komunitas BloggerSUMUT seperti Workshop untuk Blogger dan juga acara Launching Komunitas Blogger Telkomsel. Kali ini Telkomsel ingin berbagi kegembiraan dalam peringatan Hari Ulang Tahun Telkomsel yang ke-14 melalui tarian jari para blogger di atas keyboard.
Telkomsel yang merupakan salah satu perusahaan operator seluler Indonesia, melalui komunitas blogger Telkomsel Blogger Community bekerjasama dengan BloggerSUMUT dan Aceh-Blogger mengusung lomba nge-blog yang pendaftarannya sudah dimulai pada tanggal 26 Mei 2009. Tentunya lomba ini juga memiliki berbagai hadiah menarik untuk dimenangkan.

Lomba Ngeblog Telkomsel
Untuk detil lebih lanjut, silahkan klik banner di atas.
Ayo blogger-blogger Indonesia, tunjukkan eksistensi mu!
Kata “Kemuliaan Menulis” atau Nobility of Writing sebenarnya sudah cukup lama ada dalam kepala saya. Kata ini tidak tiba-tiba saja muncul. Kata “Kemuliaan Menulis” itu saya kenal ketika dalam perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang penulis. Walaupun akhirnya, saya kemudian tidak menjadi penulis. Begitupun sebagai seorang pengajar (pendidik) saya acap kali bersentuhan dengan dunia kepenulisan.
“Kemuliaan Menulis” sejak awal saya yakini merupakan sesuatu yang harus disebar bak virus. Sesuatu yang harus bisa menjadi inspirasi para penulis muda untuk berjuang menuju kesuksesan. “Kemuliaan Menulis” harus menjadi awalan dari kecanggihan seorang penulis. Tanpa “Kemuliaan Menulis” saya meyakini, tak akan ada karya-karya tulis fenomenal yang menggugah dan membangkitkan emosi pembaca.
Apa itu “Kemuliaan Menulis”? Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari banyak kawan-kawan mahasiswa atau penulis-penulis muda. Saya seringkali membiarkan para mahasiswa saya untuk lebih dulu berpikir dan memberikan definisinya masing-masing terhadap sesuatu. Begitu pula dengan “Kemuliaan Menulis”. Saya biasanya hanya menuliskan kata itu dan meminta para mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.
Ada banyak kata yang keluar dari para mahasiswa ketika mereka memikirkan soal kata “Kemuliaan Menulis”. Ada yang bilang, menulis itu terhormat; ada juga yang bilang, menulis itu tinggi; atau ada juga yang bilang, menulis itu narsis. Semua definisi spontan yang hadir dalam kepala para mahasiswa dan dilontarkan dihadapan saya menjadi sesuatu yang sangat penting. Pada tahap awal saya hanya ingin meminta para mahasiswa untuk mengartikan kata “Kemuliaan Menulis”. Ya, hanya arti kata itu saja dan bukan pemahaman mereka terhadap “Kemuliaan Menulis”. Dari banyak lontaran pendapat itu, saya kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bisa pelan-pelan memahami apa itu arti menulis.
Menulis, sebenarnya bukanlah untuk diri sendiri. Ada banyak orang yang menganggap bahwa menulis merupakan pekerjaan paling “egois” yang bisa dilakukan. Maksudnya, pekerjaan menulis dianggap bisa dikerjakan sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan sendiri. Ada banyak alasan mengapa cara menulis seperti ini ditempuh. Banyak penulis muda yang enggan menulis karena takut tak bisa menulis. Takut tulisannya jelek dan diejek oleh pembacanya (walaupun kadang yang membaca pun hanya dia seorang). Kalaupun kemudian muncul sedikit keberanian, maka setelah menulis ya hanya dibaca sendiri. Diejek sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan untuk tidak penah perlu diketahui orang lain selain dirinya. Tapi ada juga yang sudah berani menulis dan menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain, namun tiba-tiba harus terserang “demam” karena tak tahan dikrtitik bahwa tulisannya dianggap sama sekali tak punya mutu. Semangatnya untuk menulis kemudian menjadi lumer bak ice cream dihantam panas. Cair dan kemudian berserak tak bisa utuh lagi.
Gambaran soal menulis yang saya sampaikan diatas menjadi fenomena yang umum dan dirasakan oleh para penulis muda. Bibit-bibit penulis inilah yang kemudian terbonsai gara-gara tak memahami “Kemuliaan Menulis”. Mereka hilang, musnah dan kemudian mengambil jalan menempuh profesi lainnya: menjadi tukang parkir, pemulung, pencopet, dan lain sebagainya.
“Kemuliaan Menulis” sejatinya harus dimulai dari kesadaran bahwa menulis bukan pekerjaan “egois “, bahwa menulis bukan sekedar mendapatkan honor atau menyalurkan hobi. Jika tingkatan menulis masih pada tingkat mendapatkan honor atau menyalurkan hobi, saya yakin bahwa tidak akan ada tulisan bermutu dari seorang penulis macam ini. Tidak akan ada tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang tergugah karenanya.
Menulis itu akan menjadi sebuah kemuliaan jika para penulis muda menyadari bahwa mereka sesungguhnya bukan menulis untuk diri mereka sendiri. Saya selalu percaya, bahwa jika ketika seseorang menulis dan dia hanya beranggapan tulisannya hanya untuk dirinya, maka bisa dipastikan tulisan itu akan sangat dangkal. Sadarlah, bahwa menulis itu sebenarnya untuk orang lain. Menulis bukan sekedar mencurahkan ide di papan ketik, mencurahkan unek-unek atau menulis caci maki. Menulis adalah sebuah “ibadah” yang akan membawa seorang penulis pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang. Maka itu, sekarang, ayo menulis dan muliakan diri kalian.
Aulia Andri, Motivator Menulis
aulia.andri[at]hotmail.com
tulisan ini juga bisa dibaca di http://mentiko.com