Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Opera Batak: Raja Sisingamangaraja XII

June 19, 2012 oleh  
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya

Sebelumya sudah disajikan 4 tulisan tentang Pertempuran Bahal Batu. Dan tulisan tersebut adalah sebagai penghantar bagi kita semua untuk menyambut pementasan Opera Batak Pahlawan Nasional: Raja Sisingamangaraja XII.

MC : Nai Malvinas

Bintang Tamu: ONCE (ex Group Band DEWA 19)

Sutradara: Sultan Saragih

Advisor: Nano Riantiarno & Ratna Riantiarno.

Info, Ticket & Schedule

Opera Batak Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII

Venue:

Teater Jakarta, TIM (Taman Ismail Marzuki)
Jl. Cikini Raya No. 73

Tanggal Pementasan:

6 Juli 2012 (Jum’at), Jam 19.00 WIB
7 Juli 2012 (SABTU), Jam 19.00 WIB

Tiket:

VVIP Rp 1.200.000
VIP Rp 900.000
Gold Rp 500.000
Silver Rp. 200.000

Contact Person:

Cornel Ginting
(081808582374)
email/YM: [email protected]
Gtalk: [email protected]

Alber Manurung
(081318219897)
email: [email protected]

Lorryan Sitanggang
(081355949232/081513195234)
email: [email protected]

ATAU Pesan di:

Jl. Batu Amantis No.4 RT/RW 008/010
Kel. Kayu Putih, JAKARTA – TIMUR 13210
TLP. 021-4894971

Sinopsis:

Latar belakang menggambarkan perkampungan Bakkara, terlihat dinding tebing Bakkara dan Danau Toba.

Dung mulak ahu sian partontangan di Butar, sai jonok ma di simalolonghu mudar na mabaor songon batang aek disi

Demikianlah petikan kegelisahan Raja Sisingamangaraja XII kepada Parsonduk Bolon sambil menantikan berita-berita peperangan dari Patuan Nagari, Raja Sijorat, Patuan Anggi dan utusan-utusan lainnya.Pertempuran telah terjadi di Butar – Silangkitang, Bahal Batu, bahkan pasukan Belanda semakin bertambah jumlahnya mendesak hingga ke Huta Ginjang. Pasukan meriam Belanda di bawah Kapten Hans Christoffel, yang menggantikan Letnan Spandow berhasil menghancurkan Huta Gurgur dan kini telah menjejakkan kaki di wilayah Balige.

Raja Sisingamangaraja XII memanggil Raja Bius dan Datu Salenggam Banua untuk mengadakan ritual, memanjatkan doa, memohon kekuatan dan petunjuk kepada Ompung Debata Mulajadi Na Bolon sebab Bakkara tidak lagi dapat dipertahankan. Raja Sisingamangaraja XII mengatur siasat, dengan memulai strategi perlawanan baru, perang gerilya.

Satu kelompok pasukan dari Bakkara menuju Pangururan (marluga, membawa sampan), menuju Hariara Pintu, sebagian lagi mengambil langkah memasuki Sigaol, Pasir Babana, hingga Onan Balige, lalu pasukan berikutnya menyisir ke Tarabunga, Dolok Tolong hingga Aek Sihail hail, Aek Bolon (kelak terdesak hingga perjalanan ke Aek Sibulbulon, hutan Si Onom Hudon, Pak Pak)

Opung So Mahap Doli dan Opung So Mahap Boru, dua pengkhianat yang sering memberikan informasi kepada Raja Pangalintas, yang bekerja sama dengan pasukan Belanda bersembunyi di Hutan. Perasaan mereka selalu ketakuan dan was-was sebab telah lama dicari-cari oleh pejuang setia Raja Sisingamangaraja XII, Opung Jumorlang dan Sarbut Mataniari. Namun, nasib tak dapat dihindari, mereka berhasil ditemukan.

“Molo babi dieme, sitongka pasombuon. Molo jolma parjehe (pengkhianat), na ingkon do bunuon” tegas Sarbut Mataniari. Opung So Mahap Doli meminta belas kasihan namun permohonan diabaikan, pengkhianat tetaplah pengkhianat.

Pada saat yang lain, di Kantor Kompeni, Balige, Kapten Hans Christoper memerintahkan kepada Raja Pangalintas dan Angin (keduanya pengkhianat yang mendapat kekayaan berlimpah dari Belanda) untuk membujuk para tawanan agar memberitahukan keberadaan Raja Sisingamangaraja XII. Tawanan yang tak pernah berhasil dibujuk antara lain, Raja Sijorat, Opung Jumorlang, Sarbut Mataniari, Raja Bius. Sedangkan, Jehe takluk di atas todongan senapan.

Sementara itu, pasukan Raja Sisingamaraja XII terus terdesak dalam gerilya dan pengungsian hingga ke Aek Sibulbulon, hutan Si Onom Hudon, Pak Pak. Serbuan Belanda terus-menerus menggempur kampung demi kampung. Kompeni Belanda menyisir hutan dengan mendatangkan Hamisi, seorang marsose asal Ambon yang memiliki keahlian khusus melacak jejak. Dalam rombongan pengungsian, tanpa sengaja Boru Lopian meninggalkan pakaian yang menjadi petunjuk awal keberadaan Raja Sisimangaraja XII. Kapten Hans Christoffel segera melakukan siasat pengepungan. Tragedi besar penangkapan Raja Batak selesai dengan pengepungan hutan dan menghujamnya peluru Hamisi ke tubuh Raja Sisimangaraja XII. Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur dalam pertempuran tersebut. Setelah memeluk puteri kesayangannya, Si Boru Lopian.

Perjuangan berakhir ditandai dengan satu ucapan lantang di tengah tengah pasukan Belanda , “Ahu Sisimangaraja”. Aku tak kan gentar atau lari dari jalan hidupku, membebaskan Tanah Batak dari cengkeraman kekuasaan dan perbudakan kompeni Belanda.

Trailer:

Tentang Nich
Seorang web programmer, yang juga blogger, yang ingin berbagi banyak hal dari kesehariannya. Sangat menggemari berkicau di twitter, silahakan di-follow @nichpakaich atau tambahkan ke dalam circle Google+.
Blog: http://nichpakaich.net

Komentar

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!