Nusantara Online
Postingan ini aku tulis berdasarkan apa yang aku baca di Kompas edisi 5 Desember 2008, tepatnya tulisan pak Amir Sodikin yang berjudul ”Nusantara Online: Menyulut Nusantara dengan Game”. Lagi-lagi aku mendapat kosakata baru dari pak Amir Sodikin. Kalo kemarin atlet cyber, kali ini kosakata itu adalah Nusantara Online. Bagi para gamer, aku yakin sudah pernah mendengar nama itu, bahkan mungkin sudah sangat akrab. Kalo belum berarti keterlaluan dan ketinggalan jaman. Kalian yang bukan gamer, apa sudah mengenal Nusantara Online…? Kalo belum berarti sama dong dengan aku, tapi itu beberapa hari yang lalu. Sekarang tidak lagi… aku sudah lebih tau tentang apa itu Nusantara Online.
Learning a Foreign Language
December 10, 2008 oleh ArwanSP
Tersimpan pada Gaya Hidup
Many people have learned a foreign language in their own country; others have learned a foreign language in the country in which it is spoken. Both approaches have advantages and disadvantages. In this essay, I will name some of the advantages of each approach and I will argue in favor of the first approach.
One who has learned a foreign language in his own country may spend less money than one who has learned a foreign language in the country in which it is spoken. He did not spend his money to live in the country. He might derive greater satisfaction because he can master the language by his own approaches. If there were any mispronounce, it would be better understood because he has learned the language in his own country.
On the other hand, one who has learned a foreign language in the country in which it is spoken might master the language faster than the others. One can learn and practice the language every day because he has to use it in his daily activity. He can improve his language ability by speaking with a native speaker. Otherwise, he can learn about the cultures and tradition of the country that will give him more knowledge.
In my opinion, I must argue in favor of the first approach. I have learned a foreign language in my own country. I can learn the language without leaving my family and I still can do my daily activity. It may not be a better way, but it is my way.
Laju Sang Waktu
November 15, 2008 oleh ArwanSP
Tersimpan pada Warna Warni
Tak terasa sudah genap 3 tahun aku mengaktualisasikan diri di Balai Penelitian Sei Putih. Sudah 36 bulan aku berkenalan dengan tanaman karet dan lingkungannya. Sudah 156 minggu aku menghirup udara di Bumi Andalas. Sudah 1095 hari aku mencoba beradaptasi dengan pedasnya masakan ala Sumatera. Sudah juga aku mengenal lantangnya suara orang Medan. Sungguh begitu cepat waktu berlalu. Begitu rupa peredaran sang waktu. Umur pun kian bertambah. Sungguh tak terasa…
Balai Penelitian Sei Putih, Pusat Penelitian Karet. Aku bahkan belum pernah membaca nama itu beberapa tahun yang lalu. Pertama kali aku dengar dari seorang kawan yang mengabarkan tentang lowongan kerja di tempat tersebut. Itu pun tak kutanggapi dengan serius. Waktu itu aku masih freelance di Biotek Perkebunan Bogor. Tak mudah memang untuk mendapatkan pekerjaan, paling tidak itu yang aku rasakan. Membuka usaha sendiri pun tak ada keberanian. Banyak instansi telah aku kirimi surat lamaran pekerjaan. Dengan kualifikasi ijazah sarjana, dengan nilai yang cukup memuaskan, bahkan dari perguruan tinggi yang cukup ternama di negeri ini. Tapi ternyata, tak semudah yang aku bayangkan pada awalnya. Biasanya selalu mentok di interview akhir. Sudah 2 tahun lebih aku mencoba, dan hasilnya tetap sama. Rasa frustasi pun sempat menghampiri. Tapi aku masih harus tetap bersyukur. Aku punya tempat di Biotek Perkebunan, tempat aku mengenal dunia penelitian dan dunia kerja pada umumnya. Dari situlah aku mulai belajar. Bahwa tidak semua ilmu diajarkan di bangku kuliah. Dunia kerja membutuhkan lebih dari sekedar teori-teori atau bahkan sebaliknya tidak membutuhkan teori yang muluk-muluk. Dunia kerja memang dunia yang berbeda dari lingkungan kampus. Dunia kerja lebih bersifat pragmatis, sedangkan lingkungan kampus sering kali masih penuh idealisme.
Balai Penelitian Sei Putih. Thanks God … telah menuntun aku ke tempat ini. Tempat yang tak jauh beda dengan Biotek Perkebunan. Terima kasih juga telah membawa aku ke kecamatan Galang, kabupaten Deli Serdang. Tempat yang tak jauh beda dengan kampong halamanku di Klaten. Walaupun sampai saat ini aku masih merasa belum menemukan jati diriku, tapi keadaan telah lebih baik dari waktu itu. Semoga dengan semakin berjalannya waktu, aku terus bisa mengumpulkan kepingan puzzle dalam hidup ini untuk membentuk gambaran yang lebih jelas lagi. Menikmati setiap proses dan perjalanan dalam mengisi sang waktu. Menjadi sosok yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.






