Internet Itu Porno
Agak kesal juga saya kalau ada yang menyuratkan atau mungkin menyiratkan judul di atas kepada saya. Akan tetapi, itulah fenomena yang terjadi di lingkungan saya.
Jadi malu! Kalau diperhatikan – rasa-rasanya koneksi Internet yang bagus tidak dibutuhkan di daerah saya. Sebagai contoh ada satu warnet di tempat saya yang sangat terkenal dengan koleksi film-film bokep-nya. Fiuh.. Jadi, orang-orang yang ke sana tak perlu browsing untuk mendapatkan tujuannya ‘itu’ – tinggal buka local disk D saja. Nah lho? Bukankah seharusnya lebih cocok disebut sebagai rental *sensor*.
Oke, tak perlu lagi membahas warnet itu. Sekarang mari kita beralih ke warnet tempat saya bekerja. Kejadiannya hampir sama. Inget! Hampir sama ya… Tapi, tentu ada perbedaannya. Persamaannya adalah kebanyakan orang yang datang ke warnet saya adalah hanya untuk membuka local disk D tadi (jika ada
) lebih dulu dan jika tidak ada maka baru beralih browsing.
Yang lucunya, bahkan ada bapak dan bahkan anak-anak yang punya sedikit nyali untuk tanya begini:
“Filmnya ada, Kak/Dek?”
Spontan saja saya jawab dengan pura-pura lugu, “Film apa ya?”
Untuk yang tidak punya lebih banyak nyali biasanya langsung terdiam saja. Sementara yang lain ada juga yang langsung to the point bilang, “Ada bokep, Kak/Dek?” atau gini, “Buka situs-situs porno kayak mana, Kak/Dek?”
Waktu mendengar pertanyaan kedua sebenarnya saya ingin sekali tertawa keras-keras di depannya
. Fiuh, masih banyak orang yang tidak ingin berkenalan secara baik-baik dengan Internet. Bodoh sekali pikirku. Seharusnya mereka belajar dulu – kalau sudah bisa [termasuk untuk buka-buka yang begituan] – ya wes!
Sayang sekali, bukan? Internet yang begitu berguna ini disalahgunakan padahal banyak sekali manfaatnya. Contohnya cari duit [asal halal ya
] juga bisa. Lah kalo’ sudah berhasil, mau berapa wanita pun dia mau, gampang! Bahkan ngga’ perlu hanya melihat dari monitor saja. Hehe…
>>>Silahkan dapatkan sendiri satu nilai pelajaran dari tulisan saya ini.
Tutur
October 2, 2008 oleh hellda
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Dalam perjalanan ke tempat kerja hari ini, kebetulan memang saya tinggal di tempat yang masih memiliki sifat kedaerahan. Daerah yang saya tempati sekarang ini adalah mayoritas suku Batak Karo. [Biasanya masyarakat Karo yang saya temui, mereka tidak terlalu suka disebut Batak. Menurut mereka Karo itu berbeda dengan Batak]. Sewaktu di angkot itu, saya mendengar wanita lansia dan seorang pria lansia juga sedang bercengkarama. Mereka sibuk menentukan “tutur” mereka. Sebenarnya saya tidak begitu tahu arti “tutur” dalam bahasa Indonesia. Tapi yang pasti, tutur itu seperti panggilan seseorang terhadap yang lainnya begitu juga sebaliknya didasarkan pada marga mereka jika dihubungkan.
Sembari mendengar mereka saling ber-tutur, saya jadi sadar kalau saya masih belum paham betul bagaimana hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Belum lagi kalau marga yang satu dari Batak Toba atau mungkin yang lainnya sedangkan yang lainnya dari Karo maupun Batak-Batak yang lainnya. Argh!
Pertanyaan yang selalu menyinggahi benak saya adalah: “Kok bisa banyak sekali ya marga-marga ini? Jadi bingung aku!”
Untungnya saya memang berupaya untuk menghapal hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Saya juga tahu beberapa istilah-istilah beberapa marga. Contohnya sejak kelas 1 SMP, saya paling hafal dengan satu istilah ini yaitu “parna”, “parna” itu seperti grup. Beberapa marga yang masuk ke dalamnya baik dari Karo, Simalungun dan Batak Toba adalah Ginting, Simbolon, Saragih, Sitanggang.
Hanya itu yang ada di memori saya. Kemudian untuk marga saya sendiri (kalau untuk perempuan sebenarnya disebut “boru” dalam bahasa Batak dan “beru” dalam bahasa Karo, yang saya tahu marga saya ini jika dimasukkan ke dalam Karo akan sama dengan marga Karo-Karo.
Mulai dari lingkungan saya yang dulu baik di sekolah ataupun di rumah sampai di daerah saya yang sekarang, masih banyak remaja yang tahu mengenai paling tidak marga mereka masing-masing namun banyak juga yang tidak mengerti hal tersebut.
Mungkin, bukan mungkin lagi, tapi harus! Orang tua harus menanamkan nilai-nilai budaya mereka dan mengajarkan asal-usul mereka. Namun seraya bertambahnya umur anak-anak menjadi remaja, sering kali mereka tidak peduli terhadap hal-hal tersebut. Akibatnya di masa depan, mungkin ada yang buta sama sekali dengan apa yang disebut dengan “tutur” tersebut sehingga mereka menikah dengan seseorang yang seharusnya tidak boleh mereka nikahi menurut adat.
Memang di era globalisasi sekarang ini, mungkin ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak penting. Asal dia tidak menikah dengan saudara kandungnya sendiri, tak apalah! Namun, sungguh disayangkan bukan? Nilai-nilai budaya yang seharusnya dilestarikan malah harus punah.







