Kata “Kemuliaan Menulis” atau Nobility of Writing sebenarnya sudah cukup lama ada dalam kepala saya. Kata ini tidak tiba-tiba saja muncul. Kata “Kemuliaan Menulis” itu saya kenal ketika dalam perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang penulis. Walaupun akhirnya, saya kemudian tidak menjadi penulis. Begitupun sebagai seorang pengajar (pendidik) saya acap kali bersentuhan dengan dunia kepenulisan.
“Kemuliaan Menulis” sejak awal saya yakini merupakan sesuatu yang harus disebar bak virus. Sesuatu yang harus bisa menjadi inspirasi para penulis muda untuk berjuang menuju kesuksesan. “Kemuliaan Menulis” harus menjadi awalan dari kecanggihan seorang penulis. Tanpa “Kemuliaan Menulis” saya meyakini, tak akan ada karya-karya tulis fenomenal yang menggugah dan membangkitkan emosi pembaca.
Apa itu “Kemuliaan Menulis”? Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari banyak kawan-kawan mahasiswa atau penulis-penulis muda. Saya seringkali membiarkan para mahasiswa saya untuk lebih dulu berpikir dan memberikan definisinya masing-masing terhadap sesuatu. Begitu pula dengan “Kemuliaan Menulis”. Saya biasanya hanya menuliskan kata itu dan meminta para mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.
Ada banyak kata yang keluar dari para mahasiswa ketika mereka memikirkan soal kata “Kemuliaan Menulis”. Ada yang bilang, menulis itu terhormat; ada juga yang bilang, menulis itu tinggi; atau ada juga yang bilang, menulis itu narsis. Semua definisi spontan yang hadir dalam kepala para mahasiswa dan dilontarkan dihadapan saya menjadi sesuatu yang sangat penting. Pada tahap awal saya hanya ingin meminta para mahasiswa untuk mengartikan kata “Kemuliaan Menulis”. Ya, hanya arti kata itu saja dan bukan pemahaman mereka terhadap “Kemuliaan Menulis”. Dari banyak lontaran pendapat itu, saya kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bisa pelan-pelan memahami apa itu arti menulis.
Menulis, sebenarnya bukanlah untuk diri sendiri. Ada banyak orang yang menganggap bahwa menulis merupakan pekerjaan paling “egois” yang bisa dilakukan. Maksudnya, pekerjaan menulis dianggap bisa dikerjakan sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan sendiri. Ada banyak alasan mengapa cara menulis seperti ini ditempuh. Banyak penulis muda yang enggan menulis karena takut tak bisa menulis. Takut tulisannya jelek dan diejek oleh pembacanya (walaupun kadang yang membaca pun hanya dia seorang). Kalaupun kemudian muncul sedikit keberanian, maka setelah menulis ya hanya dibaca sendiri. Diejek sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan untuk tidak penah perlu diketahui orang lain selain dirinya. Tapi ada juga yang sudah berani menulis dan menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain, namun tiba-tiba harus terserang “demam” karena tak tahan dikrtitik bahwa tulisannya dianggap sama sekali tak punya mutu. Semangatnya untuk menulis kemudian menjadi lumer bak ice cream dihantam panas. Cair dan kemudian berserak tak bisa utuh lagi.
Gambaran soal menulis yang saya sampaikan diatas menjadi fenomena yang umum dan dirasakan oleh para penulis muda. Bibit-bibit penulis inilah yang kemudian terbonsai gara-gara tak memahami “Kemuliaan Menulis”. Mereka hilang, musnah dan kemudian mengambil jalan menempuh profesi lainnya: menjadi tukang parkir, pemulung, pencopet, dan lain sebagainya.
“Kemuliaan Menulis” sejatinya harus dimulai dari kesadaran bahwa menulis bukan pekerjaan “egois “, bahwa menulis bukan sekedar mendapatkan honor atau menyalurkan hobi. Jika tingkatan menulis masih pada tingkat mendapatkan honor atau menyalurkan hobi, saya yakin bahwa tidak akan ada tulisan bermutu dari seorang penulis macam ini. Tidak akan ada tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang tergugah karenanya.
Menulis itu akan menjadi sebuah kemuliaan jika para penulis muda menyadari bahwa mereka sesungguhnya bukan menulis untuk diri mereka sendiri. Saya selalu percaya, bahwa jika ketika seseorang menulis dan dia hanya beranggapan tulisannya hanya untuk dirinya, maka bisa dipastikan tulisan itu akan sangat dangkal. Sadarlah, bahwa menulis itu sebenarnya untuk orang lain. Menulis bukan sekedar mencurahkan ide di papan ketik, mencurahkan unek-unek atau menulis caci maki. Menulis adalah sebuah “ibadah” yang akan membawa seorang penulis pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang. Maka itu, sekarang, ayo menulis dan muliakan diri kalian.
Aulia Andri, Motivator Menulis
aulia.andri[at]hotmail.com
tulisan ini juga bisa dibaca di http://mentiko.com
Awal Tahun 2008. Saya tidak ingat persis tanggalnya tapi sekitar bulan Januari. Saya menghubungi Riza, mantan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera (UMSU) untuk membuat sebuah website yang mengusung prinsip citizen journalism. Setahun sebelumnya, saya memang sudah menggandrungi beberapa wesbite atau blog citizen journalism yang bertebaran.
Saya mengajak Riza karena saya tahu dia punya hobi yang sama dengan saya dalam hal mengutak-atik website. Awalnya, saya bersama Riza merancang nama untuk website citizen journalism yang akan kami buat. Saya mengusulkan sejumlah nama seperti Mentiko.com. Riza tidak setuju. Dia mengusulkan nama Tekongan.com.
Setelah bertemu beberapa kali, kami kemudian menyepakati untuk membuat sebuah website dengan alamat www.tekongan.com. Alasannya sederhana saja. Tekongan itu bahasa asli Medan.
“Cocok nama itu bang. Sudahlah itu saja,” kata Riza mendesak saya.
“Yakin kau itu bahasa Medan?” Saya.
“Ya iya lah. Sudah pas itu,” tegas Riza lagi.
Maka setelah itu saya membangun sebuah website berbasis content management system (CMS) Joomla. Saya membangun website ini sambil belajar. Istilahnya learning by doing saja. Kebetulan saya juga yang membuat website UMSU (www.umsu.ac.id), sehingga punya sedikit pengalaman mengelola website berbasis Joomla.
“Website ini akan kita persembahkan untuk kemajuan masyarakat Medan,” kata saya pada Riza.
Dia tampak bersemangat. Tekongan.com memang akan lebih menekankan informasi-informasi yang ditulis dan dirasakan oleh masyarakat. Saya sudah lama meyakini, media-media non mainstream seperti web yang mengusung konsep citizen journalism akan berkembang. Hingga kini website Tekongan.com masih bisa diakses. Perkembangannya pun semakin baik dengan ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pengaksesnya.
20 Februari 2009, bertempat di Merdeka Walk Medan, saya menghadiri launcing Telkomsel Blogger Sumut. Saya sudah bergabung dengan komunitas Blogger Sumut sejak 5 bulan lalu. Komunitas ini saya nilai sangat positif untuk mengembangkan dunia information communication technology (ICT) di Sumut. Maka itu, saya sangat mendukung komunitas Blogger Sumut ini. Malam ini, saya bersama sekitar 80 anggota komunitas Blogger Sumut berkumpul untuk meresmikan di launchingnya komunitas Telkomsel Blogger Community.
Said, Ketua Blogger Sumut dalam sambutannya mengatakan bahwa komunitas ini bertujuan untuk mengembangkan citizen journalism. Dia juga meyakini, blog akan bisa membantu menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Saya gembira mendengar sambutan dari Said. Dia tampak bersemangat.
Malam ini, usai mendengarkan Said menyampaikan pidatonya mewakili Blogger Sumut yang bersemangat, saya langsung ingin menulis. Dari situs mesin pencari google saya kemudian menemukan beberapa tulisan tentang citizen journalism. Dari website rumahkiri.net saya menemukan sebuah tulisan menarik berjudul Citizen Journalism, Sebuah Fenomena. Disana disebutkan bahwa sebenarnya istilah citizen journalism sudah lama dikenal namun dengan beda-beda istilah. Namun spiritnya tetap sama dengan public journalism atau civic journalism yang terkenal pada tahun 80-an. Yaitu, perkara bagaimana menjadikan jurnalisme bukan lagi sebuah ranah yang semata-mata dikuasai oleh para jurnalis.
Lantas, apa bedanya fenomena public journalism dengan istilah citizen journalism sekarang ini? Menurut website ini, ada perbedaanya. Perbedaannya, itu terletak pada kemajuan teknologi media sehingga semangat partisipatoris yang melibatkan publik dalam mendefinisikan isu semakin terakomodasi.
Selain itu, kemajuan teknologi media membuat akses publik untuk memasuki ranah jurnalistik semakin terbuka. Semangatnya, sekali lagi, tetap sama. Yaitu, mendekatkan jurnalisme pada publiknya.
Maka itu saya berpendapat pada dasarnya, tidak ada yang berubah dari kegiatan jurnalisme yang didefinisikan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan berita. Citizen journalism pada dasarnya melibatkan kegiatan seperti itu.
Hanya saja, kalau dalam pemaknaan jurnalisme konvensional yang melakukan aktivitas tersebut adalah wartawan, kini publik juga bisa ikut serta melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wartawan di lembaga media. Karena itu, Shayne Bowman dan Chris Willis lantas mendefinisikan citizen journalism sebagai “…the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information“.
Ada beberapa istilah yang dikaitkan dengan konsep citizen journalism. Public journalism, advocacy journalism, participatory journalism, participatory media, open source reporting, distributed journalism, citizens media, advocacy journalism, grassroot journalism, sampai we-media.
Civic journalism, menurut Wikipedia, bukan citizen journalism karena dilakukan oleh wartawan walau pun semangatnya tetap senada dengan public journalism, yaitu (lebih) mengabdi pada publik dengan mengangkat isu-isu publik. Citizen journalism adalah bentuk spesifik dari citizen media dengan content yang berasal dari publik. Di Indonesia, istilah yang dimunculkan untuk citizen journalism adalah jurnalisme partisipatoris atau jurnalisme warga.
J.D. Lasica, dalam Online Journalism Review (2003), mengategorikan media citizen journalism ke dalam 6 tipe:
- Audience participation (seperti komenter user yang diattach pada kisah-kisah berita, blog-blog pribadi, foto, atau video footage yang diambil dari handycam pribadi, atau berita lokal yang ditulis oleh anggota komunitas).
- Situs web berita atau informasi independen (Consumer Reports, Drudge Report).
- Situs berita partisipatoris murni (OhmyNews).
- Situs media kolaboratif (Slashdot, Kuro5hin).
- Bentuk lain dari media ‘tipis’ (mailing list, newsletter e-mail).
- Situs penyiaran pribadi (situs penyiaran video, seperti KenRadio).
Ada dua hal setidaknya yang memunculkan corak citizen journalism seperti sekarang ini. Pertama, komitmen pada suara-suara publik. Kedua, kemajuan teknologi yang mengubah lansekap modus komunikasi.
Public journalism acap dikaitkan dengan konsep advocacy journalism karena beberapa media bergerak lebih jauh tidak saja dengan mengangkat isu, tetapi juga mengadvokasikan isu hingga menjadi sebuah ‘produk’ atau ‘aksi’—mengegolkan undang-undang, menambah taman-taman kota, membuka kelas-kelas untuk kelompok minoritas, membentuk government watch, mendirikan komisi pengawas kampanye calon walikota, dan lain-lain.
Public atau citizen journalism juga dikaitkan dengan hyperlocalism karena komitmennya yang sangat luarbiasa pada isu-isu lokal, yang ‘kecil-kecil’ (untuk ukuran media mainstream), sehingga luput dari liputan media mainstream.
Public journalism dengan model seperti ini mendasarkan sebagian besar inisiatif dari lembaga media. Kemajuan teknologi dan ketidakterbatasan yang ditawarkan oleh Internet membuat inisiatif semacam itu dapat dimunculkan dari konsumen atau khalayak. Implikasinya cukup banyak, tidak sekadar mempertajam aspek partisipatoris dan isu yang diangkat.
Kembali ke soal Telkomsel Blogger Community, saya kemudian berpikir-pikir, rupanya Telkomsel menginginkan adanya sinergi dengan publik, khususnya blogger Sumut. Sinergi ini bisa saja dengan banyaknya blog yang nantinya akan menulis tentang Telkomsel. Repotnya dan ini tentunya yang harus diantisipasi jika kenyataanya, para blogger menulis hal-hal buruk. Saya mahfum jika nanti pihak Telkomsel akan sibuk merespon berbagai tulisan “miring” tentang Telkomsel. Atau mungkin Telkomsel bisa saja mengabaikan apapun yang ditulis para blogger dan menganggapnya sebagai kritik membangun. Tapi, ya itu, kini memang zamannya citizen journalism. Siapa saja bisa menulis tentang apa saja. Selama itu bisa dipertanggungjawabkan. Ya, kan!
Aulia Andri, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Medan
Saya tergugah dengan iklan Letjen (Purn) Prabowo Subianto versi Pasar. Dibuka dengan kalimat perkenalan, “Saya Prabowo Subianto….”, membuat saya tersentak. Iklan ini sebenarnya iklan politik, tapi saya rasa berhasil mengenai sasaran secara tepat. Tapi saya bukan mau bicara soal efektif atau tidak efektif iklan Prabowo versi Pasar itu. Saya lebih tergugah dengan pesan yang disampaikannya yaitu pentingnya membangun ekonomi mikro dengan berbelanja di pasar tradisional.
Sejak empat tahun ini saya memang sudah beriktiar untuk sebisa mungkin tidak berbelanja di supermarket, pasar swalayan, hypermart atau jenis pusat perbelanjaan modern. Bukan apa-apa, saya pernah membaca bahwa kebijakan membangun pasar modern seperti Carefour di tempat asalnya, Perancis berdasarkan berbagai pertimbangan. Informasi yang saya dapatkan, di Perancis, Carefour tidak boleh dibangun di inti kota. Gunanya, ya untuk menyelamatkan pasar-pasar tradisional yang ada di inti kota.
Aneh memang, ketika di Perancis, Carefour tidak bisa berbuat banyak, tapi sebaliknya di Indonesia. Carefour berdiri dengan “sombong” di pusat-pusat perbelanjaan. Carefour “mengepung” pasar-pasar tradisional. Persoalnnya, bukan hanya Carefour. Di Medan ada sejumlah hypermart modern yang didirikan seperti Makro dan Hypermart.
Kondisi ini tentu saja, akan memberi sumbangan berarti bagi penurunan omset penjualan pasar tradisional. Kehadiran pasar-pasar modern ini membuat pasar tradisional yang becek dan kumuh akan ditinggalkan konsumen. Yang lebih parah lagi munculnya sejumlah pasar semi besar dan berjaringan seperti Alfamart. Dengan model pemasaran franchise, Alfamart kini mulai melebarkan sayap di Medan. Mereka hadir di beberapa tempat. Saya yakin, tak lama lagi, puluhan toko belanja modern seperti Alfamart akan hadir di Medan.
Ikhtiar saya untuk tidak berbelanja di pasar atau toko modern ternyata membawa hikmah. Begini ceritanya, pernahkah Anda mempersoalkan jika di pasar atau toko modern, uang kembalian Anda ditukar dengan permen? Kejadian ini sudah seringkali terjadi. Saya awalnya memberikan “maaf” atas perlakukan ini. Biasanya, jika tidak ada kembalian Rp 100, maka akan ditukar dengan sebuah permen. Atau ini masih lebih bagus, ada juga toko modern yang menganggap “asin” uang itu. Misalnya Anda belanja Rp 7.850,- maka ketika Anda membayar dengan uang Rp 10.000,- maka Anda akan hanya mendapat kembalian uang sebesar Rp 2.000,-. Padahal, seharusnya Anda mendapat pengembalian uang sebesar Rp 2.150,-. Kemana uang Rp 150,- itu? Jika Anda coba menanyakan pasti akan dijawab enteng bahwa tidak ada uang receh. Anda pun langsung tersenyum.
Nah, coba bandingkan jika Anda berbelanja di pasar tradisional atau warung kelontong. Uang Rp 150,- itu pasti tidak akan hilang. Pemilik warung kelontong biasanya dengan sigap mengembalikan sejumlah uang yang memang harus dikembalikan. Dan kalau pun terjadi pemotongan, pasti Anda akan ribut. Kok ya bisa?
Saya seringkali bereksperimen. Setiap kali berbelanja di pasar atau toko modern saya selalu pasang muka “seram”. Saya tak rela uang saya dipotong satu perak pun. Pernah kejadian ketika berbelanja saya dipotong hampir Rp 200,-. Lalu saya minta. Eh, dijawab tidak ada kembalian uang seratus. Saya malah diberi permen. Saya menolak dan tetap minta dikembalikan uang Rp 200,- itu. Petugas kasirnya langsung sewot melihat saya. Mungkin dipikirkan kok ya ini orang ngeyel dengan uang Rp 200,-.
Lalu saya bilang, bagaimana kalau besok uang saya kurang Rp 200,-, apakah saya bisa minta potongan? Dia jawab bisa. Makanya, besok harinya saya datang lagi kesana. Kebetulan kurang Rp 200,-. Saya menyerahkan uang tanpa melengkapi Rp 200,-. Petugas kasirnya bingung, dia meminta saya menambahkan uang. Saya bilang uang saya masih tersisa Rp 200,- disini, kemarin. Dia makin bingung. Lalu saya minta petugas kasir yang kemarin, yang kebetulan ada disitu untuk memberikan penjelasan. Akhirnya, dengan wajah gondok mereka membiarkan saya tidak melengkapi uang Rp 200,-.
Ada banyak pelajaran moral yang bisa saya dipetik dari pengalaman ini. Saya hanya ingin memberi pelajaran bagi para pedagang toko modern untuk bisa jujur dalam berdagang. Malah, pernah saya berpikir, mungkin Prabowo Subianto mau membantu, menggalang kekuatan dan membuat kampanye Anti Pasar Swalayan Modern. Gerakan dan kampanye ini tentu efektif untuk memberikan kekuatan penyeimbang bagi para pedagang pasar tradisional dan warung kelontong menghadapi serbuan kapitalisasi.
Akhirnya, saya hanya ingin membuka mata publik untuk meminimalisir berbelanja di pasar modern. Apalagi Carefour, bukan apa-apa karena banyak orang yang sok-sokan berbelanja di Carefour dan mengucapkannya dengan lafal yang salah. Carefour dibaca dengan aksen bahasa inggris jadi KERFUR. Seharusnya yang benar tetap dibaca dengan aksen perancis, yaitu KARFUR. Selamat berbelanja dan tertipu oleh kenyamanan pasar modern.
Aulia Andri, Citizen Reporter
Inilah Sumatera. Pulau elok dengan segudang pesona. Ada bahasa yang dituturkan, ada budaya yang jadi adat istiadat. Inilah Sumatera, tempat kami berkumpul menjadi masyarakat.
Saya telah berpergian ke banyak pulau: Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Papua. Tapi tak pernah saya temui pesona Pulau Sumatera. Ini bukan sekedar soal keelokan alamnya. Bukan pula soal keramah-tamahan penduduknya. Lebih dari itu, Sumatera menawarkan eksotisme yang beda. Terbentang dari ujung timur di Propinsi Lampung hingga ujung barat di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera menawarkan keberagaman antarbudaya.
Keberagaman antarbudaya masyarakat Sumatera itu kemudian membentuk beragam corak bahasa dan karakter. Saya melihat, cara orang Sumatera bertutur dan berkomunikasi pun kemudian menjadi istimewa. Etnosentris, prasangka dan streotip kemudian menjadi konsep penting jika kita menelusuri komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera
Sebenarnya istilah antarbudaya pertama kali diperkenalkan oleh Edward T.Hall pada tahun 1959 dalam bukunya The Silent Language. Perbedaan antarbudaya dalam berkomunikasi baru dijelaskan oleh David K. Berlo (1960) melalui bukunya The Process of Communication (An Introduction to Theory and Practice). Barlo (1960) menggambarkan proses komunikasi dalam model yang diciptakannya. Menurutnya, komunikasi akan tercapai jika kita memperhatikan faktor-faktor SMCR (Sources, Message, Channel, and Receiver). Antara sources dengan receiver yang diperhatikan adalah kemampuan berkomunikasi, sikap, pengetahuan sistem sosial, dan kebudaayaan. Namun, dalam hal ini, komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera akan dijelaskan melalui konsep Etnosentrisme yang berbasis pada konteks komunikasi kelompok (etnik).
Saya menyimak konsep Etnosentrisme kadangkala dipakai secara bersama-sama dengan Konsep Rasisme. Konsep ini mewakili sebuah pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat bahwa kelompoknyalah yang lebih superior dari kelompok lain. Masyarakat Sumatera dengan gamblang memperlihatkan gejala kuat mendukung konsep ini.
Hal itu bisa dilihat dari keinginan orang Sumatera untuk menguasai berbagai sektor kehidupan masyarakat. Sebagai contoh di Jakarta, orang Sumatera menguasai berbagai sektor penting seperti bidang hukum dan politik. Etnosentrisme orang Sumatera kemudian memunculkan sejumlah pengacara kondang seperti Ruhut Sitompol dan Hotman Paris Hutapea. Di kancah politik, Etnosentrisme memunculkan sejumlah tokoh politik papan atas yang berasal dari tanah Sumatera seperti Akbar Tanjung.
Saya kemudian mencermati, konsep Etnosentrisme ini kemudian dilengkapi dengan konsep Prasangka yang seolah menjadi “darah daging” bagi orang Sumatera. Bennet de Janet (1996) menyebutkan prasangka adalah sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi atau generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan lewat perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif atas suatu kelompok tertentu dengan tanpa alasan dan pengetahuan atas sesuatu sebelumnya. Prasangka ini juga terkadang digunakan untk mengevaluasi sesuatu tanpa adanya argument atau informasi yang masuk. Efeknya adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran, misalnya mengkambinghitamkan kelompok sasaran, diskriminasi, dan penciptaan jarak sosial. Konsep prasangka salah satu contohnya bisa dilihat ketika terjadinya pengusiran secara besar-besaran masyarakat Jawa dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tahun 1999 yang merupakan akibat dari pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Padahal, masyarakat Jawa yang berada di Aceh rata-rata sudah menetap disana selama lebih kurang 10 tahun. Namun, karena konsep Prasangka yang berkembang dalam komunikasi antarabudaya masyarakat, maka dengan gampang, persoalan kemiskinan di Aceh dilemparkan sebagai tanggungjawab masyarakat Jawa yang umumnya menjadi imigran disana.
Saya juga merasakan bagaimana prasangka menjadi bagian dalam keseharian antarbudaya masyarakat Sumatera. Mereka seolah selalu ingin menciptakan “kambing hitam” terhadap suatu keadaan yang terjadi. Ada nuansa yang kuat bahwa masyarakat Sumatera yang keras dan “kasar” ini berupaya menggampangkan semua persoalan dengan memakai konsep Prasangka ini.
Satu konsep lagi yang bisa dipakai untuk menelusuri komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera adalah konsep Streotip. Konsep ini berasal dari kecenderungan untuk mengorganisasikan sejumlah fenomena yang sama atau sejenis yang dimiliki oleh sekelompok orang ke dalam kategori tertentu yang bermakna. Streotip berkaitan dengan konstruksi pencitraan (image) yang telah ada dan terbentuk secara turun-temurun menurut sugesti. Ia tidak hanya mengacu pada pencitraan negatif tetapi juga positif. Ini bisa dilihat dari Streotip yang dibangun secara turun-temurun oleh masyarakat Sumatera. Misalnya, masyarakat Batak yang memiliki streotip yang kasar dan tegas. Masyarakat Minang memiliki jiwa berdagang yang besar dan masyarakat Aceh dilebelin sebagai kelompok masyakarat yang susah diatur. Padahal, streotip ini sangat mungkin bisa salah dalam kenyataannya. Namun karena kosep Streotip sudah menjadi bagian dari komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera, hal ini kemudian seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Melihat pemaparan diatas, bisa dimaklumi jika masyarakat Sumatera kini menjadi perhatian banyak pihak. Entitas mereka diteliti dan system komunikasi serta budaya mereka menjadi bahan kajian yang menarik. Jadi seperti yang saya bilang diatas, Sumatera itu bukan hanya soal keelokan alamnya. Tapi, lebih dari itu. Ini soal lagak dan langgam Sumatera!
Aulia Andri: Dosen di Unimed, Blogger, new media specialist dan part time hero
Sore ini, Senin, 1 Des 2008, saya ketemu Said, sang ketua Blogger Sumut di kantor saya. Dari hasil ngobrol2, saya melontarkan ide untuk membuat buku. Said pun sepertinya bersemangat. Maka itu, saya menawarkan kepada teman2 Blogger SUMUT yang berkeinginan membuat buku untuk bergabung.
Proyek pembuatan buku ini bisa dijadikan proyek real Blogger Sumut. Saya mengajukan proposal sebagai berikut:
Judul Buku (alternatif):
- Corat-Coret Blogger SUMUT : (Seperti) Kumpulan Tulisan
- Menulis Ala Blogger SUMUT
- Kumpulan Tulisan Blogger SUMUT
- Menulis dan Nge-Blog Itu Asyik
Syarat Penulis:
- Anggota Blogger SUMUT
- Maksimal mengirimkan 3 (tiga) naskah tulisan dengan tema bebas (jadi tulisan apa saja boleh, mau cerpen, artikel, essay, tips atau dll), asal tidak menyangkut SARA. Panjang naskah tulisan diharapkan maksimal 3.000 karakter.
- Memberikan kontribusi sebesar Rp 100.000,- (uang bisa ditransfer ke Said dan mengirimkan email konfirmasi ke Said) BNI atas nama Ahmad Said no: 0142226346
- Mempunyai alamat blog yang aktif. Oh ya, seluruh tulisan yang dikirim juga harus sudah dimuat di blog.
- Mengirimkan tulisan dalam bentuk doc atau rtf ke email: bloggersumutmenulis@gmail.com
- Tulisan dikirim sebelum deadline penulisan 30 Januari 2009
- Bersedia menyumbangkan seluruh hasil royalti penjualan buku ke Kas Blogger SUMUT.
Hak Penulis:
- Mendapatkan dua buah buku gratis
- Pencantuman nama Hak cipta pada penulis
- Menjadi reseller buku dengan komisi 15 persen dari harga jual buku. Jika yang tak menjadi penulis cuma mendapatkan komisi 10 persen.
Ketentuan Lain:
- Penerbitan buku akan mengatasnamakan Blogger SUMUT Publisher
- Editor sekaligus Project Officer untuk buku ini: Aulia Andri (www.mentiko.com), karena itu saya berhak melakukan editing terhadap tulisan tanpa merubah esensi tulisan, hehehehe.
- Dalam penerbitan buku ini di HALAL kan untuk mendapatkan sponsor, bantuan, sumbangan dana dari pihak lain sepanjang tidak mengganggu independensi Blogger SUMUT.
- Penjualan buku akan dilakukan melalui Website Blogger SUMUT dan Reseller. Buku tidak akan dipasarkan secara konvensional, misalnya melalui toko buku. Maka itu, buku ini akan sangat eksklusif.
- Buku akan memakai ISBN dari Perpusatakaan Nasional RI.
- Acara launching buku akan dilakukan setelah pembuatan buku selesai. Direncanakan akan ada pelelangan 10 buku yang ditandatangani oleh keseluruhan penulis.
- Estimasi biaya cetak untuk 1 eksp buku maksimal (kemungkinan bisa kurang) Rp 25.000. Untuk tahap awal direncanakan akan dicetak 500 eksp. Jadi dibutuhkan dana Rp 12.500.000. Hitung-hitungannya, jika ada 100 blogger SUMUT yang menulis dan membayar Rp 100.000 maka akan terkumpul 10.000.000,-. Maka akan kurang Rp 2.500.000.
- Hasil yang terkumpul dari penjualan buku sebagai berikut:
> 500 eksp- 200 eksp (jatah penulis) = 300 eksp
> Harga jual buku adalah Rp 45.000/eksp
> 300 eksp x Rp 45.000 = 13.500.000, jumlah ini dipotong dengan komisi rata-rata 15% maka hasilnya Rp 2.025.000
> Rp 13.500.000 – Rp 2.025.000 = Rp 11.475.000 (jumlah uang yang akan dimiliki Blogger SUMUT)
- Dengan uang itu, maka untuk penerbitan berikutnya blogger SUMUT sudah tidak perlu lagi ngumpulin duit. Jadi duitnya sudah ada.
Demikian usulan ini dibuat. Jika ada usul masih bisa disampaikan.
salam
Aulia Andri
www.mentiko.com
aulia.andri@gmail.com
VOIP Rakyat ID: 90464
YM: senjaungu
Pernah dengar slogan American Dream? Ini cerita kekonyolan orang Amerika soal mimpi-mimpinya ketika datang ke Medan.
Seorang bisnisman Amerika sedang berdiri di dermaga kecil Belawan, Sumut ketika sebuah kapal boat nelayan kecil yang hanya berisi seorang nelayan berlabuh. Di dalam kapal kecil itu ada beberapa ikan Tongkol besar. Orang Amerika itu memuji kualitas ikan yang berhasil ditangkap nelayan Melayu itu.
“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menangkapnya?” kata si Amerika.“Cuma sekejab lah,” jawab si nelayan.
“Kenapa anda tidak menunggu lebih lama dan menangkap lebih banyak ikan?” tanya si Amerika.
“Ini pun udah cukup kali untuk memenuhi kebutuhan keluarga ku saat ini,” kata si nelayan lagi.
“Tapi..” kata si Amerika bertanya lagi, “Lalu apa yang anda kerjakan dengan waktu sisanya?”
Nelayan itu menjawab, “Tidur ku lambat, menangkap sedikit ikan, bermain-main dengan anak-anak, bercengkrama dengan isteriku. Jalan-jalan keliling kampung, ngaji, cakap-cakap di warung kopi sambil minum kopi pahit.”
Si Amerika mencela,”Saya ini MBA dari Harvard, dan bisa membantu Anda. Anda seharusnya menghabiskan waktu lebih lama lagi dalam menangkap ikan. Dan dari pendapatan yang dihasilkannya anda belikan boat yang lebih besar, dan dari pendapatan boat yang lebih besar tersebut anda bisa membeli beberapa boat lagi. Sehingga akhirnya anda akan memiliki armada kapal nelayan. Bahkan daripada menjual tangkapanmu kepada (pedagang) pengumpul, lebih baik anda menjualnya langsung pada konsumen,dan akhirnya anda pun bisa membuka pabrik sendiri. Anda akan menguasai dan mengontrol produk, pemrosesan dan distribusinya. Selanjutnya anda perlu meninggalkan kampung nelayan kecil ini dan pindah ke Jakarta, lalu kemudian ke Singapura, kemudian ke LA, dan akhirnya ke New York dimana anda dapat melesat,mengembangkan bisnis mu.
Nelayan Melayu itu kemudian bertanya, ˜Tapi tuan, berapa lama semua itu dapat dicapai?”
Si Amerika menjawab, “Sekitar 15-20 tahun.”
“Lalu setelah itu ngapain tuan?” tanya si nelayan.
Si Amerika tertawa terpingkal-pingkal dan berkata,”Disitulah bagian terpentingnya. Jika waktunya sudah tepat anda bisa mendaftarkan dan mengumumkannya di bursa saham (IPO/Initial Public Offering) dan menjual saham perusahaan anda ke publik sehingga anda menjadi sangat kaya, anda akan menghasilkan milyaran. Miyaran!”
“Lalu ngapain?” tanya si nelayan lagi.
Si pebisnis Amerika itu berkata perlahan, “Kemudian anda bisa pensiun. Pindah ke desa pantai kecil dimana anda bisa tidur larut malam, menangkap sedikit ikan,
bermain-main dengan anak-anakmu, bercengkrama dengan isterimu. Setiap malam jalan-jalan keliling desa, ngobrol-ngobrol di warung kopi sambil minum kopi,” kata si Amerika itu.
“Oooooo, terimakasih saya sudah dapat itu semua tanpa harus menunggu 15-20 tahun,” kata si nelayan.
Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Sumatera Utara segera meluncurkan “Portalnya Orang Sumut” dengan alamat di www.antarasumut.com yang akan menginformasikan setiap denyut aktifitas pemerintahan dan kemasyarakatan daerah ini ke dalam dan luar negeri.
Portal Berita (website) yang sedang menunggu menit kelahirannya itu lebih menekankan pada konten lokal yang melibatkan “anak-anak muda” profesional, kata Kepala Biro ANTARA Sumut, Suchyar D.H Putra dalam suatu penjelasannya di Medan, Kamis
Kaum muda Sumut dengan kualifikasi pendidikan terendah S1 itu sedang “digodok” dalam kawah candradimuka pelatihan untuk mengetahui, memahami dan dapat mengikuti gaya kantor berita yang berstandar internasional sebelum diterjunkan ke medan perjuangan profesi jurnalistik dan IT.
Ia menambahkan, Portal Berita itu selain menjadi unit usaha LKBN ANTARA dalam pemberitaannya juga mengusung konsep jurnalisme imparsial, jujur dan akurat yang akan menjadi bagian dari masyarakat dalam berpromosi, membangun citra dan mendorong aktifitas investasi, bisnis dan perdagangan.
Portal yang berbasis blogsite dengan navigasi dan fitur yang mudah dikunjungi penggunanya akan menjadi barometer bagi para pengambil keputusan serta medium komunikasi interaktif dan promosi bagi stakeholder di Sumut untuk penetrasi pasar, katanya.
Secara garis besar portal www.antarasumut.com akan menyajikan berita, foto dan artikel tentang politik, sosial, hukum, ekonomi dan sektor lainnya yang akan memberikan sense of belonging yang tinggi karena faktor approximity atau kedekatan dengan masyarakat di daerah ini maupun ranah perantauan.
Dua sisi masyarakat Sumut yakni di daerah ini maupun perantauan dalam dan luar negeri serta warga dunia lainnya akan menjadikan Portal Berita ini menjadi wahana yang tepat bagi dunia usaha, pemerintah serta dan masyarakat lainnya mengekspresikan sepak terjang mereka, tambahnya.
Medan, 16 Oktober 2008
Halaman Selanjutnya »