Visi dan Misi Capres 2009
Visi dan Misi Capres 2009, secara global sudah bisa kita lihat di televisi yang diselenggarakan oleh Kadin, sudah kita baca di koran-koran plus sudah kita dengar di radio. Semua bagus dan menarik meskipun salah satu capres ada yang bilang “pertanyaanya sulit untuk dijawab”, tapi tidak apalah yang penting ada kemajuan dalam proses pemilihan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2009.
Meskipun ada yang agak bingung dan tidak jelas manun semua sudah bermuara pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Hanya saja rakyat yang mana? jangan jangan rakyat yang sudah kaya raya terutama yang duitnya sudah diatas 10 M. hehehe….
Visi dan Misi Capres 2009 hendaknya benar benar satu kata satu tidakan (istilah pak Jusuf Kala), artinya : Keadilan sosial, keadilan ekonomi, bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang lemah dibantu, dibina dan difasilitasi serta didorong sehingga bisa berdaya dan mandiri, yang sudah maju dan besar didukung sehingga bisa berkompetisi di kancah percaturan ekonomi global, bukan hanya jago kandang, hanya mampu bersaing di dalam negeri sendiri.
Perlindungan yang adil terhadap hukum dan hak-hak asasi manusia, sehingga memperoleh kedamaiaan dan kesejahteraan, baik lahir maupun batin.
Kala kita menengok sejarah sebenarnya sema sudah terangkum dalam Sila sila Pancasia, Pembukaan UUD 45 dan dalam UUD 45 itu sendiri. Hanya mungkin semau sudah lupa karena sudah jarang membacanya.
Masalah Neolib, Neo Liberal hendaknya dijadikan masukan bukan untuk senjata menjatuhkan, toh semua calon presiden dan wakil presiden sudah merasakan nikmatnya memiliki kekayaan di atas 10 M, kecuali pak SBY. Apalagi pak Sumintar sudah merasakan sengsaranya karena terjerat gaya Liberal Kartu Kredit (sekarang sudah mulai tobat, hehehe).
Terus Visi dan Misi Petani Internet dan Pengusaha Bisnis Online Indonesia apa ya?
Terus terang para petani internet dan pengusaha bisnis online, serta buruh, pekerja bisnis online, masih dipandang sebelah mata dan belum pernah disinggung dalam pemaparan visi dan misi Capres. Tapi jangan menyerah mari kita buktikan bersama lewat misi dan misi lewat kerja nyata dan karya nyata.
Nah ini perlu presiden atau menteri atau setidak tidaknya Dirjen, untuk Petani Internet Indonesia, buruh, pekerja dan pengusaha bisnis online, jangan dibiarkan liar tanpa pengurus dan tanpa pimpinan, hehehe.
Kalau boleh saya usul kira kira Visi dan Misi Petani Internet, Petani Internet Indonesia, buruh, pekerja dan pengusaha bisnis online Indonesia adalah:
Visi
Petani Internet, buruh, pekerja dan Pengusaha Bisnis Online Indonesia turut membangun masyarakat internet mandiri dengan memanksimalkan fungsi internet sebagai ladang baru untuk meningkatkan taraf hidup dalam upaya menjemput rejeki yang melimpah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan. Berketuhanan, Bertanggung jawab, Bermental Religius, Berjiwa Nasionalis, berwawasan Global, dengan semangat menuju Wirausaha mandiri. Turut mencerdas kehidupan bangsa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bekerja sama dalam mewujudkan masyarakat mandiri, damai, adil, makmur dan sejahtera.
Misi
- Melakukan kegiatan pendidikan, penelitian dan implementasi ilmu untuk mendapatkan sebesar besarnya manfaat baik dari segi finansial, ilmu pengetahuan maupun hiburan.
- Menjalankan praktek bisnis di ladang internet dengan berbagai bidang usaha yang bisa meningkatkan taraf tarap hidup, baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, golongan dan bangsa.
- Melakukan kegiatan tukar pengetahuan (share), ilmu dan teknologi dalam upaya memacu, menyemangati, dan mengarahkan sehingga memperoleh kegiatan yang optimal dan hasil maksimal.
- Membangun silaturahmi dan saling menghargai sehingga tercipta solidaritas dan kesetakawanan.
- Mendukung gagasan Ekonomi Kerakyatan dalam menyiapkan pendidikan dan pelatihan terkait dengan bisnis di Internet, mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru.
- Bersinergi dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah UKM, UMKM dalam membantu publikasi, pendampingan dan pemasaran lewat internet (Internet marketing).
- Bekerja sama dengan pendidikan formal dalam pendidikan, penelitian (riset), pengembangan dan penerapan teknologi tepat guna dan berdaya guna.
Catatan: Jika ingin tahu Misi dan Visi masing masing pasangan capres dan cawapres 2009, JK-Win, SBY-Budiono, Mega-Pro silahkan baca di websitenya, tonton di TV, TV One, SCTV, RCTI, Metro TV, Indosiar, TVRI.
Misi dan VISI itu penting, akan tetapi Kerja Nyata untuk rakyat miskin untuk menjabarkan visi jauh lebih penting.
Salam Sukses dari Petani Internet Indonesia dan Pengusaha Bisnis Online
www.king-ali.tk
Kata “Kemuliaan Menulis” atau Nobility of Writing sebenarnya sudah cukup lama ada dalam kepala saya. Kata ini tidak tiba-tiba saja muncul. Kata “Kemuliaan Menulis” itu saya kenal ketika dalam perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang penulis. Walaupun akhirnya, saya kemudian tidak menjadi penulis. Begitupun sebagai seorang pengajar (pendidik) saya acap kali bersentuhan dengan dunia kepenulisan.
“Kemuliaan Menulis” sejak awal saya yakini merupakan sesuatu yang harus disebar bak virus. Sesuatu yang harus bisa menjadi inspirasi para penulis muda untuk berjuang menuju kesuksesan. “Kemuliaan Menulis” harus menjadi awalan dari kecanggihan seorang penulis. Tanpa “Kemuliaan Menulis” saya meyakini, tak akan ada karya-karya tulis fenomenal yang menggugah dan membangkitkan emosi pembaca.
Apa itu “Kemuliaan Menulis”? Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari banyak kawan-kawan mahasiswa atau penulis-penulis muda. Saya seringkali membiarkan para mahasiswa saya untuk lebih dulu berpikir dan memberikan definisinya masing-masing terhadap sesuatu. Begitu pula dengan “Kemuliaan Menulis”. Saya biasanya hanya menuliskan kata itu dan meminta para mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.
Ada banyak kata yang keluar dari para mahasiswa ketika mereka memikirkan soal kata “Kemuliaan Menulis”. Ada yang bilang, menulis itu terhormat; ada juga yang bilang, menulis itu tinggi; atau ada juga yang bilang, menulis itu narsis. Semua definisi spontan yang hadir dalam kepala para mahasiswa dan dilontarkan dihadapan saya menjadi sesuatu yang sangat penting. Pada tahap awal saya hanya ingin meminta para mahasiswa untuk mengartikan kata “Kemuliaan Menulis”. Ya, hanya arti kata itu saja dan bukan pemahaman mereka terhadap “Kemuliaan Menulis”. Dari banyak lontaran pendapat itu, saya kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bisa pelan-pelan memahami apa itu arti menulis.
Menulis, sebenarnya bukanlah untuk diri sendiri. Ada banyak orang yang menganggap bahwa menulis merupakan pekerjaan paling “egois” yang bisa dilakukan. Maksudnya, pekerjaan menulis dianggap bisa dikerjakan sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan sendiri. Ada banyak alasan mengapa cara menulis seperti ini ditempuh. Banyak penulis muda yang enggan menulis karena takut tak bisa menulis. Takut tulisannya jelek dan diejek oleh pembacanya (walaupun kadang yang membaca pun hanya dia seorang). Kalaupun kemudian muncul sedikit keberanian, maka setelah menulis ya hanya dibaca sendiri. Diejek sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan untuk tidak penah perlu diketahui orang lain selain dirinya. Tapi ada juga yang sudah berani menulis dan menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain, namun tiba-tiba harus terserang “demam” karena tak tahan dikrtitik bahwa tulisannya dianggap sama sekali tak punya mutu. Semangatnya untuk menulis kemudian menjadi lumer bak ice cream dihantam panas. Cair dan kemudian berserak tak bisa utuh lagi.
Gambaran soal menulis yang saya sampaikan diatas menjadi fenomena yang umum dan dirasakan oleh para penulis muda. Bibit-bibit penulis inilah yang kemudian terbonsai gara-gara tak memahami “Kemuliaan Menulis”. Mereka hilang, musnah dan kemudian mengambil jalan menempuh profesi lainnya: menjadi tukang parkir, pemulung, pencopet, dan lain sebagainya.
“Kemuliaan Menulis” sejatinya harus dimulai dari kesadaran bahwa menulis bukan pekerjaan “egois “, bahwa menulis bukan sekedar mendapatkan honor atau menyalurkan hobi. Jika tingkatan menulis masih pada tingkat mendapatkan honor atau menyalurkan hobi, saya yakin bahwa tidak akan ada tulisan bermutu dari seorang penulis macam ini. Tidak akan ada tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang tergugah karenanya.
Menulis itu akan menjadi sebuah kemuliaan jika para penulis muda menyadari bahwa mereka sesungguhnya bukan menulis untuk diri mereka sendiri. Saya selalu percaya, bahwa jika ketika seseorang menulis dan dia hanya beranggapan tulisannya hanya untuk dirinya, maka bisa dipastikan tulisan itu akan sangat dangkal. Sadarlah, bahwa menulis itu sebenarnya untuk orang lain. Menulis bukan sekedar mencurahkan ide di papan ketik, mencurahkan unek-unek atau menulis caci maki. Menulis adalah sebuah “ibadah” yang akan membawa seorang penulis pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang. Maka itu, sekarang, ayo menulis dan muliakan diri kalian.
Aulia Andri, Motivator Menulis
aulia.andri[at]hotmail.com
tulisan ini juga bisa dibaca di http://mentiko.com
Hari ini saya mendapatkan sebuah email dari Nich yang dikirim ke email koordinasi@bloggersumut.net. Email ini baru dibuat setelah hari sabtu 28 Februari 2009 yang lalu beberapa orang pengurus dan anggota bloggersumut berkumpul di Lapangan Merdeka Medan. Tidak banyak yang berkumpul saat itu, walaupun sebenarnya hampir semua member BloggerSUMUT mendapatkan undangan dari Bg Said melalui sms. Terus terang saya terlambat tiba di lokasi pertemuan dan sebelum sampai di tempat tujuan pun saya sudah yakin bahwa yang datang pasti hanya beberapa orang saja dan memang kenyataannya seperti itu.
Email koordinasi@bloggersumut.net tersebut akan memforward setiap pesan dan informasi yang masuk agar bisa ditanggapi bersama. Dalam hal ini bersama yang dimaksud adalah internal pengurus bloggersumut. Email koordinasi ini diperlukan karena pada pertemuan tersebut telah terjadi sedikit diskusi “panas” untuk perbaikan bloggersumut. Berdasarkan pengalaman terdahulu, memang sering terjadi mis-koordinasi atau lebih tepat tersumbatnya informasi antar sesama pengurus sehingga mulai timbul sikap dan tindakan acuh tak acuh terhadap setiap perkembangan yang terjadi di BloggerSUMUT karena ketidaktahuan informasi yang berkembang tersebut.
Pada kesempatan itu, secara “bersih hati” yang kinerjanya dikritik menerima setiap kritikan yang masuk demi perbaikan di masa yang akan datang. Dan perlu teman-teman (yang tergabung dalam komunitas bloggersumut) ketahui bahwa hampir disetiap pertemuan BloggerSUMUT baik itu secara formal (terjadwal) maupun informal selalu diwarnai dengan perdebatan dan semua itu demi perbaikan dan kebaikan bersama. Artinya apa? Artinya kita semua siap menerima kritikan. Tapi… Berikan argumen yang jelas dan wajar. Bukan argumen yang asbun alias asal bunyi dan mengada-ada seperti komentar picik yang disampaikan oleh seseorang yang memakai nama udien di postingan Telkomsel Blogger Community dan Citizen Journalism yang ditulis oleh Pak Aulia.
Ketika saya melihat daftar anggota, tidak ada nama udien disitu. Artinya jika si udien ini merupakan anggota, maka kemungkinan besar dia pengecut karena tidak mau menggunakan nama aslinya. Namun jika si udien ini bukan anggota, saya harus bilang anda termasuk orang yang kurang ajar udien… Tapi setelah saya telisik daftar teman di YM saya, sepertinya ada 1 orang yang jadi suspect dengan nama udien tersebut. Saya tidak akan menyampaikan disini namun saya sudah menanyakan langsung kepada dia tapi dia menyatakan komentar itu bukan atas nama ilmukomputer.com.
Maaf… Saya orang yang sangat anti pada orang-orang yang banyak komentar tanpa pernah berkontribusi apa-apa terhadap komunitas. Apalagi komentar yang asbun dan mengada-ada. Di komunitas manapun saya berada, sikap saya selalu tetap untuk hal yang satu ini.
Si udien ini secara tidak sopan menanyakan harga BloggerSUMUT. Terus terang saya naik pitam dan jika berjumpa dengan orangnya secara langsung, saya tidak segan-segan untuk memakinya bahkan mungkin menampar muncungnya. Tidak sopan sekali anda menuliskan kata-kata tersebut. Seolah-olah anda sudah tahu banyak tentang BloggerSUMUT.
Semakin tidak sopan lagi si udien ini dengan tulisannya yang menyatakan bahwa BloggerSUMUT sudah dibeli caleg2 dan telkomsel. Beuh… Ini orang udah nggak pernah berkontribusi, datang2 langsung nyolot dan pahitnya lagi si udien ini tega-teganya kasih komentar kurang ajar seperti itu.
Well udien… Siapapun anda, saya cuma mau menegaskan kembali bahwa semua kebijakan baik itu menampilkan iklan caleg di bloggersumut.net dan bekerjasama dengan telkomsel sudah melalui masa-masa perdebatan. Anda bisa tanya kepada Ketua BloggerSUMUT langsung. Kami sering mengucapkan kata-kata ini kepada dia di hampir setiap pertemuan: “Kalo telkomsel macam-macam, putuskan hubungan kerjasama. Kayak nggak ada provider lain aja yang mau kerjasama dengan kita”. Tapi memang selama ini Telkomsel selalu siap men-support BloggerSUMUT. Ingat… selama ini… Ntah kalo besok-besok. Support dari telkomsel juga semakin nyata dengan memberikan peralatan untuk komunitas agar bisa mengakses internet dengan fasilitas mereka. Berarti saya pribadi berani bilang telkomsel telah berjasa dan telah memberikan kontribusi nyata terhadap komunitas BloggerSUMUT. Tidak seperti anda udien…
Kalau tentang iklan, rasanya respon berupa komentar dari adam (blogger insyaf) sudah menjawab tentang ke-sok-tahu-an anda udien…
Tapi sudahlah… Mudah-mudahan ke-asbun-an anda ada gunanya dan pesan saya kepada anda (kalo memang IP anda benar), yang saat berkomentar anda berada antara Jl. S. Parman dengan Jl. Majapahit Medan, ditunggu kehadirannya di acara-acara selanjutnya yang digelar BloggerSUMUT. Saya sangat rindu untuk bertemu dengan seorang seperti anda.
Salam Blogger Sumut dan mohon maaf kalo saya agak emosional.
Awal Tahun 2008. Saya tidak ingat persis tanggalnya tapi sekitar bulan Januari. Saya menghubungi Riza, mantan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera (UMSU) untuk membuat sebuah website yang mengusung prinsip citizen journalism. Setahun sebelumnya, saya memang sudah menggandrungi beberapa wesbite atau blog citizen journalism yang bertebaran.
Saya mengajak Riza karena saya tahu dia punya hobi yang sama dengan saya dalam hal mengutak-atik website. Awalnya, saya bersama Riza merancang nama untuk website citizen journalism yang akan kami buat. Saya mengusulkan sejumlah nama seperti Mentiko.com. Riza tidak setuju. Dia mengusulkan nama Tekongan.com.
Setelah bertemu beberapa kali, kami kemudian menyepakati untuk membuat sebuah website dengan alamat www.tekongan.com. Alasannya sederhana saja. Tekongan itu bahasa asli Medan.
“Cocok nama itu bang. Sudahlah itu saja,” kata Riza mendesak saya.
“Yakin kau itu bahasa Medan?” Saya.
“Ya iya lah. Sudah pas itu,” tegas Riza lagi.
Maka setelah itu saya membangun sebuah website berbasis content management system (CMS) Joomla. Saya membangun website ini sambil belajar. Istilahnya learning by doing saja. Kebetulan saya juga yang membuat website UMSU (www.umsu.ac.id), sehingga punya sedikit pengalaman mengelola website berbasis Joomla.
“Website ini akan kita persembahkan untuk kemajuan masyarakat Medan,” kata saya pada Riza.
Dia tampak bersemangat. Tekongan.com memang akan lebih menekankan informasi-informasi yang ditulis dan dirasakan oleh masyarakat. Saya sudah lama meyakini, media-media non mainstream seperti web yang mengusung konsep citizen journalism akan berkembang. Hingga kini website Tekongan.com masih bisa diakses. Perkembangannya pun semakin baik dengan ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pengaksesnya.
20 Februari 2009, bertempat di Merdeka Walk Medan, saya menghadiri launcing Telkomsel Blogger Sumut. Saya sudah bergabung dengan komunitas Blogger Sumut sejak 5 bulan lalu. Komunitas ini saya nilai sangat positif untuk mengembangkan dunia information communication technology (ICT) di Sumut. Maka itu, saya sangat mendukung komunitas Blogger Sumut ini. Malam ini, saya bersama sekitar 80 anggota komunitas Blogger Sumut berkumpul untuk meresmikan di launchingnya komunitas Telkomsel Blogger Community.
Said, Ketua Blogger Sumut dalam sambutannya mengatakan bahwa komunitas ini bertujuan untuk mengembangkan citizen journalism. Dia juga meyakini, blog akan bisa membantu menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Saya gembira mendengar sambutan dari Said. Dia tampak bersemangat.
Malam ini, usai mendengarkan Said menyampaikan pidatonya mewakili Blogger Sumut yang bersemangat, saya langsung ingin menulis. Dari situs mesin pencari google saya kemudian menemukan beberapa tulisan tentang citizen journalism. Dari website rumahkiri.net saya menemukan sebuah tulisan menarik berjudul Citizen Journalism, Sebuah Fenomena. Disana disebutkan bahwa sebenarnya istilah citizen journalism sudah lama dikenal namun dengan beda-beda istilah. Namun spiritnya tetap sama dengan public journalism atau civic journalism yang terkenal pada tahun 80-an. Yaitu, perkara bagaimana menjadikan jurnalisme bukan lagi sebuah ranah yang semata-mata dikuasai oleh para jurnalis.
Lantas, apa bedanya fenomena public journalism dengan istilah citizen journalism sekarang ini? Menurut website ini, ada perbedaanya. Perbedaannya, itu terletak pada kemajuan teknologi media sehingga semangat partisipatoris yang melibatkan publik dalam mendefinisikan isu semakin terakomodasi.
Selain itu, kemajuan teknologi media membuat akses publik untuk memasuki ranah jurnalistik semakin terbuka. Semangatnya, sekali lagi, tetap sama. Yaitu, mendekatkan jurnalisme pada publiknya.
Maka itu saya berpendapat pada dasarnya, tidak ada yang berubah dari kegiatan jurnalisme yang didefinisikan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan berita. Citizen journalism pada dasarnya melibatkan kegiatan seperti itu.
Hanya saja, kalau dalam pemaknaan jurnalisme konvensional yang melakukan aktivitas tersebut adalah wartawan, kini publik juga bisa ikut serta melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wartawan di lembaga media. Karena itu, Shayne Bowman dan Chris Willis lantas mendefinisikan citizen journalism sebagai “…the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information“.
Ada beberapa istilah yang dikaitkan dengan konsep citizen journalism. Public journalism, advocacy journalism, participatory journalism, participatory media, open source reporting, distributed journalism, citizens media, advocacy journalism, grassroot journalism, sampai we-media.
Civic journalism, menurut Wikipedia, bukan citizen journalism karena dilakukan oleh wartawan walau pun semangatnya tetap senada dengan public journalism, yaitu (lebih) mengabdi pada publik dengan mengangkat isu-isu publik. Citizen journalism adalah bentuk spesifik dari citizen media dengan content yang berasal dari publik. Di Indonesia, istilah yang dimunculkan untuk citizen journalism adalah jurnalisme partisipatoris atau jurnalisme warga.
J.D. Lasica, dalam Online Journalism Review (2003), mengategorikan media citizen journalism ke dalam 6 tipe:
- Audience participation (seperti komenter user yang diattach pada kisah-kisah berita, blog-blog pribadi, foto, atau video footage yang diambil dari handycam pribadi, atau berita lokal yang ditulis oleh anggota komunitas).
- Situs web berita atau informasi independen (Consumer Reports, Drudge Report).
- Situs berita partisipatoris murni (OhmyNews).
- Situs media kolaboratif (Slashdot, Kuro5hin).
- Bentuk lain dari media ‘tipis’ (mailing list, newsletter e-mail).
- Situs penyiaran pribadi (situs penyiaran video, seperti KenRadio).
Ada dua hal setidaknya yang memunculkan corak citizen journalism seperti sekarang ini. Pertama, komitmen pada suara-suara publik. Kedua, kemajuan teknologi yang mengubah lansekap modus komunikasi.
Public journalism acap dikaitkan dengan konsep advocacy journalism karena beberapa media bergerak lebih jauh tidak saja dengan mengangkat isu, tetapi juga mengadvokasikan isu hingga menjadi sebuah ‘produk’ atau ‘aksi’—mengegolkan undang-undang, menambah taman-taman kota, membuka kelas-kelas untuk kelompok minoritas, membentuk government watch, mendirikan komisi pengawas kampanye calon walikota, dan lain-lain.
Public atau citizen journalism juga dikaitkan dengan hyperlocalism karena komitmennya yang sangat luarbiasa pada isu-isu lokal, yang ‘kecil-kecil’ (untuk ukuran media mainstream), sehingga luput dari liputan media mainstream.
Public journalism dengan model seperti ini mendasarkan sebagian besar inisiatif dari lembaga media. Kemajuan teknologi dan ketidakterbatasan yang ditawarkan oleh Internet membuat inisiatif semacam itu dapat dimunculkan dari konsumen atau khalayak. Implikasinya cukup banyak, tidak sekadar mempertajam aspek partisipatoris dan isu yang diangkat.
Kembali ke soal Telkomsel Blogger Community, saya kemudian berpikir-pikir, rupanya Telkomsel menginginkan adanya sinergi dengan publik, khususnya blogger Sumut. Sinergi ini bisa saja dengan banyaknya blog yang nantinya akan menulis tentang Telkomsel. Repotnya dan ini tentunya yang harus diantisipasi jika kenyataanya, para blogger menulis hal-hal buruk. Saya mahfum jika nanti pihak Telkomsel akan sibuk merespon berbagai tulisan “miring” tentang Telkomsel. Atau mungkin Telkomsel bisa saja mengabaikan apapun yang ditulis para blogger dan menganggapnya sebagai kritik membangun. Tapi, ya itu, kini memang zamannya citizen journalism. Siapa saja bisa menulis tentang apa saja. Selama itu bisa dipertanggungjawabkan. Ya, kan!
Aulia Andri, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Medan
“Pemuda, tonggak sejarah, tonggak masa depan”
Pemuda adalah cadangan masa depan. Hal ini lah yang menjadi dasar pemikiran mereka yang memenuhi kriteria pemuda. Cenderung bersemangat, orientasi masa depan, bergerak tanpa pikir panjang, atau bahkan terkadang mudah tersulut emosi. Itu lah pemuda, kaum intelektual.
Tapi apa benar semua pemuda sesuai kriteria? Belum tentu (mungkin termasuk diri kita sendiri). Mereka selayaknya bisa menjadi penggerak di dalam masyarakat, tetapi faktanya justru sebagian pemuda hanya menjadi ’sampah’ masyarakat. Kasar? Tentu tidak. Apa nama yang lebih tepat bagi pemuda yang selalu berfoya-foya, nge-drug, nongkrong sana sini tak tentu arah, bergaya funky tanpa dasar dan tak menghasilkan karya nyata. Bukan, bukan pemuda seperti ini yang dibutuhkan negeri ini.
Zamrud khatulistiwa ini membutuhkan pemuda yang matang, visioner, berkarakter kuat. Sudah saatnya kita membangun opini dalam panggung kemeriahan sorak-soray manusia. Pemuda membangun opini lewat tangannya, lewat lisannya, lewat sikapnya. Tentu saja opini yang positif, bukan negatif. Sampai akhirnya masyarakat memandang pemuda dengan dua mata terbuka, tidak dengan sebelah mata.
Pemuda, engkau pemuda? Mari kita tanyakan diri kita
Saya tergugah dengan iklan Letjen (Purn) Prabowo Subianto versi Pasar. Dibuka dengan kalimat perkenalan, “Saya Prabowo Subianto….”, membuat saya tersentak. Iklan ini sebenarnya iklan politik, tapi saya rasa berhasil mengenai sasaran secara tepat. Tapi saya bukan mau bicara soal efektif atau tidak efektif iklan Prabowo versi Pasar itu. Saya lebih tergugah dengan pesan yang disampaikannya yaitu pentingnya membangun ekonomi mikro dengan berbelanja di pasar tradisional.
Sejak empat tahun ini saya memang sudah beriktiar untuk sebisa mungkin tidak berbelanja di supermarket, pasar swalayan, hypermart atau jenis pusat perbelanjaan modern. Bukan apa-apa, saya pernah membaca bahwa kebijakan membangun pasar modern seperti Carefour di tempat asalnya, Perancis berdasarkan berbagai pertimbangan. Informasi yang saya dapatkan, di Perancis, Carefour tidak boleh dibangun di inti kota. Gunanya, ya untuk menyelamatkan pasar-pasar tradisional yang ada di inti kota.
Aneh memang, ketika di Perancis, Carefour tidak bisa berbuat banyak, tapi sebaliknya di Indonesia. Carefour berdiri dengan “sombong” di pusat-pusat perbelanjaan. Carefour “mengepung” pasar-pasar tradisional. Persoalnnya, bukan hanya Carefour. Di Medan ada sejumlah hypermart modern yang didirikan seperti Makro dan Hypermart.
Kondisi ini tentu saja, akan memberi sumbangan berarti bagi penurunan omset penjualan pasar tradisional. Kehadiran pasar-pasar modern ini membuat pasar tradisional yang becek dan kumuh akan ditinggalkan konsumen. Yang lebih parah lagi munculnya sejumlah pasar semi besar dan berjaringan seperti Alfamart. Dengan model pemasaran franchise, Alfamart kini mulai melebarkan sayap di Medan. Mereka hadir di beberapa tempat. Saya yakin, tak lama lagi, puluhan toko belanja modern seperti Alfamart akan hadir di Medan.
Ikhtiar saya untuk tidak berbelanja di pasar atau toko modern ternyata membawa hikmah. Begini ceritanya, pernahkah Anda mempersoalkan jika di pasar atau toko modern, uang kembalian Anda ditukar dengan permen? Kejadian ini sudah seringkali terjadi. Saya awalnya memberikan “maaf” atas perlakukan ini. Biasanya, jika tidak ada kembalian Rp 100, maka akan ditukar dengan sebuah permen. Atau ini masih lebih bagus, ada juga toko modern yang menganggap “asin” uang itu. Misalnya Anda belanja Rp 7.850,- maka ketika Anda membayar dengan uang Rp 10.000,- maka Anda akan hanya mendapat kembalian uang sebesar Rp 2.000,-. Padahal, seharusnya Anda mendapat pengembalian uang sebesar Rp 2.150,-. Kemana uang Rp 150,- itu? Jika Anda coba menanyakan pasti akan dijawab enteng bahwa tidak ada uang receh. Anda pun langsung tersenyum.
Nah, coba bandingkan jika Anda berbelanja di pasar tradisional atau warung kelontong. Uang Rp 150,- itu pasti tidak akan hilang. Pemilik warung kelontong biasanya dengan sigap mengembalikan sejumlah uang yang memang harus dikembalikan. Dan kalau pun terjadi pemotongan, pasti Anda akan ribut. Kok ya bisa?
Saya seringkali bereksperimen. Setiap kali berbelanja di pasar atau toko modern saya selalu pasang muka “seram”. Saya tak rela uang saya dipotong satu perak pun. Pernah kejadian ketika berbelanja saya dipotong hampir Rp 200,-. Lalu saya minta. Eh, dijawab tidak ada kembalian uang seratus. Saya malah diberi permen. Saya menolak dan tetap minta dikembalikan uang Rp 200,- itu. Petugas kasirnya langsung sewot melihat saya. Mungkin dipikirkan kok ya ini orang ngeyel dengan uang Rp 200,-.
Lalu saya bilang, bagaimana kalau besok uang saya kurang Rp 200,-, apakah saya bisa minta potongan? Dia jawab bisa. Makanya, besok harinya saya datang lagi kesana. Kebetulan kurang Rp 200,-. Saya menyerahkan uang tanpa melengkapi Rp 200,-. Petugas kasirnya bingung, dia meminta saya menambahkan uang. Saya bilang uang saya masih tersisa Rp 200,- disini, kemarin. Dia makin bingung. Lalu saya minta petugas kasir yang kemarin, yang kebetulan ada disitu untuk memberikan penjelasan. Akhirnya, dengan wajah gondok mereka membiarkan saya tidak melengkapi uang Rp 200,-.
Ada banyak pelajaran moral yang bisa saya dipetik dari pengalaman ini. Saya hanya ingin memberi pelajaran bagi para pedagang toko modern untuk bisa jujur dalam berdagang. Malah, pernah saya berpikir, mungkin Prabowo Subianto mau membantu, menggalang kekuatan dan membuat kampanye Anti Pasar Swalayan Modern. Gerakan dan kampanye ini tentu efektif untuk memberikan kekuatan penyeimbang bagi para pedagang pasar tradisional dan warung kelontong menghadapi serbuan kapitalisasi.
Akhirnya, saya hanya ingin membuka mata publik untuk meminimalisir berbelanja di pasar modern. Apalagi Carefour, bukan apa-apa karena banyak orang yang sok-sokan berbelanja di Carefour dan mengucapkannya dengan lafal yang salah. Carefour dibaca dengan aksen bahasa inggris jadi KERFUR. Seharusnya yang benar tetap dibaca dengan aksen perancis, yaitu KARFUR. Selamat berbelanja dan tertipu oleh kenyamanan pasar modern.
Aulia Andri, Citizen Reporter
Sindrom adalah sebutan untuk sebuah kelainan yang telah menyebar ke seluruh tubuh sehingga sulit untuk disembuhkan. Bermula dari sesuatu yang kecil dan dianggap sepele, akan tetapi membesar dengan cepat sehingga sangat sulit untuk disembuhkan. Begitulah seseorang yang terjangkit sindrom, tidak tahu kapan mulai terjangkit dan begitu sadar telah terjangkit, semuanya sudah terlambat. Begitu sulit bahkan sangat sulit untuk sembuh.
Saya pernah berpikir ternyata tidak hanya hanya penyakit saja yang tidak bisa disembuhkan. Ada hal lain yang ternyata sulit untuk “disembuhkan” yaitu kebiasaan. Kebiasaan ibarat sebuah racun yang menyebar ke seluruh tubuh tanpa kita tahu bahwa kita telah terjangkit, merangsang seluruh persendian tanpa terkecuali, dan akhirnya kita menganggap bahwa racun tersebut adalah bagian dari tubuh kita.
Saya punya sebuah kebiasaan yaitu mencuci muka setiap kali pergi ke toilet. Saya tidak tahu sejak kapan saya mulai terbiasa melakukan hal tersebut dan bahkan mungkin saya telah beribu kali melakukan hal tersebut karena yang ada di pikiran saya setiap kali ke toilet adalah mencuci muka sebelum meninggalkan toilet. Kini saya menyadari bahwa mencuci muka setiap kali ke toilet adalah kebiasaan saya karena saya selalu merasa ada yang kurang dan bahkan merasa tidak pergi ke toilet apabila saya tidak mencuci muka sebelum meninggalkan toilet. Aneh, tapi begitulah perasaan saya ketika menyadari apa yang telah terjadi dan sulit bagi saya untuk lepas dari kebiasaan itu. Suatu ketika, saya pernah menggunakan sarana toilet yang ada pada sebuah mall. Sebelum meninggalkan toilet, saya mencari wastafel yang umumnya selalu tersedia di setiap toilet. Saya memutar keran dan seketika itu saya langsung kecewa karena ternyata air nya mati dan saya juga tidak bisa mencuci muka apabila tidak ada air. Saya keluar dari toilet dan syukurlah saya ketemu dengan seorang petugas kebersihan. Saya kemudian menanyakan masalah air mati tersebut dan petugas tersebut menjelaskan bahwa saat itu terjadi pemadaman listrik sehingga jatah listrik untuk penyediaan air ditiadakan agar memiliki cadangan listrik yang cukup. Saya kesal dengan pernyataan petugas tersebut sehingga saya memberikan sindiran yang pedas dan langsung meninggalkan mall tersebut.
Saya percaya bahwa kebiasaan belum tentu sesuatu yang buruk. Kalau Anda membaca pengalaman saya di atas, Anda mungkin akan merasa bahwa kebiasaan saya adalah sesuatu yang buruk. Akan tetapi ada juga yang menyatakan bahwa itu bukanlah sesuatu yang buruk. Nah, itu tergantung Anda untuk menyikapinya. Ketika berusaha untuk mengubahnya, saya merasa kesulitan dan muncul berjuta pertimbangan dalam diri saya. Apa saya melakukan hal yang salah sehingga saya harus mengubahnya? Apa orang lain terkena dampak yang negatif dari kebiasaan saya tersebut? Dan ketika menyadari bahwa jawaban dari keduanya adalah “tidak”, maka saya mengurungkan niat untuk merubah kebiasaan tersebut. Wajah saya memang berminyak sehingga saya merasa fresh ketika mencuci muka setiap kali ke toilet. Walaupun begitu, saya yakin tidak akan mati di tempat atau langsung sakit apabila saya mengubah kebiasaan saya.
Saat ini saya sedang berada di perantauan dan oleh sebab itu saya selalu diingatkan untuk tidak mudah percaya kepada orang lain karena sekarang ini banyak orang yang pertamanya berbuat baik akan tetapi setelah dilihat kita mulai percaya, barulah dia beraksi. Sebenarnya saya merasa pesan ini sangat berlebihan karena saya yakin tidak semua orang yang baru kita kenal dan berbuat baik adalah penjahat dan mengapa kita malah mencurigai orang yang berbuat baik kepada kita. Salahkah bila orang berbuat baik?
Seseorang teman saya pernah bercerita bahwa dia menjadi korban dari sikap yang tidak mempercayai orang yang baru dikenal ketika sedang naik bus. Saat bus sedang berada di perempatan jalan, dia melihat seorang Ibu yang sudah tua naik bus yang ditumpanginya. Melihat penampilan Ibu tersebut, teman saya langsung memberikan tempat duduknya kepada Ibu itu. Ternyata yang diterima teman saya tersebut bukanlah ucapan terima kasih. Ibu tersebut malah bersikap was-was terhadap teman saya. Selama perjalanan dia memegang erat tas nya sesekali melirik dengan penuh ketakutan ke arah teman saya. Ketika teman saya tersebut menceritakan hal ini kepada saya, saya hanya tertawa mendengarnya. Padahal dilihat dari tampangnya, teman saya ini tidak kelihatan seperti preman dan tergolong orang yang pendek dan juga kurus, jadi hal yang lucu jika ada orang yang takut padanya. Walaupun begitu, kejadian tersebut sangat memprihatinkan bagi saya karena reaksi teman saya setelah mengalami hal tersebut. Dia mengatakan bahwa tidak akan berbuat baik lagi terhadap orang yang baru dikenalnya. Dia mengatakan, “Apa gunanya kita berbuat baik kalau kita malah dicurigai” dan perkataannya ini membuat saya terdiam. Saya tidak bisa menyalahkannya atas kejadian ini. Saya juga tidak bisa menyalahkan Ibu tersebut. Sedih sekali hanya gara-gara seseorang saja, pandangan teman saya berubah. Padahal jika sekali lagi kalau teman saya berbuat baik, belum tentu akan mengalami respon seperti itu. Saya menyadari bahwa ini adalah pengaruh dari kebiasaan yang begitu waspada ketika ada orang yang baru dikenal berbuat baik.
Kalau kita perhatikan, kelakuan masyarakat terhadap lingkungannya ternyata adalah sebuah pola sebab-akibat. Si ibu yang takut akan orang yang dikenalnya mungkin pernah ditipu oleh orang yang baru saja dikenalnya. Begitu juga teman saya tersebut, dia telah memberikan ultimatum terhadap dirinya untuk tidak pernah lagi menolong orang yang baru dikenalnya karena sakit hati melihat perlakuan orang yang ditolongnya. Pola seperti ini saya yakin akhirnya bisa saja menyebar ke semua orang tanpa terkecuali dan perlu kita sadari, secara tidak langsung kita telah terjangkit sindrom karena pola ini akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Lebih ironis lagi karena ini bukan saja kebiasaan individu tapi sudah menjadi kebiasaan public. Jadi apa yang harus kita lakukan untuk merubah semuanya? Saya yakin ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.
Mungkin kita pernah belajar mengenai kutub positif dan kutub negatif. Kutub positif dan kutub negatif selalu tarik-menarik. Ternyata proses tarik-menarik antara dua kutub dipengaruhi oleh sifat magnetik. Jika sifat magnetik kutub positif lebih besar dibanding kutub negatif, maka kutub positif akan menarik kutub negatif, begitu juga sebaliknya. Pertanyaannya adalah hal apa saja yang dapat meningkatkan sifat magnetik sebuah kutub? Sifat magnetik sebuah kutub akan semakin meningkat jika sebuah kutub semakin besar. Perihal tentang kutub tersebut dapat kita jadikan pembelajaran mengenai masalah sindrom. Sama seperti kutub positif dan negatif, sindrom juga ada yang positif dan negatif. Hal-hal yang telah dijabarkan sebelumnya, menurut saya dikategorisasikan ke dalam sindrom negatif. Lalu apakah ada sindrom yang positif karena berkaca dari pengertian mengenai sindrom terkandung makna yang negatif.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang bisa hidup sendiri tanpa membutuhkan pertolongan orang lain. Oleh sebab itu, sewajibnya kita saling menghargai antara satu dengan yang lainnya. Namun, apakah kita telah mewujudkan sikap saling menghargai dalam kehidupan kita? Jangankan dalam perkara yang besar, dalam perkara kecil saja kita jarang saling-menghargai antara satu dengan yang lain. Ketika orang lain membantu kita, apakah kita selalu mengucap terimakasih atau tersenyum sebagai pertanda rasa terimakasih kita? Sebenarnya mengucap terimakasih bukanlah perkara yang besar. Itu hanya perkara yang kecil tapi terkadang perkara yang kecil tersebut tidak menarik untuk kita lakukan. Kita malah memikirkan perkara yang lebih besar, seperti memikirkan apa yang harus kita berikan sebagai pertanda terimakasih.
Saatnya kita untuk berubah. Mari mulai sekarang kita membiasakan diri untuk melakukan sindrom yang positif agar sifat magnetik sindrom positif dalam kita lebih tinggi dari sindrom negatif. Mungkin dengan mengucapkan terimakasih kepada petugas jalan tol ketika membayar jasa penggunaan jalan tol, kepada orang orangtua atau pun saudara kita atas bantuan mereka, kepada tukang ojek, tukang becak, kernek bus, atau kepada siapa pun yang telah membantu kita. Seringkali ucapan terima kasih hanya kita berikan kepada orang yang pantas menurut kita yang secara tidak langsung menciptakan kasta-kasta di dalam pikiran kita. Ini sebaiknya yang harus kita hindari. Seperti yang saya katakan tadi, kita saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Kita ini sama derajatnya, tidak ada sebelumnya yang lebih tinggi derajatnya dibanding pekerjaan lainnya, tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya dibanding manusia lainnya, yang berbeda hanya tugasnya saja. Antara pekerjaan yang satu dengan pekerjaan lainnya yang berbeda hanya tugas yang harus dilakukan oleh pemilik pekerjaan tersebut. Untuk itulah, sebaiknya jangan pernah untuk mengkastakan rasa terima kasih kita. Selain dengan mengucapkan terima kasih, kita juga dapat menunjukkan rasa kepedulian kita dengan membalas senyuman orang lain, tidak mengindahkan pertanyaan yang ditujukan kepada kita, bersikap jujur dan berkata jujur, dan lain sebagainya yang Anda dapat tambahkan sendiri.
Jadi, mulailah saat ini. Mulailah untuk melakukan sindrom yang positif. Mulailah untuk menanamkan sindrom positif di dalam benak kita, di dalam persendian kita, bahkan di dalam jiwa kita, karena sindrom bersifat menyebar, menjangkiti tanpa terkecuali, dan akhirnya meluas tanpa kita sadari. Begitulah nantinya ketika kita memulai untuk melakukan sindrom postif pada diri kita sendiri, tanpa kita sadari akhirnya menyebar kepada orang lain, dan akhirnya dapat meluas kepada semua orang yang ada di bumi ini. Kelihatan mustahil bukan? Tapi percaya lah, sesautu yang mustahil akan mustahil jika kita tidak mencoba melakukannya. Jadi jangan tunggu apalagi untuk memulainya.
Halaman Selanjutnya »