Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Mengapa Karang Taruna Kurang Diminati Para Pemuda?

January 17, 2014 oleh  
Tersimpan pada Opini

Mengapa Karang Taruna kurang diminati para pemuda?
oleh: Abhotneo Naibaho

Organisasi Karang Taruna pada hakikatnya adalah sebuah wadah di mana anak-anak muda dapat berkarya untuk menciptakan kesejahteraan sosial khususnya bagi kaum muda. Di beberapa daerah organisasi Karang Taruna cukup eksis berkegiatan sosial dan cukup berdampak. Namun bila ditinjau secara menyeluruh di pelosok Nusantara, Karang Taruna belum merata menjangkit di hati para pemuda-pemudi. Apakah penyebabnya? Pemerintah, dalam hal ini Kementrian Sosial adalah lembaga yang seharusnya cukup bertanggung jawab akan keadaan ini. Di mana peranannya? Sosialisasi mereka kurang merata di Nusantara ini. Memang pengurus Nasional sudah dibentuk sejak lama. Namun sudahkah pengurus di tingkat pusat mensosialisasikannya hingga ke daerah-daerah? Saya merupakan satu dari jutaan kaum muda yang menganggap bahwa wadah ini adalah sarana yang cukup bagus dan tepat. Namun sayangnya organisasi ini kurang dicermati oleh pemimpin-pemimpin mulai dari tingkat kecamatan hingga desa. Kalau pun ada beberapa pimpinan daerah yang cukup concern akan wadah ini, barangkali mereka adalah orang-orang yang punya pengalaman positif akan wadah ini.

Satu keistimewaan akan organisasi ini adalah bahwa organisasi Karang Taruna resmi di bawah Kementrian Sosial. Tidak ditunggangi oleh partai politik mau pun kelompok golongan. Jikalau pemerintah ini serius untuk membangun negeri, tidaklah salah membangun dari sisi sumber daya manusianya. Ketika anak-anak muda dibekali akan pentingnya terlibat dalam organisasi Karang Taruna maka mereka kaum muda akan mendapatkan pendidikan keterampilan yang mana keterampilan yang mereka peroleh kelak bisa menjadi modal untuk bekerja dan berkarya.

Pemimpin yang ada saat ini harus meregenerasi kepemimpinannya mulai saat ini karena tidak selamanya mereka akan memimpin. Maka seharusnyalah pemimpin-pemimpin daerah serius memberikan edukasi organisasi ini kepada masyarakat kamu muda hingga ke tingkat desa.

Peradilan Anak yang Tidak Berbasis HAM

August 9, 2011 oleh  
Tersimpan pada Opini

Saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang masih memberlakukan sistem penjara bagi anak. Indonesia pun belum memiliki sistem peradilan anak berbasis HAM. Padahal memasukkan anak ke penjara bukanlah sebuah pilihan yang baik. Belum lagi isu pelanggaran Deklarasi HAM Universal dan Konvensi Hak-hak Anak PBB.

Namun anehnya, di sebuah penjara anak, atau Kementerian Hukum & HAM menyebutkan lembaga pemasyarakatan (Lapas) di Kota Medan, di pintu masuknya jelas tertempel sebuah bingkai yang berisi Deklarasi HAM Universal. Entah sebagai sebuah peringatan, atau sekadar hiasan.

Kondisi penjara yang sangat tidak layak di penjara anak/Lapas anak Kota Medan, yang berlokasi di kawasan Tanjung Gusta. Terletak satu kompleks dengan penjara orang dewasa, dari segi kapasitas daya tampung hanya 250 orang, namun penjara anak di Kota Medan dihuni hampir 600 anak. Ruangan sel penjara berukuran 4 x 3 m2 yang diisi 8-10 orang anak dengan kamar mandi tanpa penutup di dalamnya, tentunya sangat tidak nyaman dan mengganggu kesehatan. Bayangkan, jika anda harus tidur di tempat tidur semen beralas tikar dengan bau busuk yang menyengat hidung.

Aspek kesehatan anak di penjara juga masih menjadi persoalan. Hasil pantauan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terhadap kondisi penjara/lapas anak Kelas II Tanjung Gusta, Medan, sejumlah anak mengalami masalah kesehatan baik fisik maupun mental. Sementara layanan terhadap mereka sangat terbatas. Betapa tidak, biaya layanan kesehatan di penjara anak tersebut saat ini berasal dari pemerintah pusat karena penjara anak di bawah otoritas Kementerian Hukum dan HAM, yang kelembagaannya di daerah bersifat vertikal.

Baca selengkapnya

Menimbang Kapasitas vs Mabuk Informasi

September 11, 2010 oleh  
Tersimpan pada Opini

MEDAN, September 5 | Pasca letusan kedua gunung Sinabung, pada Minggu (30/8), salah satu stasiun televisi swasta melaporkan satu liputan yang mencengangkan. Bisa disebut membuat geleng-geleng kepala, bila melihat fakta sesudahnya. Dalam wawancara langsung tersebut, kepala daerah Tanah Karo, DDS, menganjurkan warganya untuk kembali ke kediamannya masing-masing.

Beliau menilai situasi di sekitar gunung Sinabung telah aman. Alasannya?

“Setelah letusan kedua (hari Minggu, 30/8), hampir semua materi vulkanik yang terdapat di dalam perut gunung Sinabung telah dimuntahkan,” ujarnya yakin, sembari menunjukkan gestur tangan dari perut naik ke hadapan wajah.
Baca selengkapnya

Visi dan Misi Capres 2009

May 26, 2009 oleh  
Tersimpan pada Opini

Visi dan Misi Capres 2009

Visi dan Misi Capres 2009, secara global sudah bisa kita lihat di televisi yang diselenggarakan oleh Kadin, sudah kita baca di koran-koran plus sudah kita dengar di radio. Semua bagus dan menarik meskipun salah satu capres ada yang bilang “pertanyaanya sulit untuk dijawab”, tapi tidak apalah yang penting ada kemajuan dalam proses pemilihan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2009.

Meskipun ada yang agak bingung dan tidak jelas manun semua sudah bermuara pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Hanya saja rakyat yang mana? jangan jangan rakyat yang sudah kaya raya terutama yang duitnya sudah diatas 10 M. hehehe….

Visi dan Misi Capres 2009 hendaknya benar benar satu kata satu tidakan (istilah pak Jusuf Kala), artinya : Keadilan sosial, keadilan ekonomi, bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang lemah dibantu, dibina dan difasilitasi serta didorong sehingga bisa berdaya dan mandiri, yang sudah maju dan besar didukung sehingga bisa berkompetisi di kancah percaturan ekonomi global, bukan hanya jago kandang, hanya mampu bersaing di dalam negeri sendiri.
Perlindungan yang adil terhadap hukum dan hak-hak asasi manusia, sehingga memperoleh kedamaiaan dan kesejahteraan, baik lahir maupun batin.

Kala kita menengok sejarah sebenarnya sema sudah terangkum dalam Sila sila Pancasia, Pembukaan UUD 45 dan dalam UUD 45 itu sendiri. Hanya mungkin semau sudah lupa karena sudah jarang membacanya.
Masalah Neolib, Neo Liberal hendaknya dijadikan masukan bukan untuk senjata menjatuhkan, toh semua calon presiden dan wakil presiden sudah merasakan nikmatnya memiliki kekayaan di atas 10 M, kecuali pak SBY. Apalagi pak Sumintar sudah merasakan sengsaranya karena terjerat gaya Liberal Kartu Kredit (sekarang sudah mulai tobat, hehehe).

Terus Visi dan Misi Petani Internet dan Pengusaha Bisnis Online Indonesia apa ya?
Terus terang para petani internet dan pengusaha bisnis online, serta buruh, pekerja bisnis online, masih dipandang sebelah mata dan belum pernah disinggung dalam pemaparan visi dan misi Capres. Tapi jangan menyerah mari kita buktikan bersama lewat misi dan misi lewat kerja nyata dan karya nyata.

Nah ini perlu presiden atau menteri atau setidak tidaknya Dirjen, untuk Petani Internet Indonesia, buruh, pekerja dan pengusaha bisnis online, jangan dibiarkan liar tanpa pengurus dan tanpa pimpinan, hehehe.
Kalau boleh saya usul kira kira Visi dan Misi Petani Internet, Petani Internet Indonesia, buruh, pekerja dan pengusaha bisnis online Indonesia adalah:

Visi

Petani Internet, buruh, pekerja dan Pengusaha Bisnis Online Indonesia turut membangun masyarakat internet mandiri dengan memanksimalkan fungsi internet sebagai ladang baru untuk meningkatkan taraf hidup dalam upaya menjemput rejeki yang melimpah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan. Berketuhanan, Bertanggung jawab, Bermental Religius, Berjiwa Nasionalis, berwawasan Global, dengan semangat menuju Wirausaha mandiri. Turut mencerdas kehidupan bangsa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bekerja sama dalam mewujudkan masyarakat mandiri, damai, adil, makmur dan sejahtera.

Misi

  1. Melakukan kegiatan pendidikan, penelitian dan implementasi ilmu untuk mendapatkan sebesar besarnya manfaat baik dari segi finansial, ilmu pengetahuan maupun hiburan.
  2. Menjalankan praktek bisnis di ladang internet dengan berbagai bidang usaha yang bisa meningkatkan taraf tarap hidup, baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, golongan dan bangsa.
  3. Melakukan kegiatan tukar pengetahuan (share), ilmu dan teknologi dalam upaya memacu, menyemangati, dan mengarahkan sehingga memperoleh kegiatan yang optimal dan hasil maksimal.
  4. Membangun silaturahmi dan saling menghargai sehingga tercipta solidaritas dan kesetakawanan.
  5. Mendukung gagasan Ekonomi Kerakyatan dalam menyiapkan pendidikan dan pelatihan terkait dengan bisnis di Internet, mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru.
  6. Bersinergi dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah UKM, UMKM dalam membantu publikasi, pendampingan dan pemasaran lewat internet (Internet marketing).
  7. Bekerja sama dengan pendidikan formal dalam pendidikan, penelitian (riset), pengembangan dan penerapan teknologi tepat guna dan berdaya guna.

Catatan: Jika ingin tahu Misi dan Visi masing masing pasangan capres dan cawapres 2009, JK-Win, SBY-Budiono, Mega-Pro silahkan baca di websitenya, tonton di TV, TV One, SCTV, RCTI, Metro TV, Indosiar, TVRI.
Misi dan VISI itu penting, akan tetapi Kerja Nyata untuk rakyat miskin untuk menjabarkan visi jauh lebih penting.

Salam Sukses dari Petani Internet Indonesia dan Pengusaha Bisnis Online
www.king-ali.tk

Kemuliaan Menulis: Ayo Muliakan Diri Kalian!

May 21, 2009 oleh  
Tersimpan pada Opini, Pendidikan

Kata “Kemuliaan Menulis” atau Nobility of Writing sebenarnya sudah cukup lama ada dalam kepala saya. Kata ini tidak tiba-tiba saja muncul. Kata “Kemuliaan Menulis” itu saya kenal ketika dalam perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang penulis. Walaupun akhirnya, saya kemudian tidak menjadi penulis. Begitupun sebagai seorang pengajar (pendidik) saya acap kali bersentuhan dengan dunia kepenulisan.

“Kemuliaan Menulis” sejak awal saya yakini merupakan sesuatu yang harus disebar bak virus. Sesuatu yang harus bisa menjadi inspirasi para penulis muda untuk berjuang menuju kesuksesan. “Kemuliaan Menulis” harus menjadi awalan dari kecanggihan seorang penulis. Tanpa “Kemuliaan Menulis” saya meyakini, tak akan ada karya-karya tulis fenomenal yang menggugah dan membangkitkan emosi pembaca.

Apa itu “Kemuliaan Menulis”? Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari banyak kawan-kawan mahasiswa atau penulis-penulis muda. Saya seringkali membiarkan para mahasiswa saya untuk lebih dulu berpikir dan memberikan definisinya masing-masing terhadap sesuatu. Begitu pula dengan “Kemuliaan Menulis”. Saya biasanya hanya menuliskan kata itu dan meminta para mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.

Ada banyak kata yang keluar dari para mahasiswa ketika mereka memikirkan soal kata “Kemuliaan Menulis”. Ada yang bilang, menulis itu terhormat; ada juga yang bilang, menulis itu tinggi; atau ada juga yang bilang, menulis itu narsis. Semua definisi spontan yang hadir dalam kepala para mahasiswa dan dilontarkan dihadapan saya menjadi sesuatu yang sangat penting. Pada tahap awal saya hanya ingin meminta para mahasiswa untuk mengartikan kata “Kemuliaan Menulis”. Ya, hanya arti kata itu saja dan bukan pemahaman mereka terhadap “Kemuliaan Menulis”. Dari banyak lontaran pendapat itu, saya kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bisa pelan-pelan memahami apa itu arti menulis.

Menulis, sebenarnya bukanlah untuk diri sendiri. Ada banyak orang yang menganggap bahwa menulis merupakan pekerjaan paling “egois” yang bisa dilakukan. Maksudnya, pekerjaan menulis dianggap bisa dikerjakan sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan sendiri. Ada banyak alasan mengapa cara menulis seperti ini ditempuh. Banyak penulis muda yang enggan menulis karena takut tak bisa menulis. Takut tulisannya jelek dan diejek oleh pembacanya (walaupun kadang yang membaca pun hanya dia seorang). Kalaupun kemudian muncul sedikit keberanian, maka setelah menulis ya hanya dibaca sendiri. Diejek sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan untuk tidak penah perlu diketahui orang lain selain dirinya. Tapi ada juga yang sudah berani menulis dan menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain, namun tiba-tiba harus terserang “demam” karena tak tahan dikrtitik bahwa tulisannya dianggap sama sekali tak punya mutu. Semangatnya untuk menulis kemudian menjadi lumer bak ice cream dihantam panas. Cair dan kemudian berserak tak bisa utuh lagi.

Gambaran soal menulis yang saya sampaikan diatas menjadi fenomena yang umum dan dirasakan oleh para penulis muda. Bibit-bibit penulis inilah yang kemudian terbonsai gara-gara tak memahami “Kemuliaan Menulis”. Mereka hilang, musnah dan kemudian mengambil jalan menempuh profesi lainnya: menjadi tukang parkir, pemulung, pencopet, dan lain sebagainya.

“Kemuliaan Menulis” sejatinya harus dimulai dari kesadaran bahwa menulis bukan pekerjaan “egois “, bahwa menulis bukan sekedar mendapatkan honor atau menyalurkan hobi. Jika tingkatan menulis masih pada tingkat mendapatkan honor atau menyalurkan hobi, saya yakin bahwa tidak akan ada tulisan bermutu dari seorang penulis macam ini. Tidak akan ada tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang tergugah karenanya.

Menulis itu akan menjadi sebuah kemuliaan jika para penulis muda menyadari bahwa mereka sesungguhnya bukan menulis untuk diri mereka sendiri. Saya selalu percaya, bahwa jika ketika seseorang menulis dan dia hanya beranggapan tulisannya hanya untuk dirinya, maka bisa dipastikan tulisan itu akan sangat dangkal. Sadarlah, bahwa menulis itu sebenarnya untuk orang lain. Menulis bukan sekedar mencurahkan ide di papan ketik, mencurahkan unek-unek atau menulis caci maki. Menulis adalah sebuah “ibadah” yang akan membawa seorang penulis pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang. Maka itu, sekarang, ayo menulis dan muliakan diri kalian.

Aulia Andri, Motivator Menulis

aulia.andri[at]hotmail.com

tulisan ini juga bisa dibaca di http://mentiko.com

Berapa Harga Bloggersumut???

March 3, 2009 oleh  
Tersimpan pada Opini

Hari ini saya mendapatkan sebuah email dari Nich yang dikirim ke email [email protected] Email ini baru dibuat setelah hari sabtu 28 Februari 2009 yang lalu beberapa orang pengurus dan anggota bloggersumut berkumpul di Lapangan Merdeka Medan. Tidak banyak yang berkumpul saat itu, walaupun sebenarnya hampir semua member BloggerSUMUT mendapatkan undangan dari Bg Said melalui sms. Terus terang saya terlambat tiba di lokasi pertemuan dan sebelum sampai di tempat tujuan pun saya sudah yakin bahwa yang datang pasti hanya beberapa orang saja dan memang kenyataannya seperti itu.

Email [email protected] tersebut akan memforward setiap pesan dan informasi yang masuk agar bisa ditanggapi bersama. Dalam hal ini bersama yang dimaksud adalah internal pengurus bloggersumut. Email koordinasi ini diperlukan karena pada pertemuan tersebut telah terjadi sedikit diskusi “panas” untuk perbaikan bloggersumut. Berdasarkan pengalaman terdahulu, memang sering terjadi mis-koordinasi atau lebih tepat tersumbatnya informasi antar sesama pengurus sehingga mulai timbul sikap dan tindakan acuh tak acuh terhadap setiap perkembangan yang terjadi di BloggerSUMUT karena ketidaktahuan informasi yang berkembang tersebut.

Pada kesempatan itu, secara “bersih hati” yang kinerjanya dikritik menerima setiap kritikan yang masuk demi perbaikan di masa yang akan datang. Dan perlu teman-teman (yang tergabung dalam komunitas bloggersumut) ketahui bahwa hampir disetiap pertemuan BloggerSUMUT baik itu secara formal (terjadwal) maupun informal selalu diwarnai dengan perdebatan dan semua itu demi perbaikan dan kebaikan bersama. Artinya apa? Artinya kita semua siap menerima kritikan. Tapi… Berikan argumen yang jelas dan wajar. Bukan argumen yang asbun alias asal bunyi dan mengada-ada seperti komentar picik yang disampaikan oleh seseorang yang memakai nama udien di postingan Telkomsel Blogger Community dan Citizen Journalism yang ditulis oleh Pak Aulia.

Ketika saya melihat daftar anggota, tidak ada nama udien disitu. Artinya jika si udien ini merupakan anggota, maka kemungkinan besar dia pengecut karena tidak mau menggunakan nama aslinya. Namun jika si udien ini bukan anggota, saya harus bilang anda termasuk orang yang kurang ajar udien… Tapi setelah saya telisik daftar teman di YM saya, sepertinya ada 1 orang yang jadi suspect dengan nama udien tersebut. Saya tidak akan menyampaikan disini namun saya sudah menanyakan langsung kepada dia tapi dia menyatakan komentar itu bukan atas nama ilmukomputer.com.

Maaf… Saya orang yang sangat anti pada orang-orang yang banyak komentar tanpa pernah berkontribusi apa-apa terhadap komunitas. Apalagi komentar yang asbun dan mengada-ada. Di komunitas manapun saya berada, sikap saya selalu tetap untuk hal yang satu ini.

Si udien ini secara tidak sopan menanyakan harga BloggerSUMUT. Terus terang saya naik pitam dan jika berjumpa dengan orangnya secara langsung, saya tidak segan-segan untuk memakinya bahkan mungkin menampar muncungnya. Tidak sopan sekali anda menuliskan kata-kata tersebut. Seolah-olah anda sudah tahu banyak tentang BloggerSUMUT.

Semakin tidak sopan lagi si udien ini dengan tulisannya yang menyatakan bahwa BloggerSUMUT sudah dibeli caleg2 dan telkomsel. Beuh… Ini orang udah nggak pernah berkontribusi, datang2 langsung nyolot dan pahitnya lagi si udien ini tega-teganya kasih komentar kurang ajar seperti itu.

Well udien… Siapapun anda, saya cuma mau menegaskan kembali bahwa semua kebijakan baik itu menampilkan iklan caleg di bloggersumut.net dan bekerjasama dengan telkomsel sudah melalui masa-masa perdebatan. Anda bisa tanya kepada Ketua BloggerSUMUT langsung. Kami sering mengucapkan kata-kata ini kepada dia di hampir setiap pertemuan: “Kalo telkomsel macam-macam, putuskan hubungan kerjasama. Kayak nggak ada provider lain aja yang mau kerjasama dengan kita”. Tapi memang selama ini Telkomsel selalu siap men-support BloggerSUMUT. Ingat… selama ini… Ntah kalo besok-besok. Support dari telkomsel juga semakin nyata dengan memberikan peralatan untuk komunitas agar bisa mengakses internet dengan fasilitas mereka. Berarti saya pribadi berani bilang telkomsel telah berjasa dan telah memberikan kontribusi nyata terhadap komunitas BloggerSUMUT. Tidak seperti anda udien…

Kalau tentang iklan, rasanya respon berupa komentar dari adam (blogger insyaf) sudah menjawab tentang ke-sok-tahu-an anda udien…

Tapi sudahlah… Mudah-mudahan ke-asbun-an anda ada gunanya dan pesan saya kepada anda (kalo memang IP anda benar), yang saat berkomentar anda berada antara Jl. S. Parman dengan Jl. Majapahit Medan, ditunggu kehadirannya di acara-acara selanjutnya yang digelar BloggerSUMUT. Saya sangat rindu untuk bertemu dengan seorang seperti anda.

Salam Blogger Sumut dan mohon maaf kalo saya agak emosional.

Telkomsel Blogger Community dan Citizen Journalism

February 22, 2009 oleh  
Tersimpan pada Opini

Awal Tahun 2008. Saya tidak ingat persis tanggalnya tapi sekitar bulan Januari. Saya menghubungi Riza, mantan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera (UMSU) untuk membuat sebuah website yang mengusung prinsip citizen journalism. Setahun sebelumnya, saya memang sudah menggandrungi beberapa wesbite atau blog citizen journalism yang bertebaran.

Saya mengajak Riza karena saya tahu dia punya hobi yang sama dengan saya dalam hal mengutak-atik website. Awalnya, saya bersama Riza merancang nama untuk website citizen journalism yang akan kami buat. Saya mengusulkan sejumlah nama seperti Mentiko.com. Riza tidak setuju. Dia mengusulkan nama Tekongan.com.

Setelah bertemu beberapa kali, kami kemudian menyepakati untuk membuat sebuah website dengan alamat www.tekongan.com. Alasannya sederhana saja. Tekongan itu bahasa asli Medan.

“Cocok nama itu bang. Sudahlah itu saja,” kata Riza mendesak saya.

“Yakin kau itu bahasa Medan?” Saya.

“Ya iya lah. Sudah pas itu,” tegas Riza lagi.

Maka setelah itu saya membangun sebuah website berbasis content management system (CMS) Joomla. Saya membangun website ini sambil belajar. Istilahnya learning by doing saja. Kebetulan saya juga yang membuat website UMSU (www.umsu.ac.id), sehingga punya sedikit pengalaman mengelola website berbasis Joomla.

“Website ini akan kita persembahkan untuk kemajuan masyarakat Medan,” kata saya pada Riza.

Dia tampak bersemangat. Tekongan.com memang akan lebih menekankan informasi-informasi yang ditulis dan dirasakan oleh masyarakat. Saya sudah lama meyakini, media-media non mainstream seperti web yang mengusung konsep citizen journalism akan berkembang. Hingga kini website Tekongan.com masih bisa diakses. Perkembangannya pun semakin baik dengan ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pengaksesnya.

20 Februari 2009, bertempat di Merdeka Walk Medan, saya menghadiri launcing Telkomsel Blogger Sumut. Saya sudah bergabung dengan komunitas Blogger Sumut sejak 5 bulan lalu. Komunitas ini saya nilai sangat positif untuk mengembangkan dunia information communication technology (ICT) di Sumut. Maka itu, saya sangat mendukung komunitas Blogger Sumut ini. Malam ini, saya bersama sekitar 80 anggota komunitas Blogger Sumut berkumpul untuk meresmikan di launchingnya komunitas Telkomsel Blogger Community.

Said, Ketua Blogger Sumut dalam sambutannya mengatakan bahwa komunitas ini bertujuan untuk mengembangkan citizen journalism. Dia juga meyakini, blog akan bisa membantu menyampaikan berbagai informasi kepada masyarakat. Saya gembira mendengar sambutan dari Said. Dia tampak bersemangat.

Malam ini, usai mendengarkan Said menyampaikan pidatonya mewakili Blogger Sumut yang bersemangat, saya langsung ingin menulis. Dari situs mesin pencari google saya kemudian menemukan beberapa tulisan tentang citizen journalism. Dari website rumahkiri.net saya menemukan sebuah tulisan menarik berjudul Citizen Journalism, Sebuah Fenomena. Disana disebutkan bahwa sebenarnya istilah citizen journalism sudah lama dikenal namun dengan beda-beda istilah. Namun spiritnya tetap sama dengan public journalism atau civic journalism yang terkenal pada tahun 80-an. Yaitu, perkara bagaimana menjadikan jurnalisme bukan lagi sebuah ranah yang semata-mata dikuasai oleh para jurnalis.

Lantas, apa bedanya fenomena public journalism dengan istilah citizen journalism sekarang ini? Menurut website ini, ada perbedaanya. Perbedaannya, itu terletak pada kemajuan teknologi media sehingga semangat partisipatoris yang melibatkan publik dalam mendefinisikan isu semakin terakomodasi.

Selain itu, kemajuan teknologi media membuat akses publik untuk memasuki ranah jurnalistik semakin terbuka. Semangatnya, sekali lagi, tetap sama. Yaitu, mendekatkan jurnalisme pada publiknya.

Maka itu saya berpendapat pada dasarnya, tidak ada yang berubah dari kegiatan jurnalisme yang didefinisikan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan berita. Citizen journalism pada dasarnya melibatkan kegiatan seperti itu.

Hanya saja, kalau dalam pemaknaan jurnalisme konvensional yang melakukan aktivitas tersebut adalah wartawan, kini publik juga bisa ikut serta melakukan hal-hal yang biasa dilakukan wartawan di lembaga media. Karena itu, Shayne Bowman dan Chris Willis lantas mendefinisikan citizen journalism sebagai “…the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information“.

Ada beberapa istilah yang dikaitkan dengan konsep citizen journalism. Public journalism, advocacy journalism, participatory journalism, participatory media, open source reporting, distributed journalism, citizens media, advocacy journalism, grassroot journalism, sampai we-media.

Civic journalism, menurut Wikipedia, bukan citizen journalism karena dilakukan oleh wartawan walau pun semangatnya tetap senada dengan public journalism, yaitu (lebih) mengabdi pada publik dengan mengangkat isu-isu publik. Citizen journalism adalah bentuk spesifik dari citizen media dengan content yang berasal dari publik. Di Indonesia, istilah yang dimunculkan untuk citizen journalism adalah jurnalisme partisipatoris atau jurnalisme warga.

J.D. Lasica, dalam Online Journalism Review (2003), mengategorikan media citizen journalism ke dalam 6 tipe:

  1. Audience participation (seperti komenter user yang diattach pada kisah-kisah berita, blog-blog pribadi, foto, atau video footage yang diambil dari handycam pribadi, atau berita lokal yang ditulis oleh anggota komunitas).
  2. Situs web berita atau informasi independen (Consumer Reports, Drudge Report).
  3. Situs berita partisipatoris murni (OhmyNews).
  4. Situs media kolaboratif (Slashdot, Kuro5hin).
  5. Bentuk lain dari media ‘tipis’ (mailing list, newsletter e-mail).
  6. Situs penyiaran pribadi (situs penyiaran video, seperti KenRadio).

Ada dua hal setidaknya yang memunculkan corak citizen journalism seperti sekarang ini. Pertama, komitmen pada suara-suara publik. Kedua, kemajuan teknologi yang mengubah lansekap modus komunikasi.

Public journalism acap dikaitkan dengan konsep advocacy journalism karena beberapa media bergerak lebih jauh tidak saja dengan mengangkat isu, tetapi juga mengadvokasikan isu hingga menjadi sebuah ‘produk’ atau ‘aksi’—mengegolkan undang-undang, menambah taman-taman kota, membuka kelas-kelas untuk kelompok minoritas, membentuk government watch, mendirikan komisi pengawas kampanye calon walikota, dan lain-lain.

Public atau citizen journalism juga dikaitkan dengan hyperlocalism karena komitmennya yang sangat luarbiasa pada isu-isu lokal, yang ‘kecil-kecil’ (untuk ukuran media mainstream), sehingga luput dari liputan media mainstream.

Public journalism dengan model seperti ini mendasarkan sebagian besar inisiatif dari lembaga media. Kemajuan teknologi dan ketidakterbatasan yang ditawarkan oleh Internet membuat inisiatif semacam itu dapat dimunculkan dari konsumen atau khalayak. Implikasinya cukup banyak, tidak sekadar mempertajam aspek partisipatoris dan isu yang diangkat.

Kembali ke soal Telkomsel Blogger Community, saya kemudian berpikir-pikir, rupanya Telkomsel menginginkan adanya sinergi dengan publik, khususnya blogger Sumut. Sinergi ini bisa saja dengan banyaknya blog yang nantinya akan menulis tentang Telkomsel. Repotnya dan ini tentunya yang harus diantisipasi jika kenyataanya, para blogger menulis hal-hal buruk. Saya mahfum jika nanti pihak Telkomsel akan sibuk merespon berbagai tulisan “miring” tentang Telkomsel. Atau mungkin Telkomsel bisa saja mengabaikan apapun yang ditulis para blogger dan menganggapnya sebagai kritik membangun. Tapi, ya itu, kini memang zamannya citizen journalism. Siapa saja bisa menulis tentang apa saja. Selama itu bisa dipertanggungjawabkan. Ya, kan!

Aulia Andri, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Medan

Halaman Selanjutnya »