Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Pelatihan Berbasis Kompetensi BBLKI Medan 2010

September 26, 2010 oleh  
Tersimpan pada Pendidikan

Untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kompetensi kerja bagi masyarakat/pencari kerja di wilayah Sumatera, Balai Besar Latihan Kerja Industri (BBLKI) Medan sebagai Lembaga Pelatihan Kerja Pemerintah membuka kesempatan kepada masyarakat umum/pencari kerja untuk mengikuti pelatihan berbasis kompetensi tahun 2010 selama 240 jam pelatihan, sebanyak 15 paket tanpa dipungut biaya. Program pelatihan yang dibuka antara lain:

NO.SEKTORSUB SEKTORJADWAL
1.LISTRIKPROGRAMMER PLCAPRIL – MEI 2010
2.LISTRIKTEKNISI HPAPRIL – MEI 2010
3.OTOMOTIFTEKNISI SEPEDA MOTORAPRIL – MEI 2010
4.TEKNOLOGI MEKANIKJURU LAS LISTRIK MANUALAPRIL – MEI 2010
5.LISTRIKTEKNISI PENDINGINMEI – JUNI 2010
6.TEKNOLOGI MEKANIKOPERATOR MESIN BUBUTMEI – JUNI 2010
7.TEKNOLOGI INFORMASITEKNISI JARINGAN KOMPUTERMEI – JUNI 2010
8.OTOMOTIFTEKNISI MOBIL DIESELJUNI – JULI 2010
9.TATA NIAGAADMINISTRASI BISNISJUNI – JULI 2010
10.TEKNOLOGI MEKANIKJURU PLAT KONSTRUKSI/FABRIKASIJUNI – JULI 2010
11.INDUSTRI KREATIFITASPENGRAJIN HANDICRAFTJUNI – JULI 2010
12.PERTANIANPROCESSINGAGT – SEPT. 2010
13.KONSTRUKSIDESIGNER AUTOCADAGT – SEPT. 2010
14.TEKNOLOGI INFORMASIWEB DESIGNERAGT – SEPT. 2010
15.OTOMOTIFTEKNISI MOBIL BENSINAGT – SEPT. 2010

Baca selengkapnya

Kemuliaan Menulis: Ayo Muliakan Diri Kalian!

May 21, 2009 oleh  
Tersimpan pada Opini, Pendidikan

Kata “Kemuliaan Menulis” atau Nobility of Writing sebenarnya sudah cukup lama ada dalam kepala saya. Kata ini tidak tiba-tiba saja muncul. Kata “Kemuliaan Menulis” itu saya kenal ketika dalam perjalanan panjang menuju cita-cita menjadi seorang penulis. Walaupun akhirnya, saya kemudian tidak menjadi penulis. Begitupun sebagai seorang pengajar (pendidik) saya acap kali bersentuhan dengan dunia kepenulisan.

“Kemuliaan Menulis” sejak awal saya yakini merupakan sesuatu yang harus disebar bak virus. Sesuatu yang harus bisa menjadi inspirasi para penulis muda untuk berjuang menuju kesuksesan. “Kemuliaan Menulis” harus menjadi awalan dari kecanggihan seorang penulis. Tanpa “Kemuliaan Menulis” saya meyakini, tak akan ada karya-karya tulis fenomenal yang menggugah dan membangkitkan emosi pembaca.

Apa itu “Kemuliaan Menulis”? Pertanyaan itulah yang kemudian muncul dari banyak kawan-kawan mahasiswa atau penulis-penulis muda. Saya seringkali membiarkan para mahasiswa saya untuk lebih dulu berpikir dan memberikan definisinya masing-masing terhadap sesuatu. Begitu pula dengan “Kemuliaan Menulis”. Saya biasanya hanya menuliskan kata itu dan meminta para mahasiswa untuk memberikan pendapatnya.

Ada banyak kata yang keluar dari para mahasiswa ketika mereka memikirkan soal kata “Kemuliaan Menulis”. Ada yang bilang, menulis itu terhormat; ada juga yang bilang, menulis itu tinggi; atau ada juga yang bilang, menulis itu narsis. Semua definisi spontan yang hadir dalam kepala para mahasiswa dan dilontarkan dihadapan saya menjadi sesuatu yang sangat penting. Pada tahap awal saya hanya ingin meminta para mahasiswa untuk mengartikan kata “Kemuliaan Menulis”. Ya, hanya arti kata itu saja dan bukan pemahaman mereka terhadap “Kemuliaan Menulis”. Dari banyak lontaran pendapat itu, saya kemudian mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk bisa pelan-pelan memahami apa itu arti menulis.

Menulis, sebenarnya bukanlah untuk diri sendiri. Ada banyak orang yang menganggap bahwa menulis merupakan pekerjaan paling “egois” yang bisa dilakukan. Maksudnya, pekerjaan menulis dianggap bisa dikerjakan sendiri, dibaca sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan sendiri. Ada banyak alasan mengapa cara menulis seperti ini ditempuh. Banyak penulis muda yang enggan menulis karena takut tak bisa menulis. Takut tulisannya jelek dan diejek oleh pembacanya (walaupun kadang yang membaca pun hanya dia seorang). Kalaupun kemudian muncul sedikit keberanian, maka setelah menulis ya hanya dibaca sendiri. Diejek sendiri, dikomentari sendiri dan kemudian disimpan untuk tidak penah perlu diketahui orang lain selain dirinya. Tapi ada juga yang sudah berani menulis dan menunjukkan hasil tulisannya pada orang lain, namun tiba-tiba harus terserang “demam” karena tak tahan dikrtitik bahwa tulisannya dianggap sama sekali tak punya mutu. Semangatnya untuk menulis kemudian menjadi lumer bak ice cream dihantam panas. Cair dan kemudian berserak tak bisa utuh lagi.

Gambaran soal menulis yang saya sampaikan diatas menjadi fenomena yang umum dan dirasakan oleh para penulis muda. Bibit-bibit penulis inilah yang kemudian terbonsai gara-gara tak memahami “Kemuliaan Menulis”. Mereka hilang, musnah dan kemudian mengambil jalan menempuh profesi lainnya: menjadi tukang parkir, pemulung, pencopet, dan lain sebagainya.

“Kemuliaan Menulis” sejatinya harus dimulai dari kesadaran bahwa menulis bukan pekerjaan “egois “, bahwa menulis bukan sekedar mendapatkan honor atau menyalurkan hobi. Jika tingkatan menulis masih pada tingkat mendapatkan honor atau menyalurkan hobi, saya yakin bahwa tidak akan ada tulisan bermutu dari seorang penulis macam ini. Tidak akan ada tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang tergugah karenanya.

Menulis itu akan menjadi sebuah kemuliaan jika para penulis muda menyadari bahwa mereka sesungguhnya bukan menulis untuk diri mereka sendiri. Saya selalu percaya, bahwa jika ketika seseorang menulis dan dia hanya beranggapan tulisannya hanya untuk dirinya, maka bisa dipastikan tulisan itu akan sangat dangkal. Sadarlah, bahwa menulis itu sebenarnya untuk orang lain. Menulis bukan sekedar mencurahkan ide di papan ketik, mencurahkan unek-unek atau menulis caci maki. Menulis adalah sebuah “ibadah” yang akan membawa seorang penulis pada kemuliaan karena menginspirasi banyak orang. Maka itu, sekarang, ayo menulis dan muliakan diri kalian.

Aulia Andri, Motivator Menulis

aulia.andri[at]hotmail.com

tulisan ini juga bisa dibaca di http://mentiko.com

Utilitas Lulusan Sekolah

April 29, 2009 oleh  
Tersimpan pada Pendidikan

KUALITAS LULUSAN HARUS DIPERTANYAKAN.

Adalah realitas di sekotar kita bahwa lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi mengalami kemajuan pesat secara kuantitatif. Angka lulusan institusi pendidikan formal pun mengalamai peningkatan yang cukup tinggi dari tahun ketahun. bersamaan oleh itu kesempatan kerja semakin terbatas. Kalaupun ada menurut persyaratan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Seruan motivasional agar lulus tidak bergantun pada formasi kerja sektor publik dan sektor swasta masih sebatas bersifat lisan, karena itu untuk berkerja secara swakelola atau menekuni jenis kewirausahaan tertentu tidaklah mudah.

Hal ini tidak hanya disebabkan rendahnya naluri usaha dan tidak adanya ketermapilan khusus, tetapi dipicu juga oleh ketiadaan modal.
Dampak negatifnya angka penganguran cendrung kian membengkak. Feomena ini menyebabkan eksistensi institusi pendidikan formal, sebagai pencetak calon tenaga kerja yang profesional semakin dipertanyakan.
Dalam keseluruhan perjalanan sejarah pendidikan khususnya sejak tahun 1990-an, institusi pendidikan memang cendrung hanya menyiapkan atau memberi bekal dasar bagi lulusan untuk memasuki dunia kerja. Ini karena kemampuan profesional dalam makna sesungguhnya meniscayakan keahlian akademik dan kecakapan praktis level tinggi yang disertai sikap dan budaya profesional yang kongruen dengan kebutuhan dan tuntutan ril masyarakat dan dunia.

Ahli – ahli kita menerima realitas adalah rendahnya daya serap lulusan pendidikan formal disebabkan antara lain yaitu keterbatasan formasi kerja dalam sektor formal. Namun demikian kita menerima atas wacana tersebut tidak sepenuhnya dapat dipertahankan lagi karena orientasi pendidikan sekarang seyogiayanya sudah harus bergeser ke arah penciptaan wirausaha baru dalam makna lulusan khususnya perguruan tinggi hatus mampu menciptakan lapangan kerja atau melakukan usaha alternatif secara mandiri.

Inisiatif ke arah ini tentu tidak mudah dikarenakan tradisi kerja perguruan tinggi termasuk Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan ( LPTK ) yang memproduk calon guru sudah mengakar. Institusi perguruan tinggi cendrung memacu lulusan hingga ke tingkat yang mengagumkan. Sesungguhnya yang diperlukan saat ini bukan hanya jumlah lulusan pendidikan yang mengagunmkan itu melainkan dampak pendidikan atas kelulusan mereka, berupa utilitas atau daya guna lulusan yang mampu memasuki dunia kerja atau mampu menciptakan lapangan kerja baru. Meskipun sosok seperti itu pendidikan nasional kita tetap memainkan peranan sangat esendial dalam proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia? Indonesia menuju insan yang beragama, berbudaya dan mandiri baik sebagai pribadi sosial maupun pribadi ekonomi.

Di dalam kenyataannya pemerintah sudah berupaya menciptakan pendidikan lebih berkompeten dari sebelumnya, namun lagi – lagi hal ini terhambat akan pola atau tipikal mental pejabat di Negara ini, ibarat pepatah mengatakan mereka sebagai “Buaya mana yang menolak daging…” ini yangmenjadi kendala majunya pendidikan di Indonesia.

Filosofi Dasar dalam Pengembangan Kurikulum Sekolah

April 29, 2009 oleh  
Tersimpan pada Pendidikan

Pengembangan kurikulum perlu menentukan filosofi tertentu untuk menyelaras berbagai kepentingan sesuai harapan masyarakat. Masyarakat sekarang menuntut standard kualitas yang tinggi dalam pendidikan. Standar ini mencakupi kompetensi yang seimbang dalam kecerdasan atau logika, moral dan akhlak mulia atau etika, seni dan keindahan estetika, serta kekuatan dan kesehatan jasmani atau kinestetika.

Brameld dalam Longstreet dan Shane ( 1993 ), mengelompokan keempat paham, yaitu perennialism, essentiallism, progressivism dan reconstructivism. Perennialism lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya serta dampaksosial tertentu. Pengetahuan yanh lebih eksternal serta ideal lebih dipentingkan untuk dipelajari, sementara kegiatan sehari – hari kurang ditekankan.

Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Pemikiran Plato dan karya Shakespeare merupakan contoh dari kebenaran absolut dan keindahan yang sempurna dalam kehidupan manusia.

Manusia berbagi alam secara bersama – sama, maka seyogianya setiap orang akan memperoleh keuntungan tentang kebenaran absolut dankeindahan yang ideal. Implikasi dari penerapan perennialismdalam pengembangan kurikulum adalah penyajian yang sama untuk semua orang. Setiap orang memperoleh pengetahuan yang sama penting bagi siapa saja, dimana saja. Perbedaan individual atau diversifikasi kurikulum kurang diakomodasikan dalam perennialism ini.

Essentiallism menentukan pentingnya pewarisan budaya pemberian pengetahuan serta keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sanis danmata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar subtansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat.

Essentiallism menekankan pada individu sebagai sumber pegetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. bagaimana saya hidup di dunia?

Apakah pengalaman itu ?
Progressivism menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada siswa, variasi pengalaman belajar, dan proses. Progressivism merupakan landasan filosofis bagi pengembanganbelajar aktif.

Recontructivism merupakan elaborasi lanjut dari paham progreeivism. Pada recontructivism peradaban manusia masa depan sangat ditekan. Recontructivism berorientasi masa depan sedangkan perennialism dan essentialism berorientasi masa lalu. Recontructivismberanjak lebih jauh dari progressivism yang menekan pada perbedaan individual, pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.

Penganut paham ini akan memepertanyakan Untuk apa berfikir kritis memecahkan masalah dan melakukan sesuatu ? Penganut paham ini menekankan pada hasil belajar ( learning out comes ) dari pada proses. Sekolah adalah suatu tempat untuk mencapai seperangkat hasil belajar yang mewujudkan kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Perangkat ini telah ditentukan dan direncanakan sebelumnya.

Penggunaan filosofi di atas tidak terjadi dalam keadaan vakum. Untuk pertumbuhan ekonomi akan terjadi reaksi untuk lebih back to basic atau essentialism. Untuk krisis kebudayaan orang lebih suka memilih reconstructivism yang berorientasi ke masa depan. Untuk metode dapat dipilih progresif dan rekontruktif.

Pengembagan kurikulum biasanya tidak menganut filosofi tunggal. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) misalnya tidak menganut filosofi tunggal. KBK tetap berpegang pada tut wuri handayani, ingmadya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada. Standar kompetensi dapat menjadi acuan untuk guru agar dibelakang dapat memberi dorongan dan bimbingan, di tengah bermitra agar peserta didik berkarya, serta di depan memberi tauladan dengan menunjukan akuntabilitas yang lebih jelas melalui indikator yang harus dicapai kompetensi.

Pengembangan kurikulum berorientasi masyarakat biasanya lebih status quo karena memfokuskan pada ; siapa danmasyarakat mana? Hal ini dapat menjebak pengembangan pada pilihan termudah, yaitu masyarakat terbanyak yang dikatakan sebagai kurang dapat mengikuti ; atau terlalu berpihak golongan yang cendrung sangat mampu sehingga terkesan eksklusif. Pengembangan elektif lebih mampu mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kebutuhan masyarakat yang beragam dengan menerapkan filosofi pendidikan secara elektif pula.

Berbagai pertanyaan berikut tidak dapat menjawab dengan memilih salah satu filosofi, semua keputusan bergantung kepada potensi, kebutuhan dan keadaan masyarakat itu sendiri. Pertanyaan tersebut yaitu :
1. Bagaimana mencapai kreativitas ?
2. Bagaimana membudayakanmasyarakat ?
3. Bagaimana dengan tuntutan duni kerja dan industri ?
4. Bagaimana dengan tuntutan abaf informasi ?
5. Bagaimana dengan demokrasi ?
6. bagaimana mengembangkan moralitas akademik dan sikap ilmiah ?

Diperlukan cara yang cukup cerdik untuk merajut filosofi mana yang akan dipilih, terutama dalam keadaaebudayaan, ban Indonesia yang sangat heterigen secara geografis, sosial ekonomi, khasa dan infrastruktur.

Sampah, Musuh atau Teman Lingkungan Kita?

April 7, 2009 oleh  
Tersimpan pada Pendidikan

Sampah sampai saat ini dianggap sebagai musuh lingkungan hidup dan menjadi permasalahan yang sulit untuk di atasi dari berbagai pihak mulai dari pemerintahan di suatu daerah sampai kepada pencinta lingkungan hidup dan sampai kepada ahli kesehatan menggap bahwa sampah adalah musuh yang harus di basmi.

Untuk  mengatasi masalah sampah, ada upaya yang harus dilakukan yaitu mengubah anggapan bahwa sampah itu bukanlah musuh bagi masyarakat atau lingkungan akan tetapi sampah merupakan teman bagi kita.

sampah dilingkungan kita

sampah dilingkungan kita

Awal adanya sampah bermulai dari diri kita sendiri. Bungkusan jajanan yang kita makan tanpa di manfaatkan merupakan sampah, bekas bungkusan belanja atau barang-barang kebutuhan rumah tangga mulai dari plastik, kardus, tali, karet, dll. jika tidak dimanfaatkan dapat menimbulkan sampah.

Jika kita mau memanfaatkan apa saja tentu dapat bermanfaat; kertas bekas, karet bekas, ban bekas, kardus bekas, tas bekas, besi bekas, seng bekas, papan bekas, dll. Bahkan sisa makanan juga bermanfaat, contoh kecil layaknya amuba, bakteri sebagai mahkluk pemisah yang sengaja di ciptakan ALLAH berfungsi memisahkan sisa-sisa makanan yang sehingga tanah tetap menjadi subur, akhirnya tanaman PAK TANI tumbuh subur (PUPUK KOMPOS).

Jadi yang perlu bagi kita bahwa :

  1. Jangan buang sampah di sembarang tempat
  2. Minimalkan produksi sampah diri atau rumah tangga
  3. Manfaatkan sampah yang ada di rumah tangga atau di lingkungan kita
  4. Pisahkan antara sampah kering dengan sampah basah
  5. Buang atau salurkan sampah yang dapat dimanfaatkan
  6. Jadikan sampah sebagai sumber pemasukan atau amal dengan menjual kepada penampungan barang-barang sisa atau berikan kepada tukang pencari NASI BUSUK ATAU BOTOT (TUKANG BOTOT SIAP MENAMPUNG SAMPAH ANDA)

MANFAATKAN SAMPAH, JANGAN BIARKAN SAMPAH BERSERAKAN DI LINGKUNGAN KITA

……Kasihan sampah…..

Rumah yang bersih tanpa sampah bukanlah rumah yang hebat, jika sampah rumah kita tersebut kita buang di pinggir jalan atau di lingkungan orang lain. Akan tetapi rumah yang hebat adalah rumah tangga yang memanfaatkan sampah di rumahnya.

Penulis

Muhammad Nurdin

Akr6675Center

Pelatihan Gratis oleh BBLKI Medan

March 4, 2009 oleh  
Tersimpan pada Pendidikan

PENERIMAAN SISWA PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI ANGKATAN I / 2009

BBLKI Medan menerima pendaftaran siswa baru Program Pelatihan Berbasis Kompetensi 160 JP dengan kejuruan sbb :

Listrik

  • Instalasi Penerangan
  • Instalasi Tenaga
  • Teknik Pendingin
  • Elektronika / Teknisi HP

Automotif

  • Motor Bensin
  • Motor Diesel
  • Sepeda Motor

Teknologi Mekanik

  • Las Manual

Tata Niaga

  • Teknisi Komputer
  • Operator Komputer

Pelatihan akan dilaksanakan pada tanggal 3 s/d 25 Maret 2009 di

BBLKI Medan
Jl. Gatot Subroto Km. 7,8 Medan
Telp. 061 – 8451520.

Pendaftaran dan informasi lebih lanjut di KIOS 3in1 BBLKI Medan.

Catatan : Pelatihan tidak dipungut biaya (Gratis)

Meninggalkan Pola Ajar Guru Tempo Dulu

February 16, 2009 oleh  
Tersimpan pada Pendidikan

Ramai sekali media massa menulis masalah Sumber Daya Manusia. Begitu pula para pakar telah sama setuju bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia amat diperlukan pendidikan. Dengan arti kata dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul penting. Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Kualitas suatu bangsa diukur dengan sumber daya manusianya.

Kita sadari bahwa pendidikan, sungguh penting untuk kemajuan bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini mantan Presiden Soeharto telah mencanangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. mantan Presiden mencanangkan lagi wajib belajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidangnya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di lapangan secara baik.

Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelaksanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menutup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu. Dan orang-orang arif dalam dunia pendidikan di negara ini cukup respon atas berbagai masalah pendidikan. Mereka merekayasa dan melaksanakan berbagai usaha peningkatan dan penyegaran.

Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi peningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kurikulum yang diikuti oleh perubahan struktur buku-buku pelajaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek peningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penyediaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.

Betapa usaha ini diterapkan melalui pengorbanan moril dan materil. Memberikan keringanan bagi guru-guru, misalnya dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah, agar dapat mengikuti penataran apakah dalam bentuk sanggar-sanggar atau bentuk kelompok laninnya. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil UASBN yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem¬perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar.

Barangkali apa yang menyebabkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini?

Lihatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid baru sampai pada taraf memberi bekal pengetahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanusiaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sistem pengajaran kita lihat hubungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas memberi dan yang lain sekedar menerima saja.

Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang, kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepanjang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke ha¬dapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenya¬taan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di belakang.

Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas-tugas hafalan untuk diuji. Sistem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkeritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancam¬an pada nilai rapor. Demikianlah ungkap salah seorang murid dalam suatu dialog ringan. Belajar dengan cara menghafal sungguh mematikan kreatif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih menerapkan pengajaran sistem kuno.

Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Diantaranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru menganggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan setiap murid menerima apa yang dikatakan. Pernah kejadian pada sebuah sekolah. Seorang murid kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik konstruktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelin¬tasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois.

Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pendekatan yaitu konvensional, progresif dan metode liberal. Sekolah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.
Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode konvensional. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ceramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi hanyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.

Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya manusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang, berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.

Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya, yakni guru jangan mengajar asal-asalan. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama peningkatan kualitas, berfungsi sebagai konselor, motivator dan fasilitator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sempurna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan, kualitas diri. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. Andai kata mereka mengikuti penataran atau sanggar, misalnya, janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin, mengharapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura.

Agar dapat memainkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membelajarkan diri, otodidaktif, dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu berlindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah waktu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan berfikir dengan harapan kita semua dapat menjadi gum yang berkualitas agar kita dapat mendidik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas

Halaman Selanjutnya »