Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Taman Wisata Alam Sibolangit

December 1, 2008 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata

Kelompok Hutan Sibolangit terletak diantara jalan raya Medan Berastagi, sekitar 40 km dari kota Medan dengan waktu tempuh lebih kurang 1jam. Sebagai jalur wisata, kondisi jalan sangat mulus sehingga dapat dilalui oleh berbagai jenis kendaraan bermotor roda dua dan empat.

Selain dari kendaraan pribadi, hutan Sibolangit ini juga dapat ditempuh melalui pengangkutan umum, baik jurusan (trayek) Medan – Berastagi maupun Medan – Sidikalang.

Sebelum memasuki Sibolangit, terlebih dahulu melewati kawasan wisata Pemandian Sembahe. Dilokasi ini mengalir air sungai yang mengalir jernih dan sejuk. Pada hari-hari libur tempat ini ramai dikunjungi khususnya oleh wisatawan lokal untuk sekedar mandi-mandi dan bersantai ria.

Melanjutkan perjalanan, pada tanjakan yang terjal, disebelah kanan ruas jalan akan dijumpai sumber air yang telah diusahakan sejak tahun 1959 dan sekarang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi. Sumber air ini juga sebagai pemasok kebutuhan air bagi kota Medan dan sekitarya. Hal ini menunjukan bahwa pengelolaan hutan Sibolangit yang baik akan memberikan manfaat yang cukup besar khususnya dalam hal pengaturan tata air.

Tidak jauh dari lokasi PDAM Tirtanadi dimaksud, disebelah kiri jalan akan ditemukan papan informasi yang memberikan petunjuk bahwa kita sudah memasuki gerbang kawasan Hutan Sibolangit.

SEJARAH

Bermula pada tahun 1914 atas prakarsa DR. J.C Koningsberger Direktur Kebun Raya Bogor ketika itu didirikan Kebun Raya (Botanical Garden) Sibolangit oleh Tuan J.A Lorzing sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor. Selanjutnya pada tanggal 10 Maret 1938 dengan Surat Keputusan Z.B No.37/PK, Kebun Raya diubah statusnya menjadi Cagar Alam.

Mengingat Cagar Alam ini kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (flora) yang bukan hanya sekedar untuk koleksi, melainkan juga memberikan juga memberikan kontribusi yang sangat penting bagi keperluan ilmu pengetahuan dan pendidikan (sebagai laboratorium alam) serta pengembangan pariwisata (rekreasi), maka pada tahun 1980 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 636/Kpts/Um/9/1980 sebagai Cagar Alam Sibolangit (seluas ± 24,85 Ha) dialih fungsikan menjadi kawasan Taman Wisata Alam Sibolangit.

Secara administratif pemerintahan, kawasan Taman Sibolangit ini terletak di Desa Sibolangit Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara.

Pesta Buku Sumatera Utara 2008

December 1, 2008 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata

PEMKO Medan dan PEMDA Sumut punya gawe lagi ni. Mengadakan Pesta Buku Sumatera Utara 2008. Acaranya sendiri berlangsung di Gedung Arsip Daerah, Jalan Williem Iskandar No. 4 Pancing – Medan. Lokasinya sebelum Universitas Negeri Medan (UNIMED). Acara dibuka untuk umum, mulai dari tanggal 29 Nopember kemarin sampai tanggal 7 Desember 2008. Kamu-kamu bisa datang mulai pukul 09.00 sampai jam 20.00 (8 malam). Jadi buat yang hobby baca buku atau hunting buku bisa langsung datang.

Info Pesta Buku

Info Pesta Buku

Angkot yang lewat adalah:

  • RMC No. 103 dan 104
  • KPUM No. 67,74,11,20,03A
  • Medan bus 134 dan M97 (kalo yang berdomisili di Tanjung Morawa)

Ayo datang dan hunting buku ya.

Spanduk Pesta Buku SUMUT 2008

Spanduk Pesta Buku SUMUT 2008

Kesawan Riwayatmoe Doeloe

November 25, 2008 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata, Sejarah dan Budaya

Hari Sabtu kemarin sempat jalan-jalan ke daerah Kesawan, suatu kawasan di jantung kota Medan yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Salah satunya adalah bangunan di atas.  Arsitektur yang kental dengan nuansa Eropa tempo dulu. Bangunan ini terletak di jalan A. Yani Kesawan Medan. Banyak bangunan tua yang sudah beralih fungsi, seharusnya sich kalau bisa dipertahankan dan dijaga sebagai salah satu aset sejarah kota Medan. Jadi mimpi dech kalau bisa dibuat seperti di luar negeri, jadi salah satu objek bersejarah, kendaraan dilarang lewat, kita pun bisa menikmatinya sambil jalan kaki.

Seperti contoh Mesjid ini yang juga berada di kawasan Kesawan dan masih dipakai sebagai tempat beribadah umat muslim sampai detik ini.

Seperti yang bisa dilihat di atas, mesjid ini namanya “mesjid lama gang bengkok“, arsitektur yang unik dan barangkali bisa disejajarkan dengan Mesjid Al Maksun Sultan Deli yang terletak di jalan SM Raja Medan. Alhamdulillah mesjid ini masih terawat dengan baik dan masih terus dipergunakan. Sejarahnya sendiri masih belum digali apalagi diberitahukan kepada kita, maklum waktu ke sana saya tidak bertemu dengan pemiliknya.

Perjalanan kemudian diteruskan ke jalan Hindu, masih di kawasan yang sama dan saya menemukan ini:

Bangunan Tua yang kondisinya sudah hancur dan ironisnya di depannya terpakir mobil mewah warga kota Medan. Miris dan rasanya saya ingin bertanya di mana ya kepedulian kita semua terhadap sejarah kota ini sendiri.

Dan lebih sedihnya lagi, bangunan itu berada persis di sebelah sebuah restaurant elite. Jadi sedih dech sebagai salah satu warganya.

Bangunan di atas masih di kawasan jalan yang sama, bahkan ada yang masih dipakai sebagai kantor tapi lihatlah kondisinya, hancur, kumuh dan berkesan kumal tak terurus. Sebagian lagi sudah berpindah ke tangan penduduk umum dan bangunan aslinya sudah dirombak total! Lagi-lagi saya cuma bisa terpana dan terpaku melihat kondisi yang sangat memprihatinkan ini.

Dan sekali lagi lihatlah dengan baik! Jadi bingung juga, apakah ini bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya? Entahlah. Yang jelas saat ini kota Medanku sedang berbenah menjadi kota yang metropolis, namun sayangnya mengorbankan asset bersejarah terutama bangunan tuanya, seolah semua memang harus tergilas oleh modernisasi. Uang sudah banyak merubah sifat dan hati manusia, barangkali rasanya .

Jadi tertarik untuk mengetahui tentang sejarah kawasan Kesawan tempo dulu, atau juga sejarah kota Medan itu sendiri. Nah, bagaimana dengan para pembaca sekalian, apakah ada yang mempunyai informasinya?

Silahkan berbagi komentar di sini. Sumatera Utara akan maju kalau kita lebih peduli dengan apa yang kita punyai.

KESAWAN RIWATMOE DOELOE

650.000 Bibit Pohon akan Ditanam di Samosir, Tobasa, Taput, Humbahas, Dairi, Karo dan Simalungun

September 14, 2008 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata

Media Online Bersama Toba dot ComKepala BPDAS atau Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Asahan Barumun Ir Hotmauli Br Sianturi MSc di kantornya di Jalan Yiyata Yudha Pematangsiantar, baru-baru ini mengatakan, daerah-daerah tangkapan air Danau Toba yaitu Pulau Samosir, Tobasa, Taput, Humbang Hasundutan, Dairi, Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun dianggap sangat kritis lingkungannya dan karenanya sangat perlu dilakukan program penghijauan. (more…)

Oh, Pulo Samosir

September 4, 2008 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata

Perjalanan ke Pulo Samosir via Tele, selain membutuhkan kehati-hatian yang cukup ekstra, juga harus memastikan kondisi kenderaan yang ditumpangi. Tikungan menurun tajam dengan batuan besar di sisi kiri jalan dan lembah curam di sebelah kanan. Godaan untuk menikmati pemandangan yang memang sangat menarik, bisa berakibat buruk bagi keselamatan perjalanan.  Cara terbaik, berhenti saja di Tele Tower, nikmati pemandangan, setelah puas, lanjutkan perjalanan.

Lekukan jalan menuju Pulau Samosir via Tele, di kejauhan tampak Pusuk Buhit yang diyakini
sebagai asal muasal Batak.

Mau puas memandang Pulau Samosir, Pusuk Buhit dan Danau Toba, naik aja ke Tele Tower.
Sebelum pulang jangan lupa bayar retribusi Seribu rupiah per orang.

Tano Ponggol, sungai buatan yang memisahkan Pulau Sumatera dengan Pulau
Samosir, sehingga Samosir sah menjadi sebuah pulau.

Hamparan persawahan dengan latarbelakang Hot Spring, serta Air Terjun yang hanya mengalir
ketika hujan.

Kampung Ladang

August 31, 2008 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata

Suasana hiruk pikuk kota Medan, menjadi salah satu alasan dibuatnya Kampung Ladang.

Karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari pusat kota Medan.

Kampung Ladang menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang dapat dijadikan referensi keluarga atau perusahaan. Dengan banyak fasilitas dari mulai Flying Fox, Rope, Sampan hingga karaoke …

Batu Cinta di Situ Patenggang

August 20, 2008 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata

Seminggu mengikuti training kepalaku hampir botak, lumayan ribet ternyata..hehe. Nah supaya ga makin botak aku berencana liburan ke Bandung bareng si Dia, kebetulan ada tiga hari libur. untuk me-refresh otak ini yang udah penat mikirin kehidupan di jakarta yang sumpek ini.. hihi.

Kebun TehHari pertama aku masih di Bandung.. keliling2 kota Bandung menikmati cewe situasi kota bandung yg sudah mulai kurang kenyamanannya.. nah yg menarik untuk diceritakan adalah hari ke dua . Hari ke dua me and my friends (ceileh.. penggunaan katanya..) pergi ke Situ Patenggang, situ Patenggang berada 50 km dari Bandung, 1600 m di atas permukaan laut dan terletak di kaki gunung Patuha. Dari Bandung aku naek bus ke Ciwidey, memakan waktu sekitar dua jam perjalanan + macet. Sampe di terminal ciwidey naek angkot lagi menuju ke Situ Patenggang, diperjalanan dari arah Ciwidey para penduduknya bertani strawbery, katanya seh hasilnya udah sampe diekspor gitu.

Perjalanan ke Situ Patenggang melewati tempat wisata Kawah Putih dan hamparan hijau perkebunan teh,  baru seumur-umur aku liat perkebunan teh loh.. disepanjang jalan terlihat hamparan hijau asri banget.. jabar-situpatt-hantulautmantaappp…, beda kayak di jakarta, yg ada cuma hamparan hitam pencemaran udara.. huekss.. Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan + macet akhirnya me and my frends sampe di Situ Patenggang. Apa seh emangnya yg ada di Situ Patenggang ben? di TKP terdapat danau/waduk patenggang seluas 150 ha yg dikelilingi perbukitan dan perkebunan teh.. suasananya sejuk dan udaranya belum tercemar.. Nah yang menarik adalah di seberang danau ini terdapat situs bersejarah yang bernama “Batu Cinta“, me and my frends harus naik perahu ke seberang danau untuk sampai ke Batu Cinta. Nah menurut mitos masyarakat setempat setiap orang yang membawa pasangannya ke Batu Cinta hubungannya pasti langgeng.. hehe.. momen bersejarah ini dimamfaatin si ruben untuk berpoto bareng si Dia di Batu cinta.

Batu ini memiliki mitos juga loh.. menurut masyarakat patenggang dulunya ada sepasang kekasih bernama batucintaKi santang putranya Siliwangi dan Dewi Rengganis. Mereka berpisah karena terjadi perang pada saat itu. Karena asmaranya begitu dalam akhirnya mereka dipertemukan kembali di suatu tempat yang sampai saat ini bernama “Batu Cinta”, batu inilah yang menjadi saksi bisu dipertemukannya cinta mereka kembali.  (cuit..cuitt… so romantic).  So cepet-cepet ajak kekasih anda ke Situ Patenggang biar langgeng tuh hubungan… hihihi..

Jika kamu menyukai artikel ini, silahkan beri donasi :)

« Halaman SebelumnyaHalaman Selanjutnya »