Nikmatnya Bubur Pedas di Bulan Ramadhan
July 26, 2012 oleh dinneno
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Masyarat Melayu di Sumatera Utara bisa dipastikan tidak asing lagi dengan sebutan bubur pedas. Sajian panganan dengan bahan rempah-rempah ditambah beras dan lainnya, selalu akrab ketika bulan Ramadhan. Khusus selama bulan puasa, bubur pedas ini dapat dinikmati secara cuma-cuma oleh masyarakat sebagai hidangan khas ketika berbuka puasa.
Menurut sejarahnya, tradisi warisan berbuka puasa dengan bubur pedas ini telah ada sejak masa Kesultanan Deli pertama kali tahun 1909. Saat itu Tanah Deli dipimpin Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah. Dan warisan budaya tersebut terus berlangsung sampai saat ini, ketika umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1433 H tahun ini.
Banyak sekali cerita yang muncul dari kebiasaan menikmati masakan khas Melayu yang memang cukup lezat dan hangat bagi tubuh ini. Ada yang menikmatinya karena memang gemar, ada yang karena penasaran dan ada yang menjadikannya sebagai kebiasaan. Tapi ada yang paling menarik dari kebiasaan itu, yaitu masyarakat yang menikmatinya melintasi batas suku dan ras.
Artinya bubur pedas ini tidak hanya diminati dan dinikmati oleh masyarakat Melayu saja, tapi berbagai macam suku yang ada di Sumut menjadikannya sebagai makanan yang sulit dilewatkan ketika bulan Ramadhan.
Bubur yang rasanya pedas itu dibuat dengan bermacam jenis rempah. Namun, kini bumbu untuk bubur tidak selengkap dahulu karena beberapa bumbu sudah sulit ditemui. Seiring dengan waktu, sajian itu berubah menjadi bubur sop karena sulitnya mendapatkan bahan dasar resep bubur pedas, warisan Tuanku Sultan Makmum Al Rasyid Perkasa Alam Syah.
Untuk memasaknya, menggunakan kayu bakar. Karena dengan kayu bakar, rasa akan lebih enak jika dibandingkan dengan menggunakan kompor atau gas. Walaupun dengan kayu bakar, memasaknya pun tidak terlalu lama. Hanya memakan waktu 3 sampai 4 jam. Mulainya sesudah Shalat Zuhur dan siap setelah Salat Ashar.
Porsi bubur pedas ini, dibagikan ke masyarakat sekitar dan musafir yang berbuka puasa di Masjid Raya. Dengan cara membagikan bubur pedas kepada masyarakat di sekitar Masjid Raya dan Istana Maimoon yang letaknya berjarak 200 meter. Sebagian ada yang dibawa pulang, dan sebagian untuk berbuka puasa di masjid.
Karena telah dinikmati begitu lama oleh masyarakat ketika bulan puasa, keberadaan bubur pedas menjadi ikon yang tidak mungkin dipisahkan lagi dengan Masjid Raya.
Karena itu, perhatian pemerintah untuk mempertahankan tradisi ini di Masjid Raya harus menjadi hal penting yang harus tetap dapat dilaksanakan
Bukankan keberadaan bubur pedas telah melampui batas suku maupun ras masyarakat Sumut yang terkenal pluralitas, juga telah merentas batas kehidupan, sebab dia disukai oleh semua kalangan.
Oleh karena itu, perhatian pemerintah terutama Pemko Medan agar tradisi leluhur ini terus berjalan, harus menjadi prioritas yang harus dipertahankan. Hal ini disampaikan mengingat sajiannya tak pernah lekang setiap zaman. (dari berbagai sumber)
Tari Tor-Tor, Tarian Adat Batak Sumatera Utara
June 20, 2012 oleh dinneno
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Tarian Tor-tor khas suku Batak, Sumatera Utara. Tarian yang gerakannya se-irama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, dan terompet batak.
Tari tor-tor dulunya digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh, dimana roh tersebut dipanggil dan “masuk” ke patung-patung batu (merupakan simbol dari leluhur), lalu patung tersebut tersebut bergerak seperti menari akan tetapi gerakannya kaku. Gerakan tersebut meliputi gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

Tari Tor-Tor (Credit to bikyamasr.com)
Jenis tari tor-tor pun beragam, ada yang dinamakan tor-tor Pangurason (tari pembersihan). Tari tor-tor Pangurason biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu dibersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut.
Ada juga tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tor-tor Sipitu Cawan ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja, menurut legenda tari berasal dari 7 putri kayangan yang mandi disebuah telaga di puncak Gunung Pusuk Buhit.
Kemudian ada tor-tor Tunggal Panaluan merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah, maka tanggal ditarikan tari tor-tor, akan ditentukan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal penaggalan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah dan Benua bawah. Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor tor biasanya hanya digunakan untuk menyambut turis.
Dalam perkembangannya tarian tor-tor ada dalam berbagai acara adat Batak, maknanya disesuaikan dengan tema acara adat yang sedang dilakukan. Dan untuk lebih memeriahkan tari tor-tor, sebagian penonton memberikan saweran kepada penari tor-tor yang diselipkan di tangan penari tor-tor dan sang pemberi saweran melakukannya sambil menari tor-tor juga.
Sumber : Bebagai Sumber
Opera Batak: Raja Sisingamangaraja XII
June 19, 2012 oleh Nich
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Sebelumya sudah disajikan 4 tulisan tentang Pertempuran Bahal Batu. Dan tulisan tersebut adalah sebagai penghantar bagi kita semua untuk menyambut pementasan Opera Batak Pahlawan Nasional: Raja Sisingamangaraja XII.
MC : Nai Malvinas
Bintang Tamu: ONCE (ex Group Band DEWA 19)
Sutradara: Sultan Saragih
Advisor: Nano Riantiarno & Ratna Riantiarno.
Info, Ticket & Schedule
Opera Batak Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII
Venue:
Teater Jakarta, TIM (Taman Ismail Marzuki)
Jl. Cikini Raya No. 73
Tanggal Pementasan:
6 Juli 2012 (Jum’at), Jam 19.00 WIB
7 Juli 2012 (SABTU), Jam 19.00 WIB
Tiket:
VVIP Rp 1.200.000
VIP Rp 900.000
Gold Rp 500.000
Silver Rp. 200.000
Contact Person:
Cornel Ginting
(081808582374)
email/YM: cornelius_ginting@yahoo.co.id
Gtalk: cornelginting@gmail.com
Alber Manurung
(081318219897)
email: alber.manurung@yahoo.com
Lorryan Sitanggang
(081355949232/081513195234)
email: lorryan.sitanggang@yahoo.com
ATAU Pesan di:
Jl. Batu Amantis No.4 RT/RW 008/010
Kel. Kayu Putih, JAKARTA – TIMUR 13210
TLP. 021-4894971
Sinopsis:
Latar belakang menggambarkan perkampungan Bakkara, terlihat dinding tebing Bakkara dan Danau Toba.
Dung mulak ahu sian partontangan di Butar, sai jonok ma di simalolonghu mudar na mabaor songon batang aek disi
Demikianlah petikan kegelisahan Raja Sisingamangaraja XII kepada Parsonduk Bolon sambil menantikan berita-berita peperangan dari Patuan Nagari, Raja Sijorat, Patuan Anggi dan utusan-utusan lainnya.Pertempuran telah terjadi di Butar – Silangkitang, Bahal Batu, bahkan pasukan Belanda semakin bertambah jumlahnya mendesak hingga ke Huta Ginjang. Pasukan meriam Belanda di bawah Kapten Hans Christoffel, yang menggantikan Letnan Spandow berhasil menghancurkan Huta Gurgur dan kini telah menjejakkan kaki di wilayah Balige.
Raja Sisingamangaraja XII memanggil Raja Bius dan Datu Salenggam Banua untuk mengadakan ritual, memanjatkan doa, memohon kekuatan dan petunjuk kepada Ompung Debata Mulajadi Na Bolon sebab Bakkara tidak lagi dapat dipertahankan. Raja Sisingamangaraja XII mengatur siasat, dengan memulai strategi perlawanan baru, perang gerilya.
Satu kelompok pasukan dari Bakkara menuju Pangururan (marluga, membawa sampan), menuju Hariara Pintu, sebagian lagi mengambil langkah memasuki Sigaol, Pasir Babana, hingga Onan Balige, lalu pasukan berikutnya menyisir ke Tarabunga, Dolok Tolong hingga Aek Sihail hail, Aek Bolon (kelak terdesak hingga perjalanan ke Aek Sibulbulon, hutan Si Onom Hudon, Pak Pak)
Opung So Mahap Doli dan Opung So Mahap Boru, dua pengkhianat yang sering memberikan informasi kepada Raja Pangalintas, yang bekerja sama dengan pasukan Belanda bersembunyi di Hutan. Perasaan mereka selalu ketakuan dan was-was sebab telah lama dicari-cari oleh pejuang setia Raja Sisingamangaraja XII, Opung Jumorlang dan Sarbut Mataniari. Namun, nasib tak dapat dihindari, mereka berhasil ditemukan.
“Molo babi dieme, sitongka pasombuon. Molo jolma parjehe (pengkhianat), na ingkon do bunuon” tegas Sarbut Mataniari. Opung So Mahap Doli meminta belas kasihan namun permohonan diabaikan, pengkhianat tetaplah pengkhianat.
Pada saat yang lain, di Kantor Kompeni, Balige, Kapten Hans Christoper memerintahkan kepada Raja Pangalintas dan Angin (keduanya pengkhianat yang mendapat kekayaan berlimpah dari Belanda) untuk membujuk para tawanan agar memberitahukan keberadaan Raja Sisingamangaraja XII. Tawanan yang tak pernah berhasil dibujuk antara lain, Raja Sijorat, Opung Jumorlang, Sarbut Mataniari, Raja Bius. Sedangkan, Jehe takluk di atas todongan senapan.
Sementara itu, pasukan Raja Sisingamaraja XII terus terdesak dalam gerilya dan pengungsian hingga ke Aek Sibulbulon, hutan Si Onom Hudon, Pak Pak. Serbuan Belanda terus-menerus menggempur kampung demi kampung. Kompeni Belanda menyisir hutan dengan mendatangkan Hamisi, seorang marsose asal Ambon yang memiliki keahlian khusus melacak jejak. Dalam rombongan pengungsian, tanpa sengaja Boru Lopian meninggalkan pakaian yang menjadi petunjuk awal keberadaan Raja Sisimangaraja XII. Kapten Hans Christoffel segera melakukan siasat pengepungan. Tragedi besar penangkapan Raja Batak selesai dengan pengepungan hutan dan menghujamnya peluru Hamisi ke tubuh Raja Sisimangaraja XII. Patuan Nagari dan Patuan Anggi ikut gugur dalam pertempuran tersebut. Setelah memeluk puteri kesayangannya, Si Boru Lopian.
Perjuangan berakhir ditandai dengan satu ucapan lantang di tengah tengah pasukan Belanda , “Ahu Sisimangaraja”. Aku tak kan gentar atau lari dari jalan hidupku, membebaskan Tanah Batak dari cengkeraman kekuasaan dan perbudakan kompeni Belanda.
Trailer:
Pertempuran Bahal Batu (bagian 4)
June 16, 2012 oleh Nich
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Berikut saya kutipkan tulisan dari Dion P Sihotang (Panitia Pementasan Opera Batak Sisingamangaraja XII) yang kiranya bisa memperkaya wawasan dan pemahaman kita tentang Sisingamangaraja XII dan kiprahnya dalam melawan “si bontar mata”. Semoga bermanfaat.
Bagian 4 dari 4 Tulisan
Akhir Pertempuran
Setelah berhasil menerobos dan membakar benteng pertahanan Belanda di Bahal Batu, pasukan Batak di bawah pimpinan Sisingamangaraja XII kemudian mundur dari daerah Bahal Batu. Untuk menjamin keamanan dan keselamatan pasukan yang mundur, Sisingamangaraja XII menerapkan taktik atau siasat yaitu menyiapkan pasukan berkuda, untuk melindungi pasukan yang sedang mundur, dengan cara menembaki pasukan Belanda jika pasukan Belanda mengadakan pengejaran.
Pasukan Sisingamangaraja XII kemudian meninggalkan benteng pertahanan Belanda yang terbakar. Pertempuran yang dimulai pukul empat pagi tersebut berlangsung sekitar tujuh jam. Pertempuran di Bahal Batu adalah permulaan dari perang di Tanah Batak yang berlangsung kurang lebih selama tiga puluh tahun. Kerugian yang dialami oleh Belanda cukup besar ditambah lagi dengan terbakarnya benteng pertahanan di Bahal Batu beserta gudang perbekalannya.
Akibat kekalahan pasukan Belanda dalam mempertahankan bentengnya ini segera dilaporkan oleh markas militer Belanda yang ada di Tarutung ke Sibolga. Residen Boyle yang mendengar laporan ini sangat kaget dan segera memerintahkan untuk mengadakan suatu rapat kilat. Para komandan dan perwira-perwira Belanda beserta beberapa kontrolir dari Padang segera diperintahkan untuk secepatnya datang ke Sibolga untuk membicarakan masalah kekalahan pasukan Belanda dalam mempertahankan bentengnya di Bahal Batu dan menentukan rencana selanjutnya yang akan dilakukan Belanda.
Pertempuran Bahal Batu (bagian 3)
June 16, 2012 oleh Nich
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Berikut saya kutipkan tulisan dari Dion P Sihotang (Panitia Pementasan Opera Batak Sisingamangaraja XII) yang kiranya bisa memperkaya wawasan dan pemahaman kita tentang Sisingamangaraja XII dan kiprahnya dalam melawan “si bontar mata”. Semoga bermanfaat.
Bagian 3 dari 4 Tulisan
Pertempuran di Benteng Bahal Batu
Pada Februari 1878 di Markas Besar tentara Batak di Balige, direncanakan suatu penyerangan terhadap benteng pertahanan tentara Belanda yang berpusat di Bahal Batu. Pertemuan tersebut diberi nama “Martahi Porang” (Rapat Perang) yang dipimpin langsung oleh Sisingamangaraja XII. Rapat ini dihadiri juga oleh panglima-panglima perang dari daerah sekitar Danau Toba seperti Mulia Hasibuan, Ompu Tinggi, Ronggabosi dari Laguboti, Panorsa Napitupulu, Ompu BP Tampubolon, R. Siahaan, Manase Manullang, dan panglima dari daerah Humbang.
Beberapa hari sebelumnya, Sisingamangaraja XII telah memberikan perintah dari Bakkara kepada panglima pasukan Balige, yakni Panorsa, untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendukung rapat. Ia sendiri telah berada di suatu tempat dekat Balige, sehari sebelum rapat itu dimulai. Untuk keamanan Sisingamangaraja XII, tempat raja sebelum dan selama masa rapat selalu dirahasiakan. Rapat tersebut memutuskan:
- Tiga panglima pemimpin tiga pasukan lengkap.
- Hari H penyerangan dini hari untuk menghancurkan/merebut benteng Bahal Batu.
- Raja akan turut serta dalam penyerangan.
Untuk menyerang Benteng Bahal Batu yang telah diduduki oleh tentara Belanda, Sisingamangaraja XII segera menyiapkan pasukannya dengan cara mengumpulkan rakyat dan menyusun kekuatan. Dengan kekuatan 700 orang, Sisingamangaraja XII segera memimpin dan melakukan penyerangan ke pos-pos pertahanan Belanda.
Sisingamangaraja XII memikirkan berbagai cara untuk memenangkan pertempuran. Maka sebelum diadakan penyerangan, pada pagi hari seorang kurir Sisingamangaraja XII diutus ke Bahal Batu. Kurir ini membawa sepotong singkong yang bentuknya dibuat seperti manusia. Singkong tersebut ditancapi dengan beberapa tombak kecil disertai dengan sepucuk surat yang berisi “Pernyataan Perang”, yang ditulis pada tiga potong bambu. Kemudian sepotong kayu bekas dibakar di dekat salah satu potongan surat tersbut. Ini berarti bahwa Sisingamangaraja XII menyatakan perang total kepada Belanda.
Pertempuran Bahal Batu (bagian 2)
May 26, 2012 oleh Nich
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Berikut saya kutipkan tulisan dari Dion P Sihotang (Panitia Pementasan Opera Batak Sisingamangaraja XII) yang kiranya bisa memperkaya wawasan dan pemahaman kita tentang Sisingamangaraja XII dan kiprahnya dalam melawan “si bontar mata”. Semoga bermanfaat.
Bagian 2 dari 4 Tulisan
Timbulnya Ketegangan
Hampir setahun lamanya suasana tegang menyelimuti Tanah Batak. Hal ini terjadi justru pada saat Sisingamangaraja XII naik takhta pada tahun 1876, menggantikan ayahnya. Sisingamangaraja XII menganggap bahwa ekspansi Belanda dengan dalih perluasan atau penyebaran agama Kristen, jelas akan membahayakan Tanah Batak dan menggoyakhkan kedudukannya sebagai pemimpin Tanah Batak yang berpusat di Bakkara, Tapanuli Utara. Seperti lazimnya raja-raja di daerah lainnya, Sisingamangaraja XII pun dipandang oleh masyarakat Batak tidak hanya sebagai seorang pemimpin politik saja, tetapi juga seorang raja yang bersifat “ilahi”, yang memiliki kekuataan kharismatik yang dapat memberi keselamatan, perlindungan, dan kesejahteraan kepada rakyatnya.
Setelah Sisingamangaraja XII naik takhta, ia pun kemudian mengadakan rapat di Bakkara dengan para panglimanya. Ia menyampaikan pidato-pidato keliling daerah dengan tujuan mengajak rakyat untuk menghentikan kegiatan orang-orang Belanda yang merugikan orang Batak. Dalam rapat di Bakkara itu, Sisingamangaraja XII dan para panglimanya membicarkan siasat dan strategi pertempuran yang akan dilakukan sebagai persiapan melawan Belanda. Di antara para panglima itu terdapat pula mantan pejuang Perang Paderi di Sumatra Barat.
Dalam rapat tersebut Sisingamangaraja XII mendengar dan mempertimbangkan saran-saran dan nasihat-nasihat dari panglima mantan pejuang Perang Paderi yang usianya lebih tua dibandingkan Sisingamangaraja XII, karena para panglima tersebut dianggap telah berpengalaman dalam bidang peperangan. Akan tetapi, keputusan terakhir tetap terletak di tangan Sisingamangaraja XII. Jadi seluruh panglima pasukan tersebut harus tunduk dan hormat kepada Sisingamangaraja XII yang sekaligus memegang komando tertinggi atas seluruh pasukan Batak.
Pertempuran Bahal Batu
May 23, 2012 oleh Nich
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Berikut saya kutipkan tulisan dari Dion P Sihotang (Panitia Pementasan Opera Batak Sisingamangaraja XII) yang kiranya bisa memperkaya wawasan dan pemahaman kita tentang Sisingamangaraja XII dan kiprahnya dalam melawan “si bontar mata”. Semoga bermanfaat.
Bagian 1 dari 4 Tulisan
Latar Belakang
Setelah berakhir Perang Paderi di Sumatera Barat, Belanda mulai menanamkan kekuasaannya di bagian selatan dan bagian utara Tanah Batak. Mereka menempatkan tentaranya di Balige, Silindung, Tarutung, Sipoholon, dan tempat-tempat lainnya.
Dalam upaya menguasai Tanah Batak, sebelumnya pemerintah Hindia Belanda mengirimkan orang-orangnya untuk mengadakan penelitian atau penyelidikan mengenai situasi di daerah pedalaman Batak. Dari hasil penyelidikian ini diketahui bahwa perkembangan agama Kristen di daerah pedalaman Batak ini dianggap cukup menguntungkan bagi kepentingan Belanda. Sejak tahun 1860 misi agama Kristen mulai banyak masuk ke daerah Toba dan daerah Silindung. Pos-pos zending juga mulai banyak didirikan di daerah-daerah tersebut.
Belanda juga mulai mengadakan ekspansi militer yaitu dengan menempatkan Boyle sebagai Residen Sibolga. Ia adalah bekas perwira intelijen danri Singkel yang telah berpengalaman di dalam memberikan informasi militer kepada pihak Belanda, terutama dalam perang Aceh.
Sisingamangarja XII yang lahir di Bakkara, Tapanuli Utara, pada tahun 1849 dan menggantikan ayahnya sebagai raja pada tahun 1876, tidak rela melihat daerah kekuasaannya diduduki Belanda. Sebelum menjadi raja ia pernah belajar soal-soal kemiliteran di Aceh. Ayahnya, Sisingamangaraja XI, pernah mengadakan perjanjian kerja sama dengan Kerajaan Aceh untuk mengahdapi ancaman dari Belanda.
Perjanjian kerja sama itu terjalin dengan sangat eratnya, sehingga ktetika pada tahun 1873 daerah Aceh diserang Belanda, Sisingamangaraja XI mengirimkan pasukannya ke Aceh di bawah pimpinan Said Muhamad dan Wilhem Daud. Pada waktu Sisingamangaraja XI wafat, ada kabar bahwa agama Kristen akan dibasmi oleh penggantinya, yaitu Sisingamangaraja XII. Anggapan ini muncul karena Sisingamangaraja XII sebelum menjadi penguasa di Tanah Batak pernah belajar agama Islam di Aceh, sehingga ada anggapan bahwa ia akan bekerja sama dengan ulama-ulama Aceh untuk membasmi agama Kristen di Tanah Batak. Tentu saja kabar berita ini sengaja disebarkan oleh Residen Boyle di Sibolga, dengan maksud untuk menarik simpati dari kepala-kepala huta (kampung), yang telah beragama Kristen agar mereka bersimpati kepada orang-orang Belanda. Bila mereka bersimpati karena adanya berita-berita tersebut, secara otomatis para kepala huta atau kampung yang telah memeluk agama Kristen akan dengan mudah dihasut melawan Sisingamangaraja XII.
Situasi seperti ini menyebabkan suasana terasa panas. Curiga-mencurigai rimbul di antara sesama pemuka masyarakat. Hal ini dilihat oleh orang-orang Belanda sebagai suatu keadaan yang sangat menguntungkan dan tentu akan mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Orang-orang Belanda mengatakan bila orang-orang Batak yang beragama Kristen diserang oleh pasukan Sisingamangaraja XII, Belanda tidak akan tinggal diam. Dengan pernyataan itu seolah-olah Belanda berperan menjadi pelindung dan pembela agama Kristen, padahal ini hanyalah taktik atau siasat divide et impera untuk memecah belah rakyat Tanah Batak.
Guna melaksanakan hal tersebut, Belanda menghendaki agar daera yang bersangkutan terlebih dahulu dinyatakan sebagai daerah yang dilindungi oleh Belanda. Dengan siasat seperti ini, secara halus daerah tersebut telah menjadi kekuasaan Belanda. Bagi orang-orang Kristen sendiri hal tersebut sangat menguntungkan sebab maksudnya adalah untuk dilindungi dan mempertahankan agama Kristen yang telah lama mereka anut dengan setia dari rongrongan dan ancaman orang-orang Aceh yang fanatik.
Pada tahun 1876 pemerintah Belanda di Sibolga mengumumkan bahwa daerah Silindung dan daerah sekitarnya termasuk daerah kekuasaan Belanda. Dengan demikian, daerah tersebut harus mematuhi peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Belanda.
Bersambung ke Tulisan Bagian Kedua.






