<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blogger SUMUT &#187; Sejarah dan Budaya</title>
	<atom:link href="http://bloggersumut.net/category/sejarah-budaya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bloggersumut.net</link>
	<description>Menduniakan Sumatera Utara</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 07:35:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nddikar, seni silat dan tari Suku Karo</title>
		<link>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/nddikar-seni-silat-dan-tari-suku-karo</link>
		<comments>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/nddikar-seni-silat-dan-tari-suku-karo#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 04:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anantapolitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Karo]]></category>
		<category><![CDATA[ndikkar]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>
		<category><![CDATA[sora sirulo]]></category>
		<category><![CDATA[yakinsyah brahmana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloggersumut.net/?p=3704</guid>
		<description><![CDATA[&#8212; &#8220;Pengabaian mereduksi orang lain menjadi sesuatu yang tidak nyata.&#8221; &#124; Elie Wiesel. Adalah kantor redaksi Sora Sirulo yang menjadi tempat bercengkerama sekaligus &#8220;mencicip&#8221; latihan dasar pencak silat khas Karo, pada Jumat (29/7) lalu. Walau yang hadir bisa dihitung dengan jari, setidaknya kami semua memiliki pendapat yang sama mengenai seni bela diri tradisionil (dalam bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8212; &#8220;Pengabaian mereduksi orang lain menjadi sesuatu yang tidak nyata.&#8221; | Elie Wiesel.</em></p>
<p>Adalah kantor redaksi Sora Sirulo yang menjadi tempat bercengkerama sekaligus &#8220;mencicip&#8221; latihan dasar pencak silat khas Karo, pada Jumat (29/7) lalu. Walau yang hadir bisa dihitung dengan jari, setidaknya kami semua memiliki pendapat yang sama mengenai seni bela diri tradisionil (dalam bahasa Karo disebut <strong>Ndikkar</strong>). Prihatin. Yakni, mulai pupusnya identitas yang menunjukkan kami sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan nilai Timur.</p>
<p>&#8220;Saya lebih senang melatih Ndikkar<span style="color: #800000;">*</span> untuk sedikit orang, dengan niat yang sungguh-sungguh belajar,&#8221; ujar bang Yakinsyah Brahmana (47 tahun). Dalam lintas bincang kami, sempat saya mengutip bahwa dirinya adalah salah satu dari dua orang yang menguasai seni Ndikkar, tak hanya sebagai bela diri namun juga digunakan dalam tarian tradisional.</p>
<p>Maka, kantor redaksi ini pun disulap sementara jadi dojo mini. Kami lalu dibimbing mulai dari cara mengikat sarung (menjadi semacam sabuk) dan memasang bulang (kain penutup kepala), hingga gerak dasar Rampung Belo<span style="color: #800000;">**</span> dan Tare-tare Bintang.</p>
<div id="attachment_3705" class="wp-caption alignleft" style="width: 247px"><a rel="attachment wp-att-3705" href="http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/nddikar-seni-silat-dan-tari-suku-karo/attachment/yakinsyah-brahmana"><img class="size-medium wp-image-3705 " src="http://bloggersumut.net/wp-content/uploads/2011/08/yakinsyah-brahmana-237x300.jpg" alt="" width="237" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">yakinsyah brahmana</p></div>
<p>Dalam seni beladirinya, Ndikkar digunakan untuk menyambut serangan lawan. Dijelaskan bang Yakinsyah, teknik yang dijunjung Pandikkar, atau mereka yang menguasai Ndikkar, ialah menjatuhkan lawan dengan menggandakan daya tolak lawan dengan tenaga dari Pandikkar sendiri. &#8220;Kita tidak menyerang lawan, tetapi memanfaatkan setiap celah untuk menjatuhkannya,&#8221; imbuh abang yang juga dikenal dengan nama Kawar ini<span style="color: #800000;">***</span>.</p>
<p>Keluwesan gerak tangan dalam Ndikkar sepintas mirip dengan tari piring dari Padang, Sumatera Barat. Karenanya, dalam latihan perdana ini bang Yakinsyah meminta kami menggunakan piring kecil. Menjaga keseimbangan piring saat digerakkan memutar dari pinggang hingga ke atas kepala adalah agar terbiasa bila menerapkan Ndikkar secara tangan kosong, katanya.</p>
<p>“Sebenarnya ada 48 jurus mayan,&#8221; kata bang Yakinsyah. Dia melanjutkan, para muridnya di Belanda telah mempelajari jurus pertahanen, langkah 2, langkah 7, tare-tare bintang, jile-jile sarudung, pertahanen harimau, pertahanen pedi, dan sebagainya. “Setidaknya para siswa sudah dapat buang lepas<span style="color: #800000;">****</span>.&#8221;</p>
<p>Dia juga mengatakan, di masa perjuangan melawan penjajah, para Pandikkar biasa mengirim sandi-sandi khusus melalui gerakan yang sudah saling dimahfumi sesama mereka. Jika dibandingkan, mungkin mirip dengan sandi bendera Pramuka saat ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ndikkar, &#8216;harimau&#8217; yang tertatih</strong></p>
<p>Kembali pada bincang-bincang mengenai keprihatinan kami atas Ndikkar ini, bang Yakinsyah juga mengakui bahwa minat pemuda Karo untuk mempelajari Ndikkar kian tergerus seiring zaman. Laiknya harimau yang tertatih, generasi muda Karo yang mestinya menopang keharuman Ndikkar cenderung mengabaikan harta budaya dan seni tradisional ini.</p>
<p>Sikap berbeda malah ditunjukkan generasi muda dari Negara Kincir Angin, Belanda. “Setidaknya lebih dari 200 orang telah belajar ndikkar Karo disini, oleh sebab itu suatu saat bisa saja pandikkar-pandikkar akan datang dari Belanda ini dan kita akan belajar dari mereka,” kata bang Yakinsyah.</p>
<p>Bang Yakinsyah mengajar Ndikkar di sebuah sekolah Kristen Oikumene di Groningen Belanda, yaitu Dom Helder Camara, Oecumunes Bassies Schooler, Noord Netherlands. Para siswa SD di sekolah tersebut merasa bangga dapat mempelajari dan mempraktekkan Ndikkar tersebut.</p>
<p>Bang Yakinsyah sendiri banyak belajar gerakan-gerakan mayan dari  beberapa guru mayan Karo sejak tahun 1981 hingga tahun 1992, ketika dia masih berprofesi sebagai tourist guide di Berastagi dan Sungai Alas. Beliau belajar dari beberapa guru, seperti Seter Sembiring (Lau Baleng), Pa Kuling-Kuling atau Menet Ginting (Lau Cimba), Pa Johan Barus (Pendekar Buntu), Belat Tarigan (Kaban), Tagok Peranginangin (Lau Buluh), dan berbagai informasi dari Ginting Capah (Sibolangit) dan Tukang Ginting (Berastagi).</p>
<p>Menurutnya, sikap enggan untuk membagikan pengetahuan Ndikkar adalah akar dari fenomena hilangnya seni beladiri ini di buminya sendiri. &#8220;Banyak dari kita yang hanya mengajarkan 7 jurus, padahal dia tahu 10 jurus. Ini amat berbeda dari masyarakat Eropa yang terus berupaya mengimprovisasi 10 jurus tadi menjadi lebih banyak.&#8221;</p>
<p>Bang Yakinsyah pun tak sungkan mudik, guna menerima undangan Sora Sirulo, untuk memberi pelatihan Ndikkar bagi sejumlah kaum muda yang berminat mempelajarinya. Selain di Medan, dia juga memberi bimbingan serupa di Desa Limang, Kabupaten Tanah Karo.</p>
<p>&#8220;Sekarang ini, saya beri latihan dasar dulu. Namun, saya yakin kita bisa belajar hingga konsep gerak tariannya,&#8221; tuturnya kepada kami, pada Minggu (31/7) lalu, yang menyusut pesertanya dari 8 orang hingga 3 orang saja.</p>
<p>Meski sedikit, bang Yakinsyah berharap pengetahuan Ndikkar ini tidak terkubur, namun terus disebarkan ke banyak generasi muda dalam negeri sendiri. Sebuah gebrakan yang mengingatkan pada perkataan Presiden Soekarno: <em>&#8220;&#8230; Tetapi betapa pun panjangnya sebuah perjalanan, ia harus dimulai dengan langkah-langkah pertama, dan itu mulai kami lakukan.&#8221;</em></p>
<p>Setidaknya, upaya menjaga sang &#8216;harimau&#8217; tetap mengaum bangga di bumi sendiri: Sumatera Utara, Indonesia.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 372px"><a href="Ndikkar Karo - satu dokumentasi langka"><img class=" " src="http://3.bp.blogspot.com/_v1kIwX3Z2lU/TO6T6oG4yFI/AAAAAAAAAVs/h3zYL7U39SM/s1600/KLV001054653.jpg" alt="Ndikkar Karo - satu dokumentasi langka" width="362" height="400" /></a><p class="wp-caption-text">Ndikkar Karo - satu dokumentasi langka</p></div>
<p><span style="color: #888888;">Catatan:</span></p>
<p>* Dalam satu artikel ringkas yang mengulas Yakinsyah Brahmana, ditulis bahwa Ndikkar juga bisa disebut Mayan.</p>
<p>** Banyak gerakan dari Ndikkar Karo diilhami dari kegiatan sehari-hari. Semisal, gerak Rampung Belo (dialih bahasa menjadi Memotong Pohon Sirih), Saren-saren Tebu (Menyeret batang tebu).</p>
<p>*** Satu artikel yang diterbitkan Wikipedia menuturkan bahwa Ndikkar juga bisa digunakan secara langsung untuk menyerang. Namun, saya tidak mendapat rujukan resmi dan aktif untuk membuktikan pernyataan tersebut.</p>
<p>**** Buang lepas, salah satu teknik dalam Ndikkar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber pustaka: </span></p>
<p>&gt;&gt; http://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Karo</p>
<p>&gt;&gt; http://bit.ly/mUrWfd</p>
<p>&gt;&gt; http://groups.yahoo.com/group/tanahkaro/message/3491</p>
<p>&gt;&gt; <span style="text-decoration: underline;">tautan gambar</span> http://3.bp.blogspot.com/_v1kIwX3Z2lU/TO6T6oG4yFI/AAAAAAAAAVs/h3zYL7U39SM/s1600/KLV001054653.jpg</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #999999;">Sila dilirik beberapa dokumentasi video amatirnya di tautan bawah ini:</span></p>
<p><object width="600" height="475"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/jKz7C07I1Oc?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/jKz7C07I1Oc?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="600" height="475" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><object width="600" height="475"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/bx40iaudEWw?version=3"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/bx40iaudEWw?version=3" type="application/x-shockwave-flash" width="600" height="475" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #999999;">Sejumlah dokumentasi foto juga ada di tautan bawah ini:</span></p>
<p>http://www.flickr.com/photos/36810023@N06</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/nddikar-seni-silat-dan-tari-suku-karo/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumut Lebih Muda dari Kota Medan?</title>
		<link>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/sumut-lebih-muda-dari-kota-medan</link>
		<comments>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/sumut-lebih-muda-dari-kota-medan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 12:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anantapolitan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[April Mop]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[hatta]]></category>
		<category><![CDATA[Keresidenan Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[Siborongborong]]></category>
		<category><![CDATA[soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Wikipedia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloggersumut.net/?p=3590</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, salah seorang staf keredaksian, di tempat saya bekerja, terjingkat kaget membaca kiriman berita dari seorang wartawati. Apa pasal? Teman yang menyunting calon berita ini mengira sedang menjadi korban April mop. Judul berita &#8220;Sumut peringati HUT ke-63&#8220;, dinilainya mengada-ada. &#8220;Beugh, mana mungkin Sumut [Sumatera Utara] usianya masih 63 tahun. Kota Medan saja udah 420 tahun,&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syahdan, salah seorang staf keredaksian, di tempat saya bekerja, terjingkat kaget membaca kiriman berita dari seorang wartawati. Apa pasal? Teman yang menyunting calon berita ini mengira sedang menjadi korban <em>April mop</em>. Judul berita &#8220;<a title="waspada online" href="http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=187910:sumut-peringati-hut-ke-63&amp;catid=14&amp;Itemid=27" target="_blank">Sumut peringati HUT ke-63</a>&#8220;, dinilainya mengada-ada.</p>
<p>&#8220;<em>Beugh</em>, mana mungkin Sumut [Sumatera Utara] usianya masih 63 tahun. Kota Medan saja udah 420 tahun,&#8221; ujar si kawan dengan logat khas.</p>
<p>Saya pun tergelitik untuk mengulik ensiklopedia maya, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Utara" target="_blank">Wikipedia</a>.</p>
<p>Si wartawati ternyata benar, di boks sebelah kanan, di bawah gambar peta, tercantum hari jadi 15 April 1948. Tepat di bawah keterangan hari jadi, menyusul dibubuhi keterangan dasar hukum UU Nomor 10 Tahun 1948, UU Nomor 24 Tahun 1956. Namun, keterangan ini belum memuaskan saya dan teman tersebut untuk &#8216;menggaruk&#8217; gelitikan tadi, lebih jauh.</p>
<p><span id="more-3590"></span></p>
<h3>Balik ke Sejarah</h3>
<p>Ya. Kembali ke pelajaran sejarah, yang sedari bangku Sekolah Dasar (SD) selalu mengulang-ulang bahwa bangsa Indonesia dulunya dijajah oleh Belanda selama 350 tahun, disusul Jepang sekitar 3,5 tahun. Sementara, beberapa buku pelajaran menambahkan bahwa Inggris dan Prancis juga pernah mengisi kursi pemerintahan kolonial diantara periode Belanda dan Jepang. Dengan catatan, meski tidak secara langsung.</p>
<p>Menurut penuturan dalam situs resmi <a title="departemen dalam negeri" href="http://www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/12/sumatera-utara" target="_blank">Departemen Dalam Negeri</a>, pada zaman penjajahan dahulu, Belanda membentuk sebuah pemerintahan yang dinamai Gouvernement Van Sumatera yang meliputi wilayah pemerintahan Sumatera bagian utara. Jika dibandingkan dengan pemerintahan provinsi sekarang, Gouvernement Van Sumatera adalah gabungan dari Aceh hingga Sumatera Selatan.</p>
<p>Provinsi era kolonial ini, di kepalai oleh seorang Gubernur berkedudukan di Medan.</p>
<p>Karena begitu luas, Gouvernement Van Sumatera pun dipecah menjadi 3 sub provinsi, yakni Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli), sub Provinsi Sumatera Tengah dan sub Provinsi Sumatera Selatan.</p>
<p>Sedikit sumber rujukan yang saya peroleh di dunia maya, tidak menuturkan adanya perubahan berarti atas formasi pemerintahan ini hingga beralih hingga kemerdekaan Republik Indonesia.</p>
<h3>Pemekaran</h3>
<p>Ternyata, isu pemekaran daerah bukanlah isu baru. Pemerintahan RI muda di bawah pemerintahan Soekarno dan Mohammad Hatta, menilai wilayah yang termasuk dalam Gouvernement Van Sumatera terlalu luas dan tidak efektif dalam memantau program pembangunan di daerahnya.</p>
<p>Dalam tulisan Muhammad TWH &#8212; seorang wartawan senior pemerhati sejarah di Sumatera Utara &#8212; di <a title="kolom opini" href="http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=187605:hari-jadi-provinsi-sumatera-utara&amp;catid=25:artikel&amp;Itemid=44" target="_blank">kolom opini</a> Waspada, mengatakan dua pasal di UU No. 10 Tahun 1948 menjelaskan wilayah pemekaran tersebut.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Pasal 1 : Sumatera dibagi tiga provinsi masing-masing mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Pasal 2 : Provinsi-provinsi yang disebut dalam pasal 1, ialah Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur dan Keresidenan Tapanuli. Dua Provinsi lainnya yang disebut oleh Undang-undang ini adalah Provinsi Sumatera Tengah dan Provinsi Sumatera Selatan.</p>
<p>Ditambahkan Muhammad TWH, kendati hari jadi Provinsi Sumatera Utara diperhitungkan tanggal 15 April 1948, sesuai dengan hari diundangkan UU No. 8 tahun 1948 namun setahun sebelumnya Sumatera Utara telah &#8220;dimekarkan&#8221; menjadi tiga provinsi atas initiatif Wakil Pemerintah Pusat untuk Sumatera yaitu Mr. Teuku Moehd Hasan.</p>
<p>Nah, kembali pada landasan hukum yang tertera di Wikipedia (di alinea ke-tiga). Pada tahun 1956, Presiden Soekarno kembali memekarkan provinsi Sumatera Utara yang memisahkan Aceh dengan provinsi Sumatera Utara yang sekarang. Kebijakan tersebut tertuang dalam <a title="UU Nomor 24 Tahun 1956" href="http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=1900+56&amp;f=uu24-1956.htm" target="_blank">UU Nomor 24 Tahun 1956</a>, yang turut ditandatangani oleh Menteri Kehakiman, Muljatno dan Menteri Dalam Negeri, Sunarno.</p>
<p>Dari serangkaian penelaahan informasi dunia maya ini, bisa diketahui bahwasanya provinsi Sumatera Utara tidak lebih muda dari kota Medan. Hanya saja, sejarah panjang yang memisahkannya dengan Aceh, hingga disahkan dalam Undang-undang resmi lah yang menentukan bahwa hari jadi atawa ulang tahun provinsi kita tercinta ini menjadi lebih muda. Kasus serupa bisa terjadi, jika Provinsi Tapanuli bisa terwujud pada tahun 2012 dan ibukotanya (kita misalkan saja) Siborongborong, yang tentunya telah disahkan sebelum Provinsi Tapanuli dibentuk.</p>
<p>Terlepas dari kesimpulan di atas, kumpulan informasi dunia maya yang saya rujuk tentu masih dapat dikoreksi kembali dari fakta-fakta lain yang belum terpublikasi di Internet. Semisal, tanggal dan tahun resmi Gouvernement Van Sumatera dicetuskan pemerintahan penjajah Belanda dahulu. Saya tunggu tanggapan dari pembaca dan sahabat sekalian.</p>
<p>Setidaknya, ihwal yang menggelitik kami sudah terjawab, beberapa diantaranya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan tambahan:</span></p>
<p>Ada baiknya, kita juga membaca artikel &#8220;<a title="BloggerSUMUT" href="http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/menelusuri-jejak-sejarah-kota-medan" target="_blank">Menelusuri Jejak Sejarah Kota Medan</a>&#8221; yang tulis anggota Blogger SUMUT dengan nickname <a title="Said Realylife" rel="_blank" href="http://bloggersumut.net/author/realylife">realylife</a>.</p>
<p>Tautan resmi: <a href="http://www.telaah.info/warta/benarkah-sumut-lebih-muda-dari-medan.html">http://www.telaah.info/warta/benarkah-sumut-lebih-muda-dari-medan.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/sumut-lebih-muda-dari-kota-medan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Danau Toba</title>
		<link>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/asal-usul-danau-toba</link>
		<comments>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/asal-usul-danau-toba#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 08:24:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alibaba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Asal Usul Danau Toba]]></category>
		<category><![CDATA[Danau Toba]]></category>
		<category><![CDATA[History of Lake Toba]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Samosir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloggersumut.net/?p=3430</guid>
		<description><![CDATA[Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa. Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Sumatera Utara terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau. Danau itu bernama <a title="Danau Toba di bloggerSUMUT.net" href="http://bloggersumut.net/tag/danau-toba" target="_blank">Danau Toba</a> sedangkan pulau ditengahnya dinamakan <a title="Pulau Samosir di bloggerSUMUT.net" href="http://bloggersumut.net/tag/pulau-samosir" target="_blank">Pulau Samosir</a>. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.</p>
<p>Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.</p>
<p>Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. “Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,” gumam petani.</p>
<p>“Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.</p>
<p>Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. “Dia mungkin bidadari yang turun dari langit,” gumam mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. “Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.</p>
<p>Setahun kemudian, kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.</p>
<p>Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah anak mereka. “Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya. “Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji Puteri kepada suaminya.</p>
<p>Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan!”, umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.</p>
<p>Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.</p>
<p>SUMBER : <a href="http://www.alibaba180678.blogspot.com">ICT WATCH BY= KING ALIBABA</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/asal-usul-danau-toba/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Sembilan Wali / Walisongo (wali9)</title>
		<link>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/sejarah-sembilan-wali-walisongo-wali9</link>
		<comments>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/sejarah-sembilan-wali-walisongo-wali9#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 11:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alibaba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sembilan Wali]]></category>
		<category><![CDATA[wali songo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloggersumut.net/?p=3284</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Walisongo&#8221; berarti sembilan orang wali&#8221; Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid Maulana Malik Ibrahim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8220;Walisongo&#8221; berarti sembilan orang wali&#8221;</strong><br />
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid</p>
<p>Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.</p>
<p>Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.</p>
<p>Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.</p>
<p>Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat &#8220;sembilan wali&#8221; ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.</p>
<p>Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai &#8220;tabib&#8221; bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai &#8220;paus dari Timur&#8221; hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.</p>
<p><strong>Maulana Malik Ibrahim (1)</strong><br />
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi</p>
<p>Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.</p>
<p>Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.</p>
<p>Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.</p>
<p>Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n</p>
<p><strong>Sunan Ampel (2)</strong><br />
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)</p>
<p>Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.</p>
<p>Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.</p>
<p>Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.</p>
<p>Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah &#8220;Mo Limo&#8221; (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk &#8220;tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.&#8221;</p>
<p>Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.n</p>
<p><strong>Sunan Giri (3)</strong><br />
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya&#8211;seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).</p>
<p>Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.</p>
<p>Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah &#8220;giri&#8221;. Maka ia dijuluki Sunan Giri.</p>
<p>Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.</p>
<p>Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.</p>
<p>Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.</p>
<p>Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.</p>
<p>Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n</p>
<p><strong>Sunan Bonang (4)</strong><br />
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban</p>
<p>Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali &#8211;yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.</p>
<p>Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.</p>
<p>Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah</p>
<p>yang berarti &#8220;sapi betina&#8221;. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.</p>
<p>Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.</p>
<p>Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n</p>
<p><strong>Sunan Kalijaga (5)</strong><br />
Dialah &#8220;wali&#8221; yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam</p>
<p>Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.</p>
<p>Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (&#8216;kungkum&#8217;) di sungai (kali) atau &#8220;jaga kali&#8221;. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab &#8220;qadli dzaqa&#8221; yang menunjuk statusnya sebagai &#8220;penghulu suci&#8221; kesultanan.</p>
<p>Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang &#8220;tatal&#8221; (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.</p>
<p>Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung &#8220;sufistik berbasis salaf&#8221; -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.</p>
<p>Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.</p>
<p>Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.</p>
<p>Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede &#8211; Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.n</p>
<p><strong>Sunan Gunung Jati (6)</strong><br />
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra&#8217; Mi&#8217;raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).</p>
<p>Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.</p>
<p>Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.</p>
<p>Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya &#8220;wali songo&#8221; yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.</p>
<p>Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.</p>
<p>Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.</p>
<p>Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n</p>
<p><strong>Sunan Drajat (7)</strong><br />
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M</p>
<p>Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun</p>
<p>Jelog &#8211;pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.</p>
<p>Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.</p>
<p>Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah &#8220;berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang&#8217;.</p>
<p>Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.n</p>
<p><strong>Sunan Kudus (8)</strong><br />
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang</p>
<p>Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali &#8211;yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.</p>
<p>Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.</p>
<p>Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti &#8220;sapi betina&#8221;. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.</p>
<p>Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.</p>
<p>Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n</p>
<p><strong>Sunan Muria (9)</strong><br />
Ia putra Dewi Saroh &#8211;adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus</p>
<p>Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.</p>
<p>Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.</p>
<p>Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/sejarah-sembilan-wali-walisongo-wali9/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>336</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Majapahit</title>
		<link>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/kerajaan-majapahit</link>
		<comments>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/kerajaan-majapahit#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Apr 2009 14:21:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alibaba</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gajah Mada]]></category>
		<category><![CDATA[Hayam Wuruk]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Sumpah Palapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloggersumut.net/?p=3177</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Majapahit Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari. Raja-Raja yang pernah memerintah Kerajaan Majapahit: Raden Wijaya 1273 &#8211; 1309 Jayanegara 1309-1328 Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350 Hayam Wuruk 1350-1389 Wikramawardana 1389-1429 Kertabhumi 1429-1478 Kerajaan Majapahit ini mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Kebesaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kerajaan Majapahit Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari.</p>
<p><strong>Raja-Raja yang pernah memerintah Kerajaan Majapahit</strong><strong>:</strong></p>
<ol>
<li>Raden Wijaya 1273 &#8211; 1309</li>
<li>Jayanegara 1309-1328</li>
<li>Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350</li>
<li>Hayam Wuruk 1350-1389</li>
<li>Wikramawardana 1389-1429</li>
<li>Kertabhumi 1429-1478</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Kerajaan Majapahit ini mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Kebesaran kerajaan ditunjang oleh pertanian sudah teratur, perdagangan lancar dan maju, memiliki armada angkutan laut yang kuat serta dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada.</p>
<p>Di bawah patih Gajah Mada Majapahit banyak menaklukkan daerah lain. Dengan semangat persatuan yang dimilikinya, dan membuatkan S<strong>umpah Palapa</strong> yang berbunyi <strong>&#8220;Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara&#8221;</strong>.</p>
<p>Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama menceritakan tentang zaman gemilang kerajaan di masa Hayam Wuruk dan juga silsilah raja sebelumnya tahun 1364 Gajah Mada meninggal disusun oleh Hayam Wuruk di tahun 1389 dan kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran.</p>
<p><strong>Penyebab kemunduran:</strong><br />
Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan daerah bawahan mulai melepaskan diri.</p>
<p><strong>Peninggalan kerajaan Majapahit:</strong><br />
Bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus<br />
Kitab: Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca, Sitosoma oleh Mpu Tantular yang memuat slogan Bhinneka Tunggal Ika.</p>
<p>Paraton Kidung Sundayana dan Sorandaka R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan Kerajaan Majapahit.</p>
<p>Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto. Dua pohon beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo Soejono dan Gubernur Moehammad Noer.</p>
<p>Di belakang bangunan Pendopo Agung yang memampang foto para Pangdam Brawijaya, terdapat bangunan mungil yang dikelilingi kuburan umum. Bangunan bernama Petilasan Panggung itu diyakini Petilasan Raden Wijaya dan tempat Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa.</p>
<p>Begitu memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini sebagai latarnya, tampak beberapa bebatuan yang dibentuk layaknya kuburan, dinding di sekitar &#8221; kuburan &#8221; itu diselimuti kelambu putih transparan yang mampu menambah kesakralan tempat itu.</p>
<p>Menurut Sajadu ( 53 ) penjaga Petilasan Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. &#8221; Tempat ini dikeramatkan karena dianggap sebagai Asnya Kerajaan Majapahit &#8221; katanya.</p>
<p>Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan malam jumat legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. &#8221; orang berdatangan untuk berdoa, agar tujuannya tercapai &#8221; kata Sajadu yang menyatakan pekerjaan menjaga Petilasan Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya.</p>
<p>Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya.</p>
<p>Kemudian pada 1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau yang dikenal dengan Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan pemugaran kembali oleh Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo.</p>
<p>Memasuki kawasan Petilasan Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat disamping pintu masuk. Sedangkan dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil dengan tulisan &#8221; Lima Pedoman &#8221; yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga.</p>
<p>Selengkapnya &#8221; Ponco Waliko &#8221; itu bertuliskan &#8221; Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora Pareng Ngilik Sing Dudu Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng Eidra Hing Ubaya &#8221;</p>
<p>Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak dinyatakan dibuka lagi, pintu depan tidak lagi tertutup dan siangpun boleh masuk.</p>
<p><strong>MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT</strong><br />
Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Majapahit menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh Asia Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan seorang penguasa yang disebut Raja pula.</p>
<p>Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keruntuhan Majapahit</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tersebutlah kisah, Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih &#8220;kapernah&#8221; kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak mau karena ayahnya dianggap masih kafir.Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Prajurit Islam dikerahkan mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu Brawijaya meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong. Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini masih dibumbui lagi, yaitu setelah Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar &#8220;Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama&#8221;.</p>
<p>Cerita mengenai serbuan tentara Majapahit itu dapat ditemui dalam &#8220;BABAD TANAH JAWI&#8221;. Tapi cerita senada juga terdapat dalam &#8220;Serat Kanda&#8221;. Disebutkan, Adipati Bintara bersama pengikutnya memberontak pada Prabu Brawijaya. Bala tentara Majapahit dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Adipati Terung dan Andayaningrat (Bupati Pengging). Karena takut kepada Syekh Lemah Abang, gurunya, Kebo Kenanga (Putra Bupati Pengging) membelot ikut musuh. Sementara itu Kebo Kanigara saudaranya tetap setia kepada Sang Prabu Brawijaya.</p>
<p>Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam diperlengkapi dengan senjata sakti &#8220;Keris Makripat&#8221; pemberian Sunan Giri yang bisa mengeluarkan hama kumbang dan &#8220;Badhong&#8221; anugerah Sunan Cirebon yang bisa mendatangkan angin ribut. Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota, cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam.</p>
<p>Karena terdesak, Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi Sultan Demak bergelar &#8220;Panembahan Jinbun&#8221;, adipati Bintara mengutus Lembu Peteng dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau tetap menolak. Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali.</p>
<p>Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini populer dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah. Padahal kenyataannya tidak begitu.</p>
<p>Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam demak.</p>
<p>Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya &#8220;Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit&#8221; secara panjang lebar membantah isi cerita itu berdasarkan bukti-bukti sejarah. Dikatakan Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi sumber sejarah yang dapat dipercaya. Sumber sejarah itu antara lain beberapa prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, seperti &#8220;Negara Kertagama dan Pararaton&#8221;. Karena itu tidak mengherankan jika uraiannya tentang Majapahit banyak yang cacat.</p>
<p>&#8220;Prasasti Petak&#8221; dan &#8220;Trailokyapuri&#8221; menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak. Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling.</p>
<p>Saat itu Tuban, Gresik, Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit.</p>
<p>Penggubah Babad Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan Demak pada tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak dijaman pemerintahan Sultan Trenggano 1527. Penyerbuan Sultan Trenggano ini dilakukan karena Kediri mengadakan hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu.</p>
<p>Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit !) diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda, melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu. Lebih jelasnya lagi raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti disebutkan dalam Buku Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana.</p>
<p>Sejarawan Mr. Moh. Yamin dalam bukunya &#8220;Gajah Mada&#8221; juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V raja Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah.<br />
Soalnya Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka.</p>
<p>Penuturan buku &#8220;Dari Panggung Sejarah&#8221; terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya &#8220;Ying Yai Sheng Lan&#8221; menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka. Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah bermukim di pantai utara Jawa.</p>
<p>Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi&#8217;ul Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru.</p>
<p>Salah satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota, adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makam-makam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).</p>
<p>Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati. Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam. Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan, melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.</p>
<p>P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulis makam Troloyo dalam buku JAVA II tahun 1873.<br />
L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri, orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota.<br />
Tampak jelas disini agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi.</p>
<p>Satu situs kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni diDesa dan kecamatan Trowulan adalah Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh) adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391 Masehi).<br />
Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara Islam dimakam panjang (Kubur Dawa). Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari makam Putri Cempa bangsawan Islam itu.</p>
<p>Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan. Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa.</p>
<p>Dikompleks Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur misalnya, berdiri tegak Candi Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban.</p>
<p>Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan Kudus Ja&#8217;far Sodiq menyebarkan ajaran Islam disana, ia melarang umat Islam menyembelih sapi untuk dimakan. Walau daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang menyembelihnya untuk menghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi.</p>
<p>Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu.</p>
<p>ketika kerajaan Majapahit berdiri sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan Raden Wijaya yang bergelar Kertanegara Dharmawangsa, kerajaan ini senantiasa diliputi fenomena pemberontakan.<br />
Pewaris tahta Raden Wijaya, yakni masa pemerintahan Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) dalam memerintah banyak menghadapi pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit dari mereka yang masih setia kepada Kertarajasa.</p>
<p>Pemberontakan pertama sebetulnya sudah dimulai sejak Kertarajasa masih hidup, yaitu oleh Rangga Lawe yang berkedudukan di Tuban, akibat tidak puas karena bukan dia yang menjadi patih Majapahit tetapi Nambi, anak Wiraraja. Tetapi usahanya (1309) dapat digagalkan.</p>
<p>Pemberontakan kedua di tahun 1311 oleh Sora, seorang rakryan di Majapahit, tapi gagal. Lalu yang ketiga dalam tahun 1316, oleh patihnya sendiri yaitu Nambi, dari daerah Lumajang dan benteng di Pajarakan. Ia pun sekeluarga ditumpas.<br />
Pemberontakan selanjutnya oleh Kuti di tahun 1319, dimana Ibukota Majapahit sempat diduduki, sang raja melarikan diri dibawah lindungan penjaga-penjaga istana yang disebut Bhayangkari sebanyak 15 orang dibawah pimpinan Gajah Mada.</p>
<p>Namun dengan bantuan pasukan-pasukan Majapahit yang masih setia, Gajah Mada dengan Bhayangkarinya menggempur Kuti, dan akhirnya Jayanegara dapat melanjutkan pemerintahannya.</p>
<p>Berhenti pemberontakan Kuti, tahun 1331 muncul pemberontakan di Sadeng dan Keta (daerah Besuki). Maka patih Majapahit Pu Naga digantikan patih Daha yaitu Gajah Mada, sehingga pemberontakan dapat ditumpas. Keberhasilan Gajah Mada memadamkan pemberontakan Sadeng membawanya meraih karier diangkat sebagai mahapatih kerajaan.</p>
<p>Namun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389, berkali-kali sang patih Gajah Mada &#8211;yang juga panglima ahli perang di masa itu&#8211; harus menguras energi untuk memadamkan pemberontakan di beberapa daerah. Pemberontakan Ronggolawe sampai serangan kerajaan Dhaha, Kediri.</p>
<p>Bahkan salah satu penyebab kemunduran dan hancurnya kerajaan Majapahit adalah ketika meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan, daerah bawahan mulai melepaskan diri dan berkembangnya Islam di daerah pesisir</p>
<p>Kerajaan Majapahit yang pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan harus runtuh terpecah-pecah setelah kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada.</p>
<p>SUMBER : WWW.KING-ALI.TK</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/kerajaan-majapahit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Sejarah Kota Medan</title>
		<link>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/menelusuri-jejak-sejarah-kota-medan</link>
		<comments>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/menelusuri-jejak-sejarah-kota-medan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 23:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>realylife</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Medan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Utara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloggersumut.net/?p=2900</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu kemarin, saya mencoba berjalan-jalan di seputar kota Medan. Tadinya mau sekalian mencari tempat yang ada wifi-nya dan buka sampai malam. Keliling-keliling naik angkot, saya tiba juga di kawasan Kampung Madras, dulunya lebih dikenal dengan &#8220;Kampung Keling&#8221;. Banyak keunikan yang saya temukan di sana, mulai dari keragaman etnis yang ada, rumah ibadah dan juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Sabtu kemarin, saya mencoba berjalan-jalan di seputar kota Medan. Tadinya mau sekalian mencari tempat yang ada wifi-nya dan buka sampai malam. Keliling-keliling naik angkot, saya tiba juga di kawasan Kampung Madras, dulunya lebih dikenal dengan &#8220;Kampung Keling&#8221;.</p>
<p>Banyak keunikan yang saya temukan di sana, mulai dari keragaman etnis yang ada, rumah ibadah dan juga kulinernya. Semua menunjukkan percampuran budaya. Barangkali tak salah kalau saya mengatakan ini adalah &#8220;truly asia&#8221;-nya Indonesia.</p>
<p>Salah satu yang tak bisa dilupakan atau dipisahkan adalah adanya warga keturunan India di Medan selain etnis keturunan Tionghoa. Hmm, rasanya menarik sekali untuk ditelusuri dan diteliti. Barangkali ini adalah bentuk kecintaan saya terhadap <a title="Lagak dan Langgam Sumatera Utara" href="http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/lagak-dan-langgam-sumatera" target="_blank">Sumatera Utara</a>. Menelusuri jejak sejarah kota Medan, kembali ke masa lalu dan berkaca tentang indahnya kota ini dulu.</p>
<p>Salah satu yang akan saya bahas di sini adalah seorang keturunan India, namanya Pak Krisna Menon. Usianya sekitar 33 tahun. Sehari-harinya Pak Krisna, begitu ia biasa disapa, berjualan gorengan dan makanan seperti nasi goreng, mie goreng dan lain-lain. Warung kecilnya itu terletak di Jalan Zainul Arifin dekat Sun Plaza Medan. Menariknya, Pak Krisna menamakan gorengannya itu gorengan khas India, secara yang berdagang kan biasanya orang Indonesia. Tertarik untuk mencicipi silahkan saja datang ke warungnya itu. Setelah bercerita panjang lebar, akhirnya aku tahu aktifitas lain dari beliau ini, ternyata kegemaran lainnya adalah mengkoleksi uang Indonesia lama yang berbentuk kertas, serta beberapa koleksi barang antik lainnya. Hari minggu kemarin saya dibolehkan melihat, saat dia memamerkan di depan sebuah toko <em>money changer </em>masih di kawasan yang sama. Uniknya dia hanya memamerkan khusus hari minggu dan hari libur, jam 9 pagi sampai jam 7 malam. Alasannya karena belum punya tempat untuk bisa memajang setiap hari.</p>
<p>Ketika ditanya kenapa senang mengkoleksi uang lama ini, beliau ternyata punya cerita unik lainnya. Kala itu ada seorang laki-laki etnis keturunan yang butuh uang untuk makan, dia menjual uang lamanya itu pada pak Krisna, dikarenakan rasa iba akhirnya uang tersebut di beli. Kejadiannya sekitar tahun 2000-an. Nah sejak saat itu beliau mulai tertarik dan mengumpulkan uang kertas lama dari Indonesia. Sampai saat ini sudah ada sekitar 200 an lembar uang lama Indonesia plus beberapa barang antik lainnya; seperti guci, beberapa kerajinan kuningan. Mengenai koleksi, Pak Krisna menyenangi yang bergambar Mantan Presiden kita, Alm. Bapak Soekarno, katanya punya nilai seni yang tinggi. Seperti uang yang terbit sekitar tahun 1964 dengan bacaan <em>kun fa yakun</em>.</p>
<div id="attachment_2911" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bloggersumut.net/wp-content/uploads/2008/12/image853.jpg"><img class="size-medium wp-image-2911" title="Uang Kertas Lama Pecahan 1000" src="http://bloggersumut.net/wp-content/uploads/2008/12/image853-300x225.jpg" alt="Tertera tulisan kunfayakun" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tertera tulisan kunfayakun</p></div>
<p>Nah buat yang tertarik melihat koleksi uangnya silahkan datang ke tempat ia memamerkan di depan <em>money changer</em> Jalan Zainul Arifin. Atau bisa menghubungi beliau di No: 081370666252.</p>
<p>O iya satu lagi beliau bilang ini wujud rasa cintanya pada Indonesia sebagai tanah kelahirannya. Wah, jadi kebanggaan pada negara bisa dalam bentuk apa saja ya. Lantas bagaimana dengan kita sendiri ya?</p>
<p>Nantikan juga di postingan mendatang mengenai penelusuran saya tentang sejarah dan keunikan kota Medan. Kalau ada yang mau <em>sharing </em>atau ikut <em>hunting </em>boleh menghubungi saya di BloggerSUMUT ya.</p>
<p>Dan di bawah ini adalah jejak kaki saya di tempat pak Krisna Menon.</p>
<div id="attachment_2912" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bloggersumut.net/wp-content/uploads/2008/12/image852.jpg"><img class="size-medium wp-image-2912" title="Lapak Jualan Pak Krisna Menon" src="http://bloggersumut.net/wp-content/uploads/2008/12/image852-300x225.jpg" alt="Lapak Jualan Pak Krisna Menon" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Lapak Jualan Pak Krisna Menon</p></div>
<div id="attachment_2913" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://bloggersumut.net/wp-content/uploads/2008/12/image855.jpg"><img class="size-medium wp-image-2913" title="Pak Krisna Menon dengan Koleksinya" src="http://bloggersumut.net/wp-content/uploads/2008/12/image855-300x225.jpg" alt="Pak Krisna Menon dengan Koleksinya" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Pak Krisna Menon dengan Koleksinya</p></div>
<p>( Terima kasih buat Pak Krisna Menon yang sudah bersedia berbagi di sini )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/menelusuri-jejak-sejarah-kota-medan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak dan Langgam Sumatera</title>
		<link>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/lagak-dan-langgam-sumatera</link>
		<comments>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/lagak-dan-langgam-sumatera#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 16:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjaungu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bloggersumut.net/?p=2850</guid>
		<description><![CDATA[Inilah Sumatera. Pulau elok dengan segudang pesona. Ada bahasa yang dituturkan, ada budaya yang jadi adat istiadat. Inilah Sumatera, tempat kami berkumpul menjadi masyarakat. Saya telah berpergian ke banyak pulau: Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Papua. Tapi tak pernah saya temui pesona Pulau Sumatera. Ini bukan sekedar soal keelokan alamnya. Bukan pula soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Inilah Sumatera. Pulau elok dengan segudang pesona. Ada bahasa yang dituturkan, ada budaya yang jadi adat istiadat. Inilah Sumatera, tempat kami berkumpul menjadi masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Saya telah berpergian ke banyak </span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">pulau</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">: Jawa, Bali, </span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sulawesi, Kalimantan, </span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">Nusa Tenggara hingga Papua. Tapi tak pernah saya temui pesona Pulau Sumatera. Ini bukan sekedar soal keelokan alamnya. Bukan pula </span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">soal </span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN">keramah-tamahan penduduknya. Lebih dari itu, Sumatera menawarkan eksotisme yang beda. Terbentang dari ujung timur di Propinsi Lampung hingga ujung barat di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera menawarkan</span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;" lang="IN"> </span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">keberagaman antarbudaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Keberagaman antarbudaya masyarakat Sumatera itu kemudian membentuk beragam corak bahasa dan karakter. Saya melihat, cara orang Sumatera bertutur dan berkomunikasi pun kemudian menjadi istimewa. Etnosentris, prasangka dan streotip kemudian menjadi konsep penting jika kita menelusuri komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sebenarnya istilah antarbudaya pertama kali diperkenalkan oleh Edward T.Hall pada tahun 1959 dalam bukunya <em>The Silent Language</em>. Perbedaan antarbudaya dalam berkomunikasi baru dijelaskan oleh David K. Berlo (1960) melalui bukunya <em>The Process of Communication (An Introduction to Theory and Practice)</em>. Barlo (1960) menggambarkan proses komunikasi dalam model yang diciptakannya. Menurutnya, komunikasi akan tercapai jika kita memperhatikan faktor-faktor SMCR <em>(Sources, Message, Channel, and Receiver)</em>. Antara <em>sources</em> dengan <em>receiver </em>yang diperhatikan adalah kemampuan berkomunikasi, sikap, pengetahuan sistem sosial, dan kebudaayaan. Namun, dalam hal ini, komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera akan dijelaskan melalui konsep Etnosentrisme yang berbasis pada konteks komunikasi kelompok (etnik). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Saya menyimak konsep Etnosentrisme kadangkala dipakai secara bersama-sama dengan Konsep Rasisme. Konsep ini mewakili sebuah pengertian bahwa setiap kelompok etnik atau ras mempunyai semangat bahwa kelompoknyalah yang lebih superior dari kelompok lain. Masyarakat Sumatera dengan gamblang memperlihatkan gejala kuat mendukung konsep ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Hal itu bisa dilihat dari keinginan orang Sumatera untuk menguasai berbagai sektor kehidupan masyarakat. Sebagai contoh di Jakarta, orang Sumatera menguasai berbagai sektor penting seperti bidang hukum dan politik. Etnosentrisme orang Sumatera kemudian memunculkan sejumlah pengacara kondang seperti Ruhut Sitompol dan Hotman Paris Hutapea. Di kancah politik, Etnosentrisme memunculkan sejumlah tokoh politik papan atas yang berasal dari tanah Sumatera seperti Akbar Tanjung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Saya kemudian mencermati, konsep Etnosentrisme ini kemudian dilengkapi dengan konsep Prasangka yang seolah menjadi “darah daging” bagi orang Sumatera. Bennet de Janet (1996) menyebutkan prasangka adalah sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi atau generalisasi yang tidak luwes yang diekspresikan lewat perasaan. Prasangka merupakan sikap negatif atas suatu kelompok tertentu dengan tanpa alasan dan pengetahuan atas sesuatu sebelumnya. Prasangka ini juga terkadang digunakan untk mengevaluasi sesuatu tanpa adanya argument atau informasi yang masuk. Efeknya adalah menjadikan orang lain sebagai sasaran, misalnya mengkambinghitamkan kelompok sasaran, diskriminasi, dan penciptaan jarak sosial. Konsep prasangka salah satu contohnya bisa dilihat ketika terjadinya pengusiran secara besar-besaran masyarakat Jawa dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tahun 1999 yang merupakan akibat dari pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Padahal, masyarakat Jawa yang berada di Aceh rata-rata sudah menetap disana selama lebih kurang 10 tahun. Namun, karena konsep Prasangka yang berkembang dalam komunikasi antarabudaya masyarakat, maka dengan gampang, persoalan kemiskinan di Aceh dilemparkan sebagai tanggungjawab masyarakat Jawa yang umumnya menjadi imigran disana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Saya juga merasakan bagaimana prasangka menjadi bagian dalam keseharian antarbudaya masyarakat Sumatera. Mereka seolah selalu ingin menciptakan “kambing hitam” terhadap suatu keadaan yang terjadi. Ada nuansa yang kuat bahwa masyarakat Sumatera yang keras dan “kasar” ini berupaya menggampangkan semua persoalan dengan memakai konsep Prasangka ini. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Satu konsep lagi yang bisa dipakai untuk menelusuri komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera adalah konsep Streotip. Konsep ini berasal dari kecenderungan untuk mengorganisasikan sejumlah fenomena yang sama atau sejenis yang dimiliki oleh sekelompok orang ke dalam kategori tertentu yang bermakna. Streotip berkaitan dengan konstruksi pencitraan (<em>image</em>) <span> </span>yang telah ada dan terbentuk secara turun-temurun menurut sugesti. Ia tidak hanya mengacu pada pencitraan negatif tetapi juga positif. Ini bisa dilihat dari Streotip yang dibangun secara turun-temurun oleh masyarakat Sumatera. Misalnya, </span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><a title="Batak di BloggerSUMUT" href="http://bloggersumut.net/tag/batak" target="_blank">masyarakat Batak</a></span><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang memiliki streotip yang kasa</span>r<span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> da</span>n<span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> tegas. Masyarakat Minang memiliki jiwa berdagang yang besar dan masyarakat Aceh dilebelin sebagai kelompok masyakarat yang susah diatur. Padahal, streotip ini sangat mungkin bisa salah dalam kenyataannya. Namun karena kosep Streotip sudah menjadi bagian dari komunikasi antarbudaya masyarakat Sumatera, hal ini kemudian seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Melihat pemaparan diatas, bisa dimaklumi jika masyarakat Sumatera kini menjadi perhatian banyak pihak. Entitas mereka diteliti dan system komunikasi serta budaya mereka menjadi bahan kajian yang menarik. Jadi seperti yang saya bilang diatas, Sumatera itu bukan hanya soal keelokan alamnya. Tapi, lebih dari itu. Ini soal lagak dan langgam Sumatera!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;">
<p class="MsoNormal" style="150%;"><strong>Aulia Andri: Dosen di Unimed, Blogger, <em>new media specialist</em> dan <em>part time hero</em></strong><em><br />
</em></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bloggersumut.net/sejarah-budaya/lagak-dan-langgam-sumatera/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
