Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Kesemrawutan Lalu Lintas Kota Medan

February 2, 2009 oleh  
Tersimpan pada Opini

Kembali ke Kota Medan setelah sekian lama tak menyinggahinya pikir saya tentulah sudah jauh berubah. Sesuai status metropolitan yang disandang, ibukota Provinsi Sumatera Utara ini barangkali luar biasa maju baik dari segi pembangunan maupun masyarakatnya.

Begitulah bayangan pada 22 Januari 2009 lalu dalam benak saya ketika menginjakkan kembali kaki di Kota Medan. Saya berangan menikmati hari-hari di kota ini dengan penuh kenyamanan, tentram serta berbagai kisah yang bisa saya bagi pada masyarakat Indonesia lainnya.

Namun, saya justru mendapat banyak kekecewaan selama beberapa hari tinggal di Medan. Mau tak mau, jika tetap ada yang bertanya pada saya apa hal yang menakjubkan di Medan, jawaban saya begini: ”Saya takjub melihat kesemrawutan lalu lintas di Medan. Saya juga heran kok bisa begitu”.

Ya, soal lalu lintas adalah yang paling banyak menyumbang kekecewaan pada saya, atau juga bagi para tamu lain yang pernah berkunjung di Kota Medan? Sepanjang perjalanan dari bandara, menurut saya selain melelahkan, juga jengah. Sepanjang jalan itu pula, melihat ketidaktertiban warga Medan dalam berlalu lintas adalah sajian utama.

Belum habis takjub menikmati kesemrawutan itu, alih-alih kendaraan yang saya tumpangi disalip kendaraan lain. Seenaknya. Pun, lampu lalu lintas (traffic light) sama sekali tak berfungsi meski kedap-kedip, merah, kuning dan hijau. Malah hanya jadi tiang penghalang. Ketika warna merah menyala, tak satupun kendaraan yang berhenti.

”Sebagian besar orang Medan buta warna. Melanggar rambu lalu lintas sudah menjadi prestasi dan kebanggaan. Apalagi secara berjamaah,” ucap sopir yang membawa saya sambil senyum-senyum.

Duh, ini masalah akut, serius dan penting dicari solusinya, tanggap saya. Barangkali, pertanyaan yang muncul, mengapa persoalan lalu lintas menjadi penting? Lalu lintas merupakan urat nadi sebuah kota. Terlebih Kota Medan adalah salah satu kota tua dan terbesar di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kota ini tak akan mengalami kemajuan berarti jika kedisiplinan dan ketertiban masyarakat dalam berlalu lintas di jalan raya diacuhkan.

Coba bayangkan betapa besar kerugian akibat terlalu lama berada di jalanan yang seharusnya bisa lebih singkat kalau ketertiban terjadi. Secara ekonomi, jelas mubazir karena bahan bakar kendaraan terbuang sia-sia. Waktu, apalagi. Dan paling parah, tak terukur adalah rugi perasaan. Jika saling tak patuh, kemungkinan jatuhnya korban jiwa karena kecelakaan juga sangat tinggi dan fatal.

Mencari solusi dengan mengedepankan kesalahan berbagai pihak, bukan suatu tindakan yang bijak saya kira. Pemerintah, aparat dan masyarakat sama-sama punya porsi menyumbang kesemrawutan yang ada. Saya merinci beberapa hal yang menjadi sebab yaitu: sarana prasarana tidak memadai, penegakan hukum tak jelas, trayek transportasi tumpang tindih, pertumbuhan kendaraan serta manajemen transportasi yang tak serius.

Apa sebenarnya yang dibutuhkan untuk mengurangi kesemrawutan sekaligus meningkatkan kesadaran dan disiplin masyarakat Kota Medan dalam berlalu lintas?

Pertama soal kepatuhan atas rambu-rambu lalu lintas. Masyarakat kota ini sebenarnya ”patuh” ketika petugas polisi lalu lintas berdiri di traffic light atau di pos penjagaan. Nyaris tak ada pelanggaran kalau petugas polisi lalu lintas siaga. Berbeda ketika petugas dari Dinas Perhubungan yang jaga, sama sekali tak dianggap.

Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa jumlah personil petugas polisi lalu lintas harus diperbanyak. Seiring dengan itu, polisi lalu lintas harus bersikap profesional. Artinya, jangan pilih-pilih menindak jika mendapati pengguna jalan melanggar rambu-rambu lalu lintas. Sebab, salah satu alasan masyarakat melanggar adalah tidak seriusnya petugas. ”Kalau saja aparat tertib dan konsekuen. Maka tak ada yang berani melanggar peraturan,” begini kata masyarakat.

Dengan tindakan tegas, dapat dipastikan akan memberi efek jera sehingga untuk mengulangi kesalahan serupa, masyarakat akan berfikir. Petugas polisi lalu lintas memang kerap mengeluarkan statemen akan menindak tegas. Namun di lapangan, sangat mudah pula menemui petugas yang senang diajak kompromi ketimbang menindak sesuai aturan yang ada. Jadi, antara ketidaksiplinan yang menyebabkan lalu lintas Kota Medan semrawut dengan ulah petugas berkaitan sangat erat.

Setelah persoalan petugas, berikutnya harus dibenahi sarana dan prasarana penunjang kelancaran lalu lintas. Sambil dengan itu, penyuluhan akan pentingnya mengedepankan etika dalam bertlalu lintas harus terus dikumandangkan. Harus ada kemauan bersama untuk merubah pola berlalu lintas di Kota Medan baik datangnya dari petugas maupun masyarakat.

Bahwa persoalan lalu lintas di Kota Medan tergolong akut, menurut saya sebuah hal yang tak bisa dipungkiri. Jika tak segera dibenahi, tak menutup kemungkinan akan terjadi kemacetan yang sama dengan kemacetan DKI Jakarta dalam beberapa tahun mendatang. Kita tahu, persoalan macet di Jakarta memang masalah klasik. Tapi, ini bukan berarti lalu lintas semrawut dan pengendara seenaknya. Kemacetan yang terjadi lebih disebabkan banyaknya kendaraan yang beroperasi. Di Medan begitu juga, tapi kesewenang-wenangan justru menjadi hal biasa sampai trotoar pun dilalui kendaraan.

Nah, sebelum kemacetan terjadi semakin parah, ada baiknya Pemerintah Kota Medan berkaca lalu mengambil langkah cepat mengatasi permasalahan kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas. Sangat disayangkan jika masalah ini dibiarkan berlarut-larut karena Kota Medan menjadi tolok ukur dan barometer sebagai bagian dari wajah Indonesia.

Ada anggapan bahwa masyarakat Medan memiliki karakter agak ”lain” sehingga susah diatur dalam berbagai aturan. Saya kira, kalau memang begini, penanganan yang dilakukan pun harus ”lain”. Toleransi terhadap ”kelainan” karakter itu sah-sah saja, namun tetap ada batasnya. Intinya, penegakan aturan harus diutamakan.

Lagi pun, saya yakin tak sulit mengubah itu jika mau. Sebab, dalam kehidupan bermasyarakat, sebuah aturan sangat dibutuhkan untuk mewujudkan ketertiban, keamanan, ketentraman, serta tercapainya keadilan ditengah masyarakat. Hal ini merupakan salah satu fungsi hukum yang harus di kedepankan secara bersama-sama di setiap sendi kehidupan umat manusia, termasuk dalam berlalu lintas. Tertib dalam berkendaraan dan tidak saling mementingkan diri sendiri tentu sangat diharapkan setiap pengguna jalan agar lalu lintas dapat kembali lancar.

Perlu keberanian yang besar untuk merubah diri dari kebiasaan. Mengutip AA Gym, perubahan itu bisa dimulai dengan prinsip 3M. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri sendiri dan mulailah detik ini.

Saya yakin masyarakat Kota Medan sudah cukup bangga dengan pengakuan masyarakat lain bahwa orang-orang Medan lihai dan lincah dalam berkendara. Sudah cukup pula bahwa anggapan jika sudah jago mengemudi di Medan, maka jago juga mengemudi di seluruh dunia. Mulai detik ini, ubah itu semua. Ke depan, partisipasi orang Medan dalam pembangunan serta ketaatan orang Medan mematuhi aturan, itulah yang harus dibanggakan.

Jadi, dengan demikian, imej negatif ”Ini Medan Bung!” serta merta harus berubah pula menjadi ”Ini Baru Medan”.

Mudah-mudahan Kota Medan semakin terdepan dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia.

Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd
Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai – Riau

Komentar

3 Komentar untuk tulisan "Kesemrawutan Lalu Lintas Kota Medan"

  1. nich pada Sun, 8th Feb 2009 9:11 

    sedikit kecewa juga kalau kesan yang diiberikan oleh kota Medan untuk Pak Harefa tergolong mengecewakan, tapi ternyata bapak juga punya masukan dan pengidentifikasian masalah yang cukup komprehensif.

    semoga para pemegang wewenang yang terkait, bisa juga membaca ini dan berpikir untuk menindaklanjutinya.

  2. ogez pada Fri, 16th Sep 2011 1:05 

    saya menilai yg paling gokil dari kota medan adalah ‘LALU LINTAS’nya,wah parah banget..bukan harus hati-hati tp harus ekstra double hati-hati untuk berlalu lintas di kota medan, belum lg angkot-angkot yg berhenti semaunya,di tambah lg becaknya yg selebar ‘kijang’. memang harus cepat di benahi..moga-moga pihak yg terkait membaca dan segera sadar bahwa apa yg sebenarnya terjadi???

  3. ogez pada Fri, 16th Sep 2011 1:15 

    wahai rakyat kota medan yang terhormat ber-lalu lintas-lah yg baik, bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk kita semua, yang biasanya pura-pura tdk tahu lalu lintas hilangkanlah rasa pura-pura itu, mulailah dari yg terkecil misalnya menyalakan lampu tangan klo mau belok..semoga klen semua baca.

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!





Spam protection by WP Captcha-Free