Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

THR

September 29, 2008 oleh  
Tersimpan pada Opini

Apakah kita tak bisa berlebaran tanpa THR? Pertanyaan ini sering mengganggu saya, setiap usai Ramadhan dan menghadapi Syawal. Banyak kenalan saya yang kemudian sibuk mempersiapkan lebaran dan mengaitkannya dengan THR. Jadinya ya itu, seolah tak akan jadi lebaran jika tak ada THR.

THR atau lazimnya juga disebut Tunjangan Hari Raya saat ini bisa dikatakan adalah “kewajiban” dari sebuah perusahaan atau institusi untuk memberikan gaji ke-13 bagi kaum pekerjanya. Saya kadang berfikir, untung saja ada “kewajiban”  memberi THR ini, maka ada harapan bagi karyawan untuk menerima gaji ke-13. Bayangkan saja jika tidak ada “kewajiban” ini maka bisa dipastikan hampir tak akan ada perusahaan yang mau memberikan gaji ke-13 dengan cuma-cuma. Bahkan pembantu rumah tangga di rumah saya pun sudah sibuk menanyakan THR-nya pada awal-awal Ramadhan.

Dulu sewaktu masih bekerja sebagai wartawan, saya tak pernah merasakan persoalan dengan THR. Sebagai wartawan sekaligus karyawan di institusi pers, saya mendapatkan THR yang layak. Ini belum lagi ditambah THR tak resmi dari kawan-kawan saya yang selama ini saya akrabi sebagai nara sumber. Soal THR ini saya memang tak ngotot, artinya kalau diberi ya saya terima. Kalau tak diberi juga tak apa-apa. Buat saya, ada atau pun tidak THR, kan kita tetap harus merayakan Idul Fitri dengan suka cita.
Namun karena sikap ikhlas ini pula, saya malah sering “kebanjiran” THR. Allah memang telah member jalan bagi rezeki hambanya tanpa diduga-duga. Pernah, suatu kali menjelang lebaran, kira-kira H -2, seorang rekan yang lama tak saya jumpai mengirimkan SMS. Isinya singkat. Dia ingin berjumpa dan mau memberikan THR bagi saya. Allahu Akbar….

Di Idul Fitri 1429 H ini, saya tak lagi “kebanjiran” THR seperti ketika menjadi wartawan. Saya tidak sedih karena tidak mendapat THR, tetapi yang mengganjal pikiran saya adalah bagaimana orang-orang yang lebih kekurangan dibanding saya. Pada Idul Fitri kali ini, saya hanya bisa memberikan tak lebih dari 2 lusin kain sarung bagi orang-orang tak mampu. Uang untuk membeli sarung itu pun terpaksa saya pinjam dari isteri. Saya tak tega, sama sekali tak tega, melihat banyak sekali orang-orang di luar sana yang merasakan kepedihan hidup karena nasib mereka yang kurang beruntung. Malam-malam di akhir Ramadhan saya selalu memanjatkan doa agar Allah membuka pintu rezeki saya selebar-lebarnya. Agar saya bisa berbuat lebih banyak untuk membantu orang-orang yang tak mampu. Tentunya, saya juga berdoa agar tak menjadi seperti Sa’labah yang lupa ketika menjadi kaya.

AULIA ANDRI

Blogger dan New Media Specialist

www.mentiko.com

Komentar

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!





Spam protection by WP Captcha-Free