Toko Modern dan Kejujuran dalam Berdagang
Saya tergugah dengan iklan Letjen (Purn) Prabowo Subianto versi Pasar. Dibuka dengan kalimat perkenalan, “Saya Prabowo Subianto….”, membuat saya tersentak. Iklan ini sebenarnya iklan politik, tapi saya rasa berhasil mengenai sasaran secara tepat. Tapi saya bukan mau bicara soal efektif atau tidak efektif iklan Prabowo versi Pasar itu. Saya lebih tergugah dengan pesan yang disampaikannya yaitu pentingnya membangun ekonomi mikro dengan berbelanja di pasar tradisional.
Sejak empat tahun ini saya memang sudah beriktiar untuk sebisa mungkin tidak berbelanja di supermarket, pasar swalayan, hypermart atau jenis pusat perbelanjaan modern. Bukan apa-apa, saya pernah membaca bahwa kebijakan membangun pasar modern seperti Carefour di tempat asalnya, Perancis berdasarkan berbagai pertimbangan. Informasi yang saya dapatkan, di Perancis, Carefour tidak boleh dibangun di inti kota. Gunanya, ya untuk menyelamatkan pasar-pasar tradisional yang ada di inti kota.
Aneh memang, ketika di Perancis, Carefour tidak bisa berbuat banyak, tapi sebaliknya di Indonesia. Carefour berdiri dengan “sombong” di pusat-pusat perbelanjaan. Carefour “mengepung” pasar-pasar tradisional. Persoalnnya, bukan hanya Carefour. Di Medan ada sejumlah hypermart modern yang didirikan seperti Makro dan Hypermart.
Kondisi ini tentu saja, akan memberi sumbangan berarti bagi penurunan omset penjualan pasar tradisional. Kehadiran pasar-pasar modern ini membuat pasar tradisional yang becek dan kumuh akan ditinggalkan konsumen. Yang lebih parah lagi munculnya sejumlah pasar semi besar dan berjaringan seperti Alfamart. Dengan model pemasaran franchise, Alfamart kini mulai melebarkan sayap di Medan. Mereka hadir di beberapa tempat. Saya yakin, tak lama lagi, puluhan toko belanja modern seperti Alfamart akan hadir di Medan.
Ikhtiar saya untuk tidak berbelanja di pasar atau toko modern ternyata membawa hikmah. Begini ceritanya, pernahkah Anda mempersoalkan jika di pasar atau toko modern, uang kembalian Anda ditukar dengan permen? Kejadian ini sudah seringkali terjadi. Saya awalnya memberikan “maaf” atas perlakukan ini. Biasanya, jika tidak ada kembalian Rp 100, maka akan ditukar dengan sebuah permen. Atau ini masih lebih bagus, ada juga toko modern yang menganggap “asin” uang itu. Misalnya Anda belanja Rp 7.850,- maka ketika Anda membayar dengan uang Rp 10.000,- maka Anda akan hanya mendapat kembalian uang sebesar Rp 2.000,-. Padahal, seharusnya Anda mendapat pengembalian uang sebesar Rp 2.150,-. Kemana uang Rp 150,- itu? Jika Anda coba menanyakan pasti akan dijawab enteng bahwa tidak ada uang receh. Anda pun langsung tersenyum.
Nah, coba bandingkan jika Anda berbelanja di pasar tradisional atau warung kelontong. Uang Rp 150,- itu pasti tidak akan hilang. Pemilik warung kelontong biasanya dengan sigap mengembalikan sejumlah uang yang memang harus dikembalikan. Dan kalau pun terjadi pemotongan, pasti Anda akan ribut. Kok ya bisa?
Saya seringkali bereksperimen. Setiap kali berbelanja di pasar atau toko modern saya selalu pasang muka “seram”. Saya tak rela uang saya dipotong satu perak pun. Pernah kejadian ketika berbelanja saya dipotong hampir Rp 200,-. Lalu saya minta. Eh, dijawab tidak ada kembalian uang seratus. Saya malah diberi permen. Saya menolak dan tetap minta dikembalikan uang Rp 200,- itu. Petugas kasirnya langsung sewot melihat saya. Mungkin dipikirkan kok ya ini orang ngeyel dengan uang Rp 200,-.
Lalu saya bilang, bagaimana kalau besok uang saya kurang Rp 200,-, apakah saya bisa minta potongan? Dia jawab bisa. Makanya, besok harinya saya datang lagi kesana. Kebetulan kurang Rp 200,-. Saya menyerahkan uang tanpa melengkapi Rp 200,-. Petugas kasirnya bingung, dia meminta saya menambahkan uang. Saya bilang uang saya masih tersisa Rp 200,- disini, kemarin. Dia makin bingung. Lalu saya minta petugas kasir yang kemarin, yang kebetulan ada disitu untuk memberikan penjelasan. Akhirnya, dengan wajah gondok mereka membiarkan saya tidak melengkapi uang Rp 200,-.
Ada banyak pelajaran moral yang bisa saya dipetik dari pengalaman ini. Saya hanya ingin memberi pelajaran bagi para pedagang toko modern untuk bisa jujur dalam berdagang. Malah, pernah saya berpikir, mungkin Prabowo Subianto mau membantu, menggalang kekuatan dan membuat kampanye Anti Pasar Swalayan Modern. Gerakan dan kampanye ini tentu efektif untuk memberikan kekuatan penyeimbang bagi para pedagang pasar tradisional dan warung kelontong menghadapi serbuan kapitalisasi.
Akhirnya, saya hanya ingin membuka mata publik untuk meminimalisir berbelanja di pasar modern. Apalagi Carefour, bukan apa-apa karena banyak orang yang sok-sokan berbelanja di Carefour dan mengucapkannya dengan lafal yang salah. Carefour dibaca dengan aksen bahasa inggris jadi KERFUR. Seharusnya yang benar tetap dibaca dengan aksen perancis, yaitu KARFUR. Selamat berbelanja dan tertipu oleh kenyamanan pasar modern.
Aulia Andri, Citizen Reporter







Muhammad Nurdin pada Tue, 3rd Mar 2009 12:44
Assalamu ‘laikum wr,wb
Salam Bloggersumut
Saya sangat setuju dengan sistem meningkatkan minat untuk berbelanja di PASAR TRADISOINAL
jika sebagaian besar dari Masyarakat Menegah ke atas berbelanja di PASAR TRADISIONAL yang umumnya di isi oleh Pedagang-pedagang KECIL bahkan ada Petani,Pelaut dan pengrajin yang LANGSUNG menjual Barang-barangnya di PASAR TRADISIONAL tentu PEREKONOMIAN MASYARAKAT MENINGKAT…………..
Dukung terus Pedagang Kecil dengan SERING BERBELANJA DI
PASAR TRADISIONAL
……cuman di PASAR TRADISIONAL tidak ada KARTU KREDIT……
Sekarang Orang – orang KAYA & Pejabat jarang membawa UANG CASH
….jadi MANA MUNGKIN BISA BERBELANJA DI PASAR TRADISIONAL……
Wassalam
Akr6675
Ishak Muhammad pada Sat, 30th May 2009 14:56
Pasar Tradisonal itu pasarnya orng yang tidak “berduit”. Jadi, apa mungkin dikembangan atau dipertahhankan kalau pemerintah dan para pemikir ekonomi (akaemisi ekonom) tidak konsen ke hal-hal pasar tradisonal. Lihat saja, hampir tidak ada satu referensi pun yang membahas tentang pasar tradisional di FAKULTAS EKONOMI. Bahkan dalam mengembangkan pasar tradisional itu pun, para ekonom dan pemerintah enggunakan pendekatan-pendekatan EKONOMI PASAR yang jelas jauh berbeda atau sangat lebar GAPnya antara pasa tradisioanl dengan pendekatan yang digunakan ekonom. Gimana…..
lady pada Sat, 19th Dec 2009 22:18
saya bersyukur ibu saya “benci’ sama pasar swalayan/supermarket manapun, tapi menurut beliau karena mahal. saya mendukung beliau dan saya pernah mengikutinya ke pasar tradisional. ternyata asyi bgt lo, di jawa timur uang 500 perak bisa utk beli 2 macam cabe, cabe merah dan cabe rawit, terus pas kembaliannya kurang sedikit gitu ibu saya minta daun bawang atau jeruk purut bukan krn disuruh/dipaksa pedagang itu tp ibu saya sendiri yang mau. Cuma usul saya seharusnya pasar tradisional diperbarui bangunannya dan diperhatikan kebersihannya.
Agus pada Thu, 14th Jul 2011 19:52
Saya sangat tidak setuju dg adanya pasar modern.bangunlah pasar pasar tradisional