Meninggalkan Pola Ajar Guru Tempo Dulu
February 16, 2009 oleh gunawan
Tersimpan pada Pendidikan
Ramai sekali media massa menulis masalah Sumber Daya Manusia. Begitu pula para pakar telah sama setuju bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia amat diperlukan pendidikan. Dengan arti kata dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul penting. Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Kualitas suatu bangsa diukur dengan sumber daya manusianya.
Kita sadari bahwa pendidikan, sungguh penting untuk kemajuan bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini mantan Presiden Soeharto telah mencanangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. mantan Presiden mencanangkan lagi wajib belajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidangnya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di lapangan secara baik.
Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelaksanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menutup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu. Dan orang-orang arif dalam dunia pendidikan di negara ini cukup respon atas berbagai masalah pendidikan. Mereka merekayasa dan melaksanakan berbagai usaha peningkatan dan penyegaran.
Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi peningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kurikulum yang diikuti oleh perubahan struktur buku-buku pelajaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek peningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penyediaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.
Betapa usaha ini diterapkan melalui pengorbanan moril dan materil. Memberikan keringanan bagi guru-guru, misalnya dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah, agar dapat mengikuti penataran apakah dalam bentuk sanggar-sanggar atau bentuk kelompok laninnya. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil UASBN yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem¬perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar.
Barangkali apa yang menyebabkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini?
Lihatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid baru sampai pada taraf memberi bekal pengetahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanusiaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sistem pengajaran kita lihat hubungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas memberi dan yang lain sekedar menerima saja.
Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang, kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepanjang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke ha¬dapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenya¬taan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di belakang.
Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas-tugas hafalan untuk diuji. Sistem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkeritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancam¬an pada nilai rapor. Demikianlah ungkap salah seorang murid dalam suatu dialog ringan. Belajar dengan cara menghafal sungguh mematikan kreatif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih menerapkan pengajaran sistem kuno.
Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Diantaranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru menganggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan setiap murid menerima apa yang dikatakan. Pernah kejadian pada sebuah sekolah. Seorang murid kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik konstruktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelin¬tasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois.
Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pendekatan yaitu konvensional, progresif dan metode liberal. Sekolah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.
Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode konvensional. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ceramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi hanyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.
Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya manusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang, berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.
Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya, yakni guru jangan mengajar asal-asalan. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama peningkatan kualitas, berfungsi sebagai konselor, motivator dan fasilitator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sempurna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan, kualitas diri. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. Andai kata mereka mengikuti penataran atau sanggar, misalnya, janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin, mengharapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura.
Agar dapat memainkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membelajarkan diri, otodidaktif, dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu berlindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah waktu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan berfikir dengan harapan kita semua dapat menjadi gum yang berkualitas agar kita dapat mendidik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas







Muhammad Nurdin pada Mon, 23rd Feb 2009 10:52
Assalamu ‘alaikum, wr,wb…..
Salam Bloggersumut….
Membaca tulisan di atas yang berjudul MENINGGALKAN POLA AJAR TEMPO DULU agaknya sedikit perlu di batasi dengan kata-kata TEMPO DULU yang tidak ada batasnya, bisasaja
1.Zaman Masuknya bangsa asing di NUSANTARA
2.Masa Kolonial Belanda
3.Masa Pendudukan JEPANG
4.Masa Persiapan Kemerdekaan
5.Masa Pemerintahan Orde Lama ( Zaman Soekarno )
6.Masa Pemerintahan Orde Baru ( Zaman Soeharto )
7.Masa Reformasi ( Habibie – Mega )
8.Masa …..entah apa namanya ( SBY – JK )
sebab bila menggunakan kata tempo dulu mungkin orang-orang yang berhasil saat sekarang ini justru menempuh pendidikan tempo dulu……..
Pendidikan yang baik akan menghasilkan Ilmu pengetahuan dan peradaban Manusia jika kita menilik kebelakang
1. Adanya bangunan-bangunan tua yang ada di Nusantara seperti Candi-candi ( BOROBUDUR, Dll ) merupakan bukti ilmu pengetahuan bangsa Indonesia
2. Adanya kerjasama antara Kerajaan ACEH dan INGGRIS jauh sebelum Indonesia MERDEKA menunjukkan bahwa Peradaban keduanegara saat ini dipandang sangat baik
3. Berunai darussalam memakai UUD yang berasala dari Kerajaan ACEH ( Sultan Iskandar ) menunjukan bahwa Bangsa kita mampu melahirkan peraturan yang baik
4. Buya HAMKA yang pergi menuntut ilmu di MAKKKAH yang saat itu Guru Besar Mesjidil Haram menyuruh Buya Hamka Untuk kembali ke KAMPUNG untuk pulang dan belajar dengan ayahnya.
dan Buya Hamka hampu menyusun KITAB TAFSIR AL-AZHAR yang saat ini menjadi rujukan diberbagai negara
5. KITAB FIQH karangan ARSYAD THALIB LUBIS seorang tokoh AL-Washliyah putra MEDAN yang saat ini dipakai dinegara-negara ASEAN terutama Negara MALAYSIA
6.Dr.HOMBING pakar pengobatan yang di akui di Dunia
6.BJ.Habibie yang terkenal dengan Mr.Krek…..UJI KERETAKAN PESAWAT TERBANG
7.dan banyak tokoh-tokoh lainnya yang sangat di akui memiliki Ilmu pengetahuan di DUNIA………..
Jadi pola ajar pendidikan jaman yang mana yang harus kita tinggalkan ????????
Saya berpendapat bahwa RENDAHNYA MUTU Pendidikan INDONESIA disebabkan karena UU PEMERINTAH yang mengatur Pendidikan tidak BAKU dan TETAP sering berobah-robah sehingga pihak pengelolah PENDIDIKAN KEBINGUNGAN dengan perobahan tersebut
1. Mulai dari wajib belajar 6 tahun menjadi 9 tahun
2. Istilah Pendidikan SMP-SMA-SMEA-STM menjadi SLTP-SLTA-SMK-SMU.
3.Gelar Lulusan Drs,SH,Ir – SAg-SPd-SPdI-SHI-entah apa lagi namnya
4.Kurikulum dan buku yang digunakan : Ketika kita kelas satu menggunakan kurikulum dan buku terbitan ini dan naik di kelas adik kita yang di kelas satu tidak lagi menggunakan kurikulum dan buku tersebut sehingga adik kita minta di ajarkan PRnya kita tidak mengerti jadi ini membuat bingung siswa……….
..jadi mohon kepada pemerintah untuk menetapkan pola pendidikan yang baku……jangan pendidikan di jadikan proyek dan ajang bisnis….pendidikan harus dijadikan suatu tujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa sehingga BANSA KITA SEJAJAR DENGAN BANGSA LAIN YANG BERILMU PENGETAHUAN DAN BERPERADABAN YANG BAIK………….
..belum lagi penyelewengan-penyelewengan anggaran pendidikan yang siapah dan entah kemana digunakan ?????
jadi mohon MENINGGALKAN POLA PENDIDIKAN TEMPO DULU mohon dibatasi istila TEMPO DULU kasiah guru-guru kita yang ikhlas mengajar demi untuk keberhasi bangsa ini…….jangan salahkan pola mereka……..KATAKAN SAJA POLA PENDIDIKAN UU PENDIDIKAN NO……HARUS DITINGGALKAN atau POLA AJAR GURU Si…….harus ditinggalkan……….
Allah Ampunkan Hamba……….Sahabat saya mohon Maaf
Mohon Maaf
Wassalam
M.Nurdin / Akr6675
bangmarbun pada Wed, 25th Feb 2009 19:53
maaf sebelumnya..walaupun tdk bergabung boleh berikan komentar kan..
kalau menurut aku.. pola mengajar tempo dulu itu sepertinya memang sudah menjadi pola ajar di INDONESIA saat sistem pendidikan di negara kita ini CBSA (catat buku sampai habis) sampai juga Sistem KBK dan muncul lagi kemarin yang terbaru….masih tetap saja…pola ajarnya ga ada yang berubah jadi bukan masalah tempo dulu dan yang modern tapi bagaimana kita untuk tetap konsisten dalam menjalan sistem pendidikan itu bukan ganti mentri ganti sistem pendidikan
def@mathholic pada Fri, 27th Feb 2009 20:42
nice post…
tapi sepakat sama mas Mas M.Nurdin, kata tempo dulu harus dibatasi…
saya rasa yang harus dirubah itu cukup hanya cara pengajaran yang monoton, ada baiknya lebih bervariasi. tergantung dari keadaan sekolah, fasilitas yang ada dan kreatifitas gurunya…
…have fun
wannefjambak pada Sat, 25th Apr 2009 2:09
Bagi rekan-rekan guru yang tidak punya
waktu luang untuk bikin perangkat BK SMP
silakan lihat di
http://www.wannefjambak.wordpress.com hanya
imbal tenaga, tinggal klik aja,
langsungtampil di monitor masing-masing,
beritau kawan lain. Ratusan orang guru
BK yang tidak punya waktu luang, sudah
kami bantu. Kami akan manjakan semua
guru BK. Salam KOPASTA !!
dika pada Tue, 19th Jan 2010 20:34
salam kenal kak,,, maaf kak sebelumnya saya mau minta izin untuk mengambil artikel kakak untuk saya masukan kedalan blog saya sebagai tugas kuliah!!saya berharap kakak dapat mengizinkannya…terimakasih
Tarmudi pada Sat, 23rd Jan 2010 20:13
Tetapi terkadang ada yang beranggapan yang penting peserta didik bisa dan tercapai kompetensi, nyatanya orang tua dudlu tulisannya baik mudah terbaca beda dg anak zaman sekarang, tulisan susah untuk di baca