Nikmatnya Bubur Pedas di Bulan Ramadhan
July 26, 2012 oleh dinneno
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Masyarat Melayu di Sumatera Utara bisa dipastikan tidak asing lagi dengan sebutan bubur pedas. Sajian panganan dengan bahan rempah-rempah ditambah beras dan lainnya, selalu akrab ketika bulan Ramadhan. Khusus selama bulan puasa, bubur pedas ini dapat dinikmati secara cuma-cuma oleh masyarakat sebagai hidangan khas ketika berbuka puasa.
Menurut sejarahnya, tradisi warisan berbuka puasa dengan bubur pedas ini telah ada sejak masa Kesultanan Deli pertama kali tahun 1909. Saat itu Tanah Deli dipimpin Tuanku Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alam Syah. Dan warisan budaya tersebut terus berlangsung sampai saat ini, ketika umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1433 H tahun ini.
Banyak sekali cerita yang muncul dari kebiasaan menikmati masakan khas Melayu yang memang cukup lezat dan hangat bagi tubuh ini. Ada yang menikmatinya karena memang gemar, ada yang karena penasaran dan ada yang menjadikannya sebagai kebiasaan. Tapi ada yang paling menarik dari kebiasaan itu, yaitu masyarakat yang menikmatinya melintasi batas suku dan ras.
Artinya bubur pedas ini tidak hanya diminati dan dinikmati oleh masyarakat Melayu saja, tapi berbagai macam suku yang ada di Sumut menjadikannya sebagai makanan yang sulit dilewatkan ketika bulan Ramadhan.
Bubur yang rasanya pedas itu dibuat dengan bermacam jenis rempah. Namun, kini bumbu untuk bubur tidak selengkap dahulu karena beberapa bumbu sudah sulit ditemui. Seiring dengan waktu, sajian itu berubah menjadi bubur sop karena sulitnya mendapatkan bahan dasar resep bubur pedas, warisan Tuanku Sultan Makmum Al Rasyid Perkasa Alam Syah.
Untuk memasaknya, menggunakan kayu bakar. Karena dengan kayu bakar, rasa akan lebih enak jika dibandingkan dengan menggunakan kompor atau gas. Walaupun dengan kayu bakar, memasaknya pun tidak terlalu lama. Hanya memakan waktu 3 sampai 4 jam. Mulainya sesudah Shalat Zuhur dan siap setelah Salat Ashar.
Porsi bubur pedas ini, dibagikan ke masyarakat sekitar dan musafir yang berbuka puasa di Masjid Raya. Dengan cara membagikan bubur pedas kepada masyarakat di sekitar Masjid Raya dan Istana Maimoon yang letaknya berjarak 200 meter. Sebagian ada yang dibawa pulang, dan sebagian untuk berbuka puasa di masjid.
Karena telah dinikmati begitu lama oleh masyarakat ketika bulan puasa, keberadaan bubur pedas menjadi ikon yang tidak mungkin dipisahkan lagi dengan Masjid Raya.
Karena itu, perhatian pemerintah untuk mempertahankan tradisi ini di Masjid Raya harus menjadi hal penting yang harus tetap dapat dilaksanakan
Bukankan keberadaan bubur pedas telah melampui batas suku maupun ras masyarakat Sumut yang terkenal pluralitas, juga telah merentas batas kehidupan, sebab dia disukai oleh semua kalangan.
Oleh karena itu, perhatian pemerintah terutama Pemko Medan agar tradisi leluhur ini terus berjalan, harus menjadi prioritas yang harus dipertahankan. Hal ini disampaikan mengingat sajiannya tak pernah lekang setiap zaman. (dari berbagai sumber)





Agoez Perdana pada Thu, 26th Jul 2012 15:43
Wah, bubur pedas itu hidangan buka puasa di Masjid Raya yang melegenda. Kalau mau dapat jatah datanglah lebih awal selepas Ashar… hehehe…
HeruLS pada Thu, 26th Jul 2012 22:29
Aku belum pernah coba, sebagai orang rantau, aku merasa gagal
Bagi foto yg lebih close up lah wak.
Nich pada Sat, 28th Jul 2012 23:12
Kemarin baca berita, bapak yang ngurusin dapur sampai angkat suara menyatakan bahwa yang disajikan adalah bubur sop; bukannya bubur pedas seperti yang diiklankan.
Sudah susah nyari bumbunya yah, sayang sekali kalau warisan budaya seperti ini sampai “punah”.
Mimi pada Tue, 14th Aug 2012 11:52
Hmmmm so yummmmiiiiii…
Delima pada Fri, 26th Oct 2012 11:21
Judulnya saja sudah bikin ngiler :p
Salam,
Delima
gita pada Sat, 9th Mar 2013 9:26
iya nihh bikin ngiler, jd pengen bubur pedas heheee