Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Sejarah Sembilan Wali / Walisongo (wali9)

August 25, 2009 oleh alibaba  
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya

“Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid

Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

Maulana Malik Ibrahim (1)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi

Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n

Sunan Ampel (2)
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.

Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”

Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.n

Sunan Giri (3)
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.

Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n

Sunan Bonang (4)
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah

yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n

Sunan Kalijaga (5)
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.

Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.

Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.n

Sunan Gunung Jati (6)
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.

Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.

Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n

Sunan Drajat (7)
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M

Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun

Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.

Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.

Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.n

Sunan Kudus (8)
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang

Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n

Sunan Muria (9)
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus

Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • LinkedIn
  • Live
  • PDF
  • RSS
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

Komentar

91 Komentar untuk tulisan "Sejarah Sembilan Wali / Walisongo (wali9)"

  1. Nida pada Tue, 29th Sep 2009 9:36 

    Terimakasih, sejarah ini sangat penting dan bermanfaat.

  2. musik.um.ac.id pada Tue, 6th Oct 2009 14:41 

    thanks mas artikelnya,sangat membantu buat adik saya nih….

  3. Ipinx pada Sun, 25th Oct 2009 19:49 

    Mudah-mudahan tulisan anda bermanfaat bagi generasi muda sekarang yang sepertinya sudah melupakan sejarah islam indonesia, bahwa Wali songo adalah Pahlawan-pahlawan islam yang patut kita hormati dan hargai.

  4. echa pada Thu, 29th Oct 2009 13:10 

    syukron atas info nya….bisa aku manfaatkan untuk bahan makalah.

  5. dimas yudi strio pada Sun, 8th Nov 2009 1:26 

    saya sangat suka sejarah islam sebab mengenag bagaimana para wali berjuang buat adinul aslamtu

  6. E_Qha pada Tue, 24th Nov 2009 15:42 

    MaKAciH atz artikelnya,aq jd bsa ngerja in tgas sjarah dEch. . . !

  7. DENI pada Thu, 26th Nov 2009 9:11 

    hapus gambar dan video pornoh karena merusak moral bangsa

  8. ayu pada Wed, 9th Dec 2009 15:41 

    aqu cuma mau tau aja tentang wali songo.
    coz_xa ini tugas di sekolah loe,,,,,

  9. M.YUSUF AY. pada Tue, 22nd Dec 2009 19:17 

    Ass.,Wr.,Wb., Sangat baik tulisan sejarah para wali ini….
    Insya Allah dapat menjadi bahan saya untuk membuat visualisasinya……
    Wass.,Wr.,Wb.,

  10. Isti dari siswa MTS P.AL Hamidiyah Depok pada Fri, 25th Dec 2009 23:23 

    Uh hari ini dan dari hari kemarim aku sedih…
    aku pengen bgt ziarah ke mkm walsonk soal’a gak munkin nanti aku bs kesana…
    insyaallah klw aku ada uang aku pasti pergi kesana…
    aku berharap Allah mengabulkan doaku…
    Aku pengen bgt kesana bersama teman2 ku namun aku gak bs…
    kpn ya aku bs pergi kesana bersama teman2ku?

  11. gus din druju pada Sat, 9th Jan 2010 12:00 

    sejarah ini sangat para generasi muda untuk keteladanan para pejuang agama dan saya sekarang agak semangat dalam menyikapi hidup ini isi sangat menggugah hati setiap muslim.sya doakan smoga smakin hari tambah terkenal.

  12. imien_C pada Tue, 12th Jan 2010 14:38 

    ass,
    sbenarnya dah bagus, tapi ko sejarah sunan bonang sama sunan kudus ko sama ya?? apakah ini benar2 sama atau salah? kalau salah cepat dganti ya,soalnya aku pengen banget mengenal sejarah walisongo.mksih
    wass,.

  13. febi pada Wed, 20th Jan 2010 12:43 

    q kgm m wli singo

  14. miska,yanti pada Sun, 24th Jan 2010 20:22 

    kami kagum kpada wali songo krna mrka hebat dlm memajukan islam……………

  15. risdiyanto pada Sat, 30th Jan 2010 11:46 

    sae maleh menawi pun lengkapi kantos gambar , dados tambah pawartosan, matur nuwun mpun saged nambah pawartosan babagan kawruh wali sangga ….

  16. Rizalalbanjari pada Sat, 13th Feb 2010 2:32 

    Salam dari anaknda ?

  17. Syofyan pada Mon, 15th Feb 2010 18:19 

    Ok bngt crita para wali songo,mdh2n generasi muda dpt memahami sejarah islam.

  18. heroyogi sulendra pada Tue, 16th Feb 2010 11:34 

    saya sangan suka sekali membaca artikel sejarah. bagus sudah bagus kok artikel ini. tapi untuk masukan tolong yang ada kesamaan cerita diganti biar sebih siip

  19. riesha pada Wed, 17th Feb 2010 16:38 

    ok bnget artikel inni karena aq sudah mengerjakan tugas karena artikel ini untuk usul dan masukan tolong yach agak d ringkas …
    sekali lagi terimakasih atas artikel ini karena aq telah mengerjakan tugas ..

    trim’s rieshaa

  20. ami basya pada Thu, 18th Feb 2010 15:34 

    bagus2, lengkap skali…saya jadi ada bahan buat ngajar anak2,,,hehe

  21. Abu Farah pada Wed, 24th Feb 2010 21:15 

    Terima kasih, shobat, saya cukup terbantu, tapi saya masih haus akan sejarah walisongo, bisakah kapan-2 dilengkapi lagi mungkin dari sumber atau literatur lain

  22. Jaffar sodik pada Fri, 26th Feb 2010 23:30 

    Semoga bs meningkatkan iman dan takwa kita….n bermanfaat bagi yang membutuhkanx

  23. Ebiet syufandi pada Sat, 6th Mar 2010 7:31 

    Sejarah ini membuat kita berfikir,betapa teguhnya iman para penyebar islam..untuk Allah dan agama-NYA dia mau mengorbankan apa saja..semoga islam makin jaya..amin

  24. Ebit syufandi pada Sat, 6th Mar 2010 7:39 

    Lanjutkan dakwah islam hai para da’i..teguhkan iman

  25. valian pada Sun, 7th Mar 2010 14:16 

    saya sngat menyukai sejarah2 islam di indonesia

  26. akhmad saiffudin pada Tue, 9th Mar 2010 7:41 

    bagus buat anak-anak yang belum paham wali songo

  27. dyah ayu pada Sat, 20th Mar 2010 12:02 

    MAKaCiH………..!!!
    karena da situs niech, Quw bikin tugas….!!

  28. The Ags pada Tue, 23rd Mar 2010 21:23 

    thanks bwt infox

  29. Putcu Tenggar pada Wed, 24th Mar 2010 9:31 

    Alhamdulillah, smg mendpt barhahx

  30. aliffia nastiti pada Sat, 27th Mar 2010 17:13 

    maturnuwun! bisa bwt tambahan materi utk ngajar

  31. Rosy pada Sun, 28th Mar 2010 17:28 

    Makacih bgt,q lg nyari mtr ini buat ngajar bsk.alhmdllh…

  32. yudi pada Tue, 6th Apr 2010 10:40 

    jangan terlalu kagum dengan keramat wali dan kehebatan mereka, yang penting bagaimana caranya supaya kita bisa seperti mereka, apakah “pakaian” mereka? mohon bimbingannya.

  33. jaenal pada Wed, 7th Apr 2010 11:22 

    alhamdulilah buat anak2 yang suka ngaji

  34. annisa pada Wed, 7th Apr 2010 14:14 

    thx ea,alhmdulillah brkt situs ne tgs aq jd beres semua …. :)

  35. ryan pada Thu, 8th Apr 2010 12:49 

    terima kasih banyak atas artikelnya semoga selalu menyebar dan memperluas wawasan umat islam di dunia. amin………..

  36. Ridwan pada Fri, 9th Apr 2010 2:02 

    Makasih atas semua informasinya, soalnya ini penting banget apalagi bagi kalangan islam sunni alias isla NU Assalamualaikum kasadayana umat islam….

  37. Ridwan pada Fri, 9th Apr 2010 2:02 

    Assalamualaikum…………. umat NU (nahdatul ulama)

  38. desy pada Fri, 16th Apr 2010 15:35 

    thanx eo, ,qhu dpt tugaz nyari sejarah wali songo , tu materi yang keluar bezog..

  39. della pada Sat, 17th Apr 2010 15:18 

    terimakasih atas informasinya,,,,
    karna saya ada tugas dari sekolah tentang wali songo

  40. Eddy Musodik pada Mon, 19th Apr 2010 10:21 

    Bagus sejarahnya. Hanya pesan dari saya, sekarang sudah jaman era informasi dan teknologi. Jadi pendekatan da’wah Islam bisa dilakukan langsung saja melalui sejarah Muhammad Saw, tak perlu pendekatan budaya lagi. Semua sudah jelas, yang benar jelas, yang salah pun jelas. Al-Qur’an ada dimana-mana, Hadist ada di mana-man, Ustadz ada dimana-mana. Informasi sudah lengkap mau apa lagi. Budaya islam yang campur kehindu-hinduan dan ke bhuda-bhudaan harus sudah ditinggalkan. Ambillah Islam yang ASLI.

  41. savannah pada Tue, 20th Apr 2010 19:31 

    Makasih atas infonya.. :)

  42. eka nur.m pada Fri, 23rd Apr 2010 9:06 

    it’s so good bwt nambah pengetahuan ski:-) q ska banget article nya!!!

  43. Vicky pada Fri, 23rd Apr 2010 9:58 

    Sejarah ini sangat berguna bagi umat islam semesta….

  44. saiful ulum pada Mon, 26th Apr 2010 21:50 

    terima ksih ats semuanya jangan pernah melupakan sejarah ? klo bs yg lengkap

  45. zam pada Tue, 27th Apr 2010 15:15 

    teringin tahu amalan2 para walisongo….

  46. adhi_richi pada Wed, 28th Apr 2010 21:39 

    Trms’ buat artikel’a.. buat nambah pengetahuan’ tntang islam..

  47. Reyhan Todo pada Sun, 2nd May 2010 13:20 

    tQ bgt artikelnya

  48. sobi pada Tue, 4th May 2010 10:59 

    terima kasih atas informasinya .
    soalnya ada tugas dari sekolah.>.<

  49. irvan pada Tue, 4th May 2010 13:47 

    cerita wali ini bisa menjadi tauladan generasi pemuda sekarang..
    bagaimana kita menyikapi dan berbuat sebaik mungkin demi kebaikan dan keindahan akan ajaran islam

  50. rokhim pada Wed, 5th May 2010 21:21 

    sungguh besar jasa para wali songo yang menyebarkan agama islam di indonesia,, mungkin jika mereka tidak datang ke tanah tercinta ini, kita pasti tidak akan menjadi seperti ini,,,
    “rockym al ayuby”

  51. fadli pada Wed, 5th May 2010 23:07 

    low da tolong di kasih keistimewaan dari para sunan
    makasih sebelum ya

  52. ersa yunanda pada Sat, 8th May 2010 14:07 

    machasih yach tugas q jd dah sellesai

  53. tuban pada Sun, 23rd May 2010 10:51 

    Alhamdulillah masih ada saudara yang peduli tentang sejarah Islam semoga bermanfaat dan menjadi amal sholeh Saudara,amiin.

  54. janet riadi pada Sun, 30th May 2010 16:36 

    alkhamdulillah…aq jd th sjrh islam d indonesia brkt prjngn pr wali songo.

  55. Bambang pada Sat, 5th Jun 2010 16:52 

    Terima kasih artikelnya..saya senang membaca sejarah Indonesia, terutama sejarah Islam khususnya di Indonesia. Saran saya tambah lagi artikel-artikel yang lainnya.

  56. azhar pada Mon, 7th Jun 2010 23:52 

    alhamdulilah dan terima kasih kepada penulis. saya bersyukur kerana perkara yang amat penting ini dapat di konsikan bersama . kepada kepada seluruh keturunan , mari kita bersama2 menunaikan solat syukur.

  57. abdul ghofur pada Sat, 26th Jun 2010 22:10 

    TERIMA KASIH , Dpat membantu untuk membuat makalah dan pengetahuan yang sangat penting

  58. harry pada Mon, 28th Jun 2010 9:10 

    terima kasih sdh membantu sy…..
    satu yg mengganjal untuk Sunan Bonang sama Sunan kudus sepertinya sama apa ada kesalahan atau bagaimana, mohon untuk penjelasannya.

  59. FACHRUDDIN ROHMAT pada Wed, 30th Jun 2010 15:55 

    Sejarah wajib di ingat…..Jayanya islam di indonesia asbab para wali-wali 4jJI…..Negara yang melupakan sejarah,Tunggu saat kehancurannya……Mudah2an kita semua dapat menjalani apa2 yang telah di syi’arkan oleh wali-wali 4jJI…Amiiin.. dan semoga 4jJI memgampuni segala kekhilafan beliau-beliau…AULIYAA ILLAH.. Amiiin….

  60. tiok bodronoyo pada Wed, 30th Jun 2010 16:58 

    terimakasih banyak adnya artikel Wali songo

  61. wacid al busiri pada Thu, 1st Jul 2010 11:51 

    muda2n generasi islam kdpn khususny yg ad d pulau jawa bz memprjuangkan ap yg tlah dprjuangkan pra wali songo n shbtx…….amin?????????………..

  62. Nab Bahany As pada Wed, 7th Jul 2010 11:55 

    Sembilan orang dari Wali Songo tujuh orang diantaranya keturunan Aceh, termasuk Sunan Gunung Jati yang bernama asli Ahmat Fatahillah, seorang ulama asal kerajaan Pasai Aceh Utara. Sayangnya, sedikit sekali sumber sejarah yang mengungkapkan asal usul wali song ini berasal dari Aceh.

    Nab Bahany As, budayawan, tinggal di Banda Aceh

  63. nura pada Wed, 7th Jul 2010 20:56 

    hurm..bagus lar artikel ni..sye dpt gne kn pde ble2 mse je..

  64. chandra riswanto pada Mon, 12th Jul 2010 8:42 

    saya sangat berterimakasi karenA SUNAN KALIJAGA sudah membawa ajaran islam ke jawa barat.walaupun dulu nya sunan kalijaga seorang perampok.tapi dia merampok juga untuk kepentingan masyarakat.walaupun perbuatan itu di larang oleh islam….? TERIMAKASIH ATAS JASAMU.JASAMU AKAN KUKENANG SELALU.TERIMA KASIH SUNAN KALIJAGA

  65. manansyah pada Tue, 13th Jul 2010 17:23 

    bagus sekali, buat blog ttg sejarah islam. aku jadi terinspirasi sama cerita dan perjuangan para wali. oya, seklaian buat cerita ttg tanda2 kimat donks…. makasih

  66. m.armudi ja pada Fri, 16th Jul 2010 16:44 

    mdh2n indonesia kedepan bisa mempunyai para pemimpin seperti para wali Allah

  67. Edwien bujang bingung pada Mon, 19th Jul 2010 0:32 

    Masih adakah sekarang manusia ,..yang sabar dan mulia seperti mereka…? mudah2an dng cerita diatas kita bisa mengambil hikmahnya ,..amien,..

  68. endah pada Tue, 20th Jul 2010 12:21 

    terima kasih banyak saya jadi lebih mengerti sekarang ini.

  69. albar pada Thu, 22nd Jul 2010 23:49 

    ceritanya bgus dan membuat tahu akan banyk hal tetg wali 9

  70. arsyad pada Fri, 23rd Jul 2010 12:58 

    ceritanya bagus

  71. Trendy wiyoto pada Mon, 26th Jul 2010 21:58 

    Terima kasih smua wawasan ttng wali songo..tapi bagaimana kisah ttng ’syekh siti jenar’..?

  72. abi to pada Tue, 27th Jul 2010 17:24 

    saka suka banget sam kisa perjalan nan para wali
    tapi tolong dong di kasi lukisan prawali nya supaya lebih lengkap cerita nya…

  73. bohari pada Thu, 29th Jul 2010 18:48 

    Aku bangga mendengarkan cerita ini

  74. Dedi akhmad syarifudin pada Mon, 2nd Aug 2010 22:17 

    Sejarah walisongo….jd pngen ziarah

  75. m.romdoni mahesa alghifari pada Sun, 8th Aug 2010 9:34 

    saya suka banget dangan para beliau….. please kirim foto or lukisan itu kalau ada, af1 ya klo dah buat smua crew sibuk

  76. baron pitaloca pada Thu, 12th Aug 2010 11:30 

    wali songo adalah guru bagi kita penyejuk penuntun bagi kita penunjuk jalan yang benar.

  77. amin amin pada Thu, 12th Aug 2010 22:22 

    orang2 yg tangguh yg berhasil menciptakan Zaman..sy tlh berziarah di makam Sunan Giri,Syeh Maulana Malik Ibrahim,Sunan Ampel Dan Sunan Gunung Jati…mereka tlah memberi sy Energi yg sgt luar biasa..seharusx kt byk bercermin dan malu dgn prestasi mereka..walaupun tlah ratusan tahun berpulang tp msh mampu menghidupi org byk..baik dgn mencetak buku2x maupun souvenir2 yg ada disekitar makamx dan byk lg…bagi sy mereka msh hidup..dan merekalah yg mengundang sy berziarah di makamx…Assalamu Alaina Waalah Ibadillahi shalihim….Salamun kaulah minrabbirahim…asmin makasar

  78. amin amin pada Thu, 12th Aug 2010 22:28 

    sy menyimpan silsilah mereka..mereka adalah cucu dr Syeh Jalaluddin Akbar al Husein (turunan ke 19 dsr Rasullulah)…yg makamx ada di daerah tosora kab wajo sulawesi selatan..ttg kebenaranx Wallahu alam..

  79. apin pada Thu, 12th Aug 2010 22:35 

    I Love Wali Songo

  80. Vhevhe pada Fri, 13th Aug 2010 23:59 

    Mkazih, skrang aq jdi mengerti tntang wali songo.

  81. Suherman pada Sun, 15th Aug 2010 21:03 

    sangat bagus sy mohn ijin ambil artikel ini tuk menambah wawasan di blog sy.trims

  82. Ramadian pada Wed, 18th Aug 2010 10:58 

    Terimakasih atas pengetahuannya….

  83. ajeng pada Thu, 19th Aug 2010 15:16 

    wali songo….kagum dengan mereka subhanallah…

  84. fanny pada Fri, 20th Aug 2010 15:57 

    no no no aku love wali songo kito

  85. harry pada Sat, 21st Aug 2010 21:27 

    Sejarah para wali songo…Penting bagi Qta seorang muslim sejati sebagai penerus . jaga keislaman Qta.ISLAM agama Q .

  86. mustafa adnani pada Mon, 23rd Aug 2010 22:45 

    Para komentator di atas (75 komentar) berada dalam satu nada, yaitu meng”iyakan” , menyetujui atau setidaknya simpati kepada ssejarah wali songo. Namun di lain sisi ada kelompok yang tidak setuju dengan keberadaan wali songo, dgn alasan mereka itu (wali songo) telah membawa virus Islam ke Indonesia, bahkan sekaligus membenci Islam. Ketimbang memusuhi Ahmadiayah, sebaiknya musihilah mereka yang berada di FFI, http://www.faithfreedom.org. Dengan berkedok “kritis” mereka akan menghancurkan Islam melalui berbagai media, setidaknya lewat internet.

  87. david pada Tue, 24th Aug 2010 4:19 

    mau tanya nih. yang nyebarin islam di kalimantan wali yang mana ya? – THX :)

  88. mulyadi pada Fri, 27th Aug 2010 19:53 

    siiip,,,,,!!! bisa menambah pengetahuan aq,,,!!! kpn2 boleh di tulisin sejarah laksamana jenggo mulai masuk ke indonesia zaaa,,,,!!! thank’s bgt.

  89. eriz pada Mon, 30th Aug 2010 19:06 

    mas,, mungkin bisa ditelaah lagi,, banyak sumber mnyebutkan negeri campa itu bukan kamboja,, tpi jeumpa bireub aceh,, dan sebagian besar para sunan memang memiliki hub dengan kerajaan samudra pasai,, dan mereka adalah para utusan yg dkirim raja aceh ke pulau jawa.

  90. Bambang pada Wed, 1st Sep 2010 11:28 

    Trima kasih atas sejarahx Para Wali songo..

    Bagus..

  91. kamal bravo pada Wed, 1st Sep 2010 15:00 

    sejarah wali songo amat menarik perhatian saya,ia boleh mngembngkan ilmu sy mengenai sejarah2 islam.

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!





Spam protection by WP Captcha-Free