Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Nddikar, seni silat dan tari Suku Karo

August 3, 2011 oleh  
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya

— “Pengabaian mereduksi orang lain menjadi sesuatu yang tidak nyata.” | Elie Wiesel.

Adalah kantor redaksi Sora Sirulo yang menjadi tempat bercengkerama sekaligus “mencicip” latihan dasar pencak silat khas Karo, pada Jumat (29/7) lalu. Walau yang hadir bisa dihitung dengan jari, setidaknya kami semua memiliki pendapat yang sama mengenai seni bela diri tradisionil (dalam bahasa Karo disebut Ndikkar). Prihatin. Yakni, mulai pupusnya identitas yang menunjukkan kami sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan nilai Timur.

“Saya lebih senang melatih Ndikkar* untuk sedikit orang, dengan niat yang sungguh-sungguh belajar,” ujar bang Yakinsyah Brahmana (47 tahun). Dalam lintas bincang kami, sempat saya mengutip bahwa dirinya adalah salah satu dari dua orang yang menguasai seni Ndikkar, tak hanya sebagai bela diri namun juga digunakan dalam tarian tradisional.

Maka, kantor redaksi ini pun disulap sementara jadi dojo mini. Kami lalu dibimbing mulai dari cara mengikat sarung (menjadi semacam sabuk) dan memasang bulang (kain penutup kepala), hingga gerak dasar Rampung Belo** dan Tare-tare Bintang.

yakinsyah brahmana

Dalam seni beladirinya, Ndikkar digunakan untuk menyambut serangan lawan. Dijelaskan bang Yakinsyah, teknik yang dijunjung Pandikkar, atau mereka yang menguasai Ndikkar, ialah menjatuhkan lawan dengan menggandakan daya tolak lawan dengan tenaga dari Pandikkar sendiri. “Kita tidak menyerang lawan, tetapi memanfaatkan setiap celah untuk menjatuhkannya,” imbuh abang yang juga dikenal dengan nama Kawar ini***.

Keluwesan gerak tangan dalam Ndikkar sepintas mirip dengan tari piring dari Padang, Sumatera Barat. Karenanya, dalam latihan perdana ini bang Yakinsyah meminta kami menggunakan piring kecil. Menjaga keseimbangan piring saat digerakkan memutar dari pinggang hingga ke atas kepala adalah agar terbiasa bila menerapkan Ndikkar secara tangan kosong, katanya.

“Sebenarnya ada 48 jurus mayan,” kata bang Yakinsyah. Dia melanjutkan, para muridnya di Belanda telah mempelajari jurus pertahanen, langkah 2, langkah 7, tare-tare bintang, jile-jile sarudung, pertahanen harimau, pertahanen pedi, dan sebagainya. “Setidaknya para siswa sudah dapat buang lepas****.”

Dia juga mengatakan, di masa perjuangan melawan penjajah, para Pandikkar biasa mengirim sandi-sandi khusus melalui gerakan yang sudah saling dimahfumi sesama mereka. Jika dibandingkan, mungkin mirip dengan sandi bendera Pramuka saat ini.

 

Ndikkar, ‘harimau’ yang tertatih

Kembali pada bincang-bincang mengenai keprihatinan kami atas Ndikkar ini, bang Yakinsyah juga mengakui bahwa minat pemuda Karo untuk mempelajari Ndikkar kian tergerus seiring zaman. Laiknya harimau yang tertatih, generasi muda Karo yang mestinya menopang keharuman Ndikkar cenderung mengabaikan harta budaya dan seni tradisional ini.

Sikap berbeda malah ditunjukkan generasi muda dari Negara Kincir Angin, Belanda. “Setidaknya lebih dari 200 orang telah belajar ndikkar Karo disini, oleh sebab itu suatu saat bisa saja pandikkar-pandikkar akan datang dari Belanda ini dan kita akan belajar dari mereka,” kata bang Yakinsyah.

Bang Yakinsyah mengajar Ndikkar di sebuah sekolah Kristen Oikumene di Groningen Belanda, yaitu Dom Helder Camara, Oecumunes Bassies Schooler, Noord Netherlands. Para siswa SD di sekolah tersebut merasa bangga dapat mempelajari dan mempraktekkan Ndikkar tersebut.

Bang Yakinsyah sendiri banyak belajar gerakan-gerakan mayan dari beberapa guru mayan Karo sejak tahun 1981 hingga tahun 1992, ketika dia masih berprofesi sebagai tourist guide di Berastagi dan Sungai Alas. Beliau belajar dari beberapa guru, seperti Seter Sembiring (Lau Baleng), Pa Kuling-Kuling atau Menet Ginting (Lau Cimba), Pa Johan Barus (Pendekar Buntu), Belat Tarigan (Kaban), Tagok Peranginangin (Lau Buluh), dan berbagai informasi dari Ginting Capah (Sibolangit) dan Tukang Ginting (Berastagi).

Menurutnya, sikap enggan untuk membagikan pengetahuan Ndikkar adalah akar dari fenomena hilangnya seni beladiri ini di buminya sendiri. “Banyak dari kita yang hanya mengajarkan 7 jurus, padahal dia tahu 10 jurus. Ini amat berbeda dari masyarakat Eropa yang terus berupaya mengimprovisasi 10 jurus tadi menjadi lebih banyak.”

Bang Yakinsyah pun tak sungkan mudik, guna menerima undangan Sora Sirulo, untuk memberi pelatihan Ndikkar bagi sejumlah kaum muda yang berminat mempelajarinya. Selain di Medan, dia juga memberi bimbingan serupa di Desa Limang, Kabupaten Tanah Karo.

“Sekarang ini, saya beri latihan dasar dulu. Namun, saya yakin kita bisa belajar hingga konsep gerak tariannya,” tuturnya kepada kami, pada Minggu (31/7) lalu, yang menyusut pesertanya dari 8 orang hingga 3 orang saja.

Meski sedikit, bang Yakinsyah berharap pengetahuan Ndikkar ini tidak terkubur, namun terus disebarkan ke banyak generasi muda dalam negeri sendiri. Sebuah gebrakan yang mengingatkan pada perkataan Presiden Soekarno: “… Tetapi betapa pun panjangnya sebuah perjalanan, ia harus dimulai dengan langkah-langkah pertama, dan itu mulai kami lakukan.”

Setidaknya, upaya menjaga sang ‘harimau’ tetap mengaum bangga di bumi sendiri: Sumatera Utara, Indonesia.

Ndikkar Karo - satu dokumentasi langka

Ndikkar Karo - satu dokumentasi langka

Catatan:

* Dalam satu artikel ringkas yang mengulas Yakinsyah Brahmana, ditulis bahwa Ndikkar juga bisa disebut Mayan.

** Banyak gerakan dari Ndikkar Karo diilhami dari kegiatan sehari-hari. Semisal, gerak Rampung Belo (dialih bahasa menjadi Memotong Pohon Sirih), Saren-saren Tebu (Menyeret batang tebu).

*** Satu artikel yang diterbitkan Wikipedia menuturkan bahwa Ndikkar juga bisa digunakan secara langsung untuk menyerang. Namun, saya tidak mendapat rujukan resmi dan aktif untuk membuktikan pernyataan tersebut.

**** Buang lepas, salah satu teknik dalam Ndikkar.

 

Sumber pustaka:

>> http://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Karo

>> http://bit.ly/mUrWfd

>> http://groups.yahoo.com/group/tanahkaro/message/3491

>> tautan gambar http://3.bp.blogspot.com/_v1kIwX3Z2lU/TO6T6oG4yFI/AAAAAAAAAVs/h3zYL7U39SM/s1600/KLV001054653.jpg

 

Sila dilirik beberapa dokumentasi video amatirnya di tautan bawah ini:

 

Sejumlah dokumentasi foto juga ada di tautan bawah ini:

http://www.flickr.com/photos/36810023@N06

Percikan Air Sipiso-Piso

February 9, 2010 oleh  
Tersimpan pada Potensi dan Pariwisata

Air Terjun Sipiso-piso

Takjub adalah kalimat pertama yang terlintas, ketika tiba di lokasi air terjun Sipiso-piso, sungguh indah. Bayangkan, sebuah air terjun yang mengalir deras, terdapat dataran yang subur ditanami tumbuh-tumbuhan dan deretan pegunungan di atasnya.

Saat memandang ke kiri air terjun, kita akan menemukan panorama Danau Toba yang menawan. Air danau yang tenang, yang sangat kontras dengan kucuran deras air terjun.

Air terjun Sipiso-piso merupakan kawasan wisata yang terletak tidak jauh dari pemukiman masyarakat Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Air terjun ini berada di ketinggian kurang lebih 800 meter dari permukaan laut (dpl) dan memiliki ketinggian sekitar 360 kaki.

Pemandangan Danau Toba

Rasa penasaran mengajakku untuk turun, melewati jalan dan tangga yang berliku dan terjal. Dari kejauhan saja air terjun ini sudah menawan. Berjalan dan berjalan terus, meski terik matahari sudah membakar sebagian energiku.

Akhirnya, kaki yang sudah gemetaran dan peluh yang sudah berjatuhan memang sebanding dengan keindahan yang didapatkan sesampainya di bawah, di lokasi jatuhnya air terjun.

Sopo Silindung

Ketika Bibit Padi Jadi Komoditi Politik

September 17, 2008 oleh  
Tersimpan pada Warna Warni

Masih segar di ingatan kita, ketika Ketua Umum PDIP yang juga mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri (MSP) mengunggulkan galur padi Mari Sejahterakan Petani (MSP), tahun lalu. Safari Politik Mega, selalu menyertakan promosi bibit unggul MSP kepada masyarakat. Keyakinan penuh bahwa bibit unggul ini, dapat mengungguli varietas padi lainnya dari segi produktifitas per hektar, harus diakui menjadi salah satu entry point PDIP mendapat atensi masyarakat. Popularitas Mega pun sempat terkatrol mengimbangi SBY. Isu strategis yang tepat!

Wajar jika masyarakat Indonesia, khususnya petani mulai menaruh harapan besar dengan hadirnya bibit unggul ini. Inisiatornya pun tak tanggung-tanggung. Ketua Umum Partai. Pastilah, mudah dipercaya ditambah kepiawaian pengurus-pengurus PDIP di tingkat kecamatan dan desa sebagai promotor aktif. Jadilah bibit unggul padi bernama MSP, menjadi buah bibir dan dicoba banyak petani.

Penjelasan teknis dari pihak PDIP, ditambah bumbu kampanye politik PDIP, akhirnya bibit unggul ini berobah nama di kalangan petani, menjadi bibit unggul padi Mega. Ada juga yang membuat kepanjangan baru bahwa MSP, adalah Megawaty Soekarno Putri. Umbul-umbul bergambar Megawaty dengan topi khas petani memegang bilur padi bernas di berbagai tempat, di tepi-tepi persawahan luas milik penduduk.

Kalau padi varietas unggul lainnya, hanya dapat memproduksi 7 – 8 ton, maka MSP dipatok pada angka 12 ton ke atas. Sungguh menjanjikan.

Kenyataan di Sumut, MSP gagal

Tidak ketinggalan, petani padi di Propinsi Sumatera Utara, dengan gencar menangkap peluang ini. Apalagi bibit diperoleh secara cuma-cuma. Paling tidak, mendapat bibit unggul secara cepat dan mudah. Petani di Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, Binjai, Langkat, Karo, Taput, Tobasa, Humbahas, Dairi dan kabupaten lainnya, ramai-ramai mencoba bibit baru MSP.

Harapan merobah nasib petani agar lebih sejahtera, kembali mekar. Jika, bupatinya kebetulan ‘orang’ PDIP, urusan lebih lancar. Kumpulkan petani, dikotbahi lalu bagi bibit, selesai. Jika, bupatinya bukan ‘orang’ PDIP, langsung saja menemui rakyat. Atas nama Partai yang mencintai wong cilik, petani dikumpulkan, dikhotbahi, lalu bibit dibagi. Sungguh praktis.

Saya sendiri tidak sempat melakukan perhitungan, berapa besar dana yang dikeluarkan oleh Partai Banteng Bermoncong putih ini mendanani program Meri Sejahterakan Petani. Yang pasti, dananya tidak kecil.

Musim panen tiba. Petani di Kabupaten Serdang Bedagai misalnya, bukannya bergembira ria mendapat hasil padi yang melimpah. Kenyataan yang mereka terima ternyata MSP, bukan saja dapat sama dengan bibit unggul yang lain sesuai pengalaman mereka. Hasilnya, jeblok. Sekali lagi, petani merasakan akibat terlalu cepat, kepincut janji politik. Padi, ternyata sudah menjadi komoditi politik.

Keluhan petani, selain produksi padi per hektar yang rendah, juga mempermasalahkan tebalnya kulit gabah, sehingga produksi berasnya tidak menggembirakan. Bahkan petani berani berteori, bahwa bilur padi MSP kulitnya terlalu tebal, hingga mencapai 50 % dari produksi beras setelah di giling di kilang padi. Jika produksi padi mencapai 5 ton, maka berasnya hanya 2,5 ton. Jelas, rugi!

Ketika petani mempermasalahkan kegagalan MSP ini, pihak partai dan pejabat daerah yang ikut mempromosikan MSP, mulai berdalih. Kelangkaan pupuk, ketidakahlian petani, dan berbagai sangkalan pun dilontarkan. Bupati Langkat HM. Yunus Saragih, kepada berbagai media lokal Sumatera Utara mengatakan, bahwa bibit unggul MSP lebih baik dari Bibit Serang. Kegagalan petani, merupakan kesalahan petani itu sendiri yang tidak mengindahkan peraturan yang sudah digariskan sebelumnya.

Sedangkan wakil Bupati Kabupaten Sergai yang diwawancarai Smart FM, mengatakan bahwa pemerintah kabupaten tidak bertanggungjawab atas kegagalan petanu yang menggunakan bibit MSP. Sebab, sejak awal, pihak inisiator tidak pernah memberitahukan dan mengajak pemerintah kabupaten dalam mensosialisasikan MSP di kabupaten ini.

Setiap bibit unggul, terutama padi, menurutnya harus mendapat sertifikasi bibit unggul dari instansi yang terkait, baru bisa disebarkan kepada masyarakat. Sementara MSP, sepengetahuannya tidak mendapat sertifikasi bibit unggul. Maka, “jika MSP gagal tentu si inisiator bibit itu harus memberikan pertanggungjawaban, sehingga petani tidak dirugikan”, katanya.

Lalu, kemana para petani ini mengadukan nasibnya???