Mengenal Istana Maimoon
February 16, 2012 oleh Tengku Dicky
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Istana Maimoon adalah salah satu Istana milik Kesultanan Deli yang masih kokoh berdiri sampai pada masa ini.berlokasi di Kelurahan Aur,Kecamatan Medan Maimoon, Kota Medan. Berjarak sekitar 3 Km dari Bandara Internasional Polonia Medan dan 28 Km dari Pelabuhan Internasional Belawan Medan.
Bangunan bersejarah ini berdiri kokoh diatas tanah seluas 217 x 200 M, dikelilingi pagar besi berukir khas setinggi kira-kira 1 M, menghadap ke arah Timur, dan dibelakang Istana atau disebelah baratnya,mengalir Sungai Deli yang pada dahulu sering digunakan pihak kerajaan sebagai jalur transportasi air. Tepat di depan Istana Maimoon adalah Jalan Sultan Ma’moen Al-Rasyid, yang merupakan salah satu Jalan Raya di Kota Medan.
Sebagaimana Lazimnya bangunan Istana Kerajaan pada zaman dahulu yang selalu dibangun berdekatan dengan sebuah Masjid. Tepat 100 M didepan Istana Maimoon berdiri kokoh Masjid Raya Al-Mashun Medan,sebuah Masjid yang sangat Indah yang berfungsi sebagai pusat pengajaran agama Islam dan tempat ibadah bagi Sultan Deli dan sekalian rakyatnya.
Arsitektur Istana Maimoon
Luas Istana Maimoon adalah 2.772 M2 dan menurut denahnya, istana ini dapat dibagi menjadi 3 bagian, yakni bangunan induk, bangunan sayap kiri,dan bangunan sayap kanan.
Bangunan Induknya mempunyai selasar atau teras penampil pada bagian depan serta bagian belakangnya. Panjang bangunan dari depan adalah 75,30 M dengan tinggi 14,40 M. Bangunan ini bertingkat dua yang ditopang sekeliling bangunannya oleh 82 tiang batu dan 43 tiang kayu dengan ukiran khas lengkungan-lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik dan ladam kuda. Atap bangunannya berbentuk limas segi empat dan kubah (dome) segi empat, sedangkan bahan atapnya adalah atap sirap dan tembaga (seng). Atap limas terdapat pada bangunan induk, bangunan sayap kiri, dan bangunan sayap kanan. Sedangkan atap dome terdapat di bangunan induk sebanyak 3 buah pada teras atau selasar penampil dari bangunan induk tersebut.
Arsitekturnya secara keseluruhan adalah perpaduan antara Eropa, Persia, dan India (Moghul). Dilihat dari koridor-koridor tangga yang berbahan dasar batu pualam dan kemudian masuk ke pintu dorong ala Eropa yang membawa kita kepada Ruang Tamu Bangunan Induk dimana dulu Sultan suka menerima tamu-tamunya disitu. Kemudian kita berjalan lurus lagi kehadapan kita akan sampai pada Balairung seri Istana Maimoon yang luas ruangnya adalah 412 M2 dimana kita akan melihat singgahsana Sultan yang begitu megah dan menawan. Di balairung inilah segala kegiatan Sultan dilaksanakan. Seperti, Penobatan Sultan ,Sultan Mangkat, Istiadat Menjunjung Duli, Istiadat Pengurnian Pingat serta gelar,dan Sultan ketika menerima pembesar-pembesar dari kesultanan lain. Balairung seri ini diperindah lagi dengan lampu-lampu kristal yang dibawa dari Eropa. Juga dinding-dindingnya yang dihias dengan cat minyak bermotif floralistis dan geometris ada yang di stilir ada juga yang naturalistis.
Ruangan yang akan kita temui apabila kita terus berjalan lurus kehadapan meninggalkan Balairung Seri adalah sebuah Ruang Makan (Dining Hall) yang khusus digunakan untuk keluarga Sultan.
Istana Maimoon ini dibagian atasnya mempunyai 12 Ruangan. 2 ruangan besar yakni Balairong Seri dan sebuah Ruang Makan serta 10 ruangan kecil untuk tempat istirahat raja dan keluarganya. Sedangkan di bagian bawahnya terdapat 10 ruangan termasuk kamar mandi, dapur, kantor Sultan, dan tempat tinggal bagi kerabat-kerabat Sultan.
Kira-kira 10 M dihalaman depan Istana.Terdapat sebuah altar atau panggung bulat yang disebut Panca Persada. Altar ini digunakan untuk salah satu upacara adat pada zaman dahulu.
Sejarah Pendirian Istana Maimoon
Istana Maimoon didirikan dengan biaya Fl. 100.000 dengan arsitek bernama Kapten TH. Van ERP seorang tentara KNIL. Peletakan batu pertama pembangunan Istana ini dilakukan pada 26 Agustus 1888 oleh Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alam dan mulai ditempati pada 18 Mei 1891.
Istana Maimoon sebenarnya adalah sebuah convention centre bukan Istana tinggal untuk Sultan. Istana yang digunakan untuk tinggal bagi Sultan adalah Istana Puri yang terletak sekitar 200M didepan Istana Maimoon. Namun, Istana Puri telah dibakar oleh rakyat pada masa revolusi dahulu sementara Istana Maimoon selamat karena dijaga oleh tentara Belanda.
Sekarang, Istana Maimoon masih berdiri kokoh dan terus diperindah melalui dana dari Pemerintah Indonesia. Pihak Kesultanan juga masih tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan adat, baik didalam maupun diluar Istana. Istana juga dibuka untuk umum sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Medan.
Istana Maimoon merupakan salah satu situs sejarah,simbol kejayaan masa lalu, dan lambang kedaulatan Raja Melayu.
Sultan Deli yang sekarang Duli Yang Mulia Seripaduka Baginda Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam (Sultan Deli XIII) melalui Pemangku Sultan Yang Mulia Tengku Hamdy Osman Delikhan Al-Haj gelar Tengku Raja Muda Deli bertitah kepada kita semua untuk senantiasa menjaga dan melestarikan Istana Maimoon.
Sumut Lebih Muda dari Kota Medan?
April 24, 2011 oleh anantabangun
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Syahdan, salah seorang staf keredaksian, di tempat saya bekerja, terjingkat kaget membaca kiriman berita dari seorang wartawati. Apa pasal? Teman yang menyunting calon berita ini mengira sedang menjadi korban April mop. Judul berita “Sumut peringati HUT ke-63“, dinilainya mengada-ada.
“Beugh, mana mungkin Sumut [Sumatera Utara] usianya masih 63 tahun. Kota Medan saja udah 420 tahun,” ujar si kawan dengan logat khas.
Saya pun tergelitik untuk mengulik ensiklopedia maya, Wikipedia.
Si wartawati ternyata benar, di boks sebelah kanan, di bawah gambar peta, tercantum hari jadi 15 April 1948. Tepat di bawah keterangan hari jadi, menyusul dibubuhi keterangan dasar hukum UU Nomor 10 Tahun 1948, UU Nomor 24 Tahun 1956. Namun, keterangan ini belum memuaskan saya dan teman tersebut untuk ‘menggaruk’ gelitikan tadi, lebih jauh.
PestaBlogger+ 2010 Medan
October 21, 2010 oleh Nich
Tersimpan pada Agenda BloggerSUMUT
pestablogger+ Medan ini adalah kali keduanya perhelatan blogger di gelar di Medan, sebagai bagian dari roadshow pestablogger+ 2010 yang diselenggarakan di 10 kota seluruh Indonesia, dan Medan adalah kota yang dipilih sebagai penutup, sebelum acara puncak yang digelar di Jakarta pada tanggal 30 Oktober 2010.
Mengusung tema Tepak Menyirih Dongan Sahuta (artinya, “tempat duduk/berkumpul teman satu kampung”), semangat yang diusung pestablogger+ Medan adalah bagian dari kampanye nasional pestablogger+ 2010 yang diberi tema “merayakan keragaman“.
pestablogger+ tahun ini sengaja diberi tanda plus (+), yang menandakan bahwa peserta yang diharapkan hadir tidak hanya dari kalangan blogger, dan mencoba merangkul semua netizen (facebook, twitter, plurk, foursquare, dll) yang ada.
Rangkaian kegiatan yang ada dalam pestablogger+ Medan ini terbagi 2, yaitu:
BLOGSHOP (Workshop Blog)
23 Oktober 2010, Pukul 10.00 – Selesai
Lokasi: American Corner USU
Lt. 1 Perpustakaan Universitas Sumatera Utara
Medan, Sumatera Utara
OFFLINE GATHERING
23 Oktober 2010, Pukul 19.30 – Selesai
Lokasi: Medan Club & Partners Resto
Jalan R.A. Kartini no. 36
Medan, Sumatera Utara
Silahkan mendaftarkan diri anda ke pbmedan@gmail.com dengan format berikut:
NAMA : …………………………………………………………..
ALAMAT : …………………………………………………………..
BLOG (*) : …………………………………………………………..
TWITTER (*) : …………………………………………………………..
EMAIL : …………………………………………………………..
No. HP : …………………………………………………………..
ACARA : (WORKSHOP / GATHERING)
dan tunggu konfirmasi balasan dari panitia.
Tempat yang tersedia sangat terbatas, sehingga sistem yang digunakan adalah first come first served (siapa yang lebih dahulu terdaftar).
Acara ini GRATIS, dan tidak dipungut biaya sedikit pun.
Sampai berjumpa di lokasi acara. Salam kompak, dan jayalah Indonesia!
Kesemrawutan Lalu Lintas Kota Medan
February 2, 2009 oleh parlin sinaga
Tersimpan pada Opini
Kembali ke Kota Medan setelah sekian lama tak menyinggahinya pikir saya tentulah sudah jauh berubah. Sesuai status metropolitan yang disandang, ibukota Provinsi Sumatera Utara ini barangkali luar biasa maju baik dari segi pembangunan maupun masyarakatnya.
Begitulah bayangan pada 22 Januari 2009 lalu dalam benak saya ketika menginjakkan kembali kaki di Kota Medan. Saya berangan menikmati hari-hari di kota ini dengan penuh kenyamanan, tentram serta berbagai kisah yang bisa saya bagi pada masyarakat Indonesia lainnya.
Namun, saya justru mendapat banyak kekecewaan selama beberapa hari tinggal di Medan. Mau tak mau, jika tetap ada yang bertanya pada saya apa hal yang menakjubkan di Medan, jawaban saya begini: ”Saya takjub melihat kesemrawutan lalu lintas di Medan. Saya juga heran kok bisa begitu”.
Menelusuri Jejak Sejarah Kota Medan
December 16, 2008 oleh realylife
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya
Hari Sabtu kemarin, saya mencoba berjalan-jalan di seputar kota Medan. Tadinya mau sekalian mencari tempat yang ada wifi-nya dan buka sampai malam. Keliling-keliling naik angkot, saya tiba juga di kawasan Kampung Madras, dulunya lebih dikenal dengan “Kampung Keling”.
Banyak keunikan yang saya temukan di sana, mulai dari keragaman etnis yang ada, rumah ibadah dan juga kulinernya. Semua menunjukkan percampuran budaya. Barangkali tak salah kalau saya mengatakan ini adalah “truly asia”-nya Indonesia.
Salah satu yang tak bisa dilupakan atau dipisahkan adalah adanya warga keturunan India di Medan selain etnis keturunan Tionghoa. Hmm, rasanya menarik sekali untuk ditelusuri dan diteliti. Barangkali ini adalah bentuk kecintaan saya terhadap Sumatera Utara. Menelusuri jejak sejarah kota Medan, kembali ke masa lalu dan berkaca tentang indahnya kota ini dulu.
Salah satu yang akan saya bahas di sini adalah seorang keturunan India, namanya Pak Krisna Menon. Usianya sekitar 33 tahun. Sehari-harinya Pak Krisna, begitu ia biasa disapa, berjualan gorengan dan makanan seperti nasi goreng, mie goreng dan lain-lain. Warung kecilnya itu terletak di Jalan Zainul Arifin dekat Sun Plaza Medan. Menariknya, Pak Krisna menamakan gorengannya itu gorengan khas India, secara yang berdagang kan biasanya orang Indonesia. Tertarik untuk mencicipi silahkan saja datang ke warungnya itu. Setelah bercerita panjang lebar, akhirnya aku tahu aktifitas lain dari beliau ini, ternyata kegemaran lainnya adalah mengkoleksi uang Indonesia lama yang berbentuk kertas, serta beberapa koleksi barang antik lainnya. Hari minggu kemarin saya dibolehkan melihat, saat dia memamerkan di depan sebuah toko money changer masih di kawasan yang sama. Uniknya dia hanya memamerkan khusus hari minggu dan hari libur, jam 9 pagi sampai jam 7 malam. Alasannya karena belum punya tempat untuk bisa memajang setiap hari.
Ketika ditanya kenapa senang mengkoleksi uang lama ini, beliau ternyata punya cerita unik lainnya. Kala itu ada seorang laki-laki etnis keturunan yang butuh uang untuk makan, dia menjual uang lamanya itu pada pak Krisna, dikarenakan rasa iba akhirnya uang tersebut di beli. Kejadiannya sekitar tahun 2000-an. Nah sejak saat itu beliau mulai tertarik dan mengumpulkan uang kertas lama dari Indonesia. Sampai saat ini sudah ada sekitar 200 an lembar uang lama Indonesia plus beberapa barang antik lainnya; seperti guci, beberapa kerajinan kuningan. Mengenai koleksi, Pak Krisna menyenangi yang bergambar Mantan Presiden kita, Alm. Bapak Soekarno, katanya punya nilai seni yang tinggi. Seperti uang yang terbit sekitar tahun 1964 dengan bacaan kun fa yakun.
Nah buat yang tertarik melihat koleksi uangnya silahkan datang ke tempat ia memamerkan di depan money changer Jalan Zainul Arifin. Atau bisa menghubungi beliau di No: 081370666252.
O iya satu lagi beliau bilang ini wujud rasa cintanya pada Indonesia sebagai tanah kelahirannya. Wah, jadi kebanggaan pada negara bisa dalam bentuk apa saja ya. Lantas bagaimana dengan kita sendiri ya?
Nantikan juga di postingan mendatang mengenai penelusuran saya tentang sejarah dan keunikan kota Medan. Kalau ada yang mau sharing atau ikut hunting boleh menghubungi saya di BloggerSUMUT ya.
Dan di bawah ini adalah jejak kaki saya di tempat pak Krisna Menon.
( Terima kasih buat Pak Krisna Menon yang sudah bersedia berbagi di sini )
Medan Kebanjiran Durian
November 25, 2008 oleh realylife
Tersimpan pada Warna Warni
Kalo sempat mampir ke kota Medan bulan-bulan ini dan ingin mencoba sedapnya buah durian ini, kalian bisa menemukannya di sekitar jalan Sultan Iskandar Muda menuju Padang Bulan, daerah Pancing dekat Universitas Negeri Medan (UNIMED), daerah Jln. Mandala By Pass, daerah Letda Sujono, Jalan A.R. Hakim di kawasan Sukaramai, Jln. AH Nasution (Asrama Haji Medan) juga barangkali di jalan-jalan lainnya. Maklum lagi musim dan sudah membanjiri kota Medan. Untuk harga relatif berada di sekitaran 5 ribu sampai 30 ribu, tergantung besar kecilnya durian yang akan dibeli.
Tips membeli durian yang enak, terutama sekali harus wangi, kalau tidak wangi berarti bukan buah durian asli. Lalu pilihlah buah yang tidak terbuka, soalnya akan dingin, masuk angin dan jelas tidak enak. Dan yang paling penting dekatin yang menjualnya, berbaiklah padanya supaya bisa dipilihkan durian yang enak, jangan berlagak sok tahu dan sombong, nanti malah ketipu akhirnya.
Satu lagi tipsnya, jangan makan duriannya banyak-banyak ya, soalnya akan sangat panas di perut dan bisa bikin sakit, terutama berlaku untuk ibu-ibu yang sedang mengandung.
Jadi welcome to Medan dan selamat menikmati buah durian, buah khas daerah kami. Kalau butuh guide atau informasi bisa tinggalkan komentar di website ini. Informasi lain juga bisa dilihat dan didapat di sini.
Kota Medan yang Sedang Berbenah
November 9, 2008 oleh realylife
Tersimpan pada Warna Warni
Wah, wajah kota Medan saat ini sedang mengalami banyak perubahan besar. Banyak hotel-hotel bertaraf Internasional yang mulai berdiri di kota ini. Sekedar informasi aja buat yang pengen tahu seperti apa wajah kota Medan sekarang. Bagi yang baru ke Kota Medan, banyak tempat asyik buat nongkrong ama teman sejawat.
Khasnya sih di Medan adalah Warkop, alias warung kopi dan TST (Teh Susu Telur) yang bisa ditemui di berbagai sudut kota. Kalo yang terkenal di kawasan Sekolah Tinggi Harapan dan Jalan Gajah Mada. Ada lagi yang sedang dibangun sebuah Citywalk di kawasan lapangan merdeka. Kalo bosan juga bisa lihat-lihat ke mall yang tersebar di seantero kota Medan. Oh iya untuk menuju ke sana ada 3 macam alat transportasi yang bisa kamu gunakan, ada mobil angkutan umum, becak mesin (kendaraan roda 3) dan becak dayung. Ongkosnya untuk sekarang antara 3000 – 8000 untuk angkot tergantung jarak tempuh, dan tips supaya tak tertipu dengan ongkos becak, lakukan penawaran dengan setengah harga yang diberikan, kalo ngga mau masih ada becak lain yang lewat. berlaku untuk becak dayung dan becak mesin. kalau kamu lebih dari 2 orang mending naik becak dech, lebih irit.
Untuk yang naik kendaraan pribadi, hati-hati salah jalur ya, soalnya di kota Medan banyak jalur one way, seperti di jalan Ahmad Yani, Jalan Putri Hijau, Jalan Raden Saleh, Jalan Prof. H.M. Yamin, Jalan Gajah Mada, setengah Jalan Gatot Subroto, dan beberapa jalan lainnya.
Kawasan perkantoran terletak di kawasan Medan Kota, sebagai jantungnya kota Medan. Untuk kawasan industri ada di daerah Mabar, di medan Belawan. Airportnya sendiri berada di kawasan Medan Polonia, jalur yang menghubungkannya adalah jalan Imam Bonjol dan Jalan Juanda.
Dan Kota Medanku terus berbenah dengan pembangunan gedung besi, cuma 1 sich pesannya, semoga infrastruktur jalan yang menjadi alat menghubungkan antara satu kawasan dengan kawasan lainnya lebih diperhatikan lagi, demi kenyamanan dan wajah kota medan metropolis yang bersih dan enak dipandang mata.










