Pemuda Membangun Opini
“Pemuda, tonggak sejarah, tonggak masa depan”
Pemuda adalah cadangan masa depan. Hal ini lah yang menjadi dasar pemikiran mereka yang memenuhi kriteria pemuda. Cenderung bersemangat, orientasi masa depan, bergerak tanpa pikir panjang, atau bahkan terkadang mudah tersulut emosi. Itu lah pemuda, kaum intelektual.
Tapi apa benar semua pemuda sesuai kriteria? Belum tentu (mungkin termasuk diri kita sendiri). Mereka selayaknya bisa menjadi penggerak di dalam masyarakat, tetapi faktanya justru sebagian pemuda hanya menjadi ‘sampah’ masyarakat. Kasar? Tentu tidak. Apa nama yang lebih tepat bagi pemuda yang selalu berfoya-foya, nge-drug, nongkrong sana sini tak tentu arah, bergaya funky tanpa dasar dan tak menghasilkan karya nyata. Bukan, bukan pemuda seperti ini yang dibutuhkan negeri ini.
Zamrud khatulistiwa ini membutuhkan pemuda yang matang, visioner, berkarakter kuat. Sudah saatnya kita membangun opini dalam panggung kemeriahan sorak-soray manusia. Pemuda membangun opini lewat tangannya, lewat lisannya, lewat sikapnya. Tentu saja opini yang positif, bukan negatif. Sampai akhirnya masyarakat memandang pemuda dengan dua mata terbuka, tidak dengan sebelah mata.
Pemuda, engkau pemuda? Mari kita tanyakan diri kita
Kesemrawutan Lalu Lintas Kota Medan
February 2, 2009 oleh parlin sinaga
Tersimpan pada Opini
Kembali ke Kota Medan setelah sekian lama tak menyinggahinya pikir saya tentulah sudah jauh berubah. Sesuai status metropolitan yang disandang, ibukota Provinsi Sumatera Utara ini barangkali luar biasa maju baik dari segi pembangunan maupun masyarakatnya.
Begitulah bayangan pada 22 Januari 2009 lalu dalam benak saya ketika menginjakkan kembali kaki di Kota Medan. Saya berangan menikmati hari-hari di kota ini dengan penuh kenyamanan, tentram serta berbagai kisah yang bisa saya bagi pada masyarakat Indonesia lainnya.
Namun, saya justru mendapat banyak kekecewaan selama beberapa hari tinggal di Medan. Mau tak mau, jika tetap ada yang bertanya pada saya apa hal yang menakjubkan di Medan, jawaban saya begini: ”Saya takjub melihat kesemrawutan lalu lintas di Medan. Saya juga heran kok bisa begitu”.






