Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Utilitas Lulusan Sekolah

April 29, 2009 oleh gunawan  
Tersimpan pada Pendidikan

KUALITAS LULUSAN HARUS DIPERTANYAKAN.

Adalah realitas di sekotar kita bahwa lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi mengalami kemajuan pesat secara kuantitatif. Angka lulusan institusi pendidikan formal pun mengalamai peningkatan yang cukup tinggi dari tahun ketahun. bersamaan oleh itu kesempatan kerja semakin terbatas. Kalaupun ada menurut persyaratan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Seruan motivasional agar lulus tidak bergantun pada formasi kerja sektor publik dan sektor swasta masih sebatas bersifat lisan, karena itu untuk berkerja secara swakelola atau menekuni jenis kewirausahaan tertentu tidaklah mudah.

Hal ini tidak hanya disebabkan rendahnya naluri usaha dan tidak adanya ketermapilan khusus, tetapi dipicu juga oleh ketiadaan modal.
Dampak negatifnya angka penganguran cendrung kian membengkak. Feomena ini menyebabkan eksistensi institusi pendidikan formal, sebagai pencetak calon tenaga kerja yang profesional semakin dipertanyakan.
Dalam keseluruhan perjalanan sejarah pendidikan khususnya sejak tahun 1990-an, institusi pendidikan memang cendrung hanya menyiapkan atau memberi bekal dasar bagi lulusan untuk memasuki dunia kerja. Ini karena kemampuan profesional dalam makna sesungguhnya meniscayakan keahlian akademik dan kecakapan praktis level tinggi yang disertai sikap dan budaya profesional yang kongruen dengan kebutuhan dan tuntutan ril masyarakat dan dunia.

Ahli – ahli kita menerima realitas adalah rendahnya daya serap lulusan pendidikan formal disebabkan antara lain yaitu keterbatasan formasi kerja dalam sektor formal. Namun demikian kita menerima atas wacana tersebut tidak sepenuhnya dapat dipertahankan lagi karena orientasi pendidikan sekarang seyogiayanya sudah harus bergeser ke arah penciptaan wirausaha baru dalam makna lulusan khususnya perguruan tinggi hatus mampu menciptakan lapangan kerja atau melakukan usaha alternatif secara mandiri.

Inisiatif ke arah ini tentu tidak mudah dikarenakan tradisi kerja perguruan tinggi termasuk Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan ( LPTK ) yang memproduk calon guru sudah mengakar. Institusi perguruan tinggi cendrung memacu lulusan hingga ke tingkat yang mengagumkan. Sesungguhnya yang diperlukan saat ini bukan hanya jumlah lulusan pendidikan yang mengagunmkan itu melainkan dampak pendidikan atas kelulusan mereka, berupa utilitas atau daya guna lulusan yang mampu memasuki dunia kerja atau mampu menciptakan lapangan kerja baru. Meskipun sosok seperti itu pendidikan nasional kita tetap memainkan peranan sangat esendial dalam proses peningkatan kualitas sumberdaya manusia? Indonesia menuju insan yang beragama, berbudaya dan mandiri baik sebagai pribadi sosial maupun pribadi ekonomi.

Di dalam kenyataannya pemerintah sudah berupaya menciptakan pendidikan lebih berkompeten dari sebelumnya, namun lagi – lagi hal ini terhambat akan pola atau tipikal mental pejabat di Negara ini, ibarat pepatah mengatakan mereka sebagai “Buaya mana yang menolak daging…” ini yangmenjadi kendala majunya pendidikan di Indonesia.

Filosofi Dasar dalam Pengembangan Kurikumul Sekolah

April 29, 2009 oleh gunawan  
Tersimpan pada Pendidikan

Pengembangan kurikulum perlu menentukan filosofi tertentu untuk menyelaras berbagai kepentingan sesuai harapan masyarakat. Masyarakat sekarang menuntut standard kualitas yang tinggi dalam pendidikan. Standar ini mencakupi kompetensi yang seimbang dalam kecerdasan atau logika, moral dan akhlak mulia atau etika, seni dan keindahan estetika, serta kekuatan dan kesehatan jasmani atau kinestetika.

Brameld dalam Longstreet dan Shane ( 1993 ), mengelompokan keempat paham, yaitu perennialism, essentiallism, progressivism dan reconstructivism. Perennialism lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya serta dampaksosial tertentu. Pengetahuan yanh lebih eksternal serta ideal lebih dipentingkan untuk dipelajari, sementara kegiatan sehari – hari kurang ditekankan.

Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Pemikiran Plato dan karya Shakespeare merupakan contoh dari kebenaran absolut dan keindahan yang sempurna dalam kehidupan manusia.

Manusia berbagi alam secara bersama – sama, maka seyogianya setiap orang akan memperoleh keuntungan tentang kebenaran absolut dankeindahan yang ideal. Implikasi dari penerapan perennialismdalam pengembangan kurikulum adalah penyajian yang sama untuk semua orang. Setiap orang memperoleh pengetahuan yang sama penting bagi siapa saja, dimana saja. Perbedaan individual atau diversifikasi kurikulum kurang diakomodasikan dalam perennialism ini.

Essentiallism menentukan pentingnya pewarisan budaya pemberian pengetahuan serta keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sanis danmata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar subtansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat.

Essentiallism menekankan pada individu sebagai sumber pegetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. bagaimana saya hidup di dunia?

Apakah pengalaman itu ?
Progressivism menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada siswa, variasi pengalaman belajar, dan proses. Progressivism merupakan landasan filosofis bagi pengembanganbelajar aktif.

Recontructivism merupakan elaborasi lanjut dari paham progreeivism. Pada recontructivism peradaban manusia masa depan sangat ditekan. Recontructivism berorientasi masa depan sedangkan perennialism dan essentialism berorientasi masa lalu. Recontructivismberanjak lebih jauh dari progressivism yang menekan pada perbedaan individual, pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.

Penganut paham ini akan memepertanyakan Untuk apa berfikir kritis memecahkan masalah dan melakukan sesuatu ? Penganut paham ini menekankan pada hasil belajar ( learning out comes ) dari pada proses. Sekolah adalah suatu tempat untuk mencapai seperangkat hasil belajar yang mewujudkan kehidupan dan peradaban yang lebih baik. Perangkat ini telah ditentukan dan direncanakan sebelumnya.

Penggunaan filosofi di atas tidak terjadi dalam keadaan vakum. Untuk pertumbuhan ekonomi akan terjadi reaksi untuk lebih back to basic atau essentialism. Untuk krisis kebudayaan orang lebih suka memilih reconstructivism yang berorientasi ke masa depan. Untuk metode dapat dipilih progresif dan rekontruktif.

Pengembagan kurikulum biasanya tidak menganut filosofi tunggal. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) misalnya tidak menganut filosofi tunggal. KBK tetap berpegang pada tut wuri handayani, ingmadya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada. Standar kompetensi dapat menjadi acuan untuk guru agar dibelakang dapat memberi dorongan dan bimbingan, di tengah bermitra agar peserta didik berkarya, serta di depan memberi tauladan dengan menunjukan akuntabilitas yang lebih jelas melalui indikator yang harus dicapai kompetensi.

Pengembangan kurikulum berorientasi masyarakat biasanya lebih status quo karena memfokuskan pada ; siapa danmasyarakat mana? Hal ini dapat menjebak pengembangan pada pilihan termudah, yaitu masyarakat terbanyak yang dikatakan sebagai kurang dapat mengikuti ; atau terlalu berpihak golongan yang cendrung sangat mampu sehingga terkesan eksklusif. Pengembangan elektif lebih mampu mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kebutuhan masyarakat yang beragam dengan menerapkan filosofi pendidikan secara elektif pula.

Berbagai pertanyaan berikut tidak dapat menjawab dengan memilih salah satu filosofi, semua keputusan bergantung kepada potensi, kebutuhan dan keadaan masyarakat itu sendiri. Pertanyaan tersebut yaitu :
1. Bagaimana mencapai kreativitas ?
2. Bagaimana membudayakanmasyarakat ?
3. Bagaimana dengan tuntutan duni kerja dan industri ?
4. Bagaimana dengan tuntutan abaf informasi ?
5. Bagaimana dengan demokrasi ?
6. bagaimana mengembangkan moralitas akademik dan sikap ilmiah ?

Diperlukan cara yang cukup cerdik untuk merajut filosofi mana yang akan dipilih, terutama dalam keadaaebudayaan, ban Indonesia yang sangat heterigen secara geografis, sosial ekonomi, khasa dan infrastruktur.

Meninggalkan Pola Ajar Guru Tempo Dulu

February 16, 2009 oleh gunawan  
Tersimpan pada Pendidikan

Ramai sekali media massa menulis masalah Sumber Daya Manusia. Begitu pula para pakar telah sama setuju bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia amat diperlukan pendidikan. Dengan arti kata dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul penting. Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Kualitas suatu bangsa diukur dengan sumber daya manusianya.

Kita sadari bahwa pendidikan, sungguh penting untuk kemajuan bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini mantan Presiden Soeharto telah mencanangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. mantan Presiden mencanangkan lagi wajib belajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidangnya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di lapangan secara baik.

Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelaksanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menutup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu. Dan orang-orang arif dalam dunia pendidikan di negara ini cukup respon atas berbagai masalah pendidikan. Mereka merekayasa dan melaksanakan berbagai usaha peningkatan dan penyegaran.

Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi peningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kurikulum yang diikuti oleh perubahan struktur buku-buku pelajaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek peningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penyediaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.

Betapa usaha ini diterapkan melalui pengorbanan moril dan materil. Memberikan keringanan bagi guru-guru, misalnya dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah, agar dapat mengikuti penataran apakah dalam bentuk sanggar-sanggar atau bentuk kelompok laninnya. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil UASBN yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem¬perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar.

Barangkali apa yang menyebabkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini?

Lihatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid baru sampai pada taraf memberi bekal pengetahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanusiaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sistem pengajaran kita lihat hubungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas memberi dan yang lain sekedar menerima saja.

Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang, kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepanjang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke ha¬dapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenya¬taan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di belakang.

Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas-tugas hafalan untuk diuji. Sistem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkeritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancam¬an pada nilai rapor. Demikianlah ungkap salah seorang murid dalam suatu dialog ringan. Belajar dengan cara menghafal sungguh mematikan kreatif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih menerapkan pengajaran sistem kuno.

Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Diantaranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru menganggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan setiap murid menerima apa yang dikatakan. Pernah kejadian pada sebuah sekolah. Seorang murid kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik konstruktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelin¬tasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois.

Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pendekatan yaitu konvensional, progresif dan metode liberal. Sekolah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.
Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode konvensional. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ceramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi hanyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.

Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya manusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang, berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.

Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya, yakni guru jangan mengajar asal-asalan. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama peningkatan kualitas, berfungsi sebagai konselor, motivator dan fasilitator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sempurna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan, kualitas diri. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. Andai kata mereka mengikuti penataran atau sanggar, misalnya, janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin, mengharapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura.

Agar dapat memainkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membelajarkan diri, otodidaktif, dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu berlindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah waktu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan berfikir dengan harapan kita semua dapat menjadi gum yang berkualitas agar kita dapat mendidik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas

Bincang-bincang dengan Kepala Bainfokom Sumut Bapak Edy Sofyan

December 16, 2008 oleh ihatemycountry  
Tersimpan pada Pendidikan

Kemarin tanggal 11 Desember 2008, aku menghadiri sebuah seminar yang diadakan oleh Bainfokom yang bertema Penyebaran Informasi Publik, dan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba, bertempat di Pesantren Darul Arafah, dari jam 19.00 s/d selesai.

Acara ini dihadiri langsung oleh:

  1. Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Sumatera Utara Bapak Edy Sofyan mewakili GUBSU Syamsul Arifin
  2. Manager Marketing Fixed Phone Sales PT. Telkom Firdaus Amzan
  3. Dan tentunya saya sendiri dari PT. Telkomsel

dscn2408

Aku, duduk di sebelah kiri Pak Edy, lagi mendengarkan Pendiri dan Pemilik Pesantren Darul Arafah, Pak Ustad Lubis (nama lengkapnya lupa pulak aku) memberikan kata sambutan.

Diluar acara ini, sempat juga aku berbincang-bincang dengan Pak Edy. Setelah bercerita panjang lebar tentang internet, beliau juga mengatakan sangat apresiet atau kagum dengan keberadaan Blogger-blogger khususnya yang ada di Medan. Secara khusus beliau sangat mengharapkan suatu saat dapat bekerja sama dengan blogger-blogger Medan dalam membantu meningkatkan pendidikan khususnya pendidikan berbasis internet atau digital di seluruh Sumatera Utara.

Pertama sih beliau gak tau aku seorang blogger juga (walaupun masih pemula). Aku diamin aja sampai dia selesai cerita, baru setelah aku mengatakan kalau aku anggota dari Blogger SUMUT, beliau sedikit terkejut juga, “kenapa gak bilang dari tadi. Ah, coba kau sampaikan pesan-pesan ku untuk para blogger-blogger yang lain”. Adapun pesan yang Pak Edy sampaikan ke saya adalah:

  1. Bapak Gubernur Syamsul Arifin, sangat berkeinginan mewujudkan pendidikan menyeluruh dan merata bagi seluruh anak di Sumatera Utara.
  2. Beliau juga ingin sekali mewujudkan Pesantren Digital. Menurut beliau belum ada pesantren di Sumatera Utara yang yang sistem pendidikannya berbasis Digital, seperti metode belajar digital, Ujian online, Sms ADN, atau Zona Hot Spot (WiFi). *Kalau menurut aku sih jangan hanya pesantren aja sih pak, bila perlu semua sekolah si Sumatera Utara kita digitalkan.
  3. Bila suatu saat Pesantren atau sekolah digital ini bisa terwujud. Beliau sangat mengharapkan peran serta para blogger agar ikut membantu program pemerintah ini. Bisa dalam hal apa aja, bisa turun langsung ke lapangan memberikan edukasi tentang internet, bisa memberikan modul aja, atau hal lainnya yang penting bantuannya.

Begitu bos, jadi aku hanya menyampaikan pesan Pak Edy yang juga pesannya Pak Gubernur. Semoga kita dapat mewujudkan keinginan Pemimpin kita. Bila perlu kita dari Blogger Sumut dapat menjumpai langsung Pak Edy di kantornya. Beliau akan sangat welcome sekali pastinya.

Photo lainnya:

dscn2427

Aku, sedang memberikan presentasi tentang apa itu internet, mobile internet, dan teknologi wireless. Sambutan para santri sangat luar biasa. Ternyata mereka memiliki minat yang luar biasa terhadap internet.

edy

dscn2415

dscn2420