Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Pertempuran Bahal Batu (bagian 2)

May 26, 2012 oleh  
Tersimpan pada Sejarah dan Budaya

Berikut saya kutipkan tulisan dari Dion P Sihotang (Panitia Pementasan Opera Batak Sisingamangaraja XII) yang kiranya bisa memperkaya wawasan dan pemahaman kita tentang Sisingamangaraja XII dan kiprahnya dalam melawan “si bontar mata”. Semoga bermanfaat.

Sumber gambar: http://putrikhairanikoto.blogspot.com/

Bagian 2 dari 4 Tulisan

Timbulnya Ketegangan

Hampir setahun lamanya suasana tegang menyelimuti Tanah Batak. Hal ini terjadi justru pada saat Sisingamangaraja XII naik takhta pada tahun 1876, menggantikan ayahnya. Sisingamangaraja XII menganggap bahwa ekspansi Belanda dengan dalih perluasan atau penyebaran agama Kristen, jelas akan membahayakan Tanah Batak dan menggoyakhkan kedudukannya sebagai pemimpin Tanah Batak yang berpusat di Bakkara, Tapanuli Utara. Seperti lazimnya raja-raja di daerah lainnya, Sisingamangaraja XII pun dipandang oleh masyarakat Batak tidak hanya sebagai seorang pemimpin politik saja, tetapi juga seorang raja yang bersifat “ilahi”, yang memiliki kekuataan kharismatik yang dapat memberi keselamatan, perlindungan, dan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Setelah Sisingamangaraja XII naik takhta, ia pun kemudian mengadakan rapat di Bakkara dengan para panglimanya. Ia menyampaikan pidato-pidato keliling daerah dengan tujuan mengajak rakyat untuk menghentikan kegiatan orang-orang Belanda yang merugikan orang Batak. Dalam rapat di Bakkara itu, Sisingamangaraja XII dan para panglimanya membicarkan siasat dan strategi pertempuran yang akan dilakukan sebagai persiapan melawan Belanda. Di antara para panglima itu terdapat pula mantan pejuang Perang Paderi di Sumatra Barat.

Dalam rapat tersebut Sisingamangaraja XII mendengar dan mempertimbangkan saran-saran dan nasihat-nasihat dari panglima mantan pejuang Perang Paderi yang usianya lebih tua dibandingkan Sisingamangaraja XII, karena para panglima tersebut dianggap telah berpengalaman dalam bidang peperangan. Akan tetapi, keputusan terakhir tetap terletak di tangan Sisingamangaraja XII. Jadi seluruh panglima pasukan tersebut harus tunduk dan hormat kepada Sisingamangaraja XII yang sekaligus memegang komando tertinggi atas seluruh pasukan Batak.

Baca selengkapnya

Hydraulic Ram Pump, Pompa Air Murah dan Mudah

August 21, 2008 oleh  
Tersimpan pada Kontribusi

Tahun 90-an, lewat lembaga swadaya masyarakat, seperti Lembaga Studi Pengembangan Wilayah (LSPW), kemudian diikuti oleh Departemen Pengembangan Masyarakat (Pengmas) HKBP, Parpem GBKP dan Pengmas GKPI, di Tapanuli Utara dan Tanah Karo, memperkenalkan inovasi teknologi tepat guna dengan membangun puluhan sarana air minum menggunakan Hydraulic Ram Pump.

Kontur wilayah yang didominasi bukit dan lembah di berbagai tempat di Dataran Tinggi Toba, sangat cocok berhubung minimnya fasilitas air minum dan ketidakberdayaan masyarakat menggunakan energi komersial seperti minyak (diesel dan bensin), serta aliran listrik.

Jauhnya sumber air dari perkampungan dengan beda tinggi yang tidak kecil, juga menutup kemungkinan penggunaan mesin sebagai alat pemompa air. Selain karena mahal dalam pengadaanya, biaya pengoperasian juga jauh di atas kemampuan masyarakat.

Dengan Hydram, semua kesulitan itu sepertinya dapat teratasi. Kemampuan untuk mengangkat air dari sumber air yang pada umumnya berlokasi di lembah dengan kedalaman hingga 100 meter, tidak mahal, tidak menggunakan minyak, solar atau listrik, pemeliharaan mudah, tidak menimbulkan polusi, plus dapat beroperasi tanpa harus ditongkrongi selama 24 jam penuh. Sebab, untuk mengoperasikan Hydram hanya membutuhkan tenaga air itu sendiri yang dikenal dengan efek water hammer.

Ibarat istilah Batak, miak na panggorengna (lemak melekat di daging, sebagai minyak penggorengnya), alat ini dapat beroperasi selama ada air yang dijatuhkan lewat pipa ke Hydram, dan tekanan udara yang berubah di dalam tabung Hydram akan mengangkat sebagian air itu ke atas. Jika, ketinggian jatuh air 1 meter, dari pipa berukuran 4 inchi, maka Hydram dapat mengangkatnya secara vertikal 10 meter, dengan ukuran pipa out let 1 inchi. Jika, lembah di suatu desa mencapai 100 meter, maka ketinggian jatuh air vertikan yang dibutuhkan 10 meter saja.

Dari pengalaman pengoperasian Hydram di Sipahutar, konon kedalaman lembahnya mencapai 90 meter vertikal, dengan jarak pipa ke perkampungan berjarak 9 kilometer, air mampu dihantarkan hingga ke desa.

Begitu sederhananya teknologi ini, tentu menjadi peluang besar bagi masyarakat pedesaan untuk tidak lagi kesulitan memperoleh air. Tidak jarang di pedesaan Taput, akibat posisi desa yang terletak di puncak-puncak perbukitan, warga kesulitan dalam memperoleh air hanya untuk keperluan sehari-hari (domestic uses). Menuruni perbukitan, dengan jalan setapak.

Jika tidak punya tenaga lagi menjinjing air dari lembah, maka alternatif yang paling umum dilakukan adalah menampun air hujan di bak-bak yang khusus dibangun untuk penampung air. Dengan mengharapkan curah hujan, tentu banyak masalah yang timbul. Selain kemungkinan tidak mencukupi kebutuhan domestik sepanjang tahun, juga akan sangat berbahaya terhadap masalah kesehatan. Air hujan tidak mengandung mineral apapun–penyakit gondok di depan mata.

Setelah puluhan tahun kemudian, saya mengetahui bahwa hampir seluruh proyek Hydram itu, tidak dapat beroperasi lagi. Masalahnya, masyarakat ternyata belum siap untuk membangun mekanisme atau sistim manajemen pemeliharaan sehingga peralatan dan seluruh sarana pendukung Hydram itu dapat berfungsi. Walaupun, teknologinya sederhana.

Persiapan sosial yang minim, sepertinya menjadi faktor utama. Padahal dari segi analisis kebutuhan yang dilakukan sebelum proyek disepakati untuk dibangun, menyatakakan proyek pengadaan air minum adalah merupakan skala prioritas. Dari sini dapat ditarik pelajaran, bahwa sesederhana apapun teknologi, harus disosialisasikan secara matang dan persiapan sosial seperti pengorganisasian masyarakat harus dilakukan secara tepat.

Saya belum bisa melupakan, ketika masyarakat di Sipultak – Tapanuli Utara, bersorak gembira, ketika pertama sekali air menyembur hingga ke desa mereka. Di antara mereka ada yang langsung meneguk air itu, dan sebagian lagi ada yang langsung menyiramkannya ke tubuh. Hydram, ternyata memberi harapan baru saat itu.

Pertanyaan sekarang, kenapa teknologi yang tepat guna seperti ini tidak dilirik oleh Pemerintah Kabupaten di Taput, Tobasa, Humbahas, Dairi, Samosir dan Pakpak Bharat, sebagai alternatif dalam penyediaan air bagi masyarakat. Desa Pokki, walau sudah 63 tahun merdeka, penduduknya masih mengkonsumsi air hujan. Dan, banyak lagi desa-desa lain yang memiliki sumber air tetapi tidak bisa dimanfaatkan karena ketiadaan teknologi murah meriah.

Hydram, saya kira cocok untuk diseriusi…

Foto : Dari berbagai sumber