Sindikasi: Subscribe to Blogger SUMUTBeritaSubscribe to Blogger SUMUTKomentar

Ketika Cerita Itu Ditutup dengan Sempurna

October 30, 2008 oleh realylife  
Tersimpan pada Warna Warni

Kondisi ekonomi global yang sedang tak menentu ini membutuhkan kejelian dan kreativitas kita dalam menghadapinya . Dunia sudah semakin berubah dan berubah . Situasi dapat berubah dalam sekejap , seperti yang terjadi pada bloggersumut kemarin . Namun di sinilah barangkali sisi pembelajarannya , kemajuan adalah terletak di tangan kita , bukan pada satu sosok saja . Negeri ini juga , Sumatera Utara juga , kepedulian kitalah yang dibutuhkan . 29 Kabupaten merupakan aset yang sangat bernilai , Andai saja tangan kita saling bergandengan untuk membangunnya . Sebenarnya rada bingung juga melihat apa yang terjadi saat ini , ada ketakutan luar biasa dalam diri kita dengan kejatuhan ekonomi Amerika . Padahal kita punya sumber daya alam yang banyak . Jujur diakui kita kalah dalam penguasaan teknologi , sehingga dengan rela , mengekspor bahan mentah dengan harga murah dan membeli barang yang sudah jadi dengan harga 2 kali lipat , sungguh ironis , sangat ironis . Hasil laut yang lezat nan bergizi harus kita telan air ludah karena diekspor ke luar negeri , oh … sungguh miris , negeri ini jadi kekurangan gizi . Kita sudah terlalu disibukkan dengan hal-hal yang sebetulnya bisa jadi prioriotas ke dua . Untuk apa sich sibuk mengurusi hal poligami seseorang , hanya karena dia seorang Dai , harus sempurna di mata kita . No … tidak ada manusia yang sempurna. Toch , tidak ada yang complaint di dalam rumah tangganya sendiri . Lalu , ngapain juga kita mesti ribut soal pengusaha kaya yang menikahi seorang remaja putri yang berusia di bawah 17 tahun , sampai-sampai ada LSM yang mengaku melindungi anak ikutan protes , tapi apa dia sudah melakukan tindakan nyata pada anak-anak yang mengemis dan bekerja di jalanan , hasilnya belum kelihatan , pernah ngga dia mengadukan pada yang berwenang , kalau mereka mau berhadapan dengan mafia anak yang punya kuku tajam di negeri ini .

Maaf , kalau tulisan ini sedikit pedas dan menyinggung , sungguh tak bermaksud sama sekali , hanya mengetuk kesadaran dari dalam diri kita . Sebuah gelas yang berisi air akan tumpah manakala ada goyangan di sekitarnya , sebuah pohon akan bergoyangan batangnya manakala ada angin yang bertiup di sekitar , namun ia tetap kokoh dengan pondasi ketenangan , sekali lagi pondasi ketenangan .

Jangan panik dengan ekonomi global yang sedang melorot ini , semua ini hanyalah bukti dari Tuhan , bahwa roda ini akan terus berputar . Tak selamanya bangsa maju dan kaya itu akan selamanya , dan bangsa yang miskin , terbelakang dan berkembang terus mendapat julukan itu . Asal ada kemauan dari kita untuk berubah , asal ada kemauan kita untuk terus berkembang dan melakukan penelitian dalam bidang ilmu dan teknologi , jangan mau lagi dibodohi , jangan mau lagi terlena oleh fasilitas dan kemajuan zaman , jangan lagi terbuai oleh mimpi . Bangun dan lihatlah realita di depan mata .

seperti jargon sebuah iklan , sekaranglah saatnya kita speak up , berbicara , mengeluarkan ide yang ada di kepala , tentunya yang positif ya , bukan yang negatif.

Banyak jalan menuju Roma , banyak jalan menuju kemajuan , yang penting sabar , tawakal dan ikhlas , tapi bukan berarti pasrah dan menyerah .

Karena terkadang kemiskinan , keterbelakangan , kejatuhan dan kesemrawutan adalah kita yang membuatnya , tanpa kita sadari .

Kita masih saja mau dibilang sebagai surganya barang murah , kita masih saja mau dibilang sebagai tempat wisata paling murah , kita masih saja mau disebut bangsa yang berkembang , meski kenyataannya seperti itu , harus kita lawan dan buktikan.

Seperti kemacetan yang ada sekarang adalah ulah kita sendiri , sudah tau jalan ngga mungkin dilebarin , masih saja berniat membeli kendaraan pribadi dengan alasan lebih ekonomis , lebih aman , dan terjamin , sehingga jalanan jadi penuh sesak , belum lagi banyaknya orang yang masih saja egois dengan dirinya , tanpa memikirkan orang lain , katanya sich, lha wong orang saja ngga mikirin saya , masak saya mikirin orang .

Ehmmm , ngga salah sich , kalau keadaan jadi seperti ini .

Tapi , lagi-lagi kita harus punya rasa optimis , seperti keoptimisan yang lahir dari terbukanya pikiran atas kritik dan masukan dari orang lain . Memang kritikan itu pedas , tapi memberi kenikmatan pada akhirnya .

Sekarang , jalan cerita ada di tangan kita masing-masing, terserah akan endingnya di mana ?

Ataukah kita akhiri saja dengan yang ini

” Ketika cerita ini kita tutup dengan sempurna ? ”

Sekali lagi terserah , pilihan ada di tangan kita masing-masing

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • LinkedIn
  • Live
  • PDF
  • RSS
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter

Komentar

5 Komentar untuk tulisan "Ketika Cerita Itu Ditutup dengan Sempurna"

  1. medan dagdigdug pada Fri, 31st Oct 2008 10:21 

    wah..ternyata dampak dari krisis global ampe ke masalah cinta yaks

  2. raeyans pada Fri, 31st Oct 2008 12:16 

    apapun alasannya, ketika sebuah cerita ditutup, maka cerita itu pasti berakhir..

    segala sesuatu pasti akan berakhir, itu hukum alam, tapi jangan lupakan hukum lainnya, ketika kita mengakhiri sesuatu yang belum saatnya berakhir, itu dosa..

    gut lak buat semuanya,,

  3. MedanBlogger.com pada Fri, 31st Oct 2008 18:00 

    ahhggg …!! cerita apa ini yang di tutup ? 17tahun kah ? pantesan awak buka buka gak ada lagi :D xixixi

    gut lak dah

  4. junjungpurba pada Mon, 3rd Nov 2008 22:49 

    arghh…gara2 krisis ini biaya bulananku pun tak cukup lagi…

  5. yon ade pada Thu, 8th Oct 2009 9:12 

    orang indonesia kebanyakan suka happy ending hehehee

Sampaikan pikiran anda...
dan jika anda ingin menampilkan gambar diri anda, silahkan gunakan gravatar!





Spam protection by WP Captcha-Free